Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 33


__ADS_3

Pagi ini Rio ingin menghabiskan waktunya bersama kekasihnya sebelum sorenya ia harus berangkat menuju Sumatera.


Usai sarapan bersama, Rio mendekat ke hadapan Ana, ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Ana yang duduk di kursi roda.


Rio menyerahkan kotak bingkisan berwarna merah muda yang berhiaskan pita berwarna putih di sudut kotak.


"Apa ini sayang?" tanya Ana sambil menerima bingkisan tersebut.


"Bukalah!!"


Perlahan Ana pun membuka bingkisan tersebut.


Ana nampak tertegun melihat isi bingkisan pemberian kekasihnya, ia mengingat-ingat kapan terakhir kalinya ia beribadah. Ana mulai bertanya-tanya apa maksud Rio memberikannya sebuah mukena cantik, berwarna putih polos, berbahan sutra dengan renda di pinggiran bawah.


Rio mengambil tangan Ana kemudian menggenggamnya, ia menatap wajah cantik Ana dalam-dalam.


"Sayang, aku ingin agar kita sama-sama belajar memperbaiki ibadah kita, dengan menunaikan semua kewajiban kita sebagai hambanya." Rio berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan lagi kalimatnya.


"Jika boleh aku meminta padamu, bawalah namaku di dalam setiap doa-doa yang kamu panjatkan dan jika suatu saat kamu merindukan aku, adukanlah kepada sang pemilik hati dan ragaku ini, biar semesta ini yang mengatur jalan kita" ucap Rio.


Ana sungguh terharu dengan perkataan Rio, namun ia belum bisa mengerti apa maksud dari perkataan Rio mengenai 'jika suatu saat kau merindukan aku adukanlah kepada sang pemilik hati dan ragaku ini, biarkan semesta ini yang mengatur jalan kita.' "Bukankah rio akan selalu bersamanya?" tanyanya dalam benaknya.


"Sayang, apa kamu tidak ingin menyusulku ke Singapore?" tanya Ana.


"Aku pasti akan datang untuk menyusulmu sayang" Rio merebahkan kepalanya di pangkuan Ana, Ana mengelus kepala Rio dengan lembut.


"Sayang, terima kasih kamu telah mengajarkan banyak kebaikan untukku. Caramu membuatku menjadi manusia yang lebih baik sungguh luar biasa."


Rio mengangkat kepalanya, merangkum wajah Ana.


"Aku ingin menggapai ridhanya bersamamu sayang."


Pagi itu Rio mengajak Ana berjalan-jalan di taman sambil menikmati ice cream favorite kekasihnya, ia mendorong kursi roda Ana menuju bangku kayu yang terletak di sudut taman, kemudian ia duduk di bangku tersebut.


"Sayang apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Rio.


"Tentu saja sayang, apa kamu meragukannya?"


"Seandainya aku tidak ada di sisimu dalam waktu yang lama, apa kau akan mencari pria lain untuk menggantikan aku?"


"Aku tidak akan menggantikanmu dengan siapa pun, aku hanya mau menikah dan menua bersamamu. Kamu ini kenapa sih? dari tadi aneh sekali, kita kan cuma LDR satu minggu, setelah urusanmu selesai kamu bisa mengunjungiku. Atau aku minta papa untuk batalin ke Singaporenya?"


"Jangan lakukan itu!!! aku ingin kamu cepat sembuh, bisa berjalan lagi seperti dulu."


"Iya tapi dari tadi itu kamu aneh banget sayang."

__ADS_1


"Janji ya, untuk terus menjaga hatimu hanya untukku" pinta Rio.


"Pasti sayang, hatiku hanya untukmu" Ana menganggukan kepalanya.


"Janji untuk terus semangat terapinya agar cepet pulih."


"Iya aku janji." Ana menganggukan kepalanya.


"Janji untuk patuh dengan papahmu."


"Iya aku janji." Ana menganggukan kepalanya.


"Janji untuk menjaga ibadahmu."


"Iya aku janji sayangku." Ana mencubit hidung Rio karena gemas dengan sikap rio.


"Aduuh Sakit sayang" Rio memegang hidungnya merah karena di cubit oleh Ana.


"Kamu sih, kaya mau LDr bertahun-tahun saja. Lagi pula jarak tempuh dari sini ke Singapore hanya dua jam perjalanan."


"Tapi aku mau kamu berjanji padaku sayang."


