Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 126 MALAM TERAKHIR


__ADS_3

Malam sebelum hari pernikahanku dengan Yoga, mas Angga mendatangi rumahku.


Dia yang selama ini menghilang dan tak pernah lagi menghubungiku tiba-tiba datang dan memintaku membatalkan pernikahan.


Jelas saja aku menolaknya. Bagaimana mungkin aku membatalkan pernikahan yang hanya tinggal menunggu jam saja.


Dan apa haknya meminta seperti itu.


"Apa kamu melupakan apa yang pernah kita lakukan?"


Dengan lantang mas Angga menanyakan itu di depan keluargaku, bahkan di depan Yoga yang masih belum bisa berdiri.


"Apapun yang pernah kalian lakukan, aku tak peduli. Aku akan tetap menikahi Widhi!"


Yoga yang menjawab pertanyaan dari mas Angga.


"Aku tidak bertanya padamu! Aku tanya pada Widhi!"


"Widhi calon istriku. Jadi aku punya hak untuk menjawab apapun yang berhubungan dengannya."


Aku masih diam saja di samping Yoga. Begitu juga kedua orang tuaku. Mereka masih diam, menunggu apa yang akan dilakukan oleh mas Angga selanjutnya.


"Jangan sok jadi pahlawan. Kamu pikir siapa kamu, hah?"


Mas Angga seperti orang yang lepas kendali.


"Sudah tidak usah ribut. Malu sama tetangga. Nak Angga, sebaiknya kamu pulang. Mungkin memang kamu dan Widhi tidak berjodoh."


Bapak akhirnya ikut bicara karena mas Angga terus saja menyerangku dan Yoga.


"Baik. Aku akan pulang. Tapi aku tak akan membiarkan acara pernikahan kalian berjalan lancar!"


Mas Angga lalu pergi dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Sudah, tak usah dipikirkan lagi. Sekarang kalian siapkan diri kalian untuk acara besok pagi. Kamu Wid, tak perlu khawatir. Ada kakakmu yang akan menjagamu."


Lalu bapak masuk ke dalam kamarnya disusul oleh ibu.


"Ga. Nanti malam kamu tidur di kamarku. Tari biar tidur sama Widhi. Pokoknya amanlah. Di sini banyak orang kok." Mas Andi berusaha menangkan kami.


Seandainya kondisi Yoga sudah membaik pasti aku tak sekhawatir ini. Yoga pasti akan menjagaku dengan baik.


Aku, Yoga, mas Andi dan Tari masih melanjutkan obrolan di ruang tamu.


"Jadi besok rundown acaranya bagaimana?" tanya mas Andi.


Akibat kecelakaan yang menimpa Yoga, kami sampai tidak memikirkan rencana buat besok.


"Mas Andi sama Tari besok ambil mobil di rumahku. Ambil yang van saja, biar bisa muat banyak. Jadi kita bisa berangkat bareng ke Kantor Urusan Agama. Setelah itu baru kita pulang. Tim WO akan datang besok pagi jam lima ke sini. Jadi saat kita sampai lagi di rumah semua sudah beres." Yoga menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Tapi aku jadi bingung. Siapa yang pesan WO-nya? Katanya ibu yang akan memasak sendiri makanannya. Karena kita memang tidak banyak mengundang tamu.


"Kamu pakai jasa WO, Ga?" Yoga mengangguk.


"Kapan pesannya?" tanyaku tak mengerti.


"Tanya saja sama Tari. WO-nya teman Tari. Mereka siap bekerja cepat besok pagi katanya" jawab Yoga.


Tari hanya senyum-senyum. Pasti deh seperti ini. Mereka suka sekali membuat kejutan buat aku.


"Kenapa bengong?" tanya Yoga.


"Kalian kebiasaan. Melakukan sesuatu tanpa memberitahukan padaku dulu."


"Kamu kan dari kemarin sibuk mengurus Yoga di rumah sakit. Jadi untuk urusan besok di handle semua oleh Tari" sahut mas Andi.


"Katanya ibu yang akan memasak sendiri?" tanyaku lagi.


"Kasihan nanti ibu kecapekan. Sehari-hari saja udah momong Berlian, masih harus memasak juga" sahut Yoga.


"Oh iya, besok tim MUA juga datang jam lima pagi. Jadi Widhi siap-siap ya buat di rias." Tari ikut memberi kejutan untukku.


