
Akhirnya kami pulang dengan naik becak. Aku menolak berjalan kaki. Bukan cuma karena sudah capek, tapi aku juga tak mau mempertaruhkan janinku kalau aku jalan kaki terlalu jauh.
Tadinya Yoga juga menolak untuk naik becak, tapi setelah aku paksa akhirnya mau juga.
Sebenarnya bisa saja aku naik becak sendiri, dan Yoga berjalan kaki. Tapi aku kasihan melihat suamiku kayak orang hilang. Jalan sendirian. Malam juga.
Yoga menanyakan kebab yang aku beli tadi.
"Masih ada. Nanti aku makan di rumah saja."
Aku menyembunyikannya di balik badanku. Takutnya Yoga enggak suka lalu membuangnya.
"Buat aku saja sini. Aku lapar," ucap Yoga sambil memegangi perutnya.
Ya jelas lapar, sejak pulang kerja tadi dia hanya makan cilok saja.
"Mau dimakan sekarang?" tanyaku. Yoga mengangguk. Lalu aku bukakan kebabnya. Yoga memakannya dengan lahap.
"Kamu di rumah masak enggak, Wid?"
Waduh, aku mesti jawab bagaimana ini kalau Yoga tahu aku tidak masak? Sementara Yoga tahunya aku seharian di rumah saja.
"Kita beli saja, ya? Aku tadi mau masak. Tapi aku bingung mau masak apa," jawabku asal.
"Ya sudah, kita beli saja. Aku juga tadi mau bilang begitu. Tapi aku maunya makan di sana."
"Di sana, di mana?" tanyaku tak mengerti.
"Ya di warungnya lah. Mau ya?"
Aku mengangguk setuju. Daripada nanti Yoga nanya-nanya alasanku tidak masak. Aku juga belum punya jawaban dan belum punya keberanian untuk mengatakan pada Yoga.
Selesai makan di warteg, karena Yoga maunya makan di warteg, bukan restauran atau rumah makan lain, kita pulang lagi dengan becak yang lain.
Setelah sampai di rumah, aku berfikir bagaimana caranya bilang pada Yoga kalau aku tadi dari dokter kandungan.
Sebenarnya bisa saja aku mengatakan alasan utamaku ke sana. Tapi aku masih trauma kalau Yoga marah lagi seperti kasus testpack yang bikin Yoga mendiamkanku berhari-hari.
Jadi mending begini saja dulu, walaupun aku mesti menuruti kemauan Yoga yang aneh seperti anak balita.
Saat di tempat tidur, aku mencoba mencari bahan omongan yang mengarah ke sana. Tapi Yoga malah bercerita tentang masa kecilnya. Dia bilang alasannya kenapa tadi dia ikut main bola bersama anak-anak kecil. Ternyata karena dia mengingat masa kecilnya dulu.
"Ga. Kamu ada keturunan yang punya anak kembar enggak?" Aku mencoba mengorek keterangan dari Yoga. Karena di keluargaku tidak ada satupun yang mempunyai anak kembar.
Meski aku belum berani bertanya pada ibuku. Takutnya nanti mereka heboh lagi dan akan memberitahukan pada Yoga sebelum aku memberitahukannya dulu.
"Kayaknya enggak ada. Memangnya kenapa?"
"Enggak apa-apa. Nanya aja. Kayaknya lucu ya kalau kita punya anak kembar. Kamu gendong satu, aku gendong satu. Jadi adil kan?"
"Memangnya kamu pingin punya anak kembar?" tanya Yoga.
"Kepingin sih enggak. Tapi kalau dikasihnya kembar ya aku akan sangat bersyukur. Sekali brojol langsung dua."
"Kalau begitu, kita bikinnya dua kali setiap hari. Siapa tau nanti jadinya juga dua."
Padahal Yoga kalau sekali bikin bisa lebih dari dua kali. Hiih, aku jadi ngeri sendiri kalau aku hamil anak kembar lebih dari dua.
__ADS_1
Aku membayangkan seberapa besarnya perutku kalau bayinya lebih dari dua.
Membayangkan kembar dua saja sudah merinding. Karena dulu sewaktu aku hamil Berlian, perutku sangat besar. Apalagi kalau dua.
Aku menutupi wajahku dengan bantal. Mencoba menghilangkan pikiran menakutkan. Padahal mestinya tak boleh takut.
