Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 150 BABYMOON PARTY (TAMAT)


__ADS_3

Aku terbangun di tengah malam. Karena kebelet pipis. Aku melihat Yoga sedang makan. Ingin menyapa tapi masih kesal. Lagi pula aku sudah tidak bisa menahan pipisku lebih lama lagi.


Begitu aku keluar dari kamar mandi, Yoga sudah ada di depan pintu.


"Kenapa?" tanya Yoga. Aku malah bingung mendengar pertanyaan Yoga.


"Kenapa apanya?"


"Kamu. Kok lama banget di dalam?" tanya Yoga lagi.


"Pipis." Aku berjalan kembali ke kamar. Tadi memang aku di kamar mandi cukup lama. Mungkin karena kelamaan nahan, jadi kantung kemihku penuh.


Yoga menyusulku ke kamar. Bahkan dia menghentikan langkahku, dan memeluk dari belakang.


Aku diam saja. Tak bereaksi apapun. Selain karena aku masih kesal, mataku juga masih ngantuk.


"Maaf tadi siang aku berbohong padamu. Tadi siang aku pergi bersama Lidya," ucap Yoga.


Jantungku langsung berpacu dengan cepat. Kesal banget dibohongin, meski sekarang Yoga mengakuinya.


"Kenapa mesti berbohong?" tanyaku.


Yoga malah menarik tanganku. Dia mengajak aku ke satu kamar yang aku siapkan untuk anak-anakku nanti.


Dia membuka pintu kamar itu. Dan aku melihat ada sebuah tempat tidur yang cukup besar.


Di atasnya ada beberapa perlengkapan bayi yang semuanya serba dua.


"Kamu membelinya?" tanyaku. Yoga menggeleng.


"Itu dari Lidya. Dia yang membelikannya untuk anak kita," jawab Yoga.


Aku menatap Yoga dengan bingung. Kenapa harus sekarang? Bukankah bayiku akan lahir beberapa bulan lagi?


"Kamu pasti sedang bertanya-tanya kenapa sekarang, kan?" Yoga menebak pikiranku. Aku mengangguk.


"Lidya besok akan pergi keluar negeri. Mungkin dalam waktu yang lama. Dia akan bekerja di sana. Calon suaminya juga ada di sana." Yoga menjeda kalimatnya.


"Tadi Lidya mengajakku ke pusat perbelanjaan. Dia memintaku untuk memilihnya sendiri. Tadinya dia ingin mengajakmu juga. Tapi aku bilang kamu lagi kontrol ke dokter."


"Akhirnya aku sendiri yang memilihnya. Kamu suka?" tanya Yoga.


Pastinya aku sangat suka. Modelnya bagus banget. Aku yakin harganya juga pasti mahal.


"Maaf juga aku pulangnya malam. Rapat yang tadinya akan diadakan siang, malah diundur sampai sore. Jadi selesainya malam."


"Terus kenapa hape kamu tidak aktif?" tanyaku.


"Hapeku lowbath. Aku lupa bawa charger. Karena sibuk, aku lupa meminjam charger."


Aku melengos sebal. Alasan saja. Pikirku.


"Masih tak percaya?" Aku hanya menatap wajah Yoga yang terlihat menyesal.

__ADS_1


"Tadi pekerjaanku banyak sekali. Aku harus menyelesaikan semua proyek secepatnya. Karena aku masih punya hutang sama kamu," sahut Yoga.


"Hutang?" tanyaku. Aku tak merasa memberikan hutang pada Yoga.


"Iya. Aku masih punya hutang janji pada kamu. Lupa?" tanya Yoga.


Aku berusaha mengingat-ingat.


"Honey moon sebelum anak-anak kita lahir. Dan aku ingin bulan depan sudah bisa mewujudkannya. Kamu mau kemana?"


Hah? Aku tak percaya Yoga masih mengingatnya. Waktu itu aku hanya asal ngomong saja. Makanya aku melupakannya dan tak pernah menagih.


Aku tahu kalau Yoga sangat sibuk dengan urusan pekerjaannya. Rasanya terlalu berlebihan kalau aku menuntutnya untuk memenuhi janjinya.


"Bagaimana? Kamu pingin pergi ke suatu tempat? Bulan depan kita wujudkan," ucap Yoga meyakinkan aku.


"Enggak, Ga. Aku hanya becanda saja waktu itu. Kamu kan banyak pekerjaan. Lagi pula, perutku semakin besar. Enggak nyaman pergi jauh-jauh," sahutku.


"Kalau begitu, yang deket-deket saja. Biar kamu enggak kecapean di jalan." Yoga masih terus memaksaku.


Aku berfikir sejenak.


"Aku juga sudah suntuk dengan tumpukan pekerjaan setiap hari. Pingin rasanya berlibur," ucap Yoga lagi.


"Mm, bagaimana kalau kita ke puncak saja. Kata Tari kalian punya kebun teh di sana," jawabku.


"Kamu mau ke sana saja?" tanya Yoga.


Yoga mengangguk.


"Tapi aku mau keluargaku juga ikut. Kasihan mereka tak pernah berlibur. Apalagi ibu yang selalu sibuk dengan Berlian."


Yoga mengangguk lagi.


