Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 12


__ADS_3

Pukul 22.00 WIB Ana terbangun dari tidurnya karena kerongkongannya sangat kering, secara perlahan dan tertatih ia melangkahkan kakinya keluar kamar.


Dari balik kamarnya terdengar sayup-sayup percakapan antara Ibu dan Lyra, secara tidak sengaja Ana mendengar percakapan keduanya.


"Lyr opo di tutup wae toko kue iki?" tanya ibu, putus asa.


*lyr, apa toko kue ini di tutup saja?


"Ojo buk, niki toko tinggalan turun temurun warisan simbah"


*jangan bu, ini toko peninggalan turun temurun warisan nenek


"Saiki wis sepi lyr, tekor modalan wae. Masmu juga wis setuju, tinggal kamu pie?"


*sekarang sudah sepi, modal nya sudah habis. kakak kamu juga udah setuju. tinggal kamu bagaimana?


Brrruug...


Ditengah obrolan keduanya, tiba-tiba saja kaki Ana tersandung dan terjatuh, ibu dan lyra berlari menuju sumber suara, dilihatnya ana sudah terjatuh di lantai.


"Ya Allah, Mba Ana... Mba Ana tidak apa-apa?" tanya Lyra dengan panik.


"Aku tidak apa-apa kok Lyr" Ana mencoba tersenyum menutupi rasa nyeri pada kakinya.


"Kok tidak panggil aku mba?"


Lyra dan Ibu memampah ana untuk duduk di meja makan.


"Aku betul-betul tidak apa-apa Lyr, tadi aku cuma mau ambil minum saja." Ana jadi semakin tidak enak kepada ibu dan lyra karena ia semakin merepotkan.


"Mba Ana kalau mau apa-apa, panggil Lyra saja ya"


"Ia lyr makasih ya. maaf jadi merepotkanmu"


Ibu menuangkan air dari kendi ke dalam gelas Kemudian memberikannya kepada ana "Di minum dulu, Nduk"


"Terima kasih, Bu" Ana menerima dan langsung menghabiskan air yang di berikan oleh ibu.

__ADS_1


"Maaf bu, tadi ana tidak sengaja mendengar jika ibu mau tutup toko kue ibu. Apa ada masalah bu?" tanya Ana dengan hati hati.


Sebenarnya ada perasaan tidak enak dalam diri Ana untuk ikut campur permasalahan ibu dan Lyra, namun Ana ingin sekali dapat membantu ibu dan Lyra yang telah sangat baik terhadap dirinya. Di rumah ibu, Ana merasakan kehangatan sebuah keluarga yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Ibu menghela nafas dalam - dalam, ia menceritakan kondisi tokonya saat ini yang semakin tergerus oleh zaman, padahal toko kue itu sudah turun temurun warisan keluarga.


"Sekarang yang jual kue sudah banyak, sudah berbagai macam jenisnya. Toko ibu sudah mulai sepi, masnya Lyra juga sudah menyuruh ibu untuk istirahat dan menikmati masa tua tanpa memikirkan toko."


Ana mentap dan menggenggam tangan ibu untuk memberikannya suport.


"Bu, jika di izinin Ana mau bantu bikin promosi buat toko ibu. Apa ibu sudah coba jual di marketplace?" tanya Ana.


"Segmen toko ibu cuma orang sekitaran sini aja mba." sahut Lyra.


"Nah kalau begitu kita coba jual di marketplace agar segmennya bisa jadi lebih luas lyr, seindonesia bisa beli kue ibu" ucap Ana dengan semangat.


"Opo aman kalau di kirim jauh-jauh?" tanya ibu.


"Insyaallah aman bu, untuk packingannya kita bisa pake bubble wrap atau packingan kayu sehingga aman di perjalanan. Selain kita pasarkan lewat marketplace kita juga pasarkan melalui akun sosial media seperti: IG dan FB dan memasukan toko kue di layanan aplikasi pesan antar agar lebih memudahkan orang dalam membeli" terang Ana dengan antusias.


"Nah ia bagus itu bu, jadi lyra ga antar-antar kue lagi." sahut lyra.


"Urusan Mas biar nanti Lyra saja ngomong, yang penting ibu setuju dulu sama idenya Mba Ana?"


Ibu mengangguk tanda menyetujui ide yang di usulkan oleh Ana, karena ibu juga sebenarnya belum sepenuhnya ikhlas jika tokonya harus tutup secepat ini.


Ana dan lyra saling pandang dan tersenyum begitu ibu menyetujui idenya.


"Lyr kamu punya kamera ga?" tanya Ana.


"Ada ko mba, buat apa?"


"Besok kita foto kue-kue ibu untuk bahan promosi"


"Siap mba"


Ana dan lyra terlibat obrolan serius mengenai konsep foto untuk bahan promosinya, ibu hanya mengangguk setuju dengan semua ide-ide yang Ana terangkan kepadanya.

__ADS_1


Hingga pukul 00.30, Lyra kembali mengantar ana ke kamarnya untuk berisitirahat.



Keesokan harinya ana membuat konsep pemotretan produk, sedangkan Lyra menyiapkan properti dan background yang di butuhkan untuk pemotretan.


Setelah konsep dan properti pemotretan siap, Ana mulai memotret beberapa kue dari berbagai sisi (depan, samping dan belakang) Ana juga memotret close-up untuk menampilkan detail dari kue tersebut.


Saat Ana tengah sibuk memotret tiba-tiba terbesit di pikiran Lyra untuk menjadikan ana sebagai model iklan di toko kuenya.


"Mba, bagaimana jika Ana jadi model iklan kue ini?"


"Hah? Aku?" tanya Ana terkejut.


"Ayo lah Mba Ana, Mba Ana kan cantik. Mau ya Mba, nanti aku yang motretin, please...." bukuk Lyra


"Aku malu lyr, aku belum pernah jadi model iklan"


Dengan rayuan maut Lyra akhirnya Ana mau menuruti permintaan Lyra, Ana mengganti pakaiannya dengan short dress berwana pink dan flat shoes dengan warna senada, serta rambut yang terurai rapih dan makeup natural Ana terlihat sangat cantik dan menawan.


Ana berpose bak model profesional, dengan antusias Lyra mengambil berbagai macam angle baik dari sisi depan, samping kanan, samping kiri maupun belakang.


Setelah pemotretan selesai lyra menunjukan hasil jeptetannya kepada Ibundanya.


"Kamu cantik sekali, Nduk" puji ibu kepada ana, ibu terpukau dengan hasil jepretan putri bungsunya.


Ana hanya tersenyum salah tingkah, wajahnya memerah dan tersepu malu mendapat pujian dari ibu.


"Bu, ini list persyaratan pendaftaran layanan aplikasi pesan antar untuk toko kue ibu." Ana menyerahkan selembar kertas kepada ibu, ibu menerimanya dan langsung memberikannya kepada Lyra "Lyr besok kamu saja yang urus"


"Siap bu...!!"


Mendengar jika besok Lyra akan keluar, tiba - tiba ana menginginkan rujak mangga muda.


"Lyr, aku titip rujak mangga muda ya" pinta Ana.


"Ok mba"

__ADS_1


Seketika ibu merasa heran mengapa ana tiba-tiba menginginkan rujak, namun ibu tak berani menduga-duga hal yang tidak-tidak.


"Ah mungkin Ana memang menyukai rujak mangga muda." gumamnya dalam hati.


__ADS_2