Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 127 KEJUTAN DIHARI PERNIKAHAN


__ADS_3

Jam empat pagi aku sudah dibangunkan ibu. Aku menggeliatkan badan. Sempet kaget juga begitu tanganku menyentuh tubuh Tari.


"Jam berapa ini, Bu?"


"Jam empat" jawab ibu.


"Bentar lagi, Bu. Belum adzan subuh kan?" Mataku masih lengket karena semalam susah tidur.


"Kamu kan mesti siap-siap. Jam lima tukang riasnya sudah datang lho".


"Iya." Aku memeluk guling lagi. Tapi gulingnya malah ditarik ibu.


"Iih, Ibu. Aku masih ngantuk."


"Mandi biar tidak ngantuk! Apa mau ibu mandiin?"


Tari jadi ikut terbangun.


"Eh, Ibu. Jam berapa ini, Bu?" tanya Tari.


"Jam empat. Ayo bangun." Tari menurut saja tanpa banyak nawar. Maklum calon mantu pasti jaim.


Aku pun ikut bangun juga karena Tari sudah mau turun dari tempat tidur.


"Kamu mandi duluan, Wid. Tapi jangan lama-lama. Gantian sama yang lainnya." Lalu ibu keluar dari kamarku.


Dengan malas aku ikut keluar juga. Aku melirik ke ruang tamu. Yoga dan mas Andi sudah rapi.


Bangun jam berapa mereka?


"Dilap dulu tuh ilernya! Malu sama calon suami!" seru mas Andi.


Ah, bodo. Aku malas berdebat. Mataku masih lengket.


"Udah buruan!" Ibu mendorongku masuk ke kamar mandi.


"Jangan tidur di kamar mandi!" Suara mas Andi masih saja usil.


Air di kamar mandi terasa masih sangat dingin. Pingin rasanya nangis. Bagaimana caranya aku mandi, kalau airnya saja sedingin es.


Akhirnya pelan-pelan aku basuh mukaku dulu. Baru aku siram perlahan badanku.


Tak butuh waktu lama, aku keluar dari kamar mandi. Badanku masih menggigil kedinginan.


"Udah gosok gigi belum?" tanya mas Andi yang lagi ada di ruang makan.


Ups. Aku lupa. Langsung aku balik lagi ke kamar mandi.


"Kebiasaan!" mas Andi terdengar ngomel. Dasar aki-aki. Untungnya sekarang dia sudah tidak menjomblo.


Kalau dia masih menjomblo bakalan aku balas nanti.


Selesai gosok gigi, aku keluar. Tari sudah menunggu untuk giliran mandi.


"Airnya sombong banget, Tar. Dingin. Brrr." Aku berjalan masuk ke kamarku.


Suara adzan subuh sudah berkumandang. Mas Andi dan bapak pergi ke masjid dekat rumah.


Aku sholat di kamarku sendiri. Sebelum sholat aku lihat Yoga sedang bersiap sholat di ruang tamu sambil duduk.

__ADS_1


Kasihan sekali dia. Sampai sholat saja belum bisa berdiri.


Selesai sholat aku membantu ibu membereskan ruang tamu. Yoga sudah selesai sholatnya.


Tari juga ikut membantu membereskan ruang tamu.


"Kamu mau kopi, Ga?" tanyaku.


"Udah habis, tuh." Yoga menunjuk dua gelas yang sudah tinggal ampas kopinya saja.


"Terlambat. Udah keduluan ibu" jawab mas Andi yang baru saja pulang dari masjid.


Aku mencibir ke arah mas Andi. Dasar usil.


"Udah gosok gigi belum?" ledek mas Andi. Aku memperlihatkan gigiku yang sudah bersih.


"Nah, gitu dong. Biar tidak beraroma iler. Hahaha." Mas Andi berlari ke kamarnya, karena aku hendak melemparnya dengan sandal.


"Udah jangan becanda terus!" ucap bapak, lalu duduk di sebelah Yoga.


"Mas Andi itu lho, Pak. Ngeledekin terus."


"Kamu juga sih, udah mau nikah dua kali masih malas gosok gigi."


"Bapaaak! Jangan buka rahasia kenapa sih? Aku kan malu, Pak!"


Bapak dan Yoga tertawa bersama.


"Ga! Calon istri dibelain kek. Malah ikutan ketawa!" ucapku pada Yoga.


"Jangan mau, Ga. Kalau dibelain makin malas dia." Mas Andi mulai usil lagi.


Aku cemberut lalu masuk ke kamarku. Bete banget, semua orang sukanya ngeledekin aku.


