
Setelah tiga hari Rio menikmati liburannya bersama dengan Ibu dan adiknya, ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
Sebelum pesawatnya take off, Rio menghubungi Adit untuk menyiapkan meeting hari ini dan menyuruh supir kantor untuk menjemputnya di bandara.
Dua jam kemudian ia telah sampai di gerai pusat, seluruh staff di gerai pusat telah menunggu kedatangan Rio untuk melakukan meeting.
Rio mulai mengevaluasi seluruh perkembangan cabang gerainya termasuk ketiga gerai yang baru ia buka, hasilnya di luar ekspektasi Rio.
Permintaan kerjasama dari berbagai kota-kota besar lainnya mulai bermunculan, Rio tertarik untuk membuat konsep kerja sama kemitraan untuk melebarkan sayap usahanya.
Namun Rendy selaku staff gudang meningatkan Rio jika kerja sama kemitraan itu di lakukan secara serentak maka secara otomatis perusahaan harus memiliki stok chemical cleaner (cairan pembersih sepatu) yang memadai.
Karena selama ini chemical cleaner yang di gunakan, import dari luar negeri. Jika terjadi lonjakan kebutuhan maka Rio harus mengiport chemical cleaner lebih banyak, dan jika hal itu terjadi maka beban pajak bea cukai yang harus Rio keluarkan pun bertambah.
Lama Rio mempertimbangkan masalah ini hingga akhirnya ia memiki ide untuk memproduksi sendiri chemical cleaner yang ia butuhkan. Memang akan membutuhkan modal yang cukup besar di awal namun kedepannya ini bisa sangat memangkas biaya-biaya yang ia keluarkan jika ia harus terus menerus mengimport chemical cleaner tersebut dari luar negeri.
Rio memutuskan untuk menjual mobil pribadinya sebagai modal awal produksi chemical cleanernya, sebenarnya sangat berat bagi Rio melepas mobil pribadinya karena terdapat kenangan kebersamaan antara dirinya dengan Ana di mobil tersebut.
Tiga jam meeting berlalu seluruh staff mendapatkan tugas baru dari Rio, persiapan pembukaan produksi chemacal cleaner, pembukaan kantor baru yang terpisah dari gerai pusat dan pembuatan kontrak kerja sama kemitraan.
Selesai meeting Rio meminta Adit untuk menemaninya ke showroom penjualan mobil. Mata Rio terus memandangi mobilnya, memory pikirannya memutar semua kenangan kebersamaan dirinya dengan kekasihnya.
"Apa Pak Rio sudah yakin?" pertanyaan Adit membuyarkan lamunan Rio.
"Bukan masalah yakin atau tidak Dit, saat ini kita membutuhkan dana yang tidak sedikit, jika hanya mengandalkan asset perusahaan masih kurang."
"Tapikan mobil ini punya banyak kenangan Pak?"
"Aku akan membuat cerita yang lebih indah lagi dengannya. Sudahlah, kau jomblo mana mengerti" ucap Rio setengah meledek Adit.
"Saat ini aku tidak ada bedanya dengan Pak Rio, bukankah saat ini kita sama-sama sendiri? hahaha..." Adit tak mau kalah meledek atasannya sambil tertawa.
__ADS_1
"Ooh rupannya besok kamu ingin mengapply CV di perusahaan lain" ancam Rio.
"Maaf Pak Rio aku cuma bercanda"
"Dasar karyawan tidak ada akhlak, cepat cari taxi kita kembali ke kantor."
Sesampainya di kantor Rio meminta staff IT nya datang ke ruangannya, ia ingin membahas mengenai situs donasi dan penggalangan dana (fundraising), campaign program sosial untuk anak-anak yang membutuhkan pengobatan dan beasiswa anak-anak yang putus sekolah.
"Jadi gimana Rey, apa sudah kamu buatkan?" tanya Rio.
"Kemrin saya sudah sudah buat desain webnya, tapi saya lupa tanya ke Pak Rio nama domainnya?"
"Child's Hope" ucap Rio.
"Kurang lebinya seperti ini pak desainnya, jika ada yang kurang Pak Rio katakan saja nanti saya akan revisi kembali."
