Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 62


__ADS_3

Keesokan harinya Rio dan Ana kembali ke Jakarta, hari itu Rio menemani istrinya memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan, kini usia kandungan Ana sudah memasuki enam bulan.


Dokter meminta Rio dan Ana untuk lebih sering berkomunikasi dengan janin yang berada dalam kandungan Ana, karena janin sudah dapat mendengar hal yang terjadi di luar perut, dokter juga meminta Ana untuk menjaga asupan nutrisi yang cukup agar stimulasinya terjaga. 


Selesai memeriksa kandungan mereka pergi ke perusahaan milik Rio, setibanya di kantor, Rio memanggil Adit untuk masuk ke ruang kerjanya.


Begitu Adit masuk ke dalam ruangan, ia merasa dirinya seperti hendak akan di sidang oleh Rio, Ana dan Lyra yang telah menunggu dirinya di sofa.


"Duduklah dit!!" ucap Rio tanpa berbasa-basi.


Setelah Adit duduk dengan tenang, barulah Rio memulai pembicaraannya.


"Jadi kapan kamu melamar adikku Lyra?" tanya Rio dengan tegas.


"Ma-maksud Pak Rio?" seketika wajah Adit nampak menjadi gugup.


"Hei, apa kamu tidak berniat menikahi adikku, padahal kalian tiap hari jalan berdua."


"Bu-bukan begitu pak rio, Aku..."


"Sudahlah jangan mencar-cari alasan, nanti malam ajak orang tuamu makan malam di rumahku. Kita bicarakan tanggal pernikahan kalian" ucap Rio.


Adit merasa terkejut bercampur rasa bahagia mendengar apa yang di katakan oleh Rio.


"Saat ini aku dan istriku sedang mengurus perusahaan milik papa mertuaku, aku ingin meminta tolong padamu bantulah Lyra di sini. Tapi aku tidak ingin kalian selalu berdekatan tanpa iktan yang halal, maka nikahilah Lyra."


"Baik Pak Rio, nanti malam aku akan membawa orang tuaku datang ke rumah Pak Rio untuk melamar Lyra."


"Hei Aditya, kau ini akan menjadi adik iparku mengapa masih saja memanggilku Pak, panggillah sama seperti Lyra memanggilku."


"Dan jangan panggil aku Ibu lagi" sambung Ana sambil tersenyum.


"Baik Mas Rio dan Mba Ana."


"Ya sudah, kamu kembalilah bekerja, persiapkan dirimu untuk nanti malam" ucap Rio.


Selepas Adit meninggalkan ruang kerja Rio, Lyra memeluk Ana dengan rasa bahagia.


"Terima kasih ya Mba Ana, sudah merestui hubunganku dengan Mas Adit, dari kemarin kita galau mau mita izin ke Mba Ana, kita berdua takut"


"Mas yang merestui kalian, kenapa tidak berterima kasih juga kepada Mas."


"Sudah-sudah kalian jangan ribut di depanku. Lyra, nanti pernikahanmu Mba yang urus, anggap saja sebagai kado pernikahan kalian dari Mba" ucap Ana.


"Biarkan mereka mengurusnya sendiri, aku tidak ingin kamu lelah sayang" ucap Rio.


"Aku hanya membatu mereka mencarikan WO dan designer wedding dress untuk mereka, biar nanti pihak WOnya yang akan mengurus semuanya. Mereka berdua tidak sepertimu yang banyak maunya sayang."


"Aku tidak banyak maunya, aku hanya mau kamu saja. Sudah yuk ikut aku." ajak Rio, ia mengulurkan tangannya mengajak istrinya pergi dari kantornya.


"Kita pergi dulu ya Lyr, kalo kamu mengalami kesulitan hubungi Aba ya." Ana menerima uluran tangan suaminya dan menggenggamnya erat.


Rio mengajak Ana melihat progres pembangunan rumah mereka.


