
Seharian di rumah sendirian bikin aku bete dan iseng. Ingin rasanya memakai testpack untuk mengetes urine ku, tapi nanti Yoga kecewa. Karena dia maunya dia sendiri yang akan mengetesnya.
Hh. Dia pikir dia itu seorang peneliti yang suka kerja di laboratorium kali. Jangan-jangan nanti kalau saatnya USG dia yang akan melihatnya sendiri. Dokternya disuruh menunggu di luar.
Aku video call ibu dan Berlian untuk menghilangkan beteku. Dan benar saja, bercanda dengan Berlian yang mulai lucu membuatku terus tertawa meski hanya bercanda lewat telpon.
"Kamu belum ada tanda-tanda isi, Wid?" tanya ibu saat aku video call.
"Yoga sudah beli testpack dari kemarin, Bu," jawabku.
"Terus hasilnya?" tanya ibu mulai kepo.
"Dipakai aja belum, gimana bisa tahu hasilnya."
"Lho kenapa? Kan tinggal pipis aja terus dicelupin. Susah amat." Ibu pun berfikir sama denganku.
"Yoga maunya dia sendiri yang mengetesnya, Bu," jawabku.
"Katanya sudah beli dari kemarin, kenapa semalam tidak kalian tes?"
Aku tak bisa menjelaskan alasannya. Kalau bilang kami rebutan mangkok yang berisi urinku lalu tumpah, pasti ibu akan menjawab tinggal pipis lagi saja susah amat. Padahal kok ya kebetulan sore itu aku hampir tidak kebelet pipis.
Kalau aku bilang alasan selanjutnya karena ada Irene, nanti ibu berfikir kalau Yoga bakalan menyakiti hatiku dengan kehadiran orang ketiga.
Nah ini alasan ketiga, soal kegiatan malam kami. Pasti ibu bakal komentar bikin terus sampai lupa ngetes.
Ah, mending aku diam sajalah.
"Heh. Ditanya kok malah bemgong. Jawab kek." Aku hanya ketawa saja.
"Sabar napa, Bu. Nanti juga bakalan tahu."
"Memangnya kapan kamu terakhir menstruasi?" Tanya ibu sudah kayak dokter spesial kandungan.
"Aku lupa, Bu. Tapi seingatku, sejak menikah aku belum mens lagi."
"Ya sudah. Berarti kamu positif hamil. Gak usah pake tes juga ibu sudah tahu."
Ih, ibu benar-benar sok tahu. Bagaimana kalau ternyata memang lagi telat saja? Karena dulu pun sebelum menikah aku sering terlambat mens.
"Ada apa, Bu?" Itu suara bapak yang kelihatannya sudah pulang kerja. Eh, kenapa jam segini bapak sudah pulang kerja? Bukankah biasanya jam lima sore baru pulang?
__ADS_1
Spontan aku melihat ke arah jam dinding. Padahal di hapeku kan juga ada jamnya di sudut kiri atas. Dasar aku tukang panik.
"Widhi sudah hamil lagi, Pak!" Nah, kan. Ibu mulai deh menyebarkan gosip di dalam rumahku.
"Alhamdulillah. Kita akan punya cucu lagi." Bapak malah termakan gosip dari ibu. Gawat ini kalau sampai Yoga tahu. Bisa-bisa aku yang dituduh sudah melakukan tes urine sendiri.
"Bapak kok jam segini sudah pulang?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Biar mereka tidak terlena dengan gosip dari ibu.
"Feeling mau dapat cucu baru. Jadi Bapak pulang lebih awal," jawab bapak. Nah lho. Niatnya mengalihkan pembicaraan malah bapak jawabnya kesitu lagi.
Tak lama, aku dengar ada suara mas Andi dan Tari. Aku jadi bertanya-tanya sendiri, ada apa ini kok mereka pada datang ke rumah ibu siang-siang begini.
Jangan bilang kalau kuping mereka panas mendengar gosip dari ibu, terus tiba-tiba mereka terbang dan sampai di rumah.
"Video call siapa, Bu?" tanya Tari.
"Ini sama calon ibu baru," jawab ibu. Mati aku! Kalau Tari tahu, bisa dipastikan Yoga juga akan tahu.
"Oh ya? Siapa?" tanya Tari. Aku menyembunyikan wajahku di balik bantal.
"Deeh, calon ibu baru pakai malu-malu. Biasa saja dong. Betewe, selamat ya Wid. Berlian mau punya adik lagi." Lalu Tari pergi karena dipanggil mas Andi sebelum aku meralat omongannya.
Gawat kalau Tari klarifikasi pada Yoga.
"Ngapain telpon Tari, orangnya saja masih ada di depan. Ibu panggilin saja, ya?" Haduh, ibu malah beranjak dan mencari Tari sambil membawa hapenya.
"Eh, jangan ganggu dulu bisa enggak sih? Kita lagi ngomong serius nih." Mas Andi malah mematikan panggilan video call-ku.
Aku mengirim pesan saja ke Tari. Aku bilang kalau berita dari ibu belum valid karena aku belum melakukan tes urine.
Tapi sayangnya Tari tidak membuka hapenya lagi. Alamat dia tidak membaca pesan dariku.
Karena kesal, aku lemparkan saja hapeku ke tempat tidur. Lalu aku nonton televisi sampai sore.
Hari ini aku lagi tidak kepingin memasak. Kalau nanti lapar tinggal pesan lewat online saja.
Dan kebetulan sampai sore aku tidak juga lapar. Padahal baru makan tadi pagi saja.
Sampai jam lima sore, Yoga belum juga pulang. Padahal janjinya kan pulang lebih awal karena mau mengetes urine-ku.
Aku mandi dulu saja, biar saat Yoga pulang nanti sudah wangi. Aku sengaja tidak pipis saat mandi. Aku tahan biar saat Yoga pulang nanti bisa langsung diisi lagi mangkoknya.
__ADS_1
Waktu terus berjalan. Yoga tidak juga pulang. Aku kirim pesan, malah cuma centang satu. Yang artinya nomornya tidak aktif.
Kurang yakin dengan itu, aku telpon nomor Yoga. Ya jelas saja tidak berdering.
Aku makin gelisah karena sudah jam tujuh malam. Bukan cuma gelisah karena menunggu Yoga tapi juga karena aku menahan pipis dari sore tadi.
Perutku juga sudah mulai lapar. Cacing-cacing di perutku sudah mulai protes.
Daripada ngompol, aku keluarkan juga air seniku. Biarlah nanti kalau Yoga pulang, aku keluarkan lagi.
Aku juga memesan makan malam untukku dan Yoga. Dan setelah pesananku datang, aku menatanya dengan rapi di atas meja makan.
Aku selipkan juga sebuah lilin biar berasa kayak candle light dinner. Meski hanya di rumah saja.
Sampai jam sembilan malam, Yoga tak juga ada kabarnya. Aku benar-benar gelisah sekarang. Karena nomor Yoga tak juga bisa dihubungi.
Entah jam berapa aku tertidur di sofa ruang tamu. Aku terbangun saat mendengar suara motor Yoga dan pintu rumah dibuka.
"Kok baru pulang, Ga. Katanya mau pulang sore?" tanyaku sambil mengikuti Yoga ke dalam. Padahal mataku masih sangat ngantuk.
"Aku banyak kerjaan hari ini." Yoga menjawab tanpa menoleh padaku. Dia hanya meletakan tasnya di meja ruang tamu, lalu ke kamar mandi dan lama berada di dalam sana.
Aku kembali mengantuk dan merebahkan diri di sofa ruang tengah.
"Bangun. Tidurnya di kamar sana!" Yoga mencolek bahuku. Tumben, biasanya dia akan menciumi bahkan menggendongku sampai ke tempat tidur sebelum akhirnya kami olahraga malam.
"Kamu lama banget di kamar mandi. Ngapain aja sih?"
"Memangnya kalau di kamar mandi itu tidur? Ya mandilah."
Lalu Yoga masuk ke kamar. Aku mengikutinya.
"Kamu sudah makan, Ga?"
"Udah!" Yoga menjawab dengan ketus dan langsung membaringkan diri menghadap dinding.
"Yoga! Kamu kenapa sih? Aku sudah nunggu kamu dari sore, menahan pipis biar kalau kamu pulang bisa langsung tes urine, kamu malah pulang jam segini! Aku sudah siapkan makan malam, tapi kamu malah sudah makan. Padahal aku sudah nahan lapar dari siang tadi! Sekarang kamu tidur menghadap tembok! Apa mau kamu, Ga?"
Aku terus saja menerocos dengan suara keras saking kesalnya.
"Bukannya kamu sudah melawan omonganku? Kamu sudah tes urine sendiri kan?"
__ADS_1
"Siapa bilang?" tanyaku dengan geram.
"Orang-orang di rumah kamu semua mengucapkan selamat punya momongan padaku!" jawab Yoga yang membuatku lemas.