
Sepulang kerja, Yoga membelikanku dua buah alat tes kehamilan.
"Kenapa dua? Kamu mau pakai juga?" Aku mengembalikan yang satunya pada Yoga.
"Memangnya kamu mau kita hamil bersamaan?" tanya Yoga.
"Memangnya kamu mau beneran hamil?"
"Ogah. Aku donatur tetap saja. Kamu yang hamil," sahut Yoga.
"Enak di kamu dong, Ga. Aku yang mesti susah payah hamil."
"Eeh, sudah sana di pakai dulu testpack-nya. Udah enggak sabar nih lihat hasilnya." Yoga mendorong tubuhku agar segera masuk ke kamar mandi.
"Sabar, Ga. Aku kan belum kebelet pipis." Aku duduk di depan meja makan menikmati batagor yang tadi aku beli di tukang batagor yang lewat depan rumah.
Yoga juga ikutan duduk di depanku. Dia terus saja menatapku yang asik makan batagor.
"Enak?" Aku mengangguk.
"Kamu mau, Ga? Aku beli dua bungkus."
Tanpa menunggu persetujuan Yoga, aku bukakan batagor yang satunya.
"Kamu beneran beliin aku?"
"Iyalah. Ayo dimakan mumpung masih anget."
Yoga pun segera menikmati rasa batagor yang enak banget.
"Besok aku beliin lagi ya?" Aku menawari Yoga.
"Enggak, ah. Kalau kamu mau, beli buat kamu sendiri aja."
Yoga kelihatannya kurang suka. Mungkin karena rasa sambalnya yang sedikit pedas. Yoga kan tidak begitu suka pedas.
"Tapi jangan keseringan makan beginian. Kasihan nanti dedeknya kepedesan," ucap Yoga.
"Dites saja belum udah pede aja."
"Makanya buruan dites dong. Malah makan terus," protes Yoga.
"Kan aku udah bilang, belum kebelet pipis. Apa kamu saja yang pipis, entar aku tes urin kamu."
Yoga ngakak sambil menaruh piring bekas makannya dan mencucinya sendiri.
"Biarin nanti aku saja yang mencucinya, Ga."
"Cuma satu ini. Kasihan kan nanti dedeknya kecapekan."
Ish. Kayaknya Yoga sudah kebelet punya anak banget.
"Belum, Ga!"
"Belum apa?" tanya Yoga bingung.
"Belum dites."
__ADS_1
"Memang kamu belum kebelet pipis juga, ya?"
Sebel rasanya, kebelet pipis kok dipaksa. Akhirnya aku minum sebanyak-banyaknya.
"Eh, jangan kebanyakan minum. Nanti dedeknya kembung!" Yoga langsung merebut gelas yang aku pegang.
Aku malah jadi enggak enak sendiri. Bagaimana kalau ternyata nanti hasilnya negatif? Apa enggak kecewa dia?
"Ga. Aku mau pipis. Kalau hasilnya negatif bagaimana?" tanyaku khawatir.
"Ya kita kebut bikin lagi. Semakin sering dibikin kan peluang keberhasilannya semakin besar, iya enggak?"
"Auk, ah."
Aku tinggal masuk ke kamar mandi saja. Lalu aku yang sudah nyiapin mangkuk kecil menampung air seniku.
"Ga! Testpack-nya mana?" Teriakku dari dalam kamar mandi.
"Lho tadi kamu taruh dimana?" tanya Yoga yang sudah di depan pintu kamar mandi.
"Enggak tau, lupa."
Jadilah aku menggunakan testpack yang tadi aku berikan pada Yoga.
Yoga meraih mangkuk yang berisi air seniku.
"Eh, jangan. Bau!" Aku berusaha merebutnya kembali.
Yoga menghindar. Alhasil air seniku tumpah ke lantai.
"Kok aku? Kamu yang main ambil saja. Itu kan punyaku." Aku enggak mau disalahkan dong.
"Ya sudah. Nih isi lagi!" Yoga memberikan mangkok itu padaku kembali. Lalu dia membersihkan air seniku yang tumpah dan nyiprat kemana-mana.
"Aku belum kebelet lagi, Ga. Sabar lagi, ya?"
"Hhm. Tapi nanti jangan ditumpahin lagi!" sahut Yoga.
"Orang kamu yang numpahin kok aku yang disalahkan."
Aku tinggal saja Yoga keluar. Aku duduk di teras rumah. Biarin saja Yoga yang membersihkan semuanya.