"Apa di sana ada tempat buat kami tidur?" tanyaku. Aku tak mau kalau menghabiskan banyak uang untuk membayar penginapan. Karena aku maunya kita di sana beberapa hari.


"Jangan khawatir. Kamu bilang saja pada keluargamu. Biar mereka siap-siap. Apalagi bapak, biar mengurus cutinya," sahut Yoga.


"Mas Andi dan Tari boleh ikut?" tanyaku.


"Kalau Tari, enggak usah diajak saja pasti bakalan menyusul. Dia sudah hafal jalannya. Dan dia juga sudah lama sekali enggak ke sana."


Aku tersenyum senang. Pasti akan sangat bahagia bisa berlibur bersama-sama.


"Ya sudah, sekarang tidur yuk. Aku capek banget," ajak Yoga. Aku pun menurut. Sekalian aku mau berkhayal dulu bisa menikmati honey moon sebelum nanti sibuk dengan anak-anakku.


Keesokan harinya, dengan bersemangat aku mengatakan rencanaku untuk berlibur pada keluargaku.


Tadinya ibu menolak untuk ikut. Alasannya tidak mau mengganggu liburanku dan Yoga. Tapi aku memaksanya, hingga akhirnya ibu menyetujuinya.


Bahkan bapak dan mas Andi juga aku paksa untuk mengajukan cuti selama satu minggu. Karena rencananya aku ingin berlibur selama satu minggu. Yoga juga tidak keberatan.


Tari yang belum sempat aku kabari, sempat marah-marah. Dia pikir tidak akan diajak.

__ADS_1


"Diajaklah. Cuma memang aku belum sempat bilang. Lagi pula kamu kan enggak perlu mengajukan cuti. Tinggal atur waktu saja," jawabku saat Tari protes dan menelponku.


"Tapi kamu jangan bilang sama Oma dulu, ya? Biar jadi surprise buat Oma," pesanku pada Tari. Yoga juga sudah aku omongin sebelumnya.


Lagi pula aku tak mau nanti malah merepotkan Oma. Untuk keperluan makan kami selama di sana, aku meminta Tari untuk menyiapkannya dari sini.


Bik Siti juga aku ajak serta. Biar dia bantu-bantu urusan dapur nantinya. Bagaimana pun menyiapkan makan untuk banyak orang dan dalam waktu seminggu itu bukan hal yang mudah.


Bik Siti sangat senang sekali. Akhirnya dia bisa juga berlibur ke puncak, walau dia masih tetap dengan tugas-tugasnya.


Hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Kami semua sudah berkumpul di rumahku. Kami akan menggunakan dua mobil Yoga.


Aku dan Yoga berdua saja. Yang lain menggunakan mobil Yoga yang cukup besar.


Kami konvoy ke sananya. Rasanya bahagia sekali bisa membahagiakan keluargaku.


Perjalanan yang cukup melelahkan, tapi mengasyikan. Karena menjelang sampai di lokasi, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya.


Tak henti-henti aku ucapkan syukur pada Yang Maha Kuasa atas semua rahmatnya kepadaku. Aku yang sering membuat masalah di keluargaku, hari ini akan menyenangkan mereka.


Aku yang pernah gagal dalam pernikahan, kini menemukan pasangan yang sangat menyenangkan.


Pasangan yang masih bujangan. Jadi aku tak lagi dicap sebagai pelakor. Cap yang sangat membuat hati dan mentalku down.


Yoga dan keluarga besarnya mampu menerimaku dan anakku dengan baik.


Perjalanan kami sampai juga di sebuah bangunan tua yang megah dan masih sangat terawat. Halaman yang sangat luas dengan hamparan rumput hijau. Aneka tanaman buah-buahan yang kebetulan beberapa sedang berbuah. Rasanya ingin sekali memetik dan memakannya langsung.


Aku masuk melewati pintu utama. Sebelum masuk, di sisi bangunan utama ada sebuah ruangan yang cukup luas. Di sana berjajar mobil-mobil antik yang masih sangat terawat.


"Itu punya siapa, Ga?" tanyaku.


"Sebagian punya orang tuaku, sebagian lagi punya almarhum Opa," jawab Yoga.


Woiw, tak pernah terlintas dalam kepalaku akan menikah dengan anak sultan. Bagaimana tidak, di belakang bangunan itu terhampar kebun teh yang terlihat saat mobil kami hampir memasuki halaman rumah.


Rombongan keluargaku sudah sampai terlebih dahulu sepertinya. Terlihat dari mobil mereka yang sudah terparkir di halaman.


Yoga menggandeng tanganku menuju ruang tengah.


"Surprise...!" Seru semua orang yang ada di ruangan itu menyambutku.


Aku dan Yoga di taburi potongan kertas kecil warna warni. Aku sangat terkejut. Ada apa ini? Ulang tahunku masih lama. Yoga juga.


Di dinding ruang tamu ada sebuah tulisan dari balon. Baby moon party.


Wouw. Aku terharu menerima surprise ini. Aku yang merancang acaranya, ternyata aku didahului oleh mereka.


Selalu begitu. Selalu aku kalah satu langkah dari mereka. Tapi aku bahagia. Karena di sini aku bisa berkumpul dengan keluargaku dan keluarga Yoga.


Kami semua berbahagia. Dalam acara kejutan Babymoon Party.


-Tamat-

__ADS_1


__ADS_2