
Tanpa pikir panjang, Rio bergegas pergi ke rumah sakit. Melihat atasannya pergi dengan raut muka yang panik, Adit mengambil alih pers conference tersebut, ia mempersilahkan kuasa hukum Rio untuk berbicara mengenai sanksi pidana bagi orang-orang yang menyebar luaskan video tersebut.
Perasaan kalut menyelimuti hatinya, Rio memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah sakit Rio melihat sekerumunan orang yang berada di parkiran rumah sakit sedang melihat ke atas gedung rumah sakit.
Dengan jelas Rio melihat istrinya sudah berada di pinggir, ia segera berlari ke atas menuju rooftop. Dengan tidak sabar Rio berkali-kali memencet tombol lift, namun tak kunjung terbuka, tak hilang akal Rio berlari menuju tangga darurat.
Sementara itu atas rooftop Risti, Pak Reino, beberapa perawat, psikiater yang menangani Ana, mereka semua sedang membujuk Ana agar Ana mengurungkan niatnya, akan tetapi Ana justru mengancam mereka semua jika terus mendekatinya maka Ana akan benar-benar segera loncat dari atas gedung tersebut.
Dengan keringat yang bercucuran dan kaki yang sudah lemas Rio tiba di rooftop, ia berjalan dengan langkah gontai mendekati istrinya, namun langkahnya terhenti ketika Ana menyuruhnya untuk tidak mendekatinya.
"Aku tidak akan memintamu untuk mengurungkan niatmu terjun dari gedung ini, aku sangat mengerti apa yang kamu rasakan karena aku pun merasakan hal yang sama. Aku mohon padamu, ajaklah aku bersamamu"pinta Rio, dengan raut wajah memelas.
"Kak Rio bisa menikahin wanita lain yang jauh lebih baik dariku" ucap ana dengan deraian air mata yang menetes di pipinya.
"Sayang, maafkan aku yang tidak mampu melindungi istri dan anakku, aku mohon ajak aku bersama kalian" Air mata rio pun mengalir deras di pipinya.
"Anak?" tanya Ana bingung.
"Ia sayang, saat ini kamu sedang mengandung anak kita" ucap Rio tersenyum.
"Kak Rio jangan bohong, kita baru saja menikah, mana mungkin aku bisa hamil."
"Aku tidak pernah berbohong kepadamu sayang." Rio mengambil foto hasil USG dan memperlihatkannya kepada Ana, ia perlahan-lahan mulai mendekat ke arah istrinya.
"Aku pernah kehilangan calon anakku, janin yang berada dalam kandungmu waktu itu. Rasanya seperti setengah nyawaku di ambil paksa, jika hari ini aku harus kembali kehilangan calon anakku beserta dengan dirimu. Aku sudah tidak punya alasan untuk tetap bertahan hidup, jadi ajaklah aku bersamamu."
Rio sudah berada tepat di depan ana, memberikan foto hasil USG kepada ana. Ana menerima foto tersebut kemudian merabanya.
"Benarkah ini anakku?" tanya Ana
"Jika kamu masih ragu, mari kita cek ke bawah setelah itu kamu bisa putuskan."
Ana berhambur kepelukan suaminya sambil menangis sesegukan di pelukan suaminya.
"Aku malu hiks... Aku malu Kak huuuu..."
"Please, jangan tinggalin aku. Kita bisa tinggal di luar negeri jika kamu mau, kita lupain semua masalah ini dan kita bangun sama-sama semuanya dari awal." Rio mendekap erat tubuh istrinya sambil mengecup lembut kepala istrinya.
"Aku merasa semakin tidak pantas untukmu hiks..."
__ADS_1
Rio merangkum wajah istrinya yang beruraian air mata, ia mengusap air mata di pipi Ana.
"Sayang tataplah mataku!! Rasa cintaku kepadamu tidak pernah berkurang sedikit pun sejak pertama aku bertemu denganmu, yang ada justru semakin bertambah karena kehadirannya." Rio mengelus perut Ana.
"Aku mohon jangan tinggalin aku sayang, aku tidak mau kehilangan kalian berdua" bisik rio.
Rio kembali membawa Ana ke dalam pelukannya dan memperdalam pelukannya.
Semua yang menyaksikan kejadian itu, merasa sangat haru sekaligus lega karena Rio telah berhasil membujuk Ana. Baik Risti maupun Pak Reino merasakan benar ketulusan Rio dalam mencintai Ana, berkali-kali keduanya menyeka air matanya.
"Kita turun ya" ajak Rio.
Ana hanya menganggukan kepalanya, kemudian Rio mempopong tubuh Ana menuju ruang rawat inapnya, Ana menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
Sesampainya di ruang rawat inap, Ana dan Rio di sambut hangat oleh beberapa sahabat dan rekan keduanya, mereka semua datang untuk memberikan dukungan untuk keduanya.
