
Berhari-hari aku masih belum berani mengatakan pada Yoga soal kehamilanku.
Yoga sudah tidak bersikap seperti anak-anak lagi. Hanya selera makannya saja yang gila-gilaan.
Dia selalu makan dengan porsi yang sangat banyak. Apapun akan dimakannya. Dia tidak meminta makanan yang aneh-aneh. Yang penting makanan itu aku yang memasaknya sendiri.
Bagiku itu tidak menyulitkan. Meskipun kadang aku malas sekali masak, tapi aku paksakan.
Pernah suatu hari aku bohongi dengan membeli lauk di warteg. Yoga yang sudah mengenali masakanku, menolaknya. Dan ujung-ujungnya dia meminta dibuatkan telur ceplok.
Sejak saat itu, aku selalu usahakan masak sendiri. Meski harus memaksakan diri.
Hari ini, aku benar-benar capek sekali. Siang aku memasak dan seperti biasa, membereskan rumah.
Sorenya Yoga malah mengajakku ke rumah temannya, setelah makan malam. Aku sudah menolaknya, tapi Yoga terus memaksa. Akhirnya aku menurut juga.
Kami di sana sampai jam sembilan malam. Sebenarnya kalau dituruti, maunya Yoga sampai lebih malam lagi.
"Aku capek banget, Ga. Ngantuk juga."
"Nanti pulangnya kamu bisa tiduran di mobil. Aku masih ada urusan."
"Tapi aku capek banget, Ga."
"Ya udah, deh. Kita pulang sekarang."
Wajah Yoga kayak kain yang belum disetrika. Kucel karena kesal padaku.
Dijalan pun dia tak bicara sama sekali. Seperti katanya tadi, aku tidur selama di mobil.
"Wid, bangun. Sudah sampai rumah." Yoga mengguncang-guncang lenganku.
Aku membuka mataku dengan malas. Lalu keluar dari mobil dan mengikuti Yoga masuk ke rumah.
Karena masih mengantuk, jalanku limbung. Hampir saja aku jatuh.
"Hati-hati jalannya, Wid."
Hanya itu yang Yoga ucapkan. Mungkin dia masih kesal karena tadi aku memaksanya pulang.
"Iya." Aku langsung masuk ke kamar. Dan tanpa berganti pakaian, aku langsung tidur.
"Kalau mau tidur, bersih-bersih badan dulu. Kamu kan tadi dari luar."
Aku yang sudah sangat ngantuk tak mau mendengarkan. Aku pura-pura sudah lelap.
Akhir-akhir ini aku memang labih gampang ngantuk, gampang capek. Meski enggak gampang marah.
"Wid, aku lapar lagi." Yoga mengguncang lagi lenganku. Aku bisa mendengarnya karena sebenarnya belum lelap.
"Di meja makan masih ada kan, Ga?" Mataku susah sekali aku buka.
"Aku makan sendirian?" tanya Yoga memelas.
Akhirnya aku paksakan membuka mataku. Lalu aku berjalan duluan keluar kamar.
"Ga! Katanya mau makan?" seruku dari ruang makan.
Ternyata Yoga sedang berganti pakaian.
"Iya. Sebentar!"
__ADS_1
Tak lama Yoga pun datang dengan celana pendek dan kaos oblong.
"Kamu enggak makan?" tanya Yoga.
"Enggak ah. Aku masih kenyang."
Aku hanya mengambilkan makanan untuk Yoga.
"Aku mau teh hangat juga," pinta Yoga.
Aku pun menurutinya. Bagaimanapun Yoga suamiku. Apapun yang dia inginkan, aku harus bisa melayaninya.
"Kamu ngantuk banget, ya?"
Aku hanya mengangguk sambil menyangga kepalaku dengan kedua tanganku.
"Ya sudah. Kamu tidur dulu deh. Aku bisa makan sendiri."
"Enggak apa-apa. Aku temani sampai selesai."
Tiba-tiba perutku mual. Aku berusaha menahannya. Aku ambil air putih dan meminumnya, untuk menghilangkan rasa mual.
"Kamu kenapa, Wid?" tanya Yoga cemas.
"Maaf, aku mual sekali. Aku ke kamar mandi dulu."
Buru-buru aku masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Aku juga menyalakan keran agar kalau muntah tidak didengar Yoga. Kasihan dia sedang makan. Enatar malah muntah bareng.
Setelah puas memuntahkan seluruh isi perutku, aku keluar dan duduk lagi menemani Yoga. Dia masih asik makan.
"Kamu kenapa? Wajah kamu pucat?"
"Masa sih?" Aku mencoba tersenyum biar mukaku enggak kelihatan pucat.
"Enggak kan?"
"Ya udah kamu tidur sana. Aku sebentar lagi selesai makannya."
"Udah ilang ngantuknya."
Efek muntah yang menguras tenaga dan terkena air, membuat mataku malah melek lagi.
"Wid. Kamu mau enggak kalau ikut program hamil? Temanku ada yang mengikutinya dan berhasil."
"Aku masih bisa hamil dengan alami kok, Ga."
Aku memang enggak begitu suka dengan program-program semacam itu. Kebanyakan malah menyiksa diri. Belum lagi biayanya yang enggak sedikit.
Lagi pula....aku kan sekarang sedang hamil. Yoga saja yang belum tahu.
"Tapi aku kan kepingin cepat punya anak, Wid."
"Kalau sekarang aku ternyata sedang hamil, gimana?"
"Ah. Kamu itu. Coba buktikan kalau kamu sedang hamil."
Yoga malah menantang.
"Kalau aku bisa membuktikannya sekarang, kamu bakal marah apa enggak?"
Aku masih ragu. Takutnya dia ngambek lagi.
__ADS_1
"Masa marah, ya enggaklah. Malah seneng."
"Yakin malah seneng?" Aku menatap tajam wajah Yoga.
"Iya. Buktikan saja. Aku malah mau kasih kamu hadiah kalau kamu bisa membuktikannya."
Wauw. Kalau ini aku paling seneng. Dikasih hadiah.
"Hadiahnya apa?"
"Kamu maunya apa?" Yoga malah balik bertanya.
"Begini, Ga. Kita kan belum honeymoon. Bagaimana kalau hadiahnya kita bulan madu. Ya, sebelum kita disibukan dengan urusan anak-anak."
"Terserah kamu. Yang penting aku minta buktinya sekarang. Kamu mau bulan madu kemana saja, aku turuti."
"Beneran ya?"
"Iya."
"Oke. Tunggu sebentar."
Aku masuk ke kamar dan mengambil hasil USG ku seminggu yang lalu.
"Nih baca." Aku letakan amplop yang berisi hasil UGS.
Yoga yang sudah selesai makan, membukanya.
"Apa ini maksudnya. Hanya foto seperti ini. Aku tidak faham." Yoga memlerlihatkannya kembali padaku.
"Di kertas itu ada keterangannya."
Yoga membaca kertas itu. Matanya langsung berkaca-kaca.
"Jadi kamu?"
Aku mengangguk. Yakin kali ini Yoga enggak bakalan ngambek. Masa iya ngambek sama orang yang lagi hamil. Bisa kuwalat nanti.
Aku jadi merasa bodoh sendiri. Kenapa aku enggak berfikir begitu sejak kemarin-kemarin?
"Seminggu yang lalu, aku ke dokter kandungan. Tidak bermaksud periksa kehamilan. Aku hanya ingin konsultasi kenapa aku terlambat datang bulan. Aku juga mengatakan kalau kita pernah mencoba pakai testpack, dan hasilnya negatif. Lalu dokter memeriksaku, biar ketahuan penyebabnya apa."
Yoga mendengarkan ceritaku dengan serius.
"Terus?"
"Ternyata penyebabnya karena aku sedang hamil. Bahkan janin kita bukan cuma satu, Ga. Tapi dua."
"Jadi itu sebabnya kamu pernah bertanya soal keturunan anak kembar di keluargaku?"
Aku mengangguk.
"Lalu kenapa pas dites sendiri hasilnya negatif? Apa alat tesnya enggak akurat?"
Aku mencoba menjelaskan pada Yoga, apa penyebabnya. Sesuai penjelasan dokter. Dan sedikit ilmu juga yang aku baca di internet.
"Oke. Berarti mulai sekarang, kamu enggak boleh terlalu capek. Aku akan mencarikan pembantu buat kamu. Kamu juga enggak boleh sendirian di rumah. Berjaga-jaga kalau kamu melahirkan."
Aku bengong mendengar kata melahirkan. Kehamilanku saja baru delapan minggu. Bagaimana bisa melahirkan?
"Ga. Kalau melahirkan itu masih lama banget. Masih setengah tahun lebih."
__ADS_1
Sekarang giliran Yoga yang bengong. Bener-bener dia enggak paham kalau orang hamil itu butuh waktu sembilan bulan sepuluh hari untuk melahirkan.
Tapi setidaknya aku lega. Yoga sudah tahu tentang kehamilanku.