
Semakin bertambah usia kandunganku, sikap aneh Yoga semakin berkurang. Aku sangat bersyukur karena Yoga tak lagi merepotkan. Meski kalau di rumah dia malah asik sendiri dengan mainan-mainannya.
Setiap hari ada saja mainan baru yang dibelinya. Rumah kami sudah seperti arena bermain anak-anak.
Mulai dari mobil-mobilan, robot-robotan dan berbagai mainan anak lelaki semua ada.
Sampai aku harus menyediakan ruangan dan tempat khusus untuk meletakan mainan yang sudah tak terpakai lagi. Karena setiap kali Yoga membeli mainan baru, mainan yang lama akan ditinggalkannya.
Dan aku akan menyimpannya baik-baik. Biar saja suatu saat kalau anak-anakku sudah lahir dan besar, bisa menggunakannya. Daripada harus membeli lagi. Karena menurutku, mainan yang dibeli Yoga bukan mainan yang murah.
Dan Yoga tidak keberatan kalau aku menyimpannya. Malah dia maunya aku memajangnya.
Hingga suatu saat Yoga membeli sebuah lemari khusus untuk memajang semua mainannya.
Untungnya rumah Yoga cukup besar. Ada kamar kosong yang bisa aku manfaatkan untuk meletakan mainan-mainan itu. Aku menyebutnya kamar bermain.
Selain sebuah kamar yang nantinya akan aku gunakan sebagai kamar anak-anakku.
"Ga. Kalau habis mainan diberesin dong. Aku kan capek beresinnya," ucapku saat Yoga memporak porandakan mainan yang sudah aku susun dengan rapi.
"Kan sudah aku bilang, kamu cari pembantu. Biar kamu tidak terlalu capek. Kasihan kan anak-anakku kalau kamunya kecapekan."
Ngeselin banget dengernya. Dia bukannya mengkhawatirkan aku, tapi hanya memikirkan anak-anaknya saja.
Tapi kalau mengingat kembali pengalamanku dulu, masih mendingan Yoga. Paling tidak dia masih punya kepedulian denganku.
Hampir setiap bulan dia minta aku untuk USG. Karena dia ingin melihat perkembangan anak-anaknya.
Dan yang lebih ngeselin lagi, acara olah raga malam kami jadi sangat jarang. Bukan karena Yoga tak mau menyentuhku. Tapi karena dia sudah capek seharian kerja dan pulangnya dia sibuk dengan mainan barunya.
Aku jadi seperti punya anak balita baru. Padahal anak kandungku saja malah diasuh oleh ibuku.
"Nanti saja kalau kandunganku sudah besar. Aku akan cari pembantu buat nemenin aku."
Sebenarnya bukan itu alasannya. Tapi karena aku malu akan sifat Yoga yang seperti anak kecil. Meski sudah tidak merepotkan.
Kalau Tari, mas Andi dan kedua orang tuaku main ke rumahku, mereka akan menertawakan sikap Yoga. Tapi lama-lama mereka jadi terbiasa. Terbiasa menertawakannya.
__ADS_1
Karena kadang ada saja mainan aneh yang dibelinya. Untung seaneh-anehnya Yoga, dia tak pernah sekalipun membeli mainan anak perempuan.
Pernah suatu kali Tari membeli boneka barbie yang menurutku sangat cantik, sama Yoga langsung di singkirkan. Tak boleh masuk ke dalam kamar bermainnya.
Sebenarnya niat Tari juga membelikan untuk Berlian. Cuma memang Tari ingin mengusili Yoga saja. Makanya dia pura-pura care dan membelikannya boneka.
"Ga. Aku belikan kamu mainan. Mau?" Tari membawa sebuah paper bag. Lalu memamerkannya pada Yoga.
Dengan semangat Yoga membuka paper bag itu. Tapi begitu tau kalau isinya adalah boneka, dia langsung meletakannya di meja.
"Kamu pikir aku anak perempuan?" protes Yoga.
"Kan biar bervariasi, Ga. Masa cuma mainan anak laki saja. Bagaimana kalau anakmu nanti cewek semua?" tanya Tari.
"Ya aku belikan saja yang baru. Mainanku ya punyaku. Masa anakku pakai mainan bekasku?"