"Boleh aku pake deposito kita untuk mempercepat pembangunannya, aku ingin sebelum anak kita lahir kita sudah bisa menempatinya?" tanya Rio.


"Ia sayang, nanti aku urus pencairannya. Kita ajak Ibu untuk tinggal di sini ya" Ana merindukan kehangat berada disisi Ibu mertuanya.


"Terima kasih sayang, kamu bukan hanya sayang denganku tapi juga dengan Ibu dan adikku" Rio mencium tangan istrinya.


Setelah melihat rumah, Rio mengajak istrinya ke perusahaan ayahanda Ana. Sesampainya di kantor, Ana meminta izin kepada suaminya untuk menemui Gita. Sudah lama sekali rasanya Ana tidak bertemu dengan Gita, ia amat merindukannya.


"Ya sudah tapi jangan lama-lama ya." Rio mengecup kening Ana dan berjalan ke arah ruang kerjanya.

__ADS_1


Melihat suaminya sudah pergi, Ana masuk kedalam ruang kerja Gita, keduanya saaling melepas rindu satu sama lain hingga tanpa terasa hampir satu jam lamanya mereka mengobrol.


Puas mengobrol dan melepas rindu dengan Gita, Ana berpamitan kembali ke ruang keja suaminya, namun sebelum ia ke ruang kerja suaminya, Ana pergi ke toilet untuk merapihkan hijabnya.


Selesai merapihkan hijabnya Ana bergegas keluar dari toilet, saat hendak keluar dari toilet Ana melihat Felly yang akan masuk ke toilet.


"Aku bisa memberikan apa yang tidak bisa Ibu berikan kepada suami Ibu" ucap Flly dengan nada angkuhnya.


Mendengar ucapan Felly, Ana menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Felly.


"Apa maksudmu?" tanya Ana


"Virgin" jawab Felly singkat.


Ana mendekat ke arah Felly, ia membuka tasnya mengambil scraf yang ada dalam tasnya. Kemudian ana menaruh scarf tersebut di pundak Felly menutup bagian dada Felly


"jagalah tubuhmu baik-baik, kamu ini sangat cantik dan pintar. Aku yakin kamu akan mendapatkan seorang suami yang tulus menyayangimu, persembahkan mahkota itu kepadanya, dan terima kasih kemarin kamu telah membantu suamiku, tugasmu sudah selesai" ucap aAa dengan lembut, ia melangkah pergi meninggalkan Felly di toilet.


Ana masuk ke ruang kerja suaminya, ia melihat Rio nampak sedang serius menatap laptopnya samapai-sampai Rio tidak menyadari jika istrinya telah berada di sampingnya. Ana mencium pipi suaminya agar suaminya sadar akan keberadaan dirinya.


"Duduk sini!!" Rio meminta Ana untuk duduk di pangkuannya, Ana pun menuruti permintaan suaminya.


"Sayang, kamu keberatan tidak jika kamu ganti sekretaris?" tanya Ana.


"Kamu hubungi divisi HRD, mintalah seseorang yang lebih berkompeten dari Felly dan yang membuat hatimu tenang" jawab Rio.


"Kamu yakin tidak keberatan?"


"Hu'um, asalkan sama berkompetennya dengan felly, siapa pun tidak masalah, aku hanya butuh kinerjanya. Sekarang kamu masih mau bahas Felly atau mau bantu suamimu mengevaluasi semua laporan ini?" ucap Rio sambil menatap istrinya.


"Ia sayang, aku mau bantuin kamu." Ana mencoba turun dari pangkuan Rio, namun Rio menahannya.


"Di sini saja, aku masih ingin memelukmu sambil membaca semua laporan-laporan ini."


"Sumpah aku tidak menegerti isi dari laporan-laporan ini" Rio nempak frustasi membaca laporan-laporan tersebut.


Ana mengambil ipadnya kemudian, ia melakukan panggilan video call dengan kakaknya.