Begitu Rio merebahkan tubuh Ana di atas tempat tidur, Mia dan beberapa teman baik Ana bergantian memeluk dan memberikan support kepada Ana "Kami sayang banget sama loe An, semangat ya" ucap Mia bergantian dengan yang lainnya.
Rio mundur beberapa langkah memberikan kesempatan kepada teman-teman Ana untuk memberikan dukungannya kepada istrinya, kemudian rio menemui dan berbincang hangat dengan rekannya.
Tak lama kemudian Adit datang mendekat ke Rio, ia membuka iPad miliknya, ia memperlihatkan kepada Rio jika banyak warga net yang memberikan dukungan kepada Rio dan Ana di sosial media, pasca pers conference yang Rio lakukan beberapa saat yang lalu.
Bahkan tagar #kamibersamariodanana dan #kamisupportriodanana menduduki trending pertama dan kedua di salah satu jejaring sosial.
"Terima kasih banyak Dit."
Pukul 21.30 satu persatu sahabat dan rekan Rio dan Ana berpamitan pulang, hanya menyisakan Pak Reino dan Risti.
Melihat mertuanya nampak sangat kelelahan Rio mempersilahkan Pak Reino dan Risti untuk pulang dan Beristirahat.
"Terima kasih banyak ya nak, urusan selanjutnya biar papahyang mengurusnya, nanti papa akan mengabarimu mengenai perkembangannya" Pak Reino memeluk Rio sambil menepuk bahunya.
"Kami pulang dulu ya dek"
"Ia Kak, pah hati-hati."
Selepas kepulangan Pak Reino dan Risti tinggallah Rio dan Ana berdua di ruang rawat inap ana, dengan telaten Rio menyuapi Ana makan malam.
"Sayang makan bareng saja denganku, kamu belum makan juga kan?"
__ADS_1
"Aku sudah pesan makanan, sebentar lagi juga sampai. kamu jangan khawatir, yang ini kamu habiskan saja ya, kan sekarang makannya untuk berdua dengan anak kita"
Setelah menyuapi Ana makan dan memberi beberapa obat serta vitamin untuk istrinya, pesanan makanan Riio pun datang. Ia memesan berbagai macam makanan pedas seperti: ayam geprek, ayam taliwang, rujak pedas dan mie tek-tek.
"Sayang banyak sekali makanan yang kamu pesan, kamu yakin mau makan pedas?"
Ana memperhatikan makanan yang sedang Rio buka, ia nampak heran mengapa tiba-tiba suaminya mau memakan makanan pedas karena setau Ana suaminya itu tidak sukan makanan pedas.
"Entahlah, rasanya aku ingin sekali makan ini semua."
Rio memasukan ayam geprek ke dalam mulutnya, ia nampak menikmati makanannya. selesai makan ayam geprek, Rio membuka rujak buah yang ia pesan.
"Kamu mau sayang?" Rio menawarkan rujak kepada istrinya.
"Tidak, kamu ngidam ya sayang?" tanya Ana.
"Hmmm entahlah?"
Rio menghabiskan semua makanannya sendirian, Ana hanya menemani suaminya makan. Setelah selesai makan Rio mengecup dan mengelus perut ana.
" love you baby." ucap Rio, Kemudian Rio beralih mengecup kening Ana
"Terima kasih ya sayang, kamu masih mau hidup bersama denganku."
"Harusnya aku yang minta maaf denganmu, aku terlalu menuruti emosiku. Jika tadi aku benar-benar melakukannya sama artinya aku membunuh anakku sendiri." Ana sangat menyesali perbuatannya.
"Sayang, apa kamu tidak malu memiliki istri sepertiku?" tanya Ana.
"Aku sama sekali tidak merasa malu sayang, itu semua hanya masa lalu. Buat aku yang terpenting adalah hari ini dan esok kita melangkah bersama-sama menjadi yang lebih baik dari yang kemarin."
Rio membuka handphonenya kemudian memperlihatkannya kepada Ana, jika banyak orang-orang yang mensuportnya.
"Lihatlah, banyak orang-orang di luar sana yang mensuport kita" ucap Rio.
"Tapi yang aku liat banyak juga yang menghujatku di akun sosial mediaku." ucap Ana sambil menundukan kepalanya.
" Untuk sementara waktu aku tidak mengizinkanmu memegang handphone dan menonton TV, kamu tidak keberatan kan?" tanya Rio.
Ana menggelengkan kepalanya, ia menurut pada apa yang di katakan oleh suaminya karena ia percaya jika Rio memberikan yangbterbaik untuk dirinya.
__ADS_1
"Sudah malam, kamu istirahat ya" Rio menyelimuti tubuh Ana kemudian mengecup kening dan perut istrinya.
Saat Rio hendak beranjak untuk tidur di sofa, Ana menahannya. Ia meminta Rio untuk tidur di sebelahnya,dengan senang hati Rio menuruti permintaan istrinya, Ana tidur sambil memeluk Rio.