"Tim MUA?" Aku menatap Tari.


"Iya. Memang mau kalau aku yang meriasnya? Bisa-bisa malah jadi kaya badut." Tari tertawa dan diikuti yang lainnya.


Aku jadi merasa bodoh. Untuk hari istimewaku malah aku tak mengerti apa-apa.


Saking sibuknya mengurus Yoga selama di rumah sakit, aku sampai tidak memikirkan persiapannya sedikit pun.


Aku hanya berfikir akan pakai baju seadanya karena acara ijabnya di KUA. Aku pikir tidak perlu dirias segala.


Apalagi gara-gara ketemu Irene di butik, aku tidak jadi pesan kebaya.


"Udah, sekarang kamu istirahat sana. Ajak Tari sekalian. Besok bangun pagi-pagi. Jangan lupa besok pagi mandi dan gosok gigi. Jangan kayak waktu itu."


Mas Andi menutup mulutnya karena keceplosan. Aku melotot ke arah mas Andi.


"Memang kenapa waktu itu, Mas?" tanya Yoga.


"Gak apa-apa. Besok tanyakan saja sama yang bersangkutan. Ayo aku antar kamu ke kamar dulu."


Mas Andi memapah Yoga masuk ke kamarnya. Aku masih memperhatikannya karena khawatir mas Andi tidak kuat memapah sendirian.


"Tenang saja. Aku masih kuat memapah sendiri." Mas Andi memapah Yoga sampai ke tempat tidurnya.


"Kamu tidur di mana, Mas?" tanya Yoga begitu melihat tempat tidur mas Andi yang kecil.


"Aku jaga malam. Tenang aja. Aku bisa tidur di kursi. Yang penting kamu bisa istirahat."

__ADS_1


Lalu mas Andi meninggalkan Yoga sendirian.


"Ga, kalau perlu apa-apa bilang sama aku ya?" ucapku setelah mas Andi ke ruang tamu.


"Hape kamu aktifkan terus dong" sahut Yoga.


"Iya, tenang saja. Aku tinggal ya?" Yoga mengangguk lalu merebahkan diri.


Aku masuk ke kamarku. Tari sudah tertidur. Cepat sekali dia tidurnya.


Aku malah tidak jadi tidur. Rasanya malah tidak mengantuk. Mungkin karena tegang menjelang pernikahan. Meski ini pernikahan keduaku.


Aku ke ruang tamu, aku lihat mas Andi juga sudah merebahkan diri.


Akhirnya aku kembali ke kamarku. Tak ada yang bisa aku kerjakan. Tak ada yang bisa aku ajak ngobrol. Semua orang sudah tidur. Padahal baru saja jam sembilan.


Kalau aku menonton tv di ruang tamu, pasti mas Andi bakalan ngomel karena keganggu.


Malah jadi bete sendiri. Aku berjalan mondar-mandir keluar masuk kamar.


Bapak keluar dari kamar.


"Belum tidur kamu, Wid?" tanya bapak.


"Belum bisa tidur, Pak" jawabku.


"Dipaksa dong. Biar besok tidak kesiangan. Yang ngerias datangnya pagi lho" ucap bapak lalu masuk ke kamar mandi.


Loh, bapak saja tau kalau aku akan dirias pagi-pagi. Berarti sudah ada rencana di belakangku.


Hm, aku jadi penasaran rencananya apa saja buat besok pagi. Tapi mau tanya siapa?


Kalau tanya bapak, yang ada aku diomelin dan disuruh tidur. Nanya Tari malah orangnya udah terlelap.


Aku masuk lagi ke kamar dan merebahkan diri di sebelah Tari.


Aku baru ingat, kalau aku janji pada Yoga untuk mengaktifkan hape-ku.


Aku ambil hape-ku di atas meja rias. Lalu aku aktifkan. Tadi sempat mati karena kehabisan daya batre.


Aku kembali merebahkan diri di sebelah Tari sambil menunggu hapeku on lagi. Setelah itu baru aku tidur.


Begitu on, aku lihat banyak sekali pesan masuk yang belum aku buka. Dan semua pesan masuk itu dari Yoga.


Aku jawab pesan dari Yoga.


(Lebay!)


(Biarin. Ini kan malam terakhir aku kirim pesan untuk pacarku)

__ADS_1


Aku membalasnya dengan emot ketawa sebanyak-banyaknya.


__ADS_2