Rio menanyakan semua hal yang tidak ia pahami kepada kakak iparnya, dengan sabar Risti menjawab semua pertanyaan Rio dan menjelaskannya secara detail.


"Jika masih ada hal yang belum jelas, langsung telepon atau video call ya dek. Kakak mengerti kok backgroundmu bukan di bidang ini, kamu pasti mengalami banyak kesulitan tapi kakak percaya kamu mampu melaluinya" Risti menutup panggilan video call.


"Aku memang bodoh, kenapa tidak dari awal saja aku meminta bantuan kakak, gengsiku terlalu tinggi" ucap Rio.


Ana membalikan tubuhya menghadap suaminya "Kita semua sayang padamu, kita semua tidak akan membiarkanmu memikul tanggung jawab ini sendirian. Terutama aku, aku tidak akan membiarkan suamiku mengalami kesulitan seorang diri." Ana membelai wajah suaminya dengan lembut.


Tok... Tok... Tok...


Office boy kantor datang ke ruang kerja Rio dengan membawa banyak makanan yang Ana pesan untuk dirinya dan juga suaminya. Ana membuka satu persatu persatu makanan yang ia pesan dan merapihkannya, melihat suaminya yang masih terlihat sibuk Ana menghampiri suaminya dengan membawakan makanan.


"Aku suapin ya" ucap Ana sambil memasukan sendok ke mulut suaminya.


Selesai makan Ana mengajak suaminya untuk beribadah bersamanya, ia melihat suaminya jauh lebih terlihat lebih tenang setelah selesai beribadah, kemudian Rio memulai lagi pekerjaannya.


"Sayang, kayanya keputusan untuk membeli Ethylene glycol dalam jumlah yang agak banyak, masih perlu di pertimbangkan. Kita harusnya cek dulu ketersediaan dan kapasitas tempat penyimpanannya" ucap Ana.


"Aku sudah menghitungnya sayang, lagi pula saat ini harga pasar lagi turun jadi tidak ada salahnya" Rio mengecup bibir Ana sambil menyerahkan selembar kertas hasil hitungannya kepada istrinya.


Dengan teliti Ana memeriksa hitungan yang di buat oleh suaminya, Ana mengcompare dengan data laporan dari divisi persediaan.


"No baby, yang kamu hitung ini tidak tepat, total kapasitas ruang yang kita miliki untuk menampung Ethylene glycol tidak segini, coba kamu perhatikan lagi laporan terbarunya." Ana menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Rio sambil membalas kecupan suaminya.


"Astga, hampir saja aku salah, terima kasih ya sayang. Rasanya aku ingin menyerah saja dan kembali ke kantorku yang lama di mana situasi di sana lebih tenang dan menyenangkan. Kamu lihat berapa banyak email yang masuk dan menunggu keputasanku? aku tidak bisa mengambil keputusan tanpa aku mempelajari semua berkas ini" Rio menyandarkan keningnya di bahu istrinya.

__ADS_1


"Kita pelajarin satu-satu ya" Ana mengelus wajah suaminya, sambil terus memberikannya semangat.


"Bagaimana caranya kamu bisa setenang ini, ditengah situasi kantor sehectic dan segila ini beban kerjanya?" tanya Rio.


"Dulu waktu aku kuliah di Jerman, tiga bulan pertama aku di sana kerjaanku hanya menangis, marah, ribuan kali mengeluh, merasa jadi manusia yang paling bodoh, insecure, dan berkali-kali rasanya ingin menyerah. Sampai pada akhirnya aku mulai dapat mengikuti ritme situasi yang ada, fasemu saat ini sama sepertiku dulu. Jadi menangislah, marahlah, mengeluhlah, tumpahkan semua yang kamu rasakan. Aku siap menerima dan mendengarkan semua hal yang kamu rasakan, kamu hanya perlu adaptasi, sayang" Ana mengelus lengan suminya dengan lembut.


Rio memeluk Ana dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahunya.


Tok... Tok... Tok...


