Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 133 DEJAVU


__ADS_3

Setelah Yoga benar-benar sehat, bapak mengijinkan kami untuk pindah ke rumah Yoga.


Hari ini aku membereskan beberapa pakaianku. Sebenarnya mau aku bawa semua, tapi Yoga melarang. Katanya nanti gampang beli lagi.


"Kan sayang-sayangin uangnya, Ga. Bajuku masih bagus-bagus kok."


Yoga malah menjawab, "Biar kalau kita nginap di rumah ibu tidak usah bawa baju ganti."


Benar juga. Dan aku senang sekali, itu artinya aku bakalan sering menginap di rumah ibu.


"Kamu yakin mengijinkan aku sering menginap di rumah ibu, Ga?"


"Yakinlah. Lagi pula kamu kan punya anak di sini. Masa iya tidak kamu kunjungi. Entar anakmu tidak kenal sama mamanya dong."


Aku bangga dengan Yoga. Dia tidak mau membatasi interaksiku dengan anakku. Meski rasa sayangnya tidak berlebihan seperti mas Angga dulu.


Ingat mas Angga jadi ingat semua kebaikannya. Dia sangat baik pada Berlian. Bahkan dia pernah bilang akan mengasuh Berlian meski dia tak bisa menikahiku.


Untung saja aku tidak terlena dengan omongannya. Kalau sampai itu terjadi, bakalan sulit aku menemui anakku sendiri.


Ah, sudahlah. Lupakan saja dia. Dia sekarang tinggal dimana saja aku tidak tahu.


"Aku pesan ojek online dulu ya?"


Aku mengangguk saja. Kalau Yoga memesannya sekarang, berarti aku harus segera siap-siap. Karena biasanya driver akan datang lima sampai sepuluh menit lagi.


"Mau dibawa kemana tasnya?" tanya Yoga melihatku menarik tas ke teras.


"Siap-siap. Kan kamu sudah pesan taksi online?"


"Kata siapa aku pesan taksi online?"


Aku makin tidak mengerti dengan Yoga.


"Lah tadi kamu pesan apa?" tanyaku.


"Ojek online."


Oh, ternyata Yoga mau berhemat. Kita nanti pulang ke rumahnya naik ojek online. Aku mengangguk saja.


"Tuh, udah datang satu. Suruh nunggu saja biar kita bisa berangkat bareng."


Malah Yoga yang mengernyitkan keningnya.


"Kamu ini gimana sih, Wid? Yoga itu pesan ojek online buat dirinya sendiri. Dia akan pulang dulu mengambil mobilnya. Biar Ibu sama Berlian bisa ikut ke sana. Nanti sore baru kita pulang." Ibu yang baru keluar tiba-tiba menyahut. Rupanya ibu menyimak omonganku dengan Yoga.


"Makanya kalau ada orang ngomong jangan langsung dipotong. Jadi salah paham kan?"


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Hehehe. Ya sudah, kamu jalan dulu sana."


Yoga mengulurkan tangannya. Aku diam sejenak. Lalu menepuk keningku. Aku lupa kalau Yoga sudah menjadi suamiku, bukan lagi mantan teman sekolah atau pun teman kerja.

__ADS_1


Aku meraih tangan Yoga lalu mengecupnya. Kikuk juga sih, karena belum biasa.


Dulu saat masih sama-sama kerja, kalau berpisah kami bertos ria ala anak muda yang gaul.


Yoga pergi dengan ojek online. Aku memasukan kembali tasku.


"Berlian masih tidur, Bu?"


"Masih. Biarin saja. Nanti kita perginya kalau Berlian sudah bangun saja. Kasihan kalau dibangunin" jawab ibu.


Aku melihat anakku yang sedang tidur. Aku dekati perlahan. Aku belai kepalanya.


Kasihan sekali dia. Sejak lahir tak pernah bersama bapaknya, sekarang pun mesti jauh dari aku.


Meski pun kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuaku tak pernah kurang. Apalagi mas Andi yang tidak mau dipanggil pakde, dia sangat sayang pada Berlian.


Aku memgecup keningnya. Dan tiduran di sisinya sambil memeluknya.


Ibu masuk ke kamar dan menyuruhku menyingkir.


"Jangan ganggu, Wid. Biar Berlian anteng tidurnya."


Ibu memang selalu seperti itu. Siapa pun tak boleh mengusik Berlian meski itu aku, ibu yang telah melahirkannya.


