
Aku menceritakan pada Yoga tentang video call tadi siang dengan ibu. Semua aku ceritakan tanpa ada yang terlewatkan.
"Masih menuduhku?"
Aku berjalan keluar dari kamar dan mengambil dua testpack yang masih utuh.
"Nih." Aku serahkan keduanya pada Yoga agar dia yakin.
Yoga menerimanya, lalu meletakannya di bawah bantal.
"Sini." Yoga memintaku berbaring di sebelahnya. Lalu memelukku erat.
"Kamu lapar?" tanya Yoga.
Perutku berbunyi nyaring. Cacing-cacing protes karena seharian tidak dikasih makan.
"Iya."
Yoga melepaskan pelukannya lalu mengajakku ke meja makan.
"Kamu siapain ini semua?" tanya Yoga.
Aku mengangguk. Lalu mengambil piring untukku sendiri.
Yoga pun ikut mengambil piring dan makan bersamaku. Makannya lebih banyak dari aku. Sepertinya dia lebih lapar dari aku.
"Lapar apa doyan?" tanyaku.
"Seharian aku belum makan," sahut Yoga.
Aku bengong.
"Tadi katanya sudah makan?" tanyaku.
"Aku tadi kesal sama kamu. Jadi aku bilang saja sudah makan." Lalu kami tertawa bersama.
Selesai makan, kami duduk-duduk di ruang tengah. Menonton televisi sampai akhirnya ngantuk.
"Tidur yuk, Ga. Aku ngantuk."
Yoga menurut saja. Kami pun tidur dan sudah melupakan keinginan untuk tes urine.
"Ga. Bangun. Kita kesiangan." Aku mengguncang bahu Yoga sesaat setelah mataku menangkap cahaya matahari yang masuk lewat sela-sela korden.
"Mau kemana?" tanya Yoga melihatku bergegas turun.
"Kamar mandi." Lalu aku berlari karena sudah hampir tak bisa menahan pipis.
Yoga mengejarku lalu menghentikan langkahku.
__ADS_1
"Minggir, Ga. Aku sudah kebelet banget!"
"Sebentar." Yoga mengambil mangkuk yang aku siapkan dari kemarin sore di dekat kamar mandi.
"Nih."
Dengan malas aku terima mangkuk itu. Yoga masih berdiri di depan pintu memperhatikan aku mengeluarkan air seniku.
"Yang pas dong, biar bisa masuk semua!"
"Tak perlu banyak-banyak, Ga. Segini juga cukup. Nih."
Tanpa rasa jijik, Yoga mengambil mangkuk yang aku berikan padanya.
"Wid! Jangan lama-lama. Keburu bau nih!"
Jadi pingin ketawa. Aku pikir dia tahan dengan baunya. Buru-buru aku keluar dari kamar mandi.
Yoga duduk dengan tegap di kursi makan. Di depannya mangkuk yang berisi air seniku.
Aku pun ikut duduk di sebelahnya. Ada perasaan was-was. Aku khawatir hasilnya negatif. Yoga pasti akan sangat kecewa.
"Baca Bismillah dulu, Ga." Padahal aku mengingatkan diriku sendiri.
Bagaikan orang yang akan melakukan sebuah ritual mistik, Yoga terus saja komat-kamit.
Aku pun khusyu berdoa dalam hati. Aku tidak ingin mengecewakan suamiku. Semoga Allah memberi rahmatnya pada kami.
Kami sama-sama bengong. Di luar ekspektasi kami. Hasilnya hanya satu garis.
Yoga meletakan stik itu di meja.
"Tidak apa-apa, Wid. Kita coba lagi. Masih banyak waktu kan?" ucapnya sambil tersenyum.
Setelah mengacak rambutku, Yoga masuk ke kamar mandi.
Badanku seketika lemas. Air mataku menetes tanpa aku bisa mencegahnya.
Ya Allah, kenapa Engkau tidak mengijinkan aku membuat suamiku bahagia? Dia sangat menginginkannya Ya Allah.
Sejenak aku menelungkupkan wajahku diatas meja makan. Sakitnya hatiku karena pagi ini aku mengecewakan suamiku.
Aku tahu Yoga sangat kecewa. Meski dia berusaha bersikap biasa saja di depanku.
"Kamu kenapa?" tanya Yoga. Dia sudah keluar dari kamar mandi. Sementara aku, masih menelungkupkan wajah di atas meja.
"Tidak perlu ditangisi, Wid. Allah tahu kapan saatnya buat kita punya anak lagi."
Aku mendongak. Aku hapus air mataku. Syukurlah Yoga bisa menerima kenyataannya.
__ADS_1
Aku kembali masuk ke kamar mandi. Sebenarnya masih ingin menangis. Tapi buat apa? Masa iya Yoga akan meninggalkan aku cuma karena aku belum bisa hamil lagi?
Toh aku perempuan normal. Aku pernah punya anak. Tak ada yang perlu aku khawatirkan dengan diriku.
Selesai mandi, aku menyiapkan makan untuk sarapan. Dan seperti yang sudah aku duga, Yoga tidak mau sarapan dengan alasan ada urusan pagi ini. Dia harus buru-buru berangkat biar tidak terlambat.
Alasan klasik. Sekedar memghindari perdebatan atau mungkin dia marah, kecewa tapi tidak ingin aku mengetahuinya.
Aku antar dia ke depan sampai naik ke mobilnya dan menghilang. Dalam hati aku berkata, bukan cuma kamu yang kecewa Ga. Aku pun sangat kecewa karena tidak bisa membahagiakan kamu saat ini.
Tapi bukan begini caranya. Sangat tidak gentle dan tidak dewasa. Aku telan sendiri kekecewaanku pada sikap Yoga.
Aku masuk kembali ke dalam rumah. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak sedih. Aku akan jalani semuanya tanpa beