
Mereka berempat masih menikmati hidangan makan malamnya. Dan selama itu Tristan tidak hentinya memuji Ambar dihadapan Ayu dan Damar, memujinya setinggi langit seolah Ambar adalah sang dewi kahyangan yang benar-benar pantas untuk dipuja.
Tak hanya itu, Tristan juga menceritakan awal pertemuan mereka. Damar setia mendengarkan apapun yang dikatakan Tristan, walau sebenarnya dia merasa muak mendengarkannya, karena menurut Damar semua pujian yang dikatakan Tristan pada Ambar, berbeda dengan kenyataannya. Baginya Ambar tidak sebaik itu. Tapi Damar tetap tersenyum dan mendengarkan, hanya karena ingin menghargai lawan bicaranya.
"Beruntung sekali anda pak Tristan, mendapatkan wanita baik dan cantik seperti bu Ambar. "Kata Damar, memuji tidak sungguh-sungguh.
"Pak Damar bisa saja. Anda juga sangat beruntung mempunyai istri secantik bu Ayu. "Balas Tristan memuji Ayu, seraya menatapnya sekilas, mengangkat sedikit gelas minumanya, lalu meminumnya.
"Oh ya kalau anda tidak keberatan, maukah anda menceritakan awal pertemuan kalian?. Saya sangat penasaran siapa diantara pak Damar dan bu Ayu yang pertama jatuh cinta."Kata Tristan, membuat ketiga orang yang ada disana terkejut, terutama Ayu dan Ambar.
Suasana pun seketika menjadi canggung, karena ketiga orang itu teringat pada pernikahan Ayu dan Damar yang dilakukan karena permintaan Ambar, dan memang ini yang diinginkan Tristan.
Tidak ada satupun diantara ketiga orang itu yang merasa aneh atau curiga pada pertanyaan yang Tristan lontarkan pada Damar. Pertanyaan itu memang terdengar mengalir, keluar begitu saja dari mulut Tristan, padahal dia sudah merencanakanya.
Hening...Ayu menatap Damar dan Ambar bergantian, lalu menundukan kepalanya saat tak sengaja pandanganya bertemu dengan Ambar. Ayu kembali memakan makananya, mengusir rasa canggung yang dirasakanya, karena saat ini ingatanya melayang ke masa-masa itu. Masa dimana dirinya dipaksa oleh Ambar menikah dengan Damar. Dan....Ayu tiba-tiba ingat bagaimana dulu Damar dan Ambar begitu saling mencintai, hingga tak segan menunjukan kemesraan mereka dihadapanya, dan itu membuat hati dan perasaanya tidak nyaman.
Cemburu....mungkin itu yang Ayu rasakan saat ini, walau sebenarnya tidak alasan baginya untuk cemburu pada masa itu, tapi entah kenapa sekarang dia merasakan hal itu, padahal dulu dia tidak merasakanya.
"Sayang...kenapa kamu menanyakan hal pribadi seperti itu, mungkin pak Damar tersinggung." Kata Ambar pelan, namun masih bisa didengar oleh Ayu dan Damar.
"Kenapa tersinggung?." Sahut Tristan pada Ambar.
"Apa anda tersinggung dengan pertanyaan saya pak Damar?. Maafkan saya, dan lupakan saja pertanyaan tadi." Imbuhnya.
Damar tersenyum dan berkata" Tidak pak Tristan. Saya sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaan anda. Saya juga tidak tahu siapa diantara kami yang pertama jatuh cinta, karena menurut saya itu tidak penting. Yang terpenting bagi saya, saya sangat mencintai istri saya lebih dari apapun didunia ini, dan saya sangat merasa beruntung memilikinya."Sahutnya seraya menatap Ayu lalu menggenggam tangannya.
Tristan bisa melihat cinta yang besar dari tatapan Damar yang tertuju pada Ayu, membuatnya tidak suka, tapi tidak menunjukanya dan tetap memasang senyum palsu, sama seperti yang Damar lakukan saat Tristan memuji Ambar tadi. Tak hanya Tristan yang tidak suka melihat dan mendengar apa yang dikatakan Damar, tapi juga Ambar. Dalam hatinya dia mengumpat Damar dan Ayu.
Damar melihat perubahan raut wajah istrinya sejak Tristan mengajukan pertanyaan itu, dia memilih pamit lebih dulu meninggalkan Tristan dan Ambar berduaan di restoran.
__ADS_1
Di mobil, Ayu diam saja karena rasa tidak nyaman yang dia rasakan tadi belum juga hilang dari hatinya. Apa aku cemburu?. Kenapa aku cemburu?. Aku cemburu sama siapa?. Apa aku cemburu pada masa lalu mas Damar dan bu Ambar?. Rasanya sangat kekanak-kanakan sekali. Kenapa juga aku harus mengingatnya?. Itu hanya masa lalu, yang penting sekarang mas Damar mencintaiku. Tapi.......
"Sayang" Suara Damar menyadarkan Ayu dari lamunanya. "Kamu melamun?."
"Tidak." Jawab Ayu.
"Lalu apa yang kamu fikirkan?."Tanya Damar lagi.
"Tidak ada."
"Kamu yakin?."
Ayu mengangguk sambil tersenyum sekilas kearah Damar, lalu kembali menatap lurus ke depan."Mas!! Ucapnya lirih.
"Hemm."
"Aku boleh tanya sesuatu?."
"Mas, apa kamu tidak cemburu tadi?." Tanya Ayu.
"Cemburu?. Apa maksud kamu sayang?. Aku gak ngerti."Jawab Damar yang heran mendengar pertanyaan Ayu.
"Kamu gak cemburu sama bu Ambar dan pak Tristan?." Tanya Ayu terus terang.
"Hahhh? Kenapa aku harus cemburu?."Tanya balik Damar.
"Kamu yakin mas?."Tanya Ayu menggoda suaminya, sekaligus ingin meyakinkan hatinya sendiri, karena jujur saja dia takut kalau suaminya itu benar-benar cemburu pada Ambar dan Tristan. Tapi dari apa yang Ayu lihat dan dengar dari ucapan Damar, Ayu pun yakin kalau Damar memang tidak cemburu pada mereka. Itu hanya perasaan dan rasa takutnya saja.
...
__ADS_1
Tristan mengantarkan Ambar dengan mobil sedan mewahnya. Ambar menyandarkan kepalanya dibahu kiri Tristan, membuatnya merasa tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Dia meminta tunanganya itu duduk sebagaimana mestinya.
"Kenapa?. Kamu tidak suka?." Tanya Ambar.
"Bukan begitu sayang, tapi aku sedang mengemudi. Aku takut tidak bisa berkonsentrasi kalau kamu duduk seperti tadi."Jawab Tristan berkilah. "Kamu cantik sekali malam ini sayang, dan...."
"Dan apa?."Ucap Ambar memotong ucapan Tristan.
"Menggoda sekali." Puji Tristan, membuat Ambar senang. Kata-kata rayuan Tristan mengobati rasa kesalnya pada kejadian direstoran. "Benarkah?." Tanyanya. Tristan mengangguk.
"Apa kau sedang merayuku?."
"Menurutmu?."
Ambar kembali mendekatkan dirinya pada Tristan, dengan nakal dia berbisik" Apa malam ini kamu sedang menginginkanku?." Tanyanya seraya membelai pipi Tristan, perlahan turun ke leher dan dadanya.
Tristan hanya menjawab dengan senyum tipisnya. Dia tidak menginginkan Ambar atau berniat melakukannya. Tapi, Ambar berhasil membuat nalurinya sebagai seorang buaya terpancing.
Tristan menekan pedal gas lebih dalam, hingga akhirnya mereka bisa sampai dengan cepat dirumah Ambar. Ambar menarik tangan Tristan, membawanya ke kamar, mendorongnya ke atas tempat tidur. Dengan cepat Ambar duduk diatasnya, menanggalkan jas, dan kemeja yang melekat di tubuh lelakinya itu dengan tidak sabar. "Sangat agresif." Itulah yang difikirkan Tristan.
Setelah itu Ambar melepaskan gaun yang dipakainya. Gaun tanpa lengan dengan tali di belakang leher, sangat mudah baginya melepaskan gaun itu dari tubuhnya. Dalam sekejap Tristan bisa melihat keindahan alam pegunungan di depan matanya.
....
Tristan membersihkan dirinya dikamar mandi, setelah itu memakai kembali bajunya."Mau kemana?." Tanya Ambar.
"Pulang." Jawab Tristan cepat.
"Kenapa pulang?. Menginap saja disini."
__ADS_1
"Tidak Ambar, aku harus pulang. "Jawab Tristan seraya mencium pipi Ambar lalu pergi meninggalkan kamar dan rumahnya. Kekecewaan jelas tergambar diraut wajah Ambar, karena dia terlanjur berharap malam ini Tristan akan menginap dirumahnya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