Edgar sekertaris baru Rio, mengetuk pintu ruang kerja Rio, ia mengingatkan Rio jika sebentar lagi akan ada jadwal meeting bersama dengan divisi marketing.


"Excuse me, Mr. Rio and Mrs.ana I just want to remind if Mr.Rio have a meeting schedule with market division for 30 minutes again."


"Ok, Thanks Edgar wait for minutes, I'll be there" ucap Rio.


Begitu Edgar keluar ruang kerja suaminya, Ana menggenggam tangan Rio "Aku temani ya" ucap Ana.


Rio menganggukan kepalanya sambil membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya.


Dalam meeting tersebut Ana melihat Felly meeting bersama dengan dirinya, karena pihak HRD menempatkan Felly di bagian marketing.


Ada raut kebimbangan yang Ana tangkap di wajah suaminya saat mendengarkan penjelasan dari presentasi marketing manager, ia mengambil alih meeting yang sedang berjalan.


"From the report wich I received, it's been six months in a row that we haven't reached our maximum target. This mouth, no matter how do it, we must reach the maximum target. You get thinks of solutions not just make report the problem." Ana berbicara kepada marketing manager dengan menaikan intonasi suaranya sehingga terdengar sangat tegas.


Seusai meeting Ana terlebih dahulu ke luar ruangan karena ia ingin ke toilet, tanpa Ana sadari Felly berlari mengejar Ana.


"Bu Ana, boleh aku berbicara sebentar?" panggil Felly.


"Boleh, ada apa Fell?"


"Aku ingin meminta maaf kepada Ibu" ucap Felly dengan raut penyesalan.


"Sudahlah, aku sudah memaafkanmu. Oh ia Fell, Maaf aku sudah memindahkanmu, tapi kamu tenang saja aku tidak akan memotong gajimu, bekerjalah dengan baik jika kamu masih ingin bekerja di sini." Ana pergi meninggalkan Felly.


Selesai dari toilet Ana kembali masuk ke ruang kerja suaminya, Rio meminta Ana untuk kembali duduk di pangkuannya.


"Caramu cemburu, sungguh sangat elegan. Aku bangga dengan kedewasaanmu, terima kasih sayang." Rio mengecup punggung Ana.


"Memangnya kamu tadi lihat?"


"Ya tadi aku sempat melihat dan mendengar obrolanmu dengan Felly sebelum kalian masuk kedalam toilet" ucap Rio "Terima kasih tadi sudah membantuku, aku cukup terkejut dengan ketegasanmu saat meeting tadi"


"Meeting tadi itu tidak gratis ya, aku hitung hutang haha...." Ana membalikan tubuhnya menghadap suaminya.


"Kamu mau sekarang?" tangan Rio masuk ke dalam pakaian istrinya, ia meremas dada Ana dengan lembut sambil mengecup bibirnya.


"Jangan disini sayang, sekarang kita harus pulang. Kamu lupa jika kamu punya janji dengan Adit dan orang tuanya? Bagaiman jika kita lakukan di mobil?" goda Ana sambil mengedipkan matanya


"NO, BIG NO!!!! YOU GRAZY BABY." ucap Rio dengan nada tinggi.


Ana mengambil handphonenya kemudian menunjukan foto mobilnya yang baru saja di modifikasi oleh supirnya.



"Lihatlah!! tapi jika kamu tidak mau ya sudah, aku mau tidur saja sepanjang perjalanan sampai ke rumah." ucap ana sambil mengambil kembali handphonenya dari tangan suaminya, kemudian ia berjalan keluar meninggalkan rio di ruang kerjanya.


Rio berlari mengejar istrinya, begitu sudah dekat Rio merangkul pundak istrinya.


"I'm so sorry baby. I really want it" bisik Rio.


Ana hanya tersenyum dan melingkarkan tangan kirinya ke pinggang suaminya, keduanya berjalan keluar dari kantor.

__ADS_1


__ADS_2