Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 9


__ADS_3

Ana menyeret kopernya dan memasukannya ke dalam bagasi mobilnya, masih dengan deraian air mata Ana mulai mengendarai mobilnya menuju tempat pemakaman umum.


Tepat di depan pusara makam Ibundanya, Ana mencurahkan semua kesedihan hatinya kepada Ibundanya.


"Mah, maafin Ana karena Ana sudah ngecewain mamah, maafin Ana mah... uuuuh uuuuuhhh...." tangis apAna kembali pecah di depan makam Ibundanya, ingin sekali rasanya ia bertemu dan memeluk Ibundanya secara langsung, namun kini Ana hanya dapat memeluk nisan Ibundanya.


"Mah, aku bener-bener sendirian. Kini kak risti semakin membenciku mah, seandainya saja dulu mamah tidak mengandung dan melahirkanku, pasti saat ini mama, papa dan kak risti hidup bahagia. Aku bukan hanya menjadi penyebab mama tidak ada, tapi aku juga telah mengecawakan mama, aku tidak bisa menjadi anak yang membanggakan mama. Maafkan aku mah... uuuh.. uuuuhhh...." air mata Ana mengalir deras dipipinya, ia merasa sendiri dan tak memiliki sandaran hidup.


Dua jam sudah ana menumpahkan segala kegalauannya di pusara makam Ibundanya, Ana memutuskan menginap di hotel untuk sementara waktu, sambil memikirkan langkah selanjutnya.


Sesampainya di kamar hotel Ana menatap perutnya yang masih datar di depan cermin dan ana mengelusnya dengan lembut.


Kemudian ana mengeluarkan hasil USG dari dalam tas miliknya, Ana menatapnya dalam-dalam.


"Hello baby." sapa Ana sambil mengelus-elus kembali perutnya, mata Ana mulai berkaca-kaca, air matanya mulai bercucuran kembali.


Tak terbesit sedikitpun dalam benaknya untuk membeci apa lagi mencoba menggugurkan janin yang ada di dalam kandungannya meskipun ia sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan ke depannya bersama janin yang ia kandung, namun ia sangat menyayangi janinnya.

__ADS_1


Sesaat ana mulai teringat dengan sosok Julio, sosok yang kini ia sangat benci. Ana sudah tidak mengharapkan untuk memilikinya dan ia juga tidak mengharapkan kehadiran Julio untuk mendampingi dan merawat anak ini bersama.


Ana menyeka sisa-sasa air matanya, ia mengelus kembali perutnya yang masih rata dengan sangat lembut.


"Baby, I will always love you. I believe we will get through this." gumamnya.


Malam itu Ana membuat keputusan untuk dirinya dan juga untuk janin dalam kandungannya, Ana sangat paham sekali stigma masyarakat terhadap wanita yang hamil di luar nikah merupakan sebuah aib besar.


Terlebih ia hamil dengan seorang pria yang telah beristri, tentu hal itu akan menjadi bahan gunjinga dan cemoohan orang lain.


Ana yang ingin memeriksa saldo tabungannya via internet banking baru tersadar jika handphonenya tertinggal di rumahnya.


"Akh sudahlah besok pagi saja aku ke ATM memeriksa saldo tabunganku" gumamnya, kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.



Pagi harinya Ana setelah sarapan di hotel, Ana mengecek saldo tabungannya di ATM terdekat. Di dalam mobil ana mulai menghitung perkiraan biaya semasa kehamilan dan melahirkan anaknya nanti.

__ADS_1


Ana merasa saldo yang berada di tabungannya hanya cukup untuk hidupnya berberapa bulan kedepan saja, itu artinya ana harus mencari uang tambahan untuk menyambung hidupnya beserta anaknya, paling tidak sampai anaknya lahir.


Setelah menghitung anggaran biaya hidupnya, ana kemudian mencari travel untuk dirinya pergi ke rumah peninggalan almarhumah neneknya di kampung.


Selesai urusan travel beres, ana memacu kendaraannya menuju showroom mobil, ana hendak menjual mobilnya untuk menambah modal usahanya nanti dan untuk biaya hidupnya serta anaknya.


Setelah mendapatkan harga sesuai kesepakatan ana mengelus bagian depan mobil kesayangannya yang ayahnya berikan kepadanya sebagai kado ulang tahunnya ke 17 tahun, itu lah terakhir kalinya ia bertemu dengan ayahnya.


Ana tidak mengetahui keberadaan ayah berserta ibu tirinya, namun setiap bulan ayahnya tidak pernah lupa mentrsnfernya uang untuk kebutuhannya sehari-hari dan untuk biaya kuliahnya.


Sebenarnya berat bagi ana untuk menjual mobil kesangannya, namun saat ini ana sangat membutuhkan banyak uang untuk hidupnya dan juga janin yang berada dalam kandungannya.


Setelah semua urusannya beres ana kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan keberangkatannya besok pagi.


Pukul 07.00 pagi pihak travel menjemput ana di hotel, kendaraan minibus itu melaju menuju kampung halaman nenek ana.


"Okay baby, we must be happy. start a new day" Ana mengelus perutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2