
Yoga masih saja ngidam dan sangat merepotkan. Mestinya aku yang hamil dan aku yang dimanjakan. Ini malah sebaliknya.
Tiap pagi aku harus menjaga moodnya agar dia tidak mual-mual. Siangnya harus membuatkannya salad buah yang akan diambil oleh orang suruhannya. Saladnya enggak mau yang sudah dimasukan ke kulkas. Mesti yang fresh.
Sore mesti mengantarnya ke taman untuk sekedar mencari jajanan anak kecil.
Sampai suatu saat aku merasa capek. Aku minta bantuan Tari untuk menggantikan tugasku.
"Ri, tolongin aku ya. Aku capek. Aku takut nanti malah berpengaruh pada kandunganku."
"Iya, nanti sore aku ke rumah. Biar aku yang mengantar ke taman." Syukurlah Tari mau membantuku.
Sebenarnya bukannya aku tak mau menemani, tapi Yoga seringnya minta yang aneh-aneh.
Kadang minta jalan kaki pulang balik. Kadang minta naik becak, tapi harus muter-muter dulu. Padahal aku kan parno kalau naik becak. Apalagi dengan kondisiku yang lagi hamil. Makin parno.
Belum lagi aku harus menungguinya bermain bersama anak-anak kecil. Kalau belum terdengar adzan maghrib, belum mau pulang.
Dan itu setiap sore, tak pernah terlewatkan sehari pun. Kecuali kalau hujan. Karena kalau hujan, sudah dipastikan tak ada anak-anak kecil yang main di taman.
Bahkan para penjual makanan pun memilih pulang atau pindah ke tempat lain.
Aku jadi berharap setiap hari hujan terus saja, biar Yoga anteng di rumah.
Sore ini, Tari benar-benar datang ke rumah. Dia membawa banyak makanan. Katanya nanti selepas maghrib mas Andi juga mau ikut kumpul di rumahku.
"Eh, Tari. Sama siapa kamu ke sini?" tanya Yoga yang baru saja sampai rumah.
"Sendiri."
"Tumben kamu main ke sini. Ada apa?"
"Kok nanyanya gitu sih, Ga? Enggak sopan tahu!" Yoga nyengir persis seperti anak-anak yang dimarahin ibunya.
"Tuh Ri. Lihat, tingkahnya persis anak TK kan? Padahal aku nikahnya sama orang dewasa lho, kenapa sekarang jadi begini ya?"
"Tuker tambah aja apa?" Tari malah ngompor-ngomporin.
"Eh, apaan tuh yang mau di tukar tambah?" Yoga mendengar bisik-bisik kami.
"Yee, nguping ya? Kalau nguping jangan pake ngabisin makanan dong!" Tari mengambil kotak makanan yang tadi dibawanya.
Yoga mengambilnya lagi. Dan terjadilah tarik menarik kotak makanan. Lha kok malah Tari ketularan jadi kayak balita?
Bahkan mereka enggak cuma rebutan kotak makanan, tapi saling meledek.
Kejadian itu terus sampai mas Andi datang.
"Mas, mau lihat anak balita berantem?"
__ADS_1
Mas Andi mengerutkan dahinya. Aku menunjuk dengan bibirku.
"Tuh, lihat. Udah tua-tua malah kayak anak balita."
"Masa kecil mereka kan kurang bahagia," sahut mas Andi dengan entengnya.
"Enak saja!" Tari melemparkan bantal kecil ke arah mas Andi. Sepertinya dia tidak terima.
"Bang Yoga tuh, yang masa kecilnya kurang bahagia. Jadi sekarang merubah kayak anak balita!"
Yoga cuma ketawa dikatai seperti itu. Aneh, kan? Padahal biasanya bisa ngomel-ngomel kalau ada yang ngatain aneh-aneh.
"Kamu juga tadi ngapain ikutana kayak anak kecil, Ri?"
"Aku tadi?" tanya Tari. Aku mengangguk.
"Sengaja biar Bang Yoga lupa dan enggak minta jalan-jalan ke taman," jawab Tari dengan santainya.
"Maksudnya, kamu mengalihkan perhatian begitu?" tanyaku pelan. Yoga lagi masuk ke kamar mengambil sesuatu.
Tari mengangguk dan terbahak.
"Berhasil kan?" Tari bangga telah berhasil mengelabuhi Yoga. Yoga sendiri cuma nyengir.
