
Setelah melewati malam yang terpanas dengan Yoga, kami tertidur pulas sampai bangun kesiangan.
Bagaimana tidak, tengah malam saat aku terbangun ingin ke kamar mandi Yoga malah minta lagi.
Sebagai istri yang berbakti dan juga rindu belaian, aku menurutinya meski aku hanya pasrah saja. Biar Yoga yang bekerja.
"Jam berapa ini, Ga?"
"Tuh. Jam sembilan."
"Siang?"
"Pagi. Kita kan lagi tidak bekerja, jadi anggap saja masih pagi."
"Ish. Udah siang ini, Ga!" Aku langsung beranjak. Tapi, ups.
Aku menutupi tubuhku yang ternyata masih polos dengan selimut yang menutupi tubuh polos Yoga.
Spontan aku menutup mataku. Yoga malah melemparkan bantal ke arahku.
"Semalam aja kamu udah lihat semuanya, kenapa sekarang mesti ditutupi matanya?"
Aku cuma nyengir saja. Lalu memungut bantal yang jatuh ke lantai.
Aku berjalan keluar kamar. Masih dengan selimut menutupi tubuhku.
"Mau kemana, Wid?"
"Kamar mandi!"
"Ikut!" seru Yoga. Dan langsung turun dari tempat tidur.
"Eh, pakai baju dulu. Entar dilihat orang!"
Kamar Yoga memang tak memiliki kamar mandi di dalam. Maklum rumah kuno. Kamar mandi masih di luar.
"Paling orangnya kamu." Yoga malah berjalan dengan santai.
Jadi ingat gajah yang di kebon binatang. Kalau jalan belalainya bergerak ke kanan dan ke kiri. Aku jadi ketawa sendiri.
"Ngapain ketawa?"
"Siapa yang ketawa?"
"Lah, itu ngapai coba ketawa?"
Kami sudah ada di dalam kamar mandi. Untung kamar mandinya besar, jadi enggak berdesak-desakan.
"Inget sesuatu aja."
Aku melepaskan selimut yang tadi membungkus tubuhku.
"Sesuatu apa?" tanya Yoga yang memelukku dari belakang. Bulu kudukku langsung meremang.
Jangan sampai kejadian lagi. Badanku udah lengket semua. Bagian ituku juga sudah agak perih karena dihantam senjatanya Yoga yang gagah perkasa berkali-kali.
"Sesuatu apa, hmm?" tanya Yoga lagi. Tapi kali ini persis di telingaku.
Bukan cuma bulu kudukku saja yang meremang, jantungÄ·u juga berdetak lebih cepat.
Yoga malah menggigit-gigit telingaku.
"Ga. Jangan begini ah, geli."
Haduh, suaraku kenapa jadi parau sih. Entar dikira Yoga aku kepingin lagi.
"Terus maunya diapain?" Yoga mulai lagi nakalnya.
Tangannya mulai traveling lagi. Bagaimana ini? Mana perutku lapar. Kakiku malah terasa lemas juga.
__ADS_1
"Ga. Aku mau mandi nih." Ah, suaraku makin parau saja.
"Aku mandiin ya?"
Tanpa menunggu jawabanku, Yoga mengambil gayung dari belakang tubuhku, lalu menyiram tubuh kami berdua.
Aku memejamkan mata karena air mengenai mataku. Yoga terus saja mengguyur tubuh kami.
Lalu perlahan tangannya menelusuri seluruh tubuhku yang sudah mulai terasa segar.
Sentuha Yoga tak bisa aku hentikan. Aku tak mampu menolaknya. Dan akhirnya kami kembali terbuai dalam hangatnya cinta meski di dalam kamar mandi cukup dingin.
Yoga yang banyak belajar dari guru privatnya, mempraktekannya padaku.
Aku menikmatinya. Aku terbuai hingga lututku benar-benar terasa lemas, karena kami melakukannya tidak dalam posisi tiduran ataupun duduk.
"Ga. Capek. Lututku lemas. Aku tidak bisa berdiri lagi nih."
Yoga keluar sebentar dan mengambil kursi plastik yang ada di dekat kamar mandi.
"Nih, duduk. Kamu anteng saja. Biar aku yang mandiin kamu."
Kali ini Yoga benar-benar memandikanku. Mungkin dia sudah kasihan melihatku yang sudah lemas tak berdaya.
"Maaf ya, Wid. Malam pertamanya aku rapel."
Ingin rasanya aku ketawa. Tapi energiku sudah habis. Aku hanya bisa tersenyum saja.