"Kamu kenapa? Ada setan?" tanya Yoga melihat wajahku yang aku sembunyikan di bawah bantal.
"Iya. Kamu setannya!"
Yoga malah ketawa.
"Berarti kamu istrinya setan dong!"
"Ah, udah! Jangan bahas-bahas setan. Aku takut!"
"Kenapa mesti takut? Kan ada aku."
Perlahan Yoga memulai aksinya. Dia mulai melucuti pakaianku. Seperti biasa, olah raga malam.
"Ga."
"Hhmm." Yoga masih sibuk dengan aksinya.
"Kalau orang lagi hamil muda itu enggak boleh keseringan lho."
"Keseringan apa?" Yoga enggak tau apa pura-pura enggak tau.
"Keseringan dipakai!" jawabku ketus.
"Terus harus puasa terus, gitu?" Yoga seperti enggak terima.
Yoga menghentikan aksinya.
"Rentan apa?" Yoga serius menatapku.
"Rentan keguguran. Kamu enggak mau kan kalau janinnya gugur gara-gara kamu minta jatah terus?"
"Ya iyalah. Tapi kamu kan tidak sedang hamil. Jadi bebas dong?"
"Kalau ternyata aku hamil?"
"Kamu sudah datang bulan?"
"Lho tiap malam kan kamu minta jatah. Kamu mestinya tau kalau aku belum datang bulan juga."
Yoga terdiam. Lalu manggut-manggut. Dan segera berlari keluar.
"Nyari apa, Ga?" teriakku dari atas tempat tidur, karena aku malas turun.
"Nyari testpack yang belum kamu pakai!" sahut Yoga.
Setelah lama mencari, Yoga kembali masuk ke kamar.
"Kamu simpan di mana testpacknya?"
"Udah aku buang bareng testpack yang udah aku pakai."
__ADS_1
Yoga nampak kecewa.
"Ga. Kamu ingat enggak, kan kamu yang sudah merobeknya. Lalu aku enggak jadi pakai. Aku takutnya terkontaminasi dengan udara, lalu enggak akurat lagi kalau dipakai."
"Ya sudah. Besok aku beli lagi." Yoga naik kembali ke tempat tidur.
"Memang mau apa sih, beli lagi?"
"Kamu tuh aneh. Orang beli testpack ya buat ngecek kehamilan lah. Biar aku tahu kamu sudah hamil apa belum. Biar aku bisa jaga-jaga dan enggak sembarangan makai kamu."
"Oh, jadi itu maksudnya?"
Yoga malah bete, dan dia yang tidur dekat tembok malah menghadap ke tembok.
Nah kan, belum apa-apa saja sudah marah. Bagaimana kalau dia tau aku ke dokter kandungan tanpa dia?
"Ga. Aku mau ngomong sama kamu."
Aku menggoyang-goyang lengannya agar menghadap ke arahku.
"Aku sudah tidur!"
Aku ketawa.
"Kalau ada orang tidur, jangan berisik!"
Aku ketawa lagi. Mana ada orang sudah tidur menjawab.
"Ga!"
Yoga diam saja.
"Yoga!"
Masih diam.
"Ya sudah kalau diam. Besok aku mau ke dokter kandungan sendirian."
"Memangnya kamu lagi hamil?"
"Memangnya cuma orang hamil saja yang boleh ke dokter kandungan?" Aku balik bertanya.
"Auk ah, aku capek. Mau tidur." Dan Yoga benar-benar tertidur.
Akupun ikut tertidur. Beruntung malam ini tak ada acara olah raga malam. Karena aku capek banget. Dan aku juga khawatir dengan calon bayiku yang masih sebiji jagung.
Keesokan paginya, Yoga yang hanya sarapan roti dan segelas kopi mengatakan kalau dia nanti pulang cepat lagi. Katanya mau main bola lagi di taman.
Waduh, bakalan capek lagi. Nanti pasti Yoga berulah lagi kayak anak balita.
Aku berfikir sejenak. Lalu memutuskan untuk mengatakan pada Yoga.
Oke, aku ambil nafas panjang. Dan aku mulai berhitung satu sampai tiga untuk bicara.
Satu.
Dua.
__ADS_1
Ponsel Yoga berbunyi pas di hitungan ke tiga. Yoga mengangkatnya dan langsung pamit berangkat sambil masih bicara di teleponnya.
Mau ngomong jujur saja susah banget nyari kesempatannya.