
Aku belum ngomong ke Yoga soal kehamilanku. Bingung bagaimana ngomongnya. Takutnya nanti Yoga marah karena aku ke dokter kandungan tidak bilang dulu.
Yoga pulang tidak terlalu sore. Dia mau mengajakku jalan-jalan.
Tumben sekali dia mengajakku jalan-jalan. Katanya kepingin makan cilok di taman yang tak jauh dari rumah.
Aku menahan senyuman. Yoga yang biasanya tidak suka cilok, tiba-tiba saja kepingin.
Orang lain mungkin akan berkomentar aneh. Tapi tidak denganku. Aku yakin Yoga lagi ngidam.
"Kamu kenapa kok senyum-senyum sendiri?" tanya Yoga.
"Enggak apa-apa. Seneng aja kamu mau ngajakin jalan-jalan. Apalagi makan cilok. Aku udah lama enggak makan cilok."
"Ya sudah, ayo cepetan. Nanti keburu tukang ciloknya pulang."
Tanpa berganti pakaian, Yoga langsung mengajakku jalan. Benar-benar jalan kaki. Padahal jaraknya lumayan jauh kalau jalan kaki. Kalau naik mobil sih tidak sampai sepuluh menit sudah sampai.
"Ini beneran jalan kaki?" tanyaku tak percaya.
"Iya. Aku bosan naik mobil terus. Sekali-kali jalan kaki biar sehat."
Haduh, bakalan pegal kakiku kalau pulang pergi jalan kaki.
Aku mengikuti Yoga yang jalannya lebih cepat dariku. Maklum, kakinya kan lebih panjang.
"Bisa jalan lebih cepat enggak sih, kamu?" Yoga sudah terlihat kesal. Berkali-kali dia melihat jam tangannya.
"Capek, Ga. Kakiku kan lebih pendek."
Yoga mendengus kesal. Lalu meninggalkan aku jauh tertinggal.
"Ga! Tungguin dong!" teriakku. Tapi Yoga tak peduli. Dia benar-benar mengejar tukang cilok yang ada di taman.
Ya sudah, aku tetap berjalan santai. Dokter juga tadi sudah berpesan agar aku tidak melakukan aktifitas yang berat-berat dulu. Karena di usia kandunganku yang masih sangat muda, rentan keguguran.
Yoga sampai duluan. Dari jauh aku melihat dia sedang antri cilok dengan beberapa anak kecil yang juga sedang membeli cilok. Pingin ketawa melihatnya.
Sampai di taman, aku mendekati Yoga.
"Kamu mau cilok juga?" tanya Yoga yang sudah hampir gilirannya dilayani.
Entah kenapa begitu membaui aroma cilok itu, aku malah mual. Rasanya aroma itu menyengat di hidungku.
"Enggak, Ga. Kamu saja."
Aku berjalan menjauh agar tidak membaui aromanya.
Yoga pun memesan untuknya sendiri. Lalu mendekatiku yang duduk jauh dari tukang cilok mangkal.
"Kamu kenapa sih, kok malah jauh banget duduknya?" tanya Yoga.
"Aku enggak tahan baunya, Ga. Rasanya kepingin muntah," sahutku.
__ADS_1
Yoga memakan ciloknya dengan lidi untuk menusuk. Persis anak kecil yang makan dengan enaknya.
Aku menutup hidungku. Lalu bergeser menjauh.
"Kenapa kamu menjauh? Ini enak banget. Kamu cobain deh!" Yoga kembali mendekat dan mengulurkan lidi yang sudah ada ciloknya.
"Enggak, Ga. Kamu saja. Aku mual mencium baunya!" Aku berjalan menjauh dari Yoga.
Aku malah tertarik dengan orang yang berjualan kebab. Aromanya bikin aku ngiler.
"Ga! Aku beli ini ya?" seruku. Karena jarak kami agak jauh.
"Terserah kamu!" Yoga juga berseru. Dia masih asik saja memakan ciloknya.
Aku pun memesan kebab dua. Satu untukku dan satunya nanti untuk Yoga. Biasanya Yoga suka sekali dengan kebab.
Selesai menghabiskan ciloknya, Yoga menghampiriku. Tapi masih jarak sekitar lima meter, Yoga malah berbalik dan berjalan menjauh.
"Ga! Mau kemana?"
"Aku enggak mau! Kamu saja!" jawab Yoga dengan suara keras. Padahal aku cuma menanyakan dia mau ke mana, bukan menawarinya.
Aku tetap memesan dua.
"Yang satu pedas, satunya sedang saja Pak." Karena Yoga tak terlalu suka pedas. Meski tadi saat makan cilok aku lihat Yoga megap-megap kepedesan.
