Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 27


__ADS_3

Setelah proses administrasi rumah sakit dan prosedur donor darah selesai, Rio mendonorkan darahnya untuk Ana. Rasa pusing, lemas dan mual di rasakan rio setelah mendonorkan darahnya untuk calon istrinya.


Rio memutuskan untuk beristirahat di ruang perawatan VVIP yang letaknya tidak jauh dengan ruang operasi Ana, agar ia dapat beristirahat sambil mengontrol kondisi Ana.


Rio menghubungi Bik Ima dan memintanya untuk membawa baju serta keperluan Rio lainnya ke rumah sakit, tak lama kemudian Bik Ima membawa semua barang yang di minta oleh Rio.


Rio juga meminta bi ima untuk untuk menunggu Ana di depan ruang operasi, jika sewaktu-waktu dokter yang menangani Ana keluar Bik Ima bisa segera memanggilnya.


Rio mengganti pakaiannya serta membersihkan tubunya yang di penuhi oleh darah Ana, rasa sesak didadanya sudah tak dapat terbendung lagi, setelah selesai membersihakan diri Rio menumpahkan kesedihannya dalam sujudnya.


Rio menangis sepuas-puasnya, ia merasa tidak mampu melindungi orang yang ia cintai, hatinya begitu sedih dan sakit. Rio juga memohon kelancaran operasi Ana, meminta agar Ana bisa pulih seperti sedia kala.


Tok...Tok...Tok


Suara ketukan pintu kamar Rio menghentikan tangisan doanya, ia mengusap air matanya kemudian membuka pintu kamarnya.


Rio melihat dua orang karyawannya dan dua orang polisi datang menemuinya.


"Kami dari kepolisian, kami memerlukan kehadiran Pak Rio untuk memberikan keterangan sebagai saksi" Polisi melihat keadaan Rio yang nampak begitu lemas memberikan alternatif lainnya.


"Jika bapak belum bisa memberikan keterangan hari ini, kami akan menundanya esok hari"


"Jangan pak, saya ingin masalah ini cepat selesai. Saya akan ikut dengan bapak sekarang."


Sebelum rio berangkat ke kantor polisi, ia pergi menemui pihak rumah sakit untuk menanyakan berapa jam Ana selesai operasi dan meminta pihak rumah sakit untuk segera menghubunginya jika terjadi sesuatu dengan calon istrinya.


Rio juga menyuruh salah satu karyawannya untuk menemani Bik Ima menunggu Ana di depan ruang operasi.


Sesampainya di kantor polisi Rio menjawab delapan pertanyaan yang di ajukan oleh polisi kepadanya, polisi juga memperbolehkan Rio untuk bertemu dengan Julio.


Rio metap Julio dengan penuh kebencian dan amarah, jika saja karyawannya tidak mengingatnya bahwa ia sedang berada di kantor polisi dan jika saja kewarasan Rio tak berada pada dirinya, ingin sekali Rio membunuh Julio.

__ADS_1


Namun Rio urungan niatnya, mengingat saat ini Ana sangat membutuhkannya.


Rio menarik kerah baju Julio "BERENG*EK!!! SUDAH PUAS KAU SEKARANG MEMBUNUH JANIN DALAM KANDUNGAN ANA??"


Tubuh rio di tahan oleh karyawannya agar tidak membuat keributan di kantor polisi, Rio menghempaskan Julio dengan sekuat tenaganya. Ia berbalik memutuskan untuk kembali ke rumah sakit karena jika berlama-lama melihat wajah Julio, Rio tidak bisa menahan amarahnya.


Tiba di rumah sakit, Rio sudah melihat ibu dan adiknya lyra yang sedang menunggu di depan ruang operasi bersama dengan bi ima dan karyawannya.


rio menyuruh kedua karyawannya untuk kembali ke gerainya melanjutkan pekerjaan mereka.


"Le, bagaimana dengan keadaan ana serta janinnya?" Tanya ibu sambil menangis, rio memeluk ibunya dan menenangkannya.


