Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 41


__ADS_3

Sesampainya di apartementnya Ana melihat papanya sedang memarahi Gita dan supirnya, Ana bergegas mendekat ke arah papanya.


"Pah, bukan Mba Gita dan Pak Joy yang salah tapi Ana yang pergi tidak izin, tadi Ana pergi ke acara PPI" ucap Ana dengan rasa bersalah.


Seketika Pak reino membalikan tubuhnya, kemudian ia memegang lengan putri bungsunya.


"Jangan pernah pergi sendirian lagi, papa sangat mengkhawatirkanmu sayang"


Pak reino nampak terkejut melihat Rio berada di belakang putrinya, Rio pun langsung menyalami Pak Reino dengan sopan.


"Selamat siang Om, apa kabar?" sapa Rio.


"Alhamdulillah baik, mengapa kau sudah ada di sini? bukankah baru tadi malam Risti berangkat ke Indonesia hendak menjemputmu?"


"Aku sudah dari kemarin di sini, kebetulan hari ini aku mengisi acara seminar, kemudian Ana datang ke acara tersebut."


"Ayo kita makan siang bersama sudah lama tidak berjumpa denganmu. Bagaimana kabar mu dan keluargamu?" Pak reino mengajak Rio untuk makan siang bersamanya.


"Alhamdulillah kami semua sehat om."


"Jangan panggil Om lagi, panggil saja papa. Sebentar lagikan kamu dan Ana akan menikah, jadi kapan kalian berdua akan menikah?" tanya Pak Reino.


"Februari pah."


Mendengar ucapan Ri membuat Ana yang sedang minum tersedak, Rio menepuk-nepuk bahu Ana dengan lembut


"Kamu kenapa sayang?" tanya Rio.


"Kenapa kamu tidak berdiskusi dulu denganku?"


"Sudahlah kalian jangan bertengkar, kamu selesaikan saja dulu sidangmu jika tidak lulus kalian tidak bisa menikah sampai Ana lulus." Pak Reino beralih ke Rio.


"Kamu tinggal dimana nak rio?"


"Di hottel om."


"Jika tidak sibuk tinggallah di sini temani ana belajar, sebentar lagi mau sidang. Tadinya risti akan menjemputmu untuk memberikan kejutan kepada ana seusai sidang." Pak reino beralih lagi kepada ana.


"Meskipun ada rio, kamu tidak boleh kemana pun sebelum lulus." Ucap pak reino dengan tegas.


"Ia pah." jawab ana singkat.


"Nak rio, maafkan papah telah memisahkanmu dengan ana, sungguh papa tidak bermaksud jahat kepadamu. Papah hanya ingin memberika putri papah untuk kau nikahi dengan kondisi terbaiknya dan papah tidak ingin ana merepotkanmu. sekali lagi papa minta maaf ya."


"Aku mengerti pah, mungkin nanti setelah aku menjadi seorang ayah aku juga akan melakukan hal yang sama."


"Ya sudah, papah mau keluar dulu. Mau mengajak anak-anaknya risti jalan-jalan agar tidak rewel, rio di sebelah kamar ana ada kamar kosong yang bisa kamu tempati."


"Baik pah"


Pak reino pergi meninggalkan ana dan rio di ruang makan, selesai makan ana pergi ke kamarnya untuk mandi sedangkan rio menunggu ana di ruang keluarga sambil mengecek beberapa pekerjaannya.

__ADS_1


Lama rio menunggu ana mandi, karena masih sedikit jet lag rio tertidur di sofa, tidak lama kemudian ana menghampiri rio yang tertidur di sofa, ana menelusuri wajah rio dengan jarinya.


Rio merasa ada yang meraba-raba wajahnya, ia membuka matanya secara perlahan, di lihatnya Ana sedang tersenyum memandangi wajahnya.


Melihat rambut Ana yang terurai basah dan bibir Ana yang berwarna merah muda menggoda, Rio semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ana.


Hanya tinggal beberapa inci bibir rio dan bibir ana menyatu, Rio mengurungkan niatnya.


"Maafkan aku sayang." Rio menundukan pandangannya.


"Aku ke kamar mandi dulu ya sebentar" Rio pergi meninggalkan ana di sofa


Didalam kamar mandi rio membasuh mukanya, ia memukul tembok kamar mandi.


"Dasar bodoh, Bodoh!!! Singkirkan otak mesummu Rio, tahan nafsumu!!!" gumam Rio memaki dirinya sendiri.


Setelah puas memaki dirinya sendiri di kamar mandi rio kembali menemui ana yang masih duduk di sofa, Rio menjadi salah tingkah setelah kejadian tadi.


Melihat rio yang salah tingkah, ana mencoba mencairkan suasana dengan mengajak rio ke hotel untuk mengambil barang-barangnya.


Ana dan Rio ke hotel di antar oleh supir Ana, sesampainya di kamar hotel rio memberanikan diri untuk berbicara dengan ana.


"Sayang aku mohon maafkan aku, tadi aku tidak bermaksud untuk macam-macam terhadapmu. Aku janji aku tidak akan seperti itu lagi, please maafin aku ya."


Ana hanya menganggukan kepalanya, tidak ada jawaban apa pun yang keluar dari mulut Ana membuat Rio sulit mengartikan pikiran Ana terhadapnya.


"Sayang kamu mandilah, biar aku yang membereskan pakaian-pakaianmu." Ana memberikan handuk kepada Rio.


Tak lama rio keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggangnya.


"Kok tidak pake baju?" Tanya ana dengan muka datarnya.


"Kan kamu cuma kasih aku handuk." Jawab rio dengan polosnya.


Dengan cepat ana menyiapkan baju rio kemudian memberikannya kepada rio, rio kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya.


Tak lama kemudian rio keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, ana memberikannya teh hangat yang telah ia pesan tadi.


"Sayang, boleh aku tanya tentang masa lalumu?" Tanya ana.


Rio mengangguk kemudian menikmati teh hangatnya.


"Sayang, kamu punya berapa mantan pacar?"


"Aku tidak pernah pacaran."


"Apa kamu tidak pernah menyukai seorang wanita pada masa SMA atau kuliah?"


"Aku pernah menyukai seseorang bahkan sampai sekarang aku masih menyukainya"


"Lalu aku?"

__ADS_1


Rio tersenyum dan mendekat kepada ana, rio menggenggam tangan ana.


"Cinta pertama dan terakhirku ya kamu, bukankah sudah pernahku ceritakan semuanya kepadamu?"


"Sandrian Alfian, maukah kau menjadi pendamping hidupku?"


Ana hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


"Sayang, setelah lulus aku boleh bekerja?"


"Boleh, di kantorku."


"Aku mau punya pengalaman mengapply CV , interview, mengisi psikotes dll."


"Nanti aku akan menyuruh HRD ku menyiapkan semuanya untukmu."


"Ya beda dong sayang."


Rio menghela nafasnya dengan berat, kemudian ia menyetujui permintaan ana.


"Baiklah, tapi dengan banyak syarat: 1. Pulang pergi aku yang antar, 2.Tetap fokus pada rencana pernikahan kita, 3.Sebelum kita nikah kamu sudah harus resign. setuju?"


"Ia aku setuju, terima kasih ya sayang."


Rio dan ana kembali ke apartement ana, untuk sementara waktu rio tinggal di apartement ana untuk menemaninya belajar.


Hari demi hari Rio dengan setia menemani Ana belajar, sambil menemani ana belajar rio juga memantau perkembangan bisnisnya dari jauh.


Sejauh ini tidak ada kendala yang berarti dalam perkembangan bisnisnya, sehingga ia bisa memberikan perhatian lebih kepada ana yang tengah dimpusingkan oleh tesisnya.


Tiba di hari di mana ana sidang, rio dan gita menemani ana sidang. gita masih menemani ana karna gita yang lebih mengetahui prosedur sidang dan masalah administarsi lainnya.


Dua setengah jam lamanya Rio dan Gita menunggu Ana dengan perasaan cemas, begitu ana keluar ruangan ana berhambur menangis di pelukan rio, dengan panik rio mencecari ana dengan banyak pertanyaan.


"Sayang gimana? kamu lulus kan? kamu tidak ngulangkan?"


"Sayang ayo jawab aku, kamu lulus tidak?" Tanya rio penasaran.


"A-ku lulus dan aku masih tidak menyangka bisa ada di titik ini, karena di fase awal aku kuliah aku benar-benar ingin menyerah hiiiks.."


"Alhamdulillah." Rio sangat lega mendengarnya, ia mengelus punggung Ana dengan lembut sambil memberikan ucapan selamat kepadanya.


Sambil menunggu acara wisuda ana, rio mengajak ana untuk berjalan-jalan ke bereapa tempat seperti: Bradenburg Gate, Holstentor, Rugen Cliffs, Rhine-Romantic River.


Sambil menikmati pemandangan Sungai Rhine yang indah, Rio bertanya kepada Ana mengenai planing bulan madu mereka.


"Sayang kamu mau kita honeymoon kemana nanti setelah menikah?" tanya Rio


"Aku mau di Indonesia saja sayang, kalo kamu kemana?"


"Kalo aku mau di kamar saja memandangi wajah cantikmu sepanjang hari, sudah cukup bagiku."

__ADS_1


Ana mencubit lengan tangan Rio dengan gemas.


__ADS_2