"Ya sudah. Barbienya ditaruh di lemari aja. Biar enggak berdebu." Tari masuk ke kamar bermain Yoga dan menyimpan barbie-nya.
Yoga menyusul dan menolak mentah-mentah idenya Tari.
"Cuma satu, Ga. Enggak akan menuh-menuhin. Ya?" Tari berusaha memohon, tapi Yoga tetap menolak.
"Pokoknya enggak, ya enggak!" Yoga pun tetap kekeh.
Perdebatan Tari dengan Yoga enggak berhenti sampai di situ. Tari terus saja menggoda Yoga dengan berpura-pura menyenggol mainan Yoga hingga jatuh dan pecah.
Yoga marah sejadi-jadinya. Dia ngomel tak henti-henti persis seperti ibu-ibu yang anaknya sedang bandel.
Aku dan mas Andi ketawa tak henti-henti. Tari memang paling seneng kalau menggoda Yoga. Bukan cuma sekarang, dari awal dulu memang Tari suka sekali menggoda Yoga. Kalau dia belum capek, ya belum berhenti.
Setelah puas menggoda Yoga, Tari keluar dari kamar bermain. Lalu kami ngobrol bertiga. Karena Yoga sibuk membereskan mainan yang tadi diporak porandakan oleh Tari.
"Ri, kamu punya teman psikiater enggak?" tanyaku sambil menikmati susu khusus ibu hamil.
"Ada. Kenapa?"
"Bisa enggak kamu bawa ke sini. Biar bisa menyembuhkan Yoga." Aku bicara perlahan, biar Yoga enggak denger.
__ADS_1
Tapi rupanya Yoga sudah ada di dekat kami. Dia mendengarkan dari tadi.
"Kamu pikir aku gila, apa? Sampai mau dibawa ke psikiater?"
Kami bertiga langsung diam. Kami enggak mengira Yoga mendengarnya.
"Bukan cuma orang gila saja yang butuh jasa seorang psikiater, Ga," ucap Tari.
Yoga mengerutkan dahinya.
"Terus?" tanya Yoga penasaran.
"Orang yang sedang bermasalah dengan kesehatan mentalnya juga butuh," jawab Tari.
"Maksud kamu, aku orang yang terganggu mentalnya begitu?" Yoga seperti tidak terima.
Aku pun tidak terima kalau suamiku dikatain seperti itu. Tapi kalau kenyataannya memang seperti itu, ya harus diobati biar sehat lagi.
"Bukan begitu, Ga. Kami ini sangat peduli lho sama kamu. Kamu merasa enggak sih kalau kamu itu aneh?" tanya Tari.
"Anehnya itu dimana? Aku merasa baik-baik saja. Normal-normal saja," sahut Yoga.
"Buat kamu itu normal. Tapi buat kami enggak, Ga." Tari tetap menilai Yoga aneh.
"Apa salah kalau aku punya hobi baru? Dan hobiku berhubungan dengan kondisi istriku yang sedang hamil." Yoga berusaha membela diri.
"Ya enggak ada yang salah. Cuma kamu kan sudah punya istri. Sebentar lagi mau punya anak. Dua lho. Kalau kamu terlalu asik dengan duniamu, lalu bagaimana nanti kamu mendidik anak-anakmu?" ucap Tari panjang lebar.
Sebagai seorang calon pengacara, Tari memang sangat pintar kalau berdebat atau menyampaikan alasannya.
"Kan aku bisa mengajak anak-anakku main bersama nantinya. Dan mamanya bisa mengerjakan pekerjaan lainnya. Coba bayangin kalau aku cuma sibuk bekerja saja, anak-anakku malah enggak akan ada yang ngajak bermain."
Sepertinya perdebatan mereka tak akan ada selesainya. Aku memberi kode pada mas Andi untuk mengajak Tari pulang.
Untungnya mas Andi mengerti maksudku. Akhirnya mas Andi berhasil mengajak Tari pulang. Aku bisa bernafas dengan lega.
Tapi malam ini aku harus rela tidur sendirian dulu. Karena Yoga kembali lagi ke kamar bermainnya dan dia akan betah berlama-lama di sana.
__ADS_1