Rey menyerahkan laptopnya kepada Rio, dengan teliti Rio mengecek desain yang di buat oleh Rey. Ada beberapa kategori dalam desain web tersebut seperti: donasi, bantuan kesehatan, bantuan pendidikan, zakat, bantuan untuk anak-anak difabel, panti asuhan dan donasi untuk para donatur yang ingin berdonasi.
Rio sangat puas dengan hasil desain yang di buat oleh Rey, rio meminta kepada Rey untuk segera mendaftarkan domainnya, agar situs tersebut bisa bermanfaat untuk banyak orang.
Tak lama setelah staf HRD keluar dari ruangan Rio, staff payrol mengetuk pintu ruangan Rio.
Tok...Tok... Tok..
Rio mempersilahkan lia untuk masuk ke dalam ruangannya
"Ada apa Li?" ranya Rio.
"Tadi saya dapat info dari bagian HRD jika Pak Rio akan merekrut tim untuk situs donasi, kalo boleh saya tau nanti salary expensenya saya bebankan di pusat juga? karena saya akan menghitung estimasi salarynya."
"Kalo untuk yang itu, saya akan mengambil dari deposito pribadi saya, jadi tidak berkaitan dengan operasional kantor."
__ADS_1
"Kalo begitu terima kasih Pak, saya permisi dulu."
Satu minggu sudah rio dan seluruh karyawannya selalu pulang ke rumah hingga larut malam. Semua tim saling bahu membahu menyelesaikan semua target perusahaan di bawah arahan rio.
Sementara itu di Eropa ana sedang makan malam bersama dengan papa, kakak dan kedua keponakannya, selesai makan malam Ana menonton TV di ruang keluarga di temani dengan Pak Reino.
Pak Reino mengeluarkan handphone nya kemudian memberikannya kepada putri bungsunya, Ana melihat beberapa foto terbaru kekasihnya, ada beberapa foto yang Ana lihat ketika Rio sedang naik taxi, hal ini membuat Ana bertanya-tanya kemana mobil Rio sampai ia harus naik taxi.
"Pah, kok Kak Rio naik taxi? Dimana mobil Kak Rio?" tanya Ana penasaran.
"Dari informasi yang papa dapatkan, Rio menjual mobilnya untuk tambahan modal usahanya" jawab Pak Reino dengan santai.
"Apa usahanya sedang ada masalah sampai ia harus menjual mobilnya?"
"Nak, dalam dunia bisnis menjual aset pribadi untuk menambah modal itu hal yang biasa."
"Kali ini papa benar-benar keterlaluan, kalau papa tidak mau bantu biar Ana yang bantu. Tabungan Ana memang tidak banyak tapi setidaknya bisa untuk membantu Kak Rio." Ana mulai sedikit emosi.
"Hahaha... kamu ini benar-benar tidak mengenal siapa calon suamimu, orang seperti Rio mana mau menerima bantuan begitu saja dari papa. Begini saja jika dalam waktu tiga bulan Rio masih berada di posisi ini, papa akan meberikanmu cheque dua miliar. Silahkan kamu berikan padanya. Deal?"
"Deal." Ana menjabat tangan papanya.
"Tapi kenapa papa seyakin itu pada Kak Rio?" tanya Ana kembali.
"Nak terkadang orang tua punya caranya sendiri untuk membantu anak-anaknya."
Pak reino memberikan setumpuk dokumen kepada putrinya, ana pun langsung membukanya satu persatu dokumen yang papanya berikan kepadanya.
"Hanya ini yang bisa lakukan untuk Rio, papa merekomendasikan usaha Rio ke beberapa kolega papa agar mau bekerja sama dengan Rio. Jika prediksi papa tidak meleset, saat ini Rio sedang butuh modal untuk bahan baku usahanya sehingga ia menjual beberapa asset pribadinya dan jika analisi papa tidak salah kurang dari tiga bulan Rio sudah mendapatkan break even point (BEP)."
__ADS_1
"Thank you so much pah. I love you." Ana memeluk papanya dengan erat, ia tidak menyangka papanya begitu perhatian terhadap usaha Rio.
"You're welcome dear. love you too." Pak reino mengelus punggung Ana dengan lembut.