Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 46


__ADS_3

Seperti biasanya rutinitas Rio di pagi hari setelah mengantar kekasihnya, ia pergi ke kantornya. Setibanya di kantor Adit memberi tahukan kepada Rio jika ada salah satu mitra yang ingin bertemu dengannya.


Tanpa berfikir panjang Rio pun segera menemui mitranya di ruang meeting.


"Selamat pagi Pak Rio" sapa Alex sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat pagi juga Pak Alex" Rio menerima jabatan tangan Alex dan mempersilahkan Alex untuk duduk kembali.


"Saya langsung saja Pak Rio, maksud dan tujuan saya ke sini ingin meminta kompensasi agar gerai saya bisa di buka kembali."


"Maaf Pak Alex, bapak telah melanggar kontrak kerja sama kita sebanyak tiga kali. Bahkan selama enam bulan berturut-turut bapak telah memanipulasi pendapatan dengan merubah sistem yang telah kami buat, sehingga mengalami defisit anggaran padahal faktanya di lapangan gerai anda justru memiliki profit di atas target."


"Jika Pak Rio tetap pada pendirian bapak, lalu bagaimana dengan uang yang saya investasikan di gerai tersebut?"


"Tunggu hingga hasil audit selesai, biar pihak audit yang akan menghitung."


"Saya sungguh menyesal telah bekerja sama denganmu" Alex meninggalkan ruangan meeting dengan muka marahnya.


Selepas kepergian Alex dari kantornya, Rio kembali ke ruang kerjanya di ikuti oleh Adit dari belakang.


"Pak Rio ini konsep video dan jadwal pembuatan video campainn child's hope, kemudian ini ada undangan seminar di salah satu universitas di Tangerang dan yang terakhir dokumen-dokumen yang harus bapak tanda tangani."


"Terima kasih Dit, nanti akan aku cek satu persatu"


"Baik Pak, oh ia Pak tadi saya lihat Pak Alex terlihat kesal sekali dengan Pak Rio."


"Biarlah, tidak usah kau perdulikan. Kembalilah bekerja."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu" Adit keluar dari ruang kerja Rio, meninggalkan Rio dengan setumpuk dokumentnya.


Tanpa Rio sadari waktu sudah menunjukan pukul 17.00 sore, ia masih sibuk dengan laptopnya merevisi konsep video campaign Child's Hope.


Samapi-sampai Rio tidak menyadari jika kekasihnya sudah ada di depannya, Ana menutup setengah laptop Rio agar Rio menyadari dirinya telah berada di depannya.


"Sayang, kenapa tidak ngabarin jika kamu sudah pulang?" tanya Rio.


"Coba kamu cek handphonemu"


Rio melihat hpnya terdapat banyak chat dari Ana hingga Rio merasa bersalah dengan kekasihnya.


"Maaf ya sayang, kamu tidak marah kan?"


"Enggak, lagian dari kantorku tidak jauh dari sini"

__ADS_1


"Terima kasih ya" Rio meraih tangan Ana kemudian menciumnya.


"Ya sudah kita pergi cari cincin yuk" ajak Rio


Ia mengulurkan tangannya untuk menggandeng kekasihnya, sambil tersenyum Ana pun menyambut uluran tangan Rio.


Disepanjang perjalanan Rio membicarakan progres perkembangan persiapan pernikahananya.


"Sayang, draft undangannya sudah jadi, tinggal daftar nama-nama orang yang ingin kamu dan nama-nama keluarga besarmu, aku dan keluargaku sudah." Ucap rio.


"Besok ya sayang, aku tanya dulu sama papa dan Kak Risti. Aku mau lihat dong draft undangannya" pinta Ana.


Rio menyerahkan handphonenya kepada Ana, begitu Ana menyalakan handphone Rio, ia terkejud dengan wallpaper di handphone Rio yang menapilkan foto prewedding kemarin.


"Foto kemarin udah jadi sayang? bagus banget" tanya Ana.


"Kamu cantik banget ya, aku sering insecure kalo jalan sama kamu. Kaya beauty and the beast" ucap Rio.


"Kok ngomong gitu sih? kamu manis banget tahu, aku tidak pernah bosan memandangi wajahmu, dan yang paling penting hati dan akhlakmu luar biasa." Ana membelai wajah Rio kemudian bersandar dibahunya.


"Kalau kamu mau, kirim saja ke emailmu. Oh ia kamu mau mas kawin apa dariku?"


"Terserah kamu aja sayang, apa pun yang kamu berikan untukku akan aku terima dengan senang hati."


"Itu hak kamu, kamu pikirin ya." Rio membelai rambut Ana dengan lembut.


Sesampainya di toko perhiasan Rio memilihkan satu set perhiasan mewah, seharga ratusan juta rupiah.


