Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 65


__ADS_3

Tengah malam Rio terbangun oleh suara tangisan putri kecilnya, melihat istri yang tengah tertidur dengan pulas, Rio pun bergegas menghampiri tempat tidur putrinya, dengan telaten ia mengganti popok Tyshia kemudian menggendongnya menuju dapur.


Rio membuka kulkas khusus penyimpanan ASIP, kemudian mengambil satu kantong ASIP lalu mengahangatkannya. Setelah dihangatkan baru lah Rio memberikannya kepada putri kecilnya, Tyshia menyusu dengan sangat lahap hingga ia kembali tertidur di dekapan hangat ayahnya.


Melihat putrinya sudah kembali tidur, Rio mencium keningnya dan menaruhnya di kasur bayi secara perlahan.



Pagi hari Ana terbangun dari tidurnya karena mencium aroma nasi goreng yang berada di meja kamarnya, ia mencari-cari keberadaan suami dan putrinya di dalam kamar, namun ia tak menemukan keberadaan keduanya, ia pun menanyakan keberadaan dua kesayangannya kepada asisten rumah tangganyanya.


"Pak Rio lagi di rooftop Bu, sedang menjemur Baby Tyshia" jawab Bik Sari, salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman Ana.


"Ok, terima kasih" Ana bergegas menuju rooftop, menghampiri suami dan putri kecilnya.


Tiba di atas rooftop Ana melihat suaminya tengah berjemur sambil menggendong putri kecilnya.


"Selamat pagi Ayah, selamat pagi juga putri cantik Bunda" sapa Ana dengan senyuman manis di wajahnya, kemudian ia mencium pipi kedua kesayangannya secara bergantian.


"Selamat pagi juga Bunda" Rio membalas kecupan manis istrinya.


"Kamu sudah bangun sayang, kamu mandi sana lalu sarapan, aku sudah buatkan nasi goreng seafood dan susu hangat untukmu. Biar nanti Tyshia aku yang mandikan" ucap Rio.


"Terima kasih banyak ya sayang, kamu memang suami terbaik" Ana kembali mencium pipi Rio dan putrinya, kemudian ia kembali lagi ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Begitu selesai membersihkan diri, ia masuk ke kamar putrinya lewat pintu penghubung dari kamarnya, ia melihat suaminya dengan telaten memandikan dan memakaikan pakaian Tyshia sambil bernyanyi serta mengajak Tyshia bercanda.


"Aku mandi dulu ya. Oh ia nanti sebelum ke rumah Papa kita mampir dulu ya ke rumah Lyra, aku sangat khawatir padanya." Rio memberikan putrinya kepada istrinya untuk di beri ASI.


"Ia sayang, aku juga mengkhawatirkan kondisinya" jawab Ana.


Sebelum berangkat ke kediaman Lyra, kefuanya berpamitan dengan Ibu.


"Hati-hati ya nduk, kabari Ibu jika terjadi apa-apa dengan Lyra" ucap Ibu sambil mencium cucunya "Jangan lama-lama, nanti ibu rindu dengan cucu Ibu" sambung Ibu.


"Yah, Ibu sudah tidak rindu Ana lagi" ucap Ana.


"Yo, ndak gitu. Tetep rindu juga dengan menatu Ibu yang cantik ini tapi lebih rindu dengan cucu kesayangan Ibu haha..." ucap Ibu sambil tertawa.


"Ya sudah kami pergi dulu ya Bu, Assalamualaikum" Ana mencium tangan Ibu mertuanya kemudian ia menyusul suaminya yang sudah terlebih dulu masuk ke mobil.



Ting... Tong... Ting... Tong...


Ana memencet bel rumah Lyra, tak lama kemudian Adit keluar membukakan pintu. Wajah Adit nampak terkejut dengan kedatangan kedua kakak iparnya, ia mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Lyra di mana Dit?" tanya Ana.


"Ada di kamar Mba" jawab Adit.


"Boleh aku ke kamar kalian?" Ana meminta izin kepada Adit untuk ke kamarnya menemui Lyra.


"Silahkan Mba Ana" Adit menganggukan kepalanya, memberikan izin kepada Ana untuk menjenguk istrinya.

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari Adit, Ana beranjak menuju kamar adik iparnya, sedangkan suami dan anaknya masih berada di ruang tamu bersama dengan Adit.