"Permisi. Yoganya ada?"
Irene? Mataku hampir saja melompat saking kagetnya. Dia yang sudah aku anggap menghilang dari kehidupan Yoga, tiba-tiba muncul lagi.
"Ada!" jawabku dengan suara aku bikin ketus. Biar dia tahu kalau aku tak suka dengan kedatangannya.
"Bisa ketemu?" Suara Irene malah dibuat makin merdu. Duh. Kalau lomba bagus-bagusan pasti aku sudah tereliminasi duluan.
"Ada perlu apa?" Aku masih dengan suara ketus.
"Hay, Ga." Irene dengan tanpa basa-basi nyelonong masuk dan bercipika cipiki di depanku yang sudah membalik ke arah mereka.
Aku terngaga melihatnya. Yoga kelihatan salah tingkah.
"Kenapa telponku tidak pernah kamu angkat, Ga? Pesanku juga kamu enggak pernah baca." Irene merajuk dengan suara manja.
__ADS_1
"Aku...mm..." Yoga menatap ke arahku. Aku melototkan mata ke arah Yoga.
Lalu Yoga menepis tangan Irene yang memegangi tangannya. Dan berjalan mendekatiku.
"Kok dia ada disini sih, Ga?" Irene kembali merajuk.
"Ren, Widhi sekarang sudah sah jadi istriku." Yoga memelukku dari samping.
Sekarang gantian Irene yang ternganga. Satu telapak tangannya menutupi mulutnya. Sepertinya takut kemasukan laler.
"Kamu serius, Ga?"
"Iya. Aku serius. Kamu pikir aku main-main?"
"Ga! Aku pikir kalian tidak jadi menikahnya."
"Ngaco aja kamu, Ren. Yang enggak jadi tuh kebayanya. Rupanya istriku ini sudah punya pilihan kebaya sendiri."
Irene menatapku tajam. Bahkan lebih tajam dari silet. Nafasnya naik turun seperti sedang menahan emosinya.
Aku jadi ingat dulu saat mantan istrinya mas Agung marah kepadaku. Ekspresinya hampir sama. Lalu tiba-tiba menyerangku.
Kali ini aku tidak mau kecolongan lagi. Aku siap-siap berlindung di belakang Yoga kalau sampai itu terjadi. Bukannya takut dengan Irene, tapi aku enggak mau terluka kedua kali.
"Oke, Ga. Aku terima keputusan kamu. Silakan kamu meninggalkanku. Lupakan aku dan juga anakmu!" Lalu Irene pergi meninggalkan kami tanpa pamit.
Aku menatap wajah Yoga. Yoga hanya mengangkat bahunya.
"Kamu sudah mendengar cerita aslinya kan?"
Aku mengangguk. Untung saja cerita Yoga tentang Irene sama persis dengan yang diceritakan Tari padaku. Jadi aku tidak perlu baper dengan ucapan Irene.
Mungkin Irene pikir aku belum tahu tentang dia. Jadi dia berniat merusak hubungan kami yang belum seumur jagung.
Hh. Hari yang sempat bikin sport jantung. Bukan ide Irene yang ingin menghancurkan hubunganku dengan Yoga, tapi tatapan matanya yang seakan ingin memakanku hidup-hidup.
Yoga mengunci pintu rumah, lalu menarikku ke tempat tidur. Dan bisa dipastikan apa yang akan Yoga lakukan selanjutnya.
Hap. Yoga lah yang akhirnya memakanku hidup-hidup. Alhasil Yoga lupa dengan testpack-nya. Karena selanjutnya kami menghabiskan malam hanya berdua saja.
Yoga tak mau memberi kesempatan pada siapapun untuk merusak suasana malam ini.
Hingga pagi menjelang dan Yoga mesti buru-buru berangkat ke tempat kerjanya.
"Ga. Nanti aku tes sendiri ya? Kamu tunggu saja hasilnya."
"Oh, tidak. Enggak bisa kayak gitu. Harus nanti sore nunggu aku. Aku yang akan mengetesnya sendiri."
Lalu Yoga segera meluncur dengan motornya.
"Kenapa enggak naik mobil, Ga?"
"Macet! Nanti aku telat. Tolong nanti kamu panaskan saja mobilnya."
"Aku gak bisa, Ga. Aku bisanya manasin kamu. Hahaha."
Yoga menyentil hidungku sebelum berangkat dengan motor bututnya.
__ADS_1