Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 59


__ADS_3

Keesokan harinya Ana bangun lebih awaldari biasanya, ia menyiapkan sarapan untuk suamunya tercinta, saat sedang menata makanan yang ia masak di atas meja makan Ana melihat suaminya keluar dari kamar.


"Morning honey" sapa Ana dengan senyuman manis di pipinya.


" Sarapan dulu yuk, aku sudah siapin makanan kesukaanmu" ajak Ana.


"Maaf aku buru-buru, Kak Risti sudah menungguku di kantor" ucap Rio.


"Oke. Kalo begitu tunggu sebentar ya." Ana memasukan makanan beserta buah ke dalam tempat makan, kemudian ia berlari mengejar suaminya ke depan.


"Nanti di makan ya" Ana menyerahkan paper bag yang berisi kotak bekal untuk suaminya, kemudian Ana meraih tangan Rio dan menciumnya.


"Cheer up, honey" ucap Ana sambil melambaikan tangannya ke arah mobil suaminya yang perlahan melaju meninggalkan kediamannya.


Selepas Rio pergi Ana bersiap ke kantor bersama dengan Lyra, sebelum berangkat ke kantor Ana sarapan di temani oleh Lyra. Sepintas Ana teringat kebiasaannya setiap pagi menyuapi suaminya sarapan di meja makan, kini tempat yang biasa di duduki oleh Rio terlihat kosong.


"Mba kenapa, kok melamun?" tanya Lyra membuyarkan lamunan Ana.


"Tidak apa-apa ko Lyr, berangkat yuk" ajak Ana.


Sesampainya di kantor Ana mengajak Lyra berkeliling kantor sambil memperkenalkan Lyra kepada seluruh staff kantor.


Adit menyambut gembira kedatangan Lyra, ia mengikuti Ana dan Lyra dari belakang berkeliling kantor.


Setelah berkeliling na mengajak adik iparnya untuk ke ruangannya, Ana meminta Lyra untuk duduk di tempat yang biasa ia duduki sedangkan Ana duduk di tempat Rio.


"Ini semua file yang kamu bisa pelajari, selain ini ada juga file-file yang ada di lemari dokumen, jika ada hal yang kamu kurang mengerti kamu bisa tanya kepada Mba atau Adit." Ana menunjukkan semua file yang berada di komputernya dan file yang tersusun rapih di lemari.


"Kalo itu ruangan apa Mba?" tanya Lyra penasaran.


Ana melihat ke arah yang di tunjuk oleh Lyra, ruangan itu adalah ruangan yang di bikin Rio khusus untuk Ana beristirahat. Ana teringat ketika dirinya dan Rio sering bercinta di ruangan tersebut.


"Ah kenapa hormon kehamilan ini membuatku sering bersedih. Nanti malam pun aku kan akan bertemu dengan suamiku" gumam Ana dalam hati, baru sehari jauh dari suaminya membuatnya sangat merindukannya.


"Mba Ana kenapa melamun lagi?" tanya Lyra.


"I-itu ruang istirahatku, kalo kamu lelah kamu boleh memakainya."



Sementara itu di perusahaan Pak Reino pagi-pagi sekali Risti sudah menunggu Rio di ruangannya. Setelah Rio datang Risti langsung mengajak Rio meeting bersama semua jajaran manager dari seluruh divisi.


Sebelum meeting berlangsung Risti sempat mengenalkan Rio dengan seorang gadis cantik keturunan chinese yang bernama Felly, ia akan menjadi sekretaris Rio


Pukul 08.30 meeting pun di mulai, Risti mengumumkan jika saat ini Rio lah yang akan memimpin perusahaan papanya menggantikan dirinya.


Satu persatu para manager memperkenalkan diri, Rio semakin merasa minder ketika mengetahui beberapa manager berasal lulusan universitas yang terkemuka di dunia.


Selesai meeting, Risti mengajak Rio berkeliling kantor dan pabrik tentu saja Felly pun ikut dengan mereka. Risti menjelaskan seluk beluk mengenai perusahaan papanya, selesai berkeliling Risti mengajak Rio kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Risti menjelaskan dokumen-dokumen penting yang harus segera Rio pelajari dan pahami.