Perlahan Ana membuka pintu kamar adik iparnya yang tak terkunci, di lihatnya Lyra sedang tidur di bawah selimut.


"Loh kamu kenapa Dek? kamu sakit?" tanya Ana sambil berjalan mendekat ke arah Lyra.


"Eh mba Ana, kapan ke sini? Aba sama siapa?" tanya Lyra.


"Aku baru saja ke sini, bersama Masmu dan juga Tyshia. Kamu kemarin kemana kok tidak datang ke acara aqiqahan Tyshia?" tanya Ana dengan nada khawatir.


"Sebenarnya... kemarin aku muntah-muntah saat mau berangkat ke rumah Mba Ana, lalu Mas Adit melarangku untuk ikut" ucap Lyra dengan sedih.


"Wajahmu pucat sekali Dek, jangan-jangan kamu tengah mengandung!!" ucap Ana dengan curiga.


"Entahlah, aku belum cek. Mungkin hanya masuk angin saja mba."


Di tengah obrolan Ana dan Lyra tiba-tiba saja Rio datang ke kamar adiknya sambil menggendong Tyshia.


"Aku rindu sekali dengan keponakan ku" Lyra mengulurkan tangannya hendak menggendok keponakan kesayangannya, Rio pun memberikan putrinya kepada adiknya.


"Oh My God, semakin hari wajahnya semakin mirip dengan Mas Rio tapi ini versi cantiknya" ucap Lyra.


"Kamu ini Lyra bikin Mbamu ngambek saja, setiap kali Tyshia di bilang mirip denganku Mbamu ini selalu marah kepada Mas. Dia selalu menayakan kenapa tidak memberikan sedikit bagiannya? Mas juga tidak tahu mengapa tidak ada bagiannya di wajah Tyshia" oceh Rio kepada adiknya.


Kesal mendengar ocehan suaminya, Ana mencubit lengan Rio dengan kencang.


"Aww... sakit sayang"


"Sudah sana tunggu di luar, aku masih mau mengobrol dengan Lyra" usir Ana.


"Iya iya ratuku" Rio mengambil Tyshia kembali dari gendongan Lyra, kemudian ia mengajak Adit untuk keluar kamar, agar istri dan adiknya bisa lebih leluasa mengobrol.


"Mba tidak mau tahu, pokoknya hari ini juga kamu harus cek, terus kamu langsung kabarin Mba" ucap Ana dengan serius.


"Iya mba, nanti aku minta Mas Adit membeli tes pack," ucap Lyra.


Hapir satu jam lamanya mereka berbincang, akhirnya Ana mengakhiri perbincangan mereka, ia pamit kepada adik iparnya karena ia ada janji dengan kakaknya.



Setibanya di rumah Papanya, Risti dan suaminya serta kuasa hukum papanya sudah berada di ruang tamu, menunggu kedatangan dirinya dan juga suaminya.


Sebelum Ana bergabung, ia menyerahkan putri kecilnya kepada baby sitternya untuk mengajak Tyshia bermain di halaman.


Tak menunggu waktu lama, kuasa hukum Pak Reino mulai membacakan surat wasiat yang di tulis oleh Alm.Pak Reino sebelum beliau pergi berobat ke Jerman (sebelum beliau meninggal dunia), di dalamnya di jelaskan mengenai pembagian seluruh harta yang di miliki Pak Reino kepada kedua anak kandungnya dan kedua anak menantunya.


Yang di antaranya ada rumah, tabungan, deposito, asuransi, kendaraan, tanah, perusahaan, dan surat-surat berharga lainnya. Secara keseluruhan baik Ana, Risti dan suaminya tidak ada yang mempermasalahkan isi pembagian dari surat wasiat tersebut, mereka semua menerima keputusan yang telah di tetapkan oleh Alm.Papanya.


Hanya Rio saja yang terlihat agak sedikit keberatan karena Alm.Pak Reino menyerahkan sepenuhnya perusahaan miliknya kepada Rio, padahal Rio berharap perusahaan tersebut jatuh ke tangan Risti atau suaminya.


Setelah selesai pembacaan surat wasiat, Rio lebih memilih menemani putri kecilnya bermain di taman belakang ketimbang membahasnya bersama istri dan kakak iparnya.


"Suamimu kenapa Dek?" tanya Risti yang melihat dengan jelas perubahan raut wajah Rio yang semula pada saat datang ia terlihat happy, namun setelah pembacaan surat wasiat terlihat murung.