"Apaan itu, Tar?" Aku memperhatikan paper bag yang di bawa Tari.


Satu per satu Tari membukanya. Paper bag pertama berisi kebaya berwarna coklat muda.


Yang kedua berisi selop dengan warna senada. Dan yang ketiga berisi kain batik yang sudah dibikin rok span panjang yang dikombinasikan dengan renda berwarna emas.


"Punya siapa itu, Tar?"


"Punya kamu lah. Kan yang mau nikah kamu."


Punyaku? Perasaan aku tidak pernah pesan kebaya. Ataupun yang lainnya.


"Siapa yang beli?"


"Bukan beli. Tapi pesan di butik milik temanku" jawab Tari.


"Terus ukurannya?"


"Pakai ukuranku." Tari nyengir.


"Coba liat." Aku mengambilnya dan mencobanya. Pas sekali ukurannya. Padahal badanku sama badan Tari kan beda ukuran.


"Kok bisa pas ukurannya?"


"Itu sudah dikurangi sedikit. Soalnya kalau pas diukuranku nanti kebesaran dipakai kamu."

__ADS_1


Aku mengambil selop berwarna emas yang sangat cantik. Lalu mencobanya. Pas juga. Dan sangat cocok dengan warna kulitku yang tidak terlalu terang.


"Ini semua Yoga yang pilihkan?" tanyaku. Tari mengangguk.


"Tapi kalau roknya ini aku yang buatkan desainnya. Semoga kamu suka."


"Bagus banget. Kamu berbakat juga jadi desainer."


"Almarhumah mamaku dulu seorang desainer. Tapi sayangnya aku tidak berminat meneruskan usaha butik mamaku. Jadi aku suruh sahabat mamaku yang punya minat di bidang itu untuk meneruskan" ucap Tari.


Gak aku sangka, ternyata Tari punya butik juga. Tapi kenapa Yoga tidak membawaku ke sana? Malah ke butik yang dijaga sama Irene.


"Kamu pernah ke sana juga, kan?" tanya Tari.


"Aku? Kapan?" Aku mencoba mengingat-ingat. Kayaknya tidak pernah. Yoga hanya mengajakku ke butik yang bikin bete itu saja.


"Kata bang Yoga kamu sudah pernah diajak ke sana. Tapi gak jadi milih karena bete sama...Irene."


"Maksud kamu?" Aku menatap wajah Tari dengan serius.


"Irene itu keponakan temen mamaku. Temen mamaku lagi ke luar negeri jadi Irene yang disuruh menjaganya sementara" sahut Tari.


"Jadi kamu kenal Irene juga?" Tari mengangguk.


"Kenapa kamu gak pernah cerita?"


"Kamu gak pernah nanya."


"Mana aku tau kalau kamu juga kenal sama Irene?" sahutku.


"Dia kan dulu tetanggaan sama Yoga. Aku sering ke rumah Yoga. Jadi aku kenal Irene sejak dulu."


Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Tari. Selama ini aku tak pernah berfikir untuk mencari tau tentang Yoga pada Tari.


"Aku pipis dulu, ya?" Tari mengangguk.


Aku berjalan keluar hendak ke kamar mandi. Mataku melirik sekilas ke ruang tamu.


Di sana sudah berjejer beberapa kotak besar dan keranjang-keranjang yang dihias dengan renda cantik.


Aku tertarik untuk melihatnya. Mungkin itu milik perias pengantin, pikirku. Tapi aku tetap ingin melihatnya.


Yoga masih duduk di kursi bersama bapak.


"Apaan ini, Ga?" tanyaku pada Yoga.


"Mainan" jawab Yoga singkat.


Aku lebih mendekat. Ternyata isinya barang-barang seserahan yang jumlahnya sangat banyak.


Dan ada juga uang rupiah yang dihias dalam sebuah keranjang. Entah berapa jumlahnya.


Siapa yang menyiapkan semua ini? Aku keluar rumah karena mendengar suara banyak orang.


Ternyata memang banyak orang yang sedang memasang tenda. Mas Andi yang jadi mandornya.


Bapak tiba-tiba sudah ada di sampingku.


"Katanya gak pakai tenda, Pak?" tanyaku.

__ADS_1


"Kata siapa?" Bapak malah balik bertanya. Belum sempat aku menjawab, sudah datang sebuah mobil bertuliskan nama catering yang cukup terkenal.


"Subhanallah." ucapku dalam hati. Banyak sekali kejutan di hari pernikahanku.


__ADS_2