"Iya kau janji sayang. aku janji akan menjaga hatiku hanya untuk kamu, aku akan semangat terapinya, aku akan patuh terhadap papa dan aku akan menjaga ibadahku serta menyebutmu dalam setiap doaku." ucap Ana.


Selama perjalanan pulang ke rumah Ana, Rio tidak melepaskan genggaman tangannya.



Medan menjadi kota pertama Rio melebarkan sayap bisnisnya di pulau Sumatera.


Sesampainya di Medan, beberapa kali Rio mencoba menghubungi kekasihnya namun handphone Ana selalu berada di luar jangkauan.


"Mungkin Ana sudah istirahat" gumam Rio dalam hati, kemudian Rio mengirimkan pesan kepada Ana, memberi tahunya jika dirinya telah sampai di Medan.


Acara grand opening gerai shoes care di Medan berlangsung secara meriah, Rio sendiri nampak sibuk berbincang dengan beberapa rekan media lokal yang ia undang untuk membantunya mempromosikan usahanya.


Antusiasme pengunjung sangat tinggi, para pencinta brand sepatu lokal ramai-ramai mengunjungi gerai milik Rio.


Beberapa kali saat ada kesempatan Rio mengecek handphonenya berharap ada panggilan masuk atau balasan pesan dari Ana, namun ia tak kunjung mendapatkannya.


Hari berikutnya Rio terbang ke pulau Dewata Bali, acara grand opening gerai shoes care di Pulau Dewata tak kalah meriahnya dengan acara di Medan.


Para pencinta brand sepatu lokal sudah memadati gerai Rio karena pada acara grand opening tersebut gerai shoes care Rio menawarkan banyak sekali promo.


Sama hal dengan di Medan, di Pulau Dewata ini pun Rio mengundang beberapa rekan media lokal untuk meliput acaranya sebagai bahan promosi.

__ADS_1


Sudah hari ke empat Rio masih belum juga mendapatkan kabar Ana, Rio sudah berusaha untuk menghubungi Pak reino dan Risti namun keduanya tidak menjawab panggilan telephone dan juga tidak membalas pesan Rio.


Kegelisahan dan ketakutan akan kehilangan Ana kembali menghantui dirinya, terbesit dalam benaknya penyesalan mengapa ia tidak mengikuti menemani Ana ke Singapore.


Rio mengcancell penerbangannya ke Makasar, ia meminta Adit untuk menggantikannya.


"Apa pak Rio yakin tidak ingin ke makasar?" Tanya adit mengonfirmasikan kembali keputusan atasanya.


"Aku yakin dit, aku percayakan semuanya padamu. Aku tunggu semua laporannya."


"Baik Pak Rio."


Seusai acara grand opening di Bali, rio bertolak menuju Singapore untuk mencari Ana, sesampainya di Singapore Rio mulai mencari data nama-nama rumah sakit ternama di sana.


Rumah sakit pertama yang Rio kunjungi National University Hospital yang terletak di 5 Lower Kent RidgeRd, Ri langsung bertanya kepada receptionist yang bekerja di rumah sakit.


"Excuse me, I would like to ask if here there is a patient named Sandriana Afian?"


*permisi, saya ingin bertanya apa di sini ada pasien yang bernama sandriana alfian?


"Please wait, I will search the data"


*Mohon untuk menunggu, saya akan melihat data dulu


"Sory, here there are no patients named Sandriana Alfian.


*maaf di sini tidak ada pasien yang bernama sandriana alfian


"Okay. thank you."


"You're welcome."


Selama dua hari sudah belasan rumah sakit yang Rio kunjungi untuk mencari Ana, hasilnya nihil tak ada satu pun pasien bernama Sandriana Alfian yang dirawat di rumah sakit di Singapore baik itu pasien rawat jalan maupun rawat inap, hal ini membuat rio bertambah frustasi.


Rio memutuskan untuk kembali ke Indonesia, Rio ingin mencari Ana ke kediaman orang tuanya.


Ting... Tong... Ting... Tong...


Rio memencet bel rumah Ana, tak lama kemudian asisten rumah tangga Ana membukan pintu rumah.


"Bik, apa ana ada di sini?" tanya Rio.


"Non Ana dan Tuan Reino sudah berangkat keluar negeri beberapa hari yang lalu."


Dari arah gerbang, Rio mendengar ada mobil masuk ke dalam kediaman orang tua Ana, ia memperhatikan siapa yang datang dan berharap Ana lah yang datang.

__ADS_1


Namun dugaan Rio ternyata salah, bukan Ana yang datang melainkan Risti beserta kedua anaknya yang datang.


__ADS_2