"Sstt. Jangan berisik!" Aku yang malah melarang ibu bersuara.


"Awas kalau sampai bangun!" ancam ibu lalu keluar dari kamar.


Aku terbangun saat merasakan ada yang mendekat. Saat aku buka mataku, ternyata Yoga yang duduk di sampingku.


Yoga tersenyum melihatku dan ikut membaringkan diri di sebelahku, sambil memelukku dari belakang.


Damai rasanya. Bisa tidur satu tempat tidur dengan anak dan suamiku. Dan lebih senang lagi karena Yoga bisa menerima Berlian meski kami tak bisa merawatnya.


Kami terbangun saat Berlian bangun.


"Mama."


Aku langsung menepuk-nepuknya.


"Iya, Sayang. Mama di sini."


Yoga bangun, langsung meraih Berlian dan membawanya keluar.


Aku menyusulnya. Rupanya Yoga membawa Berlian ke teras dan mengajaknya bermain.


Aku melihat interaksi anak dan suamiku. Mereka seperti punya hubungan darah. Padahal tidak sama sekali.


Bahkan Yoga mengenal Berlian belum lama. Tapi bisa begitu akrab.


Apa mungkin karena kerinduan Yoga pada sosok adik atau anak. Yoga anak tunggal. Dia juga belum pernah menikah.


"Ga. Kita siap-siap yuk. Kalau kelamaan nanti keburu sore, malah tidak jadi lagi."

__ADS_1


"Ya kamu dong yang siap-siap. Aku sih begini saja. Berlian bagaimana ini?" tanya Yoga.


"Sebentar, aku tanya ibu dulu."


"Biar ibu gantiin popoknya dulu. Itu kan sudah penuh. Kalau keperluan Berlian ibu sudah siapin."


Ibu mengangkat Berlian dan membawanya ke kamar.


Setelah semua beres, kita berangkat dengan menaiki mobil Yoga.


Berlian sempat rewel di jalan.


"Kenapa, Sayang?" tanyaku yang memangkunya.


Dia menunjuk-nunjuk Yoga. Ternyata dia mau duduk dipangku Yoga.


"Jangan, Sayang. Nanti mengganggu Papa."


Yoga maunya dipanggil Papa. Meski dia bukan bapak kandungnya. Yoga juga maunya aku dipanggil mama. Biar klop katanya.


"Enggak apa-apa. Sini sama Papa." Yoga menepikan mobilnya dan meraih Berlian dan memangkunya.


"Nanti kamu kesulitan, Ga. Malah mengganggu konsentrasimu."


Aku berusaha menolaknya. Tapi Yoga kekeh.


"Berlian yang anteng, ya? Jangan ganggu papa nyetir."


Berlian yang sudah asik memegangi setir dan memainkan klakson, sudah tidak mau mendengarkan omonganku.


Yoga cukup kewalahan dengan tingkah Berlian. Bahkan omongan ibu saja tidak di dengarkan oleh Berlian.


Akhirnya Yoga membelokan mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan.


"Kita belanja dulu, ya? Di rumah tidak ada apa-apa. Nanti repot kalau kamu mau memasak."


Kami turun dari mobil. Ibu meraih hendak menggendong Berlian tapi di tolak oleh Yoga.


"Tidak apa-apa, Ga. Biar ibu yang gendong."


"Ibu sama Widhi belanja saja. Ini ambil kartu kreditku. Terserah kamu mau belanja apa. Ibu juga sekalian biar belanja buat keperluan sehari-hari. Aku ajak main Berlian dulu. Kalau kamu sudah selesai, telpon aku."


Yoga menyerahkan dompetnya, dan aku mrngambil kartu kreditnya.


Aku berjalan bersama ibu masuk ke supermarket, sedang Yoga ke arena bermain anak-anak.


Aku merasa ini pernah terjadi padaku. Persis seperti ini. Setelah aku berfikir keras kapan kejadian yang seperti ini, akhirnya aku bisa mengingatnya.


Saat aku baru saja menikah dengan mas Agung. Kami pergi ke supermarket ini. Lalu aku masuk supermarket dengan ibu mertuaku. Mas Agung membawa anak-anaknya ke arena bermain.


Lalu kami sempat makan di food court. Dan saat berjalan pulang, kami mendengar kabar bengkel kerja mas Agung terbakar.


Ah, semoga dejavu-nya cukup sampai di sini. Jangan sampai pada kejadian yang tidak mengenakan itu.

__ADS_1


__ADS_2