"Dalam waktu dekat ini akan ada perpanjangan kontrak kerja sama dengan perusahaan asal Singapore Pak Richard, kau harus segera mengirimkan draft perpanjangan kontraknya. Beliau adalah client terbesar kita, jadi jangan sampai ia tidak memperpanjang kerja sama ini. Semua filenya sudah ada di laptopku, kau pakai saja, jika ada hal yang tidak kamu mengerti kamu bisa tanyakan kepada aku atau Felly. Felly sudah lama bekerja di sini, jadi ia akan sangat membantumu" terang Risti.


Rio mengela nafasnya dalam-dalam, baru saja ia menginjakan kakinya di perusahaan ini ia merasa beban besar sudah berada di pundaknya.


"Aku dan papa berangkat ke Jerman malam ini, jadi sekarang aku harus pulang. Aku percayakan semuanya kepadamu, aku yakin kamu tidak akan mengecewakan kami" ucap Risti sambil menepuk bahu Rio.


Selepas kepergian kakak iparnya, Rio mempelajari satu persatu kontrak kerja sama periode sebelumnya. Rasanya terlalu rumit untuk Rio mengerti, berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan kasar, ia benar-benar nampak frustasi.


Tok.. Tok.. Tok..


Felly masuk ke ruangan Rio dengan membawa teh hangat untuk Rio, Felly juga menawarkan diri untuk menjelaskan secara detail bentuk kerja sama dengan perusahaan Pak Richard. Tanpa pikir panjang Rio menerima tawaran Felly, Rio menyuruh Felly untuk duduk di sampingnya.



"Mba ana ayo di makan, masa nasinya cuma di lihatin terus" ucap Lyra.


"Masmu sudah makan belum ya, dari tadi Mba chat tidak di balas. Telepon Mba juga tidak di angkat" ucap Ana sambil cemberut.


"Mas Rio sedang sibuk kali Mba, oh ia nanti sore Mba mau ikut denganku ke mall? aku mau beli baju kantor" tanya Lyra, sebenarnya Lyra ingin menghibur Ana dengan mengajaknya berjalan-jalan, namun sayangnya Ana menolak ajakan Lyra.


"Kamu minta temani Adit saja, kamu belanjalah dengan menggunakan kartu ini nanti pinnya Mba chat." Ana menyerahkan debit cardnya kepada Lyra.


"Serius mba?" tanya Lyra meyakinkan Ana.


"Kau mau apa tidak? jika tidak mba akan mengambilnya lagi."


Sepulang kerja Ana langsung memasak menyiapkan makan malam untuk suaminya, kemudian setelah semuanya beres ia menunggu Rio di ruang tamu.


"Sudah jam 10.00 malam kok belum pulang ya?" gumam Ana dalam hati, ia mulai mencemaskan suaminya.


Lama menunggu Rio, tanpa ia sadari ia tertidur di sofa ruang tamu, pukul 00.15 Rio baru pulang ke rumah. Mendengar suara mobil suaminya Ana segera bangun dan membukakan pintu rumahnya.


"Kok kamu belum tidur? lain kali kamu tidak perlu menungguku pulang" ucap Rio.


"Sayang mau makan dulu atau mau mandi dulu, biar aku siapkan air hangat untukmu."


"Tidak perlu, aku mau langsung istirahat saja, badanku capek sekali" jawab Rio dengan dingin.


Meski Ana menelan ludah kekecewaan atas sikap suaminya, ia mencoba untuk tersenyum kepada Rio.


"Sayang, kamu tidur di kamar kita kan?" tanya Ana


Rio mengangguk sambil melangkahkan kakinya menuju kamarnya, Ana membantu suaminya membukakan pakaiannya dan menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya.


Ana mencium aroma parfum wanita melekat pada pakaian Rio, ia mengingat-ingat jika dirinya sangat akrab dengan aroma parfum tersebut.


"Ya benar, ini wangi parfum chanel chance women, yang dulu aku pernah gunakan. Tapi sudah lama sekali aku tidak menggunakannya..." gumam Ana dalam hati, ia mencoba menyingkirkan pikiran negatif yang ada di benaknya.

__ADS_1



Keesokan harinya Ana meminta Rio untuk menggunakan mobilnya beserta dengan supirnya, ana sudah menduga Rio akan menolak bahkan Rio akan marah terhadapnya.


Tapi Ana tidak peduli jika Rio akan kembali memarahinya, baginya keselamatan dan kenyamanan suaminyalah yang terpenting.


"Mobilku itu mobil sport, Lyra tidak bisa menggunakannya dan aku tidak akan mengijinkan kamu untuk menyetir" ucap Rio dengan nada tinggi


"Win win solution, kamu pake mobilku berikut dengan supirnya. Aku pakai mobilmu di antar oleh Adit, aku akan menyuruh Adit untuk datang kesini lalu kita berangkat bersama-sama."


"Aku membelikan mobil itu untukmu, tolong kamu hargai pemberianku dan tidak terus membantahku" bentak Rio.


"Sayang, salahkah jika aku mengkhawatirkan suamiku? jarak antara kantorku dengan rumah tidaklah jauh, sedangkan kantormu sangat jauh belum lagi jika kamu pulang larut malam seperti tadi malam, aku hanya ingin kamu bisa istirahat di mobil."


"Baiklah jika itu maumu" Rio mencium kening dan perut Ana kemudian pergi meninggalkan Ana.


Ana mengikutinya dari belakang, sebelum Rio menutup pintu mobilnya Ana menerikan paper bag yang berisi sarapan dan buah untuk suaminya, tidak lupa ia juga mencium tangan suaminya.


"Hati-hati ya sayang, maaf jika pagi-pagi aku sudah membuatmu kesal" Ana menutup pintu mobil dan kembali ke dalam rumah untuk bersiap ke kantor.


Sambil menunggu adit datang, ana merapihkan mobil suaminya karna ia melihat banyak dokumen di dalam mobil rio. Saat sedang merapihkan mobil suaminya, ana menemuka paper bag yang ia bawakan kemarin untuk rio.


Ana membukanya ternyata Rio tidak sama sekali memakannya, Ana juga menemukan lipstik berwarna merah di dalam mobil Rio, yang Ana yakini jika lipstik tersebut bukanlah miliknya.


"Mba Ana yuk berangkat, Mas Adit udah datang" ucap Lyra.


Ana segera memasukan lipstik tadi kedalam sakunya, lalu membawa paper bag dan dokumen suaminya ke dalam rumah.


"Adit Kamu nyalakan saja dulu mobilnya, aku akan menaruh ini di dalam."


Lagi-lagi Ana menyingkirkan pikiran negatifnya, ia percaya jika suaminya sangat menyayanginya dan tak akan berbuat macam-macam di belakangnya.


Malam itu lagi-lagi rio pulang larut malam, namun Ana tetap menunggunya meskipun Rio telah melarangnya.


"Harusku katakan berapa kali, jika jangan menungguku pulang. Kau sedang hamil aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita."


"Iya aku minta maaf, kamu sudah makan?" tanya Ana.


"Sudah, aku mau mandi saja lalu istirahat." jawab Rio


Ana menyiapkan air hangat untuk rio mandi, selagi Rio mandi Ana menyiapkan baju tidur dan susu hangat untuk Rio.


Begitu rio keluar dari kamar mandi, Ana membantu suaminya mengenakan pakaian tidurnya dan memberikan susu hangat kepada Rio.


"Sayang, boleh aku tahu ini punya siapa?" tanya Ana sambil menunjukan lipstik yang ia temukan di mobil suaminya.


"Mungkin punya Felly, sekretarisku. Kemarin aku mengantarnya pulang, aku tidak tega membiarkannya pulang sendirian larut malam, lagi pula ia lembur karena membantuku" ucap Rio.


Mendengar suaminya menyebut nama wanita lain dan mengatakan mengantarnya pulang larut malam hati Ana terasa sangat sakit, namun ia memilih untuk percaya pada suaminya.

__ADS_1


Ana mengambil gelas dari tangan Rio dan menaruhnya di meja, ia mengalungkan tangannya di leher Rio dan mengecup bibirnya dengan lembut.


"Aku lelah sekali, kita istirahat saja ya" ucap Rio.


__ADS_2