Terserah kamu lah, Ga. Yang penting kamu bahagia, puas, dan gak menyesal mendapatkan barang second.
"Ternyata memang benar apa kata orang." Yoga masih kuat saja mengoceh.
"Janda lebih mempesona dan menggairahkan." Dia lalu ketawa sendiri.
Aku hanya mencubitnya pelan. Aku tak punya tenaga untuk membalas ocehannya.
Aku menutup mata. Meski tak akan ada yang melihat, tapi malu saja karena kami masih sama-sama polos.
Yoga membaringkanku di tempat tidur.
"Kalau belum kuat pakai baju, pakai selimut ini dulu biar tidak kedinginan. Aku mau mandi."
Yoga bergegas ke kamar mandi. Mandinya kayak bebek, tak lebih dari lima menit dia sudah kembali.
Aku malah bergelung dalam selimut. Aku tak kuat walau hanya untuk memakai baju.
"Yee...beneran KO dia!"
Yoga mengambil bajunya sendiri lalu memakainya. Lalu membuka tasku yang belum sempat dibongkar.
Dia ambil pakaian dalamku lalu memakaikanku. Baru Yoga mencari baju.
Diacak-acaknya isi tasku.
"Mau cari apa, Ga?"
"Daster."
Ish. Dia pikir aku emak-emak yang hobinya pakai daster?
"Mana aku punya daster, Ga. Ada juga baju hamil. Tapi di rumah ibu."
"Ya udah, lingerie deh."
Malah semakin aneh saja ini orang. Apalagi lingerie. Megang aja gak pernah.
"Gak ada, Yoga. Lagian ngapain sih kamu minta yang aneh-aneh?"
"Kok aneh? Itukan pakaian wajib perempuan. Kamu perempuan kan?"
__ADS_1
"Ya iyalah. Emang bencong."
Aku menutupi tubuhku dengan selimut lagi. Dingin banget rasanya. Mungkin karena lapar.
Jelekku di situ. Kalau lapar pasti gampang kedinginan.
"Udah baju lain aja kek, Ga. Aku udah kedinginan nih."
Akhirnya Yoga memilihkan baju kaos. Padahal biasanya kalau di rumah aku hanya pakai kaos oblong dengan celana pendek. Kalau baju kaos ini buat tidur.
"Nih pakai. Biar gampang masukinnya."
Aku melotot. Masukin apa lagi? Apa Yoga masih belum puas?
"Jangan ngeres otaknya. Maksudku masukinnya ke badan kamu."
Ingin rasanya aku jitak kepala Yoga. Kalau orang ngomong bener, dia nyeleneh. Giliran orang nyeleneh, dia sok bener.
"Tapi masukin yang lain juga aku gak nolak."
"Yogaa...!"
"Iya, Sayang. Aku di sini. Jangan teriak-teriak dong. Nanti dikira orang, aku budeg."
"Mana ada orang di sini. Paling juga kamu orangnya."
"Waduh. Balas dendam ya?"
"Auk ah. Ga..."
"Apa, Sayang..."
Yoga mengendus-endusku lagi kayak kucing ketemu tuannya.
"Aku lapar."
"Sama. Aku juga laper."
Ih, kesel. Bukannya ditawarin makan, malah ikut-ikutan laper.
"Yoga! Aku serius!"
"Kamu pikir aku becanda? Aku juga laper beneran. Coba kamu hitung, berapa kali aku menyerang kamu? Energiku terkuras."
Ngeselin kan? Siapa suruh nyerangnya berkali-kali. Sampai enggak kehitung.
"Ya sudah. Sekarang kita ke dapur cari makanan. Kali aja ada yang bisa langsung dimakan."
Nah, gitu dong. Dari tadi kek. Malah ngoceh aja.
"Gendong, Ga. Aku gak kuat jalan." Aku mengulurkan kedua tanganku.
"Berat ah. Gak kuat aku."
"Tadi aja dari kamar mandi kuat, masa sekarang enggak kuat?"
"Beda dong. Tadi kan kamu belum pakai baju. Kalau sekarang kan sudah."
Ish. Dia pikir bajuku beratnya puluhan kilo?
Melihatku tidak juga bangkit, Yoga memunggungiku.
"Naik sini. Manja." Yoga menepuk punggungnya sendiri.
Aku bangkit dan langsung nyemplak di punggung Yoga.
"Berasa kayak kuli gendong di pasar ini."
Bodo amatlah, Ga. Siapa suruh kamu serang aku bertubi-tubi.
__ADS_1