
"Tapi, Pak. Apa ini tidak terlalu cepat?" tanyaku pada bapak.
"Lho kenapa? Kamu tidak mau? Kalau kamu tidak mau, bapak bisa membatalkannya. Mumpung belum ada rencana apa pun." sahut bapak.
"Bu...kan seperti itu, Pak. Tapi..." aku bingung mesti bilang bagaimana sama bapak.
"Wid. Sebenarnya, sebelum kamu mendatangi rumah Yoga kemarin, Yoga sudah datang ke sini. Dia sudah bicara pada bapak dan juga ibu tentang kamu. Dia juga sudah membicarakannya padaku. Cuma kami memang sengaja diam. Kami ingin tau dulu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya pada Yoga." Mas Andi menjelaskan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi.
Sekali lagi aku kalah langkah dari Yoga. Juga dari keluargaku.
Ternyata mereka sudah nerencanakan semua ini. Bahkan Yoga sudah menyiapkan sepasang cincin untukku dan dia.
"Tari yang membantu mencarikannya." ucap mas Andi.
"Tari?" Aku semakin tak mengerti.
"Iya. Tari itu adik sepupuku. Anak dari omku." sahut Yoga.
Aku menatap Tari. Ternyata dia juga ikut dalam persekongkolan ini.
"Hebat ya, kalian semua. Bisa bekerja dengan kompak di belakangku." ucapku. Di ikuti tawa semua yang hadir.
"Terus mas Andi sama Tari bagaimana?" tanyaku.
"Itu sih terserah kamu. Kamu mau secepatnya atau setelah kami. Kalau Tari sih maunya tahun depan. Menunggu skripsinya selesai." jawab mas Andi.
Aku menatap Yoga. Kalau aku menunggu mas Andi, berarti masih setahun lagi dong. Mana tahan harus berjauhan lagi dengan Yoga.
"Gimana? Aku terserah kamu, Wid." Yoga menaik turunkan alisnya. Seperti biasa dia berniat menggodaku.
"Kalau bisa secepatnya, kenapa mesti menunggu lebih lama lagi?" sahutku.
"Huuh.. Dasar. Bilang aja udah kebelet kawin!" Mas Andi melempar bantal kecil ke arahku.
Yoga tertawa melihat wajahku yang cemberut diledekin mas Andi.
"Jangan kaget, Ga. Mereka tuh selalu kayak gitu dari kecil. Malah ada yang kurang rasanya kalau mereka tidak saling meledek." ucap ibuku.
"Iya, Bu. Malah enak. Tidak seperti saya. Anak tunggal. Sepi. Paling kalau Tari main ke rumah baru deh punya teman di rumah." sahut Yoga.
"Tari dulu kecilnya gimana?" tanyaku kepo.
"Jangan kasih tau, Ga. Nanti bakal jadi bahan buat ngeledekin Tari." sahut mas Andi.
"Deee...yang mau jadi suaminya. Gak boleh bininya diledekin." sahutku.
__ADS_1
"Eh, jadi enggak ini acara lamarannya? Apa dipending aja. Sini cincinnya aku pinjam dulu buat ngelamar Tari." ucap mas Andi.
"Huuu...pingin ngelamar gak mau modal!" ucapku sambil melempar kembali bantal kecil ke arah mas Andi.
"Sembarangan! Kata siapa aku gak mau modal?"
Tiba-tiba mas Andi mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dari kantung jaketnya. Lalu membukanya.
Kami semua terbelalak. Dua buah cincin bermata berlian yang indah.
"Bapak, ibu. Saya ijin ingin melamar Tari juga. Yoga, kamu sebagai wali dari Tari, aku minta ijin padamu."
Tari memang seperti Yoga, dia sudah tak memiliki orang tua lagi. Jadi yang jadi walinya adalah Yoga sebagai anak dari kakak ayahnya.
"Eh, enak aja main dulu-duluan. Kan aku duluan yang dilamar sama Yoga!" protesku.
"Lha tadi kamu protes sama bapak. Kenapa sekarang tidak terima?" Sahut mas Andi.
Dan semua orang tertawa mendengar protesku pada mas Andi.
"Ya sudah. Gantian saja. Andi dulu yang lebih tua biar memasangkan cincinnya pada Tari. Tari kamu mau kan dilamar Andi?" ucap bapak menengahi.