"Beli yang biasa aja sayang, tidak perlu mahal-mahal." Bisik ana, ia merasa tidak enak dengan Rio


"Tidak apa-apa kan yang pake istri sendiri, bisa sekalian buat investasi" ucap Rio.


Khusus untuk cincin pernikahan mereka, Rio meminta cincin tersebut di beri insial nama dirinya dan Ana.


Puas memilih perhiasan untuk Ana, Rio mengajak kekasihnya makan malam di restoran yangbtak jauh dari tempatnya membeli perhiasan.


"Jadi kapan kamu resign." tanya Rio saat menikmati makan malamnya.


"Aku sudah ngajuin tapi belum di setujui, katanya nunggu karyawan baru untuk gantiin aku."


"Ya sudah tapi jangan lama-lama ya, inget sebentar lagi kita nikah."


"Ia sayang"

__ADS_1



Dua hari kemudian Risti dan Lyra datang ke Jakarta untuk mengambil alih persiapan pesta pernikahan Rio dan Ana.


Meskipun Risti dan Lyra telah mengambil alih persiapan pesta pernikahan mereka, bukan berarti pertengkaran-pertengkaran kecil antara keduanya berakhir, justru semakin mendekati hari H keduanya semakin sering bertengkar.


"Sayang kok kamu belum resign dari pekerjaanmu? seminggu lagi kita nikah loh." tanya Rio dengan kesal.


"Belum ada penggantinya sayang, lagian kamu juga masih nerima tawaran buat mengisi acara seminar di Tangerang. Kalau pun belum ada penggantinya, aku tetap dapat cuti seminggu kok." ucap Ana.


"Hanya satu minggu? Apa kamu tidak ingin bulan madu bersamaku?" Rio merasa kecewa dengan Ana, karena ia telah menyusun rencana untuk perjalanan bulan madunya dengan Ana selama dua minggu.


"Setelah perkerjaanku selesai ya?" bujuk Ana.


"Dari awal aku sudah bilang, kalau kamu mau kerja. Kerja saja di kantorku atau di kantor papa." ucap rio semakin kesal dengan Ana.


"Udah sampai, aku mau turun. Apa kamu tidak sadar, jika kamu sendiri juga masih ada pembuatan video, seminar di Tanggerang dan kunjungan ke gerai cabang Bandung?" Ana mencium tangan Rio kemudian ia turun dari mobil,


Ana masuk ke dalam rumahnya dengan muka sedih sehingga membuat Risti menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pasti ribut lagi" gumam Risti.


Selama beberapa hari Ana berangkat kerja sendiri tanpa di antar oleh kekasihnya karena Rio sedang berada di luar kota.


H-2 Ana sudah mulai cuti dari pekerjaannya, Ana mengikuti semua prosesi adat jawa mulai dari siraman dan pengajian, kemudian malam harinya prosesi midodaremi.


Adat jawa yang di pilih karena mengikuti daerah asal Rio, kedua orang tua Rio berasal dari Jogja dan Semarang, sedangkan Ana keturunan blasteran Belanda Manado.


Meskipun hari pernikahannya sudah di depan mata baik Ana maupun Ri masih belum saling berkomunikasi satu sama lain.


"Masih berantem sama Rio? sekali-sekali kamu yang minta maaf kepada Rio, sebentar lagi calon suamimu dan keluarganya datang ke sini masa kamunya masih kesel sama Rio" ucap Risti.


Akhirnya Ana menurunkan egonya untuk menghubungi Rio terlebih dahulu, pada deringan ke tiga Rio mengangkat telepon dari Ana


"Maafin aku ya sayang" ucap Ana dengan penuh rasa penyesalan.


"Aku juga minta maaf ya, aku dan keluargaku sudah di jalan mau ke rumahmu"


"Hati-hati ya sayang." Ana menutup teleponnya.


Tak lama kemudian Rio dan keluarga besarnya datang ke rumah ana dengan membawa banyak seserahan yang terdiri dari: Pakaian, makeup, sepatu,tas, buah-buhan, makanan dll.


Rio nampak gagah dengan busan adat jawa beskap landung atau surjan tanpa memakai atribut keris, kedatangannya bersama dengan keluarga besarnya bertujuan untuk mempererat silaturahmi.

__ADS_1


Meskipun rio dan keluarganya datang, ana tetap berada di kamarnya bersama dengan saudara dan tamu perempuan, ana mendengarkan nasihat-nasihat pernikahan dari para orang tua. ia di larang melihat calon suaminya.


Selesai malam midodaremi Pak Reino dan Risti memberikan balasan seserahan berupa bingkisan yang berisi kancing gelung.


__ADS_2