"Memang aku sudah enggak pingin ke sana lagi. Capek. Mending di rumah, banyak makanan," sahut Yoga tak kalah santainya.
Tari merengut.
"Capek-capek aku bikin malah diabisin semua," ucap Tari dengan kesal.
"Besok kan bisa bikin lagi." Dengan tanpa rasa bersalah, Yoga mengembalikan kotak makanannya pada Tari.
Tari menerimanya sambil cemberut.
"Eh, jangan cemberut terus. Entar cepat tua lho!" ledek Yoga.
"Biarin! Daripada berubah jadi anak kecil lagi. Hih. Mengerikan!" sahut Tari.
"Tari jangan bilang begitu dong. Aku kan juga ngeri. Masa suamiku jadi kayak begini." Yoga sudah tiduran di pangkuanku sambil memainkan rubik.
"Rubik siapa itu, Ga?" tanyaku. Aku tak pernah melihat sebelumnya.
"Tadi aku beli di toko mainan. Bagus kan? Kalian pasti enggak bisa maininnya."
Tari dan mas Andi semakin tergelak. Aku makin pusing saja melihatnya.
"Memangnya kamu bisa?" tanyaku melihat Yoga muter-muterin rubik yang malah semakin kacau warnanya.
"Ini lagi belajar." Yoga terus saja membolak-balik rubiknya.
__ADS_1
"Kalau pingin bisa, lihat tutorialnya di youtube, Ga." Mas Andi membuka ponselnya dan mencarinya di youtube.
Dengan penuh semangat Yoga beranjak dan duduk di sebelah mas Andi. Dan mereka berdua asik memainkan rubik bergantian.
Aku dan Tari makin puyeng saja. Bukannya memberi solusi untuk masalahku menyembuhkan sikap aneh Yoga, mas Andi malah ikut-ikutan jadi aneh.
"Keluar yuk, Ri. Kita cari makanan saja. Sambil cari angin," ajakku pada Tari. Sepertinya aku butuh udara segar buat merefresh otakku.
Aku pun keluar bersama Tari. Tak ada yang menanyakan kemana kami pergi. Baik Yoga maupun mas Andi. Mereka asik dengan mainan barunya.
"Kenapa Yoga jadi berubah seperti itu ya, Ri?" tanyaku sambil berjalan mencari tukang jualan makanan.
"Entahlah. Sepertinya kalau pengaruh dari kehamilanmu, enggak juga. Orang ngidam juga enggak aneh-aneh gitu juga, kan?" Aku mengangguk.
"Dulu waktu kamu hamil Berlian, apa mantan suami kamu begitu juga?" tanya Tari.
Aku malah jadi inget, mas Agung bahkan tak pernah peduli kalau aku hamil. Dan membiarkanku saat aku memutuskan pulang ke rumah orang tuaku.
"Jangan tanyakan itu, Ri. Sangat jauh berbeda." Akhirnya aku merasa lebih baik suamiku jadi aneh, daripada seperti dulu yang tak pernah peduli. Bahkan dia pernah meragukan kalau anakku bukanlah darah dagingnya.
Setelah mendapatkan makanan yang kami mau, aku meminta untuk pulang.
"Katanya bete di rumah lihat suamimu yang bersikap aneh?" tanya Tari.
"Enggak apa-apa deh, Ri. Mending juga aneh daripada enggak peduli sama sekali."
"Maksud kamu?"
Lalu aku menceritakan pada Tari awal permasalahanku dulu sampai akhirnya aku berpisah dengan suami pertamaku.
"Mengenaskan sekali, ya?" sahut Tari penuh rasa simpati.
"Iya, Ri. Makanya aku tak pernah mau kembali lagi meski dia terus saja memintaku kembali."
"Dan sekarang dia sudah kembali pada mantan istrinya?" tanya Tari.
"Sepertinya begitu. Aku tak mau peduli lagi."
Kami terus berjalan, sampai tiba-tiba ada sebuah motor berhenti di dekat kami.
Aku menatapnya sejenak. Mantan suamiku.
"Ada apa?" tanyaku. Dia tak menjawab. Dan langsung melajukan motornya kembali.
"Siapa dia?" tanya Tari.
"Orang yang tak pernah peduli pada istrinya yang sedang hamil!"
Tari bengong. Aku segera menarik tangan Tari agar segera sampai ke rumah, dan bertemu suami yang sangat care pada kehamilanku. Saking care-nya sampai-sampai dia ngidam yang aneh-aneh.
__ADS_1