Tari menoleh pada Yoga. Yoga mengangguk tanda setuju. Lalu mas Andi memasangkan cincin di jemari Tari dan menciumnya.
Begitu juga Tari. Dia memasangkan cincin yang satunya ke jari mas Andi. Lalu mas Andi mencium kening Tari.
"Alhamdulillah..." ucap bapak dan ibu berbarengan.
"Akhirnya berakhir juga masa jomblo yang berkepanjangan." ucapku asal bunyi.
Mata mas Andi melotot ke arahku. Aku mengangkat dua jariku tanda damai sambil nyengir.
"Kamu gak boleh begitu, ah. Kasihan tau. Jomblo itu menyakitkan." celetuk Yoga.
Gantian Yoga yang dipelototi oleh mas Andi.
"Hehehe...maaf mas. Keceplosan." Yoga juga mengangkat dua jarinya lambang damai.
"Dah, sekarang giliran kamu Ga. Jadi apa enggak?" tanya mas Andi pada Yoga.
"Aku udah laper ini." lanjut mas Andi.
"Jadi dong." Lalu Yoga pun membuka kotak kecil perhiasan yang dari tadi dipeganginya.
"Bapak, ibu, mas Andi. Saya meminta ijin untuk mengikat Widhi dengan cincin ini. Mohon kiranya bapak, ibu dan mas Andi menjaga calon istri saya sejak sekarang sampai besok hari pernikahan kami."
__ADS_1
Ketiga keluargaku mengangguk setuju.
Yoga pun memasangkan cincinnya ke jari manisku. Cincin yang sangat bagus. Tak kalah bagusnya dari milik mas Andi yang diberikan pada Tari.
Aku terharu menerima lamaran dari Yoga. Aku tak mengira ternyata akhirnya Yoga lah yang akan meminangku.
"Terima kasih ya, Ga." ucapku memeluk Yoga.
"Eit! Bukan mukhrim, jangan asal peluk dulu!" Seru mas Andi.
"Ah. Mas Andi gak asik! Aku kan lagi terharu." ucapku kesal.
"Terharu ya terharu. Tapi jangan asal peluk dong." protes mas Andi.
Memang yang aku lihat gaya pacaran mas Andi dengan Tari sangat kaku. Tari yang tomboy bertemu dengan mas Andi yang dingin dan kuper sama perempuan.
Paling banter mereka hanya bergandengan tangan. Itu pun kalau keadaan darurat saja.
"Makanya punya pacar sekali-kali dicium dong! Jangan dianggurin terus!" aku mulai meledek mas Andi.
"Tadi kan udah. Ya kan, Tari?"
Tari menundukan wajahnya sambil menahan senyum.
"Ah itu sih kurang. Begini, nih." Aku mempraktekan mencium pipi Yoga.
Cup.
Eit dah. Aku sendiri juga kaget dengan apa yang aku lakukan. Kenapa aku jadi berani mencium Yoga ya?
Yoga senyum-senyum sambil mengelus-elus pipinya. Seakan baru pertama kali aku menciumnya. Padahal kemarin sore, bukan cuma ciuman pipi yang aku berikan padanya.
Mas Andi melempar bantal lagi ke arahku.
"Ayo ah, makan. Sudah siap kan, Bu?" tanya mas Andi yang sudah mulai merah padam mukanya karena aku ledekin.
"Sudah siap semua. Tapi kalian lebih baik siap-siap sholat maghrib dulu. Biar makannya tak buru-buru." jawab ibu. Lalu berlari ke kamar karena Berlian bangun.
Aku ikut ibu ke kamar, diikuti oleh Tari. Tari yang beberapa saat yang lalu ditugasi menjaga Berlian, jadi cukup akrab dengan anakku.
Para lelaki bersiap sholat maghrib di masjid dekat rumah. Kami cukup bergantian sholat di rumah.
Selesai sholat maghrib, aku dibantu Tari menyiapkan makan malam. Ibu memasak cukup banyak.
Yoga juga tadi ikut membawa makanan untuk cuci mulut juga buah. Aku dan Tari menatanya di meja ruang tamu. Karena kursi makan rumah ibuku tak cukup menampung kami semua.
__ADS_1
Setelah para lelaki pulang dari masjid, kami segera makan malam bersama. Suasana kekeluargaan dan kebahagiaan meliputi kami semua.
Hingga kami melupakan satu hal penting. Kami lupa mendokumentasikan momen kebahagiaan kami itu.