Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Ada Apa Mas?


__ADS_3

Ayu sudah berada dilobi kantor Damar, menanyakan keberadaan suaminya pada resepsionis. Dia senang karena ternyata suaminya ada diruanganya. Ayu sengaja datang membawakan makan siang untuk Damar, tanpa memberitahunya.


Dia berpapasan dengan Tristan dan Beni yang baru saja keluar dari lift. Mereka saling bertegur sapa."Selamat siang bu Ayu!! Sapa Tristan dengan senyum hangatnya.


"Selamat siang pak Tristan!! Pak Beni.!! Balas Ayu.


Tristan menatap rantang makanan yang dibawa Ayu. "Bu Ayu pasti mau bertemu pak Damar?." Basa-basi Tristan.


"Ah..iya pak Tristan, saya mau menemui suami saya. Apa anda juga bertemu dia?."


"Iya benar bu Ayu, kami memang baru saja bertemu dengan pak Damar." Jawab Tristan.


"Oh ya sudah kalau gitu, saya permisi."


"Silahkan bu Ayu."


Ayu langsung masuk ke dalam lift, saat pintu lift itu terbuka. Tristan tersenyum sambil bergumam."Sempurna."


Beni hanya bisa menggelengkan kepala, melihat kelakuan bosnya itu. Dia masih sangat terkejut mendengar penawaran yang dikatakan Tristan pada Damar tadi. Beni tidak menyangka kalau semua ini sudah direncanakan dengan baik, dan bosnya itu tidak pernah mengatakan apa-apa padanya.


Dalam hatinya, Beni sangat menyayangkan perbuatan Tristan yang menyukai istri kliennya sendiri, dan berniat merebutnya. Kalau saja Ayu bukan istri orang, dia tentu tidak keberatan. Tapi nyatanya Ayu adalah istri dari rekan bisnis mereka yang Beni akui sangat kompeten dan pintar.


Kalau Tristan dan Damar bisa terus bekerja sama, Beni sangat yakin keduanya bisa merajai bisnis yang sedang mereka jalankan. Tapi sayangnya, Tristan lebih mementingkan nafsunya yang terobsesi pada istri orang.


"Kenapa diam saja dari tadi Ben?. Kamu tidak sedang sariawan kan?." Tanya Tristan.


"Tidak pak." Jawab Beni.


"Lalu kenapa diam saja dari tadi?."


"Tidak apa-apa pak Tristan. Saya hanya masih kaget mendengar penawaran yang pak Tristan katakan pada pak Damar."


"Oh itu. Hahaha...kenapa kaget?. Bukankah itu penawaran yang sangat menguntungkan untuk kami?."

__ADS_1


"Maaf pak Tristan. Bukankah anda sendiri yang pernah mengatakan tidak akan pernah merebut bu Ayu?." Tanya Beni.


"Hahaha....aku memang tidak akan merebutnya. Sudah ku bilang, apa yang aku mau akan datang sendiri kepadaku." Sahut Tristan dengan tawa jahatnya.


Dikantor Damar.


"Assalamualaikum." Ayu mengucap salam saat dia masuk ke ruangan Damar. Dia terkesiap, saat melihat ruangan itu berantakan, bahkan Damar yang berdiri di dekat jendela tidak menjawab salam darinya.


"Mas." Panggil Ayu, Damar masih tidak menyahuti. Ayu melangkah mendekati suaminya."Mas." Serunya sambil menepuk pelan bahu Damar, membuatnya tersentak kaget, apalagi saat dia melihat siapa orang yang ada didepan matanya saat ini." Sayang!! Kamu kesini." Ucapnya kaget.


"Kenapa?. Kamu tidak suka aku kesini?."Tanya balik Ayu.


"Tidak sayang. Tentu saja aku senang kamu kesini. Aku hanya terkejut. Kenapa kamu gak bilang, kalau mau kesini?."


"Aku sengaja ngasih kamu kejutan. Ngomong-ngomong kenapa ruangan kamu berantakan sekali mas?. Apa yang terjadi?. Kamu tidak apa-apa kan mas?."


"Oh itu, anu euhh tadi Seno, maksudku tadi ada kecoa keluar dari laci mejaku, aku kaget dan minta Seno bunuh kecoanya, makanya jadi kayak gini." Bohong Damar.


"Masa sih?. Kok bisa ada kecoa disini?. Kantor kamu kan bersih mas?."


"Oh ya mas, aku bawain makan siang buat kamu. Aku masak makanan kesukaan kamu makan ya.!!


Damar tersenyum seraya menatap Ayu yang sedang membuka rantang makanan yang dibawanya. Dia memegang tangan istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang." Makasih sayang." Ucapnya.