"Tenanglah bu, Ana akan baik-baik saja. Dokter sedang menanganinya, kita serahkan saja pada allah, kita doakan agar ana bisa segera melewati masa kritisnya." Rio berusaha menenangkan hati ibunya, walau sesungguhnya hati dirinya pun sama hancurnya.


"Le mengapa wajahmu pucat sekali?" tanya ibu.


"Aku baru saja mendonorkan darahku untuk Ana, Bu." jawab Rio.


"Ibu istirahat saja dengan Mas Rio, biar Lyra dan Bik Ima yang menunggu mba ana di sini, jika ada apa-apa nanti lyra akan memberitahu Mas Rio" Lyra tak ingin ibunya kelelahan, ia meminta ibunya untuk beristirahat bersama dengan rio.


Setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya Rio dan ibu mengikuti saran dari Lyra, Rio kembali ke ruangan perawatan VVIPnya di temani dengan ibunya.


Didalam kamar perawatan Rio membuka phonecellnya, ia melihat rekaman suara detak jantung janin dalam kandungan Ana yang baru saja tadi pagi ia dengarnya.


Kemudian Rio melihat foto-foto hasil USG, tak terasan air mata Rio kembali jatuh mengapa kebahagiaanya cepat sekali berubah menjadi kesedihan.


"Subuh tadi aku baru saya merasakan tendangan pertama anakku dalam perut ana bu, Hiks..." Rio menangis dalam pelukan ibundanya.


"Aku takut jika Ana akan pergi meninggalkan aku bu, Hiks... Huuu..." tangis Rio kembali pecah dalam pelukan Ibundanya.


Jika di luar tadi Rio seakan-akan terlihat tegar berusaha menenangkan hati ibunya, namun ketika di dalam Rio sudah tidak lagi bisa menahan kesedihannya, lama ia menangisi ana tak terasa Rio tertidur dalam pangkuan ibunya.

__ADS_1


Setelah beberapa jam ana di ruang opersi, akhirnya lampu tanda operasi di matikan.


Rio pun sudah kembali untuk menunggu ana di depan ruang operasi, dan nampak perasaannya sudah jauh lebih baik.


Beberapa saat kemudian beberapa dokter mulai keluar dari ruang operasi, Rio dan keluarganya langsung mendekat ke arah dokter.


"Apa anda wali dari pasien?" Tanya dokter.


"Saya dok" jawab Rio.


Dokter itu menatap wajah rio dengan serius, kemudian dokter meminta Rio untuk ke ruangannya, Rio pun mengikuti dokter tersebut dari belakang.


Sesampainya di ruangan dokter, dokter mempersilahkan rio untuk duduk. rio menangkap raut kekhawatiran pada wajah dokter, namun Rio tidak mau berasumsi sebelum mendengat semua penjelasan dokter.


"Jadi bagaimana keadaan tunangan saya dok?" tanya Rio.


Dokter menarik nafas dalam-dalam kemudian dokter mulai menjelaskan kondisi Ana pasca operasi.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Untuk cedera di bagian tubuhnya kami sudah berhasil mengatasinya, namun untuk pada bagian kepala, pasien mengalami cedera yang cukup berat sehingga pasien mengalami koma, pasien akan di rawat di ruang ICU agar kondisinya dapat terpantau secara intensif."


Mata rio kembali berkaca-kaca mendengar penjelasan dokter, sulit rasanya untuk rio bisa menerima kenyataan ini.


"Apa masih ada kemungkinan Ana akan sembuh dok?"


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien, semua perkembangannya akan selalu kabarkan kepada Pak Rio dan keluarga."


"Apa saya sudah bisa melihatnya dok?"


"Silahkan pak, pasien berada di ruang ICU"


Rio keluar dari ruangan dokter, ia melangkah seperti tak bernyawa menuju ruang ICU. Masuk kedalam ruang ICU, Rio melihat ana memakai alat bantu pernafasan, Ana juga dipasang selang makan dan infus untuk memasukan nutrisi dan obat-obatan, selain itu juga ada monitor detak jantung.

__ADS_1


Entah sudah berapa tetes air mata yang jatuh rasanya masih begitu sakit menerima kenyataan wanita yang sangat di cintainya berada dalam kondisi seperti ini.


__ADS_2