
IUBH University of Applied Sciences adalah kampus yang di pilih risti untuk ana melanjutkan program study S2.
Universitas ini adalah salah satu universitas ilmu terapan yang terkemuka di Jerman.
Ana mengambil jurusan Master of Arts in International Finance and Accounting yang akan di tempuh selama dua semester.
Hari ini merupakan hari pertama Ana kuliah, ia menjalani kuliah pertamanya masih dengan menggunakan kruk karena kondisi kakinya yang belum pulih 100%.
Selama kuliah di Jerman Ana akan di dampingi oleh Gita, salah satu staff pegawai papanya yang kebetulan pernah kuliah juga di IUBH.
Gita banyak memberikan informasi mengenai proses perkuliahan di IUBH, Gita juga mengajak Ana berkeliling agar Ana tau setiap sudut kampusnya.
"Mba Git, di sini kalo mau shalat di mana?"
"Di sini mayoritas bukan muslim jadi agak sulit menemukan tempat shalat. Tapi kamu bisa menggunakan ruang serba guna untuk shalat, itu pun jika tidak ramai."
"An nanti kamu jangan kaget ya, karena sistem pembelajaran di sini sangat jau berbeda dengan di Indonesia."
"Apa bedanya Mba Git?"
"Kalo di sini di tuntut lebih mandiri dan lebih banyak tugasnya. Dulu aku bisa dari pagi sampe malem berada di perpustakaan karena harus mengerjakan tugas. Tapi tenang aja aku akan menemani kamu kok."
"Insyaallah aku siap kok Mba. Mba Git bahasa yang di pakai disini full bahasa Inggris atau ada bahasa Jermannya? soalnya aku belum bisa bahasa Jerman."
"Tenang saja kalau disini semua dosennya menggunakan bahasa Inggris kok."
"Ini ruang kelasnya, aku tunggu di luar ya. Nanti kalau udah selesai aku akan ke sini lagi."
Ana mengangguk kemudian ia memasuk ke dalam ruang kelasnya, ada sekitar 40 mahasiswa dari berbagai belahan dunia yang berbeda.
Ana bahagia karena bisa menjadi bagian dari sesi pembelajaran dan pelatihan dari para dosen IUBH yang sangat berpengalaman, kebanyakan dari mereka memiliki posisi tinggi dalam perusahaan yang terkenal di dunia.
Memasuki ruang kelas, mata Ana bergerilya mencari kursi yang kosong, sebenarnya masih ada beberapa kursi di dalam ruang kelas tersebut namun yang menarik perhatian Ana, ada kursi kosong yang di sampingnya nampak seperti orang Asia.
"Can I sit here?" Ana meminta izin untuk duduk di sebelahnya.
"Yeah of course" gadis itu mempersilahkan Ana untuk duduk di sebelahnya.
"Sandriana, from Indonesia" Ana mengulurkan tangannya mengajak gadis yang di sebelahnya berkenalan.
"Tesanee, Thailand" sambil tersenyum gadis itu menerima jabatan tangan Ana.
Benar dugaan Ana, ia berasal dari Thailand, ia senang sekali bisa memiliki teman yang sama-sama berasal dari Asia, sehingga keduanya bisa langsung akrab.
Dan benar saja apa yang di ucapkan oleh Gita pagi tadi, baru hari pertama masuk kuliah tugas Ana sudah menggunung, semua mahasiswa di tuntut berperan aktiv baik dalam bertanya maupun dalam berdiskusi dengan dosen maupun mahasiswa lainnya.
Setelah mata kuliah berakhir Ana menghabiskan waktunya di perpustakaan hingga larut malam untuk mengerjakan semua tugas-tugas kuliahnya.
__ADS_1
"An, di lanjut besok saja yuk, ini sudah jam sebelas malam, Tuan Reino sudah meminta kita untuk pulang" ucap Gita.
"Tapi tugasku belum selesai Mba"
"Nanti dia Apartement Mba akan coba bantu, sekarang pulang dulu yuk"
Setelah beberapa kali membujuk Ana untuk pulang, akhirnya ia mau juga. Setibanya di apartement Ana menumpahkan kegundahannya kepada papahnya.
"Pah, Ana mau pulang saja ke Indonesia huuuu... Ana mau kuliah di Indonesia, Ana tidak mau kuliah di sini.... Baru saja masuk, minggu depan sudah ujian, mana Ana tidak mengerti sama sekali dengan teori-teori materinya pah hiks...." Rengek Ana, ia menangis di pelukan papanya.
"Sabar ya sayang" Pak Reino menepuk bahu ana secara lembut untuk menenangkan putrinya.
Pak reino mengerti study di Jerman tidaklah mudah tapi ia yakin putrinya bisa melewati fase ini.
"Aku mau pulang hiks..."
"Di coba hingga selesai ujian ya, lakukanlah semampumu sayang"
Lama Ana menangis di pelukan papanya sampai-sampai Ana tertidur, Pak Reino membopong putri bungsunya masuk ke dalam kamarnya.
Setelah menaruh Ana di dalam kamar Pak Reino kembali ke ruang keluaraga untuk menanyakan kegiatan Ana hari ini kepada Gita dan mengobrol bersama Risti.
"Maaf Pak Reino, dulu pada masa adaptasi aku pun merasa ingin menyerah kuliah di sini. Tapi setelah lama ke lamaan aku mulai terbiasa. Semoga putri bapak bisa segera melewati fase adaptasi ini."
"Yang sabar ya pa, Jadi orang tua itu terkadang harus tega membiarkan anaknya terjatuh agar ia bisa bangkit kembali" ucap Risti.