"Sama-sama!! Sekarang kamu makan ya. Aku akan beressin ruangan kamu, nggak enak dilihat banget." Kaya Ayu seraya beranjak dari duduknya, tapi Damar mencekal tanganya.


"Jangan sayang. Biar nanti OB aja yang beressin. Kamu duduk aja, kita makan bareng ya, aku suapin."


"Baiklah pak suami." Jawab Ayu, lalu mereka makan bersama. Kamu istri terbaik dan tercantikku, Ayu. Aku tidak mungkin menukarkan kamu hanya untuk membayar hutang yang sebenarnya tidak harus aku bayar. Aku tidak akan membiarkan Tristan mendapatkan apa yang dia mau.


"Mas...kamu melamun?." Tanya Ayu.


"Enggak sayang, aku nggak ngelamun."

__ADS_1


"Mas, aku tahu kamu bohong kan?. Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi?. Aku tahu kamu nyembunyiin sesuatu dari aku."


"Tidak sayang, aku nggak nyembunyiin apapun dari kamu. Ini..ini hanya masalah kecil yang biasa terjadi di perusahaan."


"Kamu yakin tidak mau mengatakanya padaku mas?."


"Tidak sayang. Kamu harus percaya sama aku. Ini masalah biasa yang terjadi diperusahaan kita, aku bisa menyelesaikanya."


"Hemm...baiklah. Kalau gitu aku pamit sekarang ya mas."


"Kenapa buru-buru?. Kamu nggak mau nemenin aku disini?."


"Mas, aku harus jemput anak-anak. Aku gak mau anak kamu sampai merengek karena aku telat jemput dia."


"Bukankah mereka sekolah full day ?."


"Iya, tapi hari ini Gara pulang jam satu siang"


"Kamu disini aja. Biar pak Edi yang jemput dan bawa dia kesini."


"Enggak mas, aku aja yang jemput dia. Aku nggak mau ganggu kamu. Kamu kan lagi kerja."


"Aku nggak ngerasa keganggu. Justru aku senang, kalau kamu disini. Aku pasti akan lebih bersemangat."


"Apaan sih mas. Gombal aja. Udah ya aku pamit. Selamat bekerja pak suami." Ucap Ayu seraya mengecup pipi kiri dan kanan suaminya bergantian, lalu dia meninggalkan ruangan Damar.


Ayu tidak segera pergi dari kantor itu, karena dia ingin menemui Seno menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Ayu tahu kalau Damar menyembunyikan sesuatu darinya. Dia bisa merasakan dan melihat gerak-gerik suaminya sejak beberapa bulan terakhir.


Ayu sangat yakin suaminya sedang dalam masalah yang berat, maka dari itu dia menanyakannya langsung pada Seno, karena Ayu sangat yakin Seno mengetahui semuanya.


Awalnya Seno tidak mau mengatakan apa yang terjadi, tapi karena Ayu terus mendesaknya akhirnya Seno menceritakan semuanya. Ayu tercekat, kakinya tiba-tiba terasa lemas mendengar semua yang dikatakan Seno. Pantas saja selama ini Damar sering melamun dan terlihat banyak fikiran. Ternyata dia sedang mengalami masalah yang sangat berat, fikir Ayu.


Saat ini, Seno belum mengetahui tentang penawaran yang diberikan Tristan pada Damar, juga tentang siapa dalang dibalik peretasan saldo rekening Damar. Seno meminta Ayu berjanji tidak mengatakan apa-apa pada Damar. Seno takut Damar marah, kalau dia tahu Seno sudah menceritakan semua itu pada Ayu."Tenang saja. Saya tidak akan mengatakanya. Saya akan berpura-pura tidak mengetahui semua ini, sampai dia sendiri menceritakan semuanya."Ujar Ayu lalu dia pamit.

__ADS_1


Ayu merasa sangat iba pada Damar. Dia tidak tega melihat suaminya berada dalam masalah besar seperti ini. Sebelum sampai disekolah Gara, Ayu menyempatkan diri mengecek saldo tabunganya. Dia juga berencana akan menjual mobil dan kalung berlian pemberian Damar waktu itu. Kalau perlu dia juga akan menjual toko kuenya. Kalau aku menjual toko, keluarga dan pegawaiku diBandung mau kerja apa?. Lagipula itu adalah ladang jerih payahku dan keluargaku. Aku tidak mungkin menjualnya. Tapi, mas Damar yang sudah membeli ruko itu. Tidak...aku tidak akan menjual toko kue itu.


__ADS_2