__ADS_1


"Mungkin suamiku hanya capek aja Kak, tadi sebelum ke sini kita ke tempat Lyra dulu" ucap Ana.


Ditengan obrolan mereka tiba-tiba saja Rio datang dan mengajak istrinya pulang. Ana pun menurut, ia pamit kepada Kakak dan Kakak iparnya.



Sesampainya di rumah, Ana kembali meminta baby sitternya untuk menjaga putrinya sebentar karena ia ingin berbicara dengan suaminya.


"Aku fikir yang kemarin hanya sementara, aku rindu sekali dengan suasana kantorku." Rio memberikan ipad dan handphonenya ke istrinya.


"Lihatlah ratusan email dan panggilan masuk tiada hentinya masuk ke handphoneku!! Aku benar-benar stres bekerja dikantor papah."


"Ya sudah perusahaan itu biar kita akusisikan saja ya, aku tidak ingin membebani suamiku" Ana tersenyum menggenggam erat tangan suaminya.


"Atau begini saja, kita coba enam bulan lagi. Jika memang kita tidak sanggup baru kita akuisiskan, nanti biar aku yang bicara dengan Kak Risti, aku yakin kakakku pasti mengerti" Ana memberikan alternatif lain kepada suaminya.


"Kita? kalau kamu ikut ke kantor bagaimana dengan anak kita, aku tidak mau anak kita kurang kasih sayang karena orang tuanya sibuk bekerja" ucap Rio.


"Kita ajak ke kantor, kita bikin ruangan khusus untuknya. Lengkap dengan semua perlengkapannya hingga desain ruangannya sama seperti di rumah. Bagaimana?" tanya Ana.


Rio memejamkan matanya memikirkan sejenak masukan yang di berikan oleh istrinya, untuk membawa putrinya ke kantor.


"Baiklah, hari ini aku akan suruh Edgar menyiapkannya."


"Cheer up, baby. Aku dan Tyshia akan terus menemani dan mensuportmu" Ana memeluk suaminya dengan hangat.


"Terima kasih ya sayang" Rio mempererat pelukannya.


"Sayang, apa kamu lupa jika hari ini kita mau ngasih kejutan untuk Ibu?" tanya Ana sambil melepas pelukan suaminya.


"Astaga, hampir saja aku lupa. Ya sudah kita turun ke bawah yuk" ajak Rio.


Ana dan Rio mengajak Ibu ke sebuah ruko yang tidak jauh dari rumahnya, Ana menutup mata ibu mertuanya, dan menuntunnya secara perlahan.


Sampai di depan ruko barulah Ana membuka mata aibu mertuanya, Ibu terkejut dengan banyaknya orang yang berada di hadapannya.


Ana tersenyum kepada Ibu mertuanya, ia meminta ibu untuk menggunting pita sebagai simbolis pembukaan toko kue milik ibu.


"Kami buatkan ibu toko kue sama seperti yang ada di rumah ibu, kami ingin ibu tinggal selamanya bersama kami. Kami tidak ingin ibu tinggal sendirian, ibu mau ya tinggal bersama kami." pinta Ana.


"Terima kasih ya nduk, iya ibu mau tinggal bersama kalian."


Ana memeluk ibu, kemudian mengajak ibu masuk ke dalam toko kue mikik ibu. Semua kue yang di jual di toko tersebut tidak jauh berbeda dengan toko yang berada di rumah ibu, Ana hanya menambah beberapa jenis kue dan aneka minuman, toko tersebut tidak hanya melayani take away tapi juga melayani untuk makan di tempat.


Ibu berjalan ke arah Rio yang sedang menggendong putrinya.


"Terima kasih ya Le, tokonya bagus sekali" ucap Ibu.


"Ini semua ide Ana bu, bahkan dia juga yang mengurus semuanya, aku saja baru tahu kemarin. Sebenarnya sudah lama Ana menginginkan ibu untuk tinggal bersama kami"


"Bu potong tumpeng dulu yu, kita doa bersama" ajak Ana, ia menggandeng ibu mertuanya menuju meja tempat pemotongan tumpeng.


Rio mengekori istri dan ibunya dari belakang sambil menggendong Tyshia, Rio merasa sangat beruntung memiliki istri yang amat menyayangi dan menghormati Ibundanya.

__ADS_1


__ADS_2