
Dua hari setelah Ana terbangun dari koma, kondisinya sudah mulai stabil sehingga dokter memindahkan Ana di ruang perawatan.
Meski sudah mulai stabil, namun masih terdapat kerusakan pada saraf motorik di bagian kaki Ana yang meyebabkan Ana belum bisa berjalan dengan normal, butuh terapi secara rutin untuk mengembalikan fungsi saraf tersebut.
Ana mulai menyadari jika janinnya sudah tidak ada didalam perutnya, sebagai seorang ibu tentunya Ana mengalami stres dan depresi.
Air mata tak hentinya mengalir dari matanya, tubuhnya bergetar dan tangannya selalu memeluk perutnya dengan erat.
"Tidak mungkin!!! Tidak mungkin, babyku masih disini kan sayang? masih disini kan bersama kita?" tanya Ana dengan deraian air mata yang membasahi pipinya, Rio tak mampu untuk menjawabnya, ia hanya bisa memeluk Ana dengan erat untuk menangkan hatinya.
"Sayang jawab, baby kita masih ada di di dalam perutku kan?"
"Ssssttt... sayang, jangan nangis lagi ya. Baby kita sudah bahagia di surga, allah menyayanginya melebihi kita menyayanginya, kita belajar ikhlas ya sayang." Rio mencoba untuk menenangkan hati Ana, namun Ana malah justru menangis meronta-ronta mendengar ucapan Rio.
"Aku tidak percaya, aku harus USG, aku mau periksa kandunganku. Aku mau lihat pasti dia masih berada dalam perutku, aku yakin seyakin-yakinnya jika baby kita masih berada di perutku. Sayang, tolong panggilkan dokter kandunganku"
Rio merangkum wajah Ana, menatap matanya dalam-dalam meskipun sebenarnya Rio pun hancur namun ia berusaha tegar di depan Ana, kerena Rio ingin menguatkan Ana.
"Sayang, aku sangat mengerti apa yang kamu rasakan, aku pun merasa sangat kehilangannya" Rio menghentikan kalimatnya, kemudian Rio tertunduk melanjutkan lagi kalimatnya.
"Maafkan aku sayang, harusnya aku mengalami insiden itu, harusnya aku yang berada di posisimu saat ini. Maafkan aku yang tidak mampu menjagamu dan baby kita, maafkan aku yang tak berguna ini" Mata Rio mulai berkaca-kaca.
"Sayang, aku tak bermaksud menyalahkan mu" Ana mengusap air mata Rio dengan jarinya
Mereka berdua saling berpelukan, saling menangis dan saling menguatkan satu sama lain, lama mereka berada di posisi itu, keduanya larut dalam kesedihan.
Risti yang melihat semua adegan itu turut larut dalam kesedihan, secara perlahan Risti mendekat ke arah Ana ikut menguatkan agar adiknya bisa tabah menerima semua ini.
"Tabah ya dek, allah pasti punya rencana yang indah untukmu" Risti memeluk Ana dengan hangat.
__ADS_1
Mengetahui ana sudah di pindahkan di ruang perawatan, banyak orang yang datang untuk menjenguk Ana. Mulai dari Ibu, Lyra, Bik Ima, Pak Reino, Mia sahabat ana hingga pegawai Rio datang mengunjungi Ana.
Salah seorang dari karyawan Rio memberikan informasi terkait perkembangan proses hukum insiden kecelakaan Ana.
"Maaf Pak Rio, saya mau menginformasikan perkembangan proses hukum insiden kecelakaan itu."
"Ooh ia bagaimana Dit?
"Semua pengacara yang membelanya satu persatu mengundurkan diri, bahkan kabarnya si pelaku juga terjerat kasus penggelapan dana diperusahaan lama tempat ia bekerja"
"Memang siapa pelakunya, sayang?" tanya ana penasaran, ia tak habis pikir bagaimana bisa ada orang yang tega mencelakai Rio padahal Ri selalu ramah terhadap siapa pun.
"Si breng*ek itu, tapi sudahlah sayang kamu tidak perlu memikirkan masalah itu, aku akan pastikan dia mendapat hukuman yang seberat-beratnya."
Mulut Ana terbuka lebar, ia terkejut jika yang membunuh anaknya justru ayah kandung dari anaknya sendiri.
"Sayang, kok kamu bengong? sudah ya lebih baik fokus ke pemulihanmu saja." Rio mengelus bahu Ana, membuyarkan lamunan Ana.
"Benar apa kata Rio, nduk lebih baik kamu fokus terhadap kesembuhanmu, agar rencana-rencana kalian ke depan bisa berjalan dengan lancar" ucap Ibu sambil membelai kepala Ana dengan lembut, Ana menganggukan kepalanya.
Sore menjelang malam satu persatu sahabat dan keluarga Ana dan Rio pergi meninggalkan rumah sakit, di mulai dari para karyawan Rio, Mia sahabat Ana, kemudian di susul dengan Ibu dan Lyra.
"Nduk besok pagi ibu dan Lyra mau kembali ke kampung, Lyra mau kembali kuliah, libur semesternya sudah habis. kalian di sini baik-baik ya, ibu akan selalu mendoakanmu nduk"
"Hati-hati ya Bu, terima kasih telah menjagaku selama aku di rawat" Ana memeluk Ibu dengan erat, rasanya masih terlalu berat untuk jauh dari ibu namun ia juga tak ingin egois karena Lyra pun membutuhkan Ibu.
"Ia nduk, kamu jaga kesehatan ya, rajin di minum obatnya agar segera pulih" ucap Ibu kemudian ia dan putri bungsunya berpamitan kepada keluarga Ana dan juga kepada Rio.
__ADS_1
Rio mengantar Ibu dan adiknya hingga lobby rumah sakit, setelah mobil yang membawa mereka tak terlihat barulah Rio kembali masuk ke dalam ruang perawatan Ana.
Pak Reino ayah dan risti menjadi orang terakhir yang berpamitan, sebetulnya ia ingin terus menemani Ana di rumah sakit namun karna ia telah menikah dan memiliki anak maka ia menemani Ana hanya di pagi hari saja, sedangkan Pak Reino harus beristirahat guna menjaga kondisi kesehatannya.
Setelah semuanya pergi, tinggallah Rio seorang yang menjaga Ana, Rio menjaga Ana dengan sangat telaten. Mulai dari menyuapinya makan hingga menyiapkan obat, akan tetapi untuk urusan mengganti pakaian dan toilet Rio menyerahkannya kepada perawat wanita di rumah sakit, Rio hanya menyiapkan barang-barang yang di perlukannya saja. Setelahnya Rio akan keluar ruangan agar Ana dan para perawat bisa leluasa, jika sudah selesai barulah Rio kembali masuk.
Setelah memastikan Ana tertidur, Rio membuka laptopnya di sofa, ia mulai fokus dengan bisnis yang tengah di gelutinya, Rio berencana akan membuka beberapa cabang di luar pulau jawa dalam waktu dekat ini, saat Rio tengah mengecek progres kesiapan cabang barunya tiba-tiba Ana memanggilnya
"Kok belum tidur, sayang?" tanya Ana.
"Masih ada yang harus aku evaluasi."
"Disini aja sayang, aku mau liat" Ana meminta Rio untuk duduk di dekatnya.
Rio mendekat ke tempat tidur Ana dengan membawa laptopnya, Ana melihat semua data-data persiapan pembukaan gerai Rio yang terbaru.
Ana banyak memberi saran kepada Rio mengenai sistem transaksi yang faktual agar tidak over budget, Ana juga memeberikan masukan mengenai point of sales untuk menarik para pelanggan.
"Terima kasih ya sayang, masukannya berguna banget. Memang tiap daerah memiliki karekteristik yang berbeda sehingga kita harus memiliki strategi yang berbeda pula" ucap Rio.
"Sama-sama sayang, oh ia besok kamu ngantor tidak?" tanya Ana.
"Aku belum cerita ya kalo aku udah mengundurkan diri."
"Karena aku ya?" Ana jadi merasa bersalah kepada Rio, karena sibuk mengurusi dirinya Rio jadi mengorbankan pekerjaannya.
"Bukan karena kamu sayang, aku ingin fokus mengembangkan usahaku, aku punya impian bisa mempunyai cabang di seluruh Indonesia. Kamu mau kan menemani ku berjuang mewujudkan mimpi itu?"
"Ia sayang, aku mau kita berjuang bersama-sama" Ana menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Terima kasih ya, sekarang kamu tidur, udah malem." Rio menyelimuti tubuh Ana, kemudian mencium keningnya, setelah memastikan Ana tidur dengan lelap, Rio kembali ke sofa untuk bristirahat.