Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 63


__ADS_3

Dua bulan lebih sudah Ana menemani dan membantu suaminya mengelola perusahaan milik papanya, dengan sabar ia mendengarkan setiap keluhan yang keluar dari mulut suaminya.


Bahkan ketika suaminya salah dalam mengambil keputusan pun Ana tidak sama sekali mengeluarkan judgments kepada Rio, ia tetap mensupport suaminya dan mengingatkan bahwa setiap kesalahan yang ia buat adalah sebuah proses belajar.


"Terima kasih untuk kesabaranmu yang tiada batasnya dalam menemaniku" bisik Rio sambil memeluk Ana dari belakang.


Ana sangat menikmati pelukan hangat dari suaminya, ia membawa tangan suaminya ke perut agar Rio bisa merasakan tendangan dari janin yang berada dalam kandungannya.


"Sudah waktunya kamu yoga, aku antar ya. Sekalian aku mau ke tempat Lyra memberikan sertifikat rumah lama kita untuknya dan Adit" ucap Rio


"Aku titip tiket bulan madu untuk mereka ya" Ana mengambilnya dari dalam tasnya, kemudian memberikannya kepada suaminya.


Sesampainya di tempat yoga, rio berpamitan untuk ke tempat Lyra dan Adit sebentar.


"Jangan lama-lama ya, kita kan mau ada parenting class."


"Ia sayang." Rio mengecup kening dan perut istrinya.


Begitu Rio tiba di kantor, ia langsung masuk ke ruangan Lyra. Kebetulan di ruangan tersebut sedang ada Adit, Rio menyerahkan kuci dan sertifikat rumahnya kepada Adit dan Lyra.


Awalnya mereka menolak pemberian Rio, namun Rio memaksa mereka untuk menerimanya sebagai kado pernikahan mereka.


Lyra dan Adit saling berpandangan, di satu sisi mereka ingin mandiri membangun semuanya bersama-sama tapi di lain sisi mereka tidak enak jika menolak pemberian dari kakaknya.


"Satu lagi, ini hadiah dari Mba kesayangan kalian, tiket bulan madu." Rio menyerahkan tiket bulan madu ke Korea untuk Adit dan Lyra.


"Mas dan Mba mu tidak menerima penolakan." ucap Rio dengan tegas.


Lyra mendekat ke arah kakaknya dan memeluknya. "Terima kasih ya mas, sampaikan juga terima kasih kami kepada Mba Ana." ucap Lyra.


"Sama-sama dek." ucap Rio sambil mengelus punggung adiknya dengan lembut, kemudian Rio berbalik kepada Adit.


"Mas titip Lyra kepadamu, jaga dan sayangi adikku. Mas tidak bisa lama-lama, Mas mau menjemput Mba Ana" Rio pergi meninggalkan Adit dan Lyra.


Ia bergegas kembali ke tempat istrinya yoga, sesampainya di tempat yoga ia melihat istrinya sedang minum sambil mengelap keringatnya.


"Sudah?" tanya Rio sambil mengambil handuk kecil yang di pegang Ana kemudian membantu Ana untuk mengelap keringatnya.


"Sudah sayang, baru saja selesai. Kamu bagimana, sudah ke tempat Lyra dan Aditnya?" tanya Ana.


"Sudah. Oh ia sudah waktunya parenting class yuk." Rio mengajak Ana memasuki ruangan tempat mereka belajar parenting.


Hari ini Rio dan Ana memasuki kelas perawatan bayi, di kelas ini Rio dan Ana dibekali dengan ilmu dasar perawatan bayi seperti cara memandikan, mengganti popok hingga pertolongan pertama saat bayi sakit dan ada menambahkan materi pijat bayi. Rio terlihat sangat antusias mengikuti kelas ini, ia memperhatikan dan mencoba seluruh tahapan dasar perawatan bayi.


Seusai belajar parenting, Rio mengajak istrinya untuk makan diluar sambil berjalan-jalan membeli perlengkapan bayi. Meski pun persiapan mereka sudah 99% tapi tetap saja Ana dan Rio merasa ada yang kurang.

__ADS_1


"Sayang, aku sudah dapat baby sitter yang terbaik untuk anak kita, ia juga sudah terlatih" ucap Rio sambil merangkul pundak istrinya.


"Sayang, nanti aku kan lahiran caesar. Tapi kata orang kalau caesar belum bisa di katakan menjadi ibu seutuhnya" ucap ana sambil cemberut.


"Siapa yang bilang? jangan kamu dengarkan, kamu hanya perlu mendengarkan perkataan suamimu saja. Bagi suamimu yang tampan ini kamu adalah istri sekaligus ibu dari anak-anakku yang sangat sempurna. Dan bagi suamimu ini apa pun persalinannya yang terpenting keselamatan kamu dan anak kita, jika memang secara medis tidak memungkinkan normal aku tidak akan mengambil resiko hanya demi omongan orang" Rio mengelus lengan istrinya denga lembut.



Tiba di hari pernikahan Lyra dan Adit, Ana tampak cantik dengan menggunakan gaun bridesmaid berwarna gold.


"Cantik sekali istriku ini" puji Rio sambil memeluk dan menciumi pipi chubby istrinya yang nampak menggemaskan baginya.


"Iiih sayang.... sudah yuk kita ke venue, kamu kan wali nikahnya Lyra kenapa masih di sini" Ana merapihkan baju suaminya.


"Aku gemas sekali dengan istriku yang sangat cantik ini" Rio kembali menciumi pipi istrinya dengan gemas.


"Iiih sayang... nanti make upku acak-acakan" protes Ana sambil mendorong tubuh Rio menjauh darinya.


"Iya, iya... ya sudah yuk" ajak Rio, ia menghentikan aksinya menjahili istrinya.


Saat hendak mengambil tas tanpa sengaja Ana menyenggol sebuah gelas, hingga gelas itu terjatuh dan pecah.


"Biar aku suruh orang untuk membereskannya." ucap Rio.


"Kok perasaan ku tidak enak ya? Aku jadi khawatir sama papa." Ana menghela nafasnya.


Ana menganggukan kepalanya dan menggandeng tangan Rio memasuki venue pernikahan Lyra dan Adit, Rio meminta adik sepupu dari Adit untuk menemani istrinya duduk di kursi tamu.


Akad nikah adit dan lyra berlangsung dengan hikmad dan lancar, sama halnya dengan pernikhan Rio dan Ana. Kini pernikahan Adit dan Lyra juga menggunakan adat jawa, hanya saja pada pernikahan Adit dan Lyra resepsinya di venue dan hari yang sama seusai akad nikah.


Memasuki acara resepsi Ana masih duduk di kursi tamu, sambil sesekali tersenyum ke arah suaminya yang duduk di pelaminan bersama dengan Ibu, di tengah acara resepsi tiba-tiba handphone ana bergetar.


drrrttt... drrrrttt.. drrrrrttttt...


Ada satu panggilan masuk dari risti, seketika raut muka ana menjadi panik ketika ia mendengar suara tangisan risti.


"Kak ada apa? kak jawab aku ada apa?" tanya Ana.


"Pa-papah papa sudah tidak ada, papa pergi meninggalkan kita dek." jawab Risti terbata-bata karena menahan isakan tangisnya.


Seketika Ana menjatuhkan handphonenya ke lantai, air matanya mengalir deras jatuh ke pipinya. Tiba-tiba perut Ana mengalami kontraksi, ia meremas bajunya sambil memegang perutnya.


Rio yang berada di pelaminan, di kejutkan dengan kepanikan orang-orang di sekitar istrinya dan ada beberapa orang yang memanggil dirinya, ia langsung berlari ke arah istrinya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Rio sambil memegang tubuh istrinya.

__ADS_1


"Perut aku sakit sayang." Ana memegangi perutnya.


Tanpa pikir panjang Rio menggendong istrinya masuk ke dalam mobilnya, Rio menyuruh supirnya untuk melajukan kendarannya dengan kecepatan tinggi, sambil menenangkan istrinya, Rio menelepon rumah sakit agar mereka bersiap.


"Aku mau ke Jerman sayang, papa meninggal dunia Hikks..." Ana menangis di pelukan Rio sambil meremas baju Rio, menahan sakit di perutnya.


"Pa-pa meninggal?" tanya Rio terbata-bata.


Sesaat Rio terdiam, ia tidak percaya jika papa mertuanya telah meninggal dunia, sampai ia di kejutkan dengan suara teriakan kesakitan Ana yang membuyarkan lamunanya.


Rio memeluk istrinya di dalam mobil, ia juga mencoba menghubungi Risti untuk menanyakan prihal kebenaran berita tersebut.


"Tenanglah sayang, tadi Kak Risti bilang sedang mengurus penerbangan keberangkatan jenazah papa. Papa akan di makamkan di samping makam mama, aku berjanji padamu akan membawamu bertemu dengan papa untuk yang terakhir kalinya. Sekarang kamu fokus persalinan anak kita ya." Rio mencoba menenangkan istrinya yang sedang menahan kesedihan sekaligus kesakitan kontraksi di perutnya.


"Sayang aku tahu ini sangat berat untukmu, tapi percayalah bahwa ini semua telah menjadi ketetapannya. Meskipun saat ini papa sudah tidak bersama kita, kita bisa mengiriminya al-fatihah dan doa-doa untuk menerangi langkahnya." ucap Rio sambil mengusap air mata di pipi istrinya.


Sesampainya di rumah sakit, Ana langsung di bawa ke ruang operasi. Selama operasi berlangsung, Rio dengan setia menemani istrinya. Ia banyak mengucapkan ucapan terima kasih dan kata cinta untuk istrinya, ia juga sempat mengabadikan moment tersebut dalam kamera handphonenya.


Air mata kebahagian mengalir ke pipi Rio saat pertama kali ia melihat salah seorang dokter menggendong putri kecilnya, dokter memberikan bayinya ke ana untuk melakukan proses inisiasi menyusui dini(IMD) di dada ana, namun Ana menolaknya.


Penolakan Ana membuat hati Rio sakit, namun ia menduga jika istrinya te gah mengalami sindrom baby blues. Bahkan setelah Ana sudah berada di ruang perawatan dan bayinya sudah bersih serta Rio telah mengadzaninya, Ana tetap menolak untuk menggendong dan menyusuinya.


"Sabar le, coba kamu cek apa ASI Ana sudah keluar. Jika sudah ada, kamu bujuk dengan cara lain" ucap ibu sambil menggendong cucu pertamanya.


Rio menghampiri istrinya dan membatunya merubah posisi tidurnya.


"Aduuuhh perutku sakit sekali" Rintih Ana karena efek dari anestesinya sudah menghilang. Rio mengelus bahu Ana, ia turut merasakan apa yang istrinya sedang rasakan.


"Sayang, apa kamu tidak ingin sebentar saja memeluk putri kita? putri yang selama sembilan ini berada di rahimmu yang kita jaga bersama dan yang kita nantikan kehadirnya. kamu mau kan sayang?" Rio menggenggam tangan Ana.


Ana menganggukan kepalanya, ibu menghampiri dan memberikannya kepada ana, perlahan lahan ana mulai mau memberikan ASI untuk anaknya.


Tangan kanan Ana meremas tangan suami menahan perih di pu*ingnya saat pertama kalinya memberikan ASI pada anaknya.


"Awww..." Ana meringis kesakitan, Rio membiarkan ana meremas tangannya, rio mengelus kepala dan pundak Ana, sambil sesekali mencium kepalanya, Rio terus memberikan support kepada istrinya.


Setelah anaknya tertidur ana memberikannyanya kepada rio, rio menaruh anaknya secara perlahan di kasur bayi yang letaknya tak jauh dari kasur ana.


"Terima kasih ya sayang." Rio mencium kening ana dan mengucapkan terima kasih kepada istrinya.


Usai ana menyusui anaknya, rio menyuapi dan memberikan ana susu hangat buatannya kemudian rio meminta ana untuk beristirahat.


Setelah memastikan istri dan anaknya tertidur, rio menghampiri ibunya, Ia berlutut di hadapan ibunya.


"Hari ini aku menyaksikan perjuangan wanita yang aku cintai melahirkan dan menyusui putri kecil kami, jika ada kata yang lebih dari uacapan terima kasih yang bisa ku ucapkan kepada ibu tentu sudah aku ucapkan. Ibu, terima kasih atas perjuangan ibu melahirkan dan merawatku, terima kasih telah mendidikku sampai aku berada di titik ini, terima kasih untuk cinta yang telah ibu berikan kepadaku. Baktiku hingga aku mati hanya untukmu." Isak rio.

__ADS_1


Ibu mengelus dengan lembut kepala putranya.


"Ibu hanya meminta kepadamu jangan pernah kamu sakiti istrimu, muliakan dia sama seperti kamu memuliakan ibu, karena istrimu adalah ibu dari anak-anakmu." ucap Ibu.


__ADS_2