Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Aku Sangat Mencintai Suamiku


__ADS_3

Aku tidak akan melakukanya disini. Kamu itu wanita spesial dan sangat istimewa. Aku akan membawamu ke tempat yang jauh lebih indah dan mewah." Ujar Tristan


"Tidak perlu. Lakukan saja sekarang."Tegas Ayu.


"Baiklah kalau kamu memaksa." Balas Tristan. Dia lalu mengajak Ayu masuk ke dalam ruang pribadi yang ada dikantornya. Baru saja dia akan memegang tangan Ayu, Ayu langsung menepisnya dengan kasar.


Mereka sudah berada didalam ruangan itu. Tristan melepaskan jas yang dia pakai dan melemparkanya. Sedangkan Ayu berdiri dengan perasaan yang tak menentu. Kakinya gemetar namun terasa lemas. Dia merasa menjadi wanita yang sangat hina, saat dia sadar apa yang akan dia lakukan bersama laki-laki yang bukan suaminya.


Ayu meyakinkan dirinya, kalau dia melakukan ini demi suaminya. Karena cintanya yang tulus dan teramat besar pada Damar, dia rela melakukan ini semua. Matanya memanas saat dia teringat pada Damar. Semua kisah yang sudah dia lewati dengan Damar, mungkin saja sebentar lagi dia akan kehilangan laki-laki yang dia cintai.


"Kamu tidak akan menyesal. Aku jamin." Ujar Tristan menyadarkan Ayu dari lamunanya.


Tristan melepaskan tas yang dipakai Ayu, lalu dia meletakkan tanganya dibahu Ayu.


"Aku tanya sekali lagi, kenapa kamu mau melakukan ini, nyonya Damar?." Tanyanya seraya membelai bahu Ayu perlahan. Ayu memejamkan matanya, karena merasa jijik dengan apa yang Tristan lakukan.


"Aku sangat mencintai suamiku. Jadi aku akan melakukan apapun untuknya. Orang seperti kamu tidak akan pernah mengerti, karena aku yakin kamu tidak pernah mencintai seseorang dengan tulus. Atau mungkin saja tidak ada yang pernah mencintai kamu dengan tulus." Jawab Ayu.


"Oh ya?. Beruntung sekali dia, dicintai wanita sepertimu." Balas Tristan.


"Kamu salah. Bukan suamiku yang beruntung, tapi aku yang beruntung mempunyai suami seperti dia, yang sangat mencintai dan menyayangiku. Dia juga tahu cara menghormati dan memperlakukan wanita. Tidak sepertimu." Sarkas Ayu, membuat Tristan sedikit tak terima, karena Ayu membandingkanya dengan Damar.


"Cukup!! Kamu tidak perlu memuji suamimu dihadapanku dengan mulut manismu ini. Asal kamu tahu, aku juga sangat tahu bagaimana cara memperlakukan wanita." Ucapnya seraya mendekatkan dirinya pada Ayu. Senyum smirknya kembali terlihat.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali Ayu." Ucap Tristan seraya membelai pipi Ayu. Ayu bergeming, walau hatinya benar-benar merasa jijik pada Tristan, apalagi saat ini sepertinya Tristan akan mencium pipinya. Rasa bersalah dan tak berdaya dia rasakan saat itu. Matanya kembali memanas karena teringat pada suaminya.


Bibir Tristan sudah semakin dekat dan hampir mendarat dipipinya, namun refleks, Ayu memalingkan wajahnya. Alhasil Tristan tidak berhasil menciumnya. Dia mencobanya lagi, tapi Ayu kembali memalingkan wajahnya. Kali ini Tristan memegang kedua pipi Ayu, sepertinya dia sudah kehilangan kesabaranya.


Tristan kembali berusaha mencium pipi Ayu, dan kali ini dia berhasil. Tristan menatap mata Ayu yang berkaca-kaca." Aku harap kamu jangan lupa, saat ini kamu adalah milikku." Kata Tristan mengingatkan.


Kini dia berusaha mencium bibir Ayu, namun kembali Ayu memalingkan wajahnya. Tristan tidak tinggal diam, dia kembali memegang pipi Ayu, mendekatkan bibirnya ke bibir Ayu. Namun Tristan segera melepaskan tanganya, saat merasakan sesuatu yang hangat dan basah menetes membasahi tangannya. Itu adalah air mata Ayu yang sudah tidak bisa dia tahan.


Tristan menatap mata ayu yang basah dan merah karena menangis. Dia terus menatapnya, sampai akhirnya dia membalikkan badan membelakangi Ayu.


Suasana tiba-tiba hening beberapa saat, sampai terdengar suara Tristan "Pergilah."Ucapnya.


Ayu tersentak mendengar ucapan Tristan. Dia tak mengerti kenapa Tristan menyuruhnya pergi. "Cepat pergi, sebelum aku berubah fikiran."Tegasnya kemudian,


Walau Ayu masih tidak mengerti maksud Tristan, tapi dengan segera dia pergi darisana, karena memang itu yang diinginkanya dari tadi.


Ambar semakin heran melihat sikap Ayu, apalagi dia sempat melihat mata Ayu yang merah. Apa yang dia lakukan disini?. Dan kenapa dia menangis?. Tanya Ambar dalam hati.


Karena penasaran Ambar ingin bertanya pada sekretaris Tristan, apa Ayu datang kesana karena menemui kekasihnya atau ada urusan lain. Namun, baru saja dia hendak menanyakanya, Tristan keluar dari ruanganya. Ambar segera menghampiri dan bergelayut manja pada kekasihnya itu.


"Kebetulan sekali kamu keluar sayang. Aku mau ngajak kamu makan siang." Kata Ambar. Tristan mengiyakan. Mereka berdua pergi menuju restoran, setelah sebelumnya Tristan meminta sekretarisnya membatalkan semua jadwalnya siang itu. Tristan sudah tidak bersemangat karena Ayu.


....

__ADS_1


Di Mobil Ayu.


Ayu masih memikirkan kenapa tiba-tiba Tristan memintanya pergi. Apa sebenarnya yang sedang dia rencanakan?. Walau begitu Ayu merasa lega karena bisa lepas darinya, setidaknya untuk saat ini. Dan yang lebih membuatnya sedikit tenang adalah uang Damar yang sudah ada di rekening pribadinya.


Walau untuk mendapatkanya, dia harus merelakan pipinya dicium Tristan. Ayu mengusap pipi itu dengan tisu beberapa kali karena merasa jijik. Tak sampai disitu, Ayu mencuci mukanya disebuah toilet di pom bensin. Dia mencucinya seperti seseorang yang sedang mensucikan diri dari najis yang melekat dipipinya. Setelah itu dia menjemput Gara.


....


Ayu menelpon detektif David, mengajaknya bertemu disebuah restoran tidak jauh dari sekolah. Dia meminta bantuan David untuk mengembalikan uang Damar, ke rekeningnya. Ayu menjelaskan segalanya saat David bertanya darimana Ayu bisa mendapatkan uang itu.


"Maaf bu Ayu, tapi nomor rekening pak Damar semua sudah di blokir."


"Saya tahu itu tuan David. Maksud saya, saya minta anda berpura-pura kalau anda sudah berhasil mengambil uang suami saya dari Tristan dengan bantuan hacker. Dan anda katakan pada suami saya, uangnya ada di rekening saya."Jelas Ayu.


"Baik bu. Saya akan melakukan apa yang ibu katakan." Sahut David mengerti. Dalam hatinya dia bertanya, apa benar Ayu tidak sampai melakukan semua yang Tristan pinta?. Tapi itu bukan urusanya. Yang jelas dia sangat kagum pada istri bosnya, yang rela melakukan semua ini demi suaminya.


"Anda tidak perlu berfikir macam-macam tuan David. Saya berani bersumpah demi apapun kalau Tristan tidak menyentuh saya." Ujar Ayu, membuat David tersentak. Apa dia tahu apa yang aku fikirkan?. Tanya David dalam hati.


"Atau mungkin...." Ayu menggantung kalimatnya.


"Atau apa bu Ayu?." Tanya David.


"Mungkin saja dia sedang merencanakan sesuatu yang lain. Tapi aku tidak peduli. Yang penting sekarang, uang mas Damar sudah ada ditangan kita, dan perusahannya bisa selamat. Kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya." Ujar Ayu. Lalu dia berterima kasih dan pergi dari sana.

__ADS_1


Ayu merasa lega sekarang, walau ada rasa takut dan khawatir yang dia rasakan tentang Tristan. Mungkin saja suatu hari dia akan menagih apa yang diinginkan darinya. Atau yang lebih parahnya, mungkin saja Tristan akan mengatakan semua ini pada Damar. Walau Tristan sudah berjanji dan menandatangani surat perjanjian itu, rasa takut tetap Ayu rasakan. Apalagi Tristan pernah mengatakan kalau dia tidak segan-segan menghancurkan rumah tangganya.


Ditengah rasa takut dan lega yang dia rasakan, masih terselip tanya dalam hatinya tentang Tristan yang tiba-tiba memintanya pergi. Walau dia berusaha tidak peduli dan tidak memikirkannya, rasa penasarannya mengganjal dalam hati. Kenapa tiba-tiba dia memintaku pergi?. Apa aku telah menyinggungnya?. Atau dia memang benar-benar tidak mau melakukanya disana, dan mungkin akan mengajakku ke tempat yang dia katakan?. Tanya Ayu dalam hati.


__ADS_2