Setelah pesananku selesai, aku mencari Yoga. Rupanya dia lagi main bola dengan anak-anak kecil.
Sambil menikmati kebabku, aku merekam Yoga dengan ponselku tanpa sepengetahuannya.
Aku duduk saja tak jauh darinya. Aku makan kebabku. Sampai hampir habis punyaku, Yoga belum selesai juga main bolanya.
"Pak. Ada air mineral?" Aku memanggil tukang asongan yang kebetulan lewat.
"Ada, Mbak. Mau berapa?" Dia mengeluarkan dua botol air mineral.
"Ya sudah, dua. Berapa?"
Setelah orang itu menyebutkan harganya, aku membayarnya.
Baru saja di bayar, Yoga datang menghampiriku. Rupanya dia kehausan. Tadi habis makan cilok juga dia tidak sempat minum.
Aku memberikan satu botol untuk Yoga.
"Ini kebabmu, Ga. Tidak terlalu pedas, kayak biasanya." Aku juga memberikan kebab untuk Yoga.
"Enggak. Buat kamu saja. Tadi aku kan sudah bilang enggak mau." Yoga menolak makanan yang biasanya dia sukai. Seperti tadi aku menolak cilok yang biasanya juga aku sukai.
"Ya sudah kalau tidak mau." Aku memasukan kembali kebabnya ke dalam kantong plastik. Biar saja aku makan nanti di rumah.
"Aku main bola lagi boleh enggak?" pinta Yoga persis seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.
"Memangnya enggak capek? Kamu kan tadi baru saja pulang kerja, Ga." Aku cuma berusaha mengingatkan. Jangan sampai nanti sampai rumah kecapekan terus aku disuruh memijitinya. Karena aku yang akan minta dipijitin duluan.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, ya?" Yoga merajuk. Karena kasihan, aku mengangguk.
Dengan senang hati, Yoga berlari kembali ke arah anak-anak yang sedang main bola. Aku kembali merekamnya.
Sayangnya begitu Yoga sampai di sana, beberapa anak dipanggil ibunya untuk pulang. Karena hari sudah mulai gelap.
Yoga nampak kecewa. Dia hanya memandangi beberapa anak yang pergi meninggalkannya.
"Besok lagi ya, Om. Om ke sini lagi saja besok sore. Kita tiap sore kok mainnya, kalau tidak hujan," ucap salah seorang anak yang paling besar.
"Oke. Jam berapa mulainya?" tanya Yoga kembali antusias.
"Jam empat, Om. Tapi Om traktir kita cilok lagi ya?" ucap yang lainnya.
Yoga mengangguk sambil mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Oh, jadi tadi Yoga membelikan cilok buat mereka biar diajak main bola?
Aku jadi makin ingin ketawa. Udah tua ngajarin nyogok pada anak-anak.
Yoga kembali berjalan ke arahku.
"Pulang yuk, Ga," ajakku.
"Tapi aku beli cilok lagi ya? Buat nanti di rumah." Yoga kembali merengek lagi.
"Tadi kan sudah makan cilok. Nanti sakit perutmu kalau kebanyakan makan cilok."
Yoga langsung manyun. Dia duduk menjauh dariku dengan mimik wajah menyedihkan.
Asli aku kepingin banget ketawa. Aku buka lagi ponselku dan aku rekam lagi tingkah Yoga yang kayak anak balita.
"Ya sudah, kamu boleh beli cilok lagi. Tapi jangan pakai cabe ya? Nanti perutmu sakit."
Sengaja aku pancing Yoga. Aku pingin merekam reaksinya saat kegirangan.
"Asiik. Aku janji enggak pakai cabe lagi." Yoga melonjak kegirangan dan berlari ke arah tukang cilok yang sudah mulai mengemasi dagangannya.
"Masih ada ciloknya, Pak?"
"Sudah habis, Mas," jawab tukang cilok. Dan pastinya membuat Yoga jadi sangat sedih. Dia berjalan dengan langkah lunglai ke arahku. Wajahnya menyedihkan seperti hampir menangis.
Aku terus merekamnya, sampai kemudian Yoga duduk dan melamun di sebelahku.
"Laki gue jadi kayak anak balita lagi gaes. Uluh-uluh, anak Mama sedih ya kehabisan cilok."
"Auk ah." Yoga melengos.
Aku tertawa lalu mematikan rekaman videoku. Suamiku benar-benar jadi kayak anak balita yang lagi ngambek.
Untuk mengajaknya pulang saja, mesti merayunya dulu.
"Besok ke sini lagi, deh. Nanti kita beli cilok sama dandangnya sekalian, ya?" ucapku sambil terus tertawa.
__ADS_1
"Main bola juga."
"Iya. Main bola juga." Tepok jidat untuk suamiku.