Ini adalah salah satu alasan mengapa Pak Reino tak mengizinkan putrinya berkomunikasi dengan Rio, ia tak ingin mengganggu konsentrasi Rio dalam mengembangkan bisnisnya, jika Rio sampai mendengarkan rengekan Ana atau mengetahui kesulitan-kesulitan yang Ana alami di Jerman, tentu Rio akan langsung menyusul Ana ke Jerman untuk membantunya, hal itu tentu bisa mengganggu bisnis yang baru saja Rio kembangkan dan Pak Reino akan kembali merasa bersalah seperti saat ia mengetahui Rio keluar resign dari kantornya demi menjaga putri bungsunya.
Tiga Bulan Kemudian.
Selama tiga bulan ini Ana terus mencoba untuk bertahan meski ia selalu menangis sepulang kuliah, ia menangisi ketidak mengertiannya terhadap semua teori mata pelajaran yang ia ambil, serta banyaknya tugas yang menumpuk dan ujian yang bisa datang secara tiba-tiba.
Kepercayaan dirinya menciut ketika ia melihat teman-teman sekelasnya sangat berada jauh di depannya, semuanya terlihat pintar. Ana merasa hanya dirinya yang paling bodoh yang tak mengerti apa-apa.
Di sisi lain ada hal baik yang terjadi selama tiga bulan ini, dimana kondisi kaki Ana yang kian membaik, ia sudah dapat berjalan dengan normal tanpa menggunakan alat bantu lagi, bahkan kini Ana sudah dapat berlari.
Di bulan ke empat Ana telah berhasil beradaptasi dengan sistem pembelajaran di Jerman, sebagian waktunya ia habiskan di perpustakaan untuk belajar mengejar semua ketertinggalannya.
Sementara itu Rio di Indonesia semakin di sibukan dengan bisnis dan aksi sosialnya, selama tiga bulan tersebut Rio berhasil memproduksi chemical cleaner (cairan pembersih sepatu) buatannya sendiri.
Ia juga telah berhasil bekerjasama dengan 15 mitra yang tersebar di seluruh indonesia, saat ini ia sedang membangun kantor baru untuk para staff bisnisnya dan tim situs donasinya bekerja.
Pundi-pundi penghasilnya semakin bertambah sehingga Rio dapat membeli mobil pribadinya yang lebih bagus dari yang sebelumnya. Meski demikian ia tetap merindukan mobil lamanya yang menyimpan banyak kenangan bersama dengan Ana, namun sayangnya ketika ia hendak membeli mobil itu kembali ternyata mobil tersebut sudah laku terjual.
Di setiap kesempatan ia memandangi foto-foto kekasihnya yang rutin Risti kirimkan kepadanya, ada rasa cemburu ketika Rio melihat kekasihnya tengah belajar berkelompok bersama dengan teman prianya.
__ADS_1
Rasa insecure kembali melandanya, Rio takut jika Ana akan tertarik dengan pria bule itu. Kepercayaan dirinya menurun melihat pria itu jauh lebih tampan darinya, ia tidak dapat menahan kecemburuannya hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Risti.
Pada deringan ke tiga Risti baru mengangkat teleponnya.
"Hallo, ada apa Dek?" tanya Risti.
"Aku ingin bertemu dengan Ana, tolong berikan alamatnya" pinta Rio dengan nada memaksa.
"Loh kenapa tiba-tiba kamu ingin ke sini? bukankah kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu?" Risti sedikit bingung mengapa tiba-tiba Rio ingin datang kemari, menghampiri Ana.
"Aku tidak ingin kehilangan Ana untuk kesikan kalinya, aku tidak ingin Ana terpikat dengat dengan pria lain."
"Hahaha..." Risti menertawakan sikap cemburu Rio.
"Hei Dek, apa kau tidak memiliki rekan bisnis wanita? atau kamu tidak punya staff wanita? Pria itu hanya teman satu kelompok Ana tidak lebih dari itu. Jangankan memikirkan pria lain memikirkan tugas-tugasnya sudah membuat Ana tidak memiliki waktu, bersabarlah tujuh bulan lagi Ana akan sidang tesis, nanti aku akan menjemputmu."
"Kak Risti sedang tidak berbohongkan?
"Kau lihat saja adikku masih mengenakan cincin pemberian darimu, itu tandanya ia masih menjadi milikmu."
"Tolong jaga dia."
"Pasti." Risti menutup telepone dari Rio.
Rio kembali manatap foto kekasihnya, ia membelai wajah Ana seolah-olah Ana sedang di hadapannya
"Aku percaya padamu, sayang." Gumamnya.
Rio mengecup foto Ana di layar handphonenya, tiba-tiba saja Adit membuyarkan lamunan Rio.
"Hmmm... Pak Rio."
Rio sangat kaget melihat Adit sudah berada di hadapannya, sontak saja membuat Rio menjadi marah kepada Adit.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?"
"Saya sudah berkali-kali saya mengetuk pintu."
"Ada perlu apa?"
"Ini pak ada berkas undangan seminar dari tiga kampus di tiga wilayah yang berbeda, mereka meminta Pak Rio menjadi nara sumber di acara tersebut." Adit menyerahkan semua berkas undangan kepada Rio.
"Jika Pak Rio setuju, nanti saya akan follow up."
"Nanti saya akan pelajari terlebih dahulu."
"Baik pak, kalo begitu saya permisi dulu." Adit meninggalkan ruangan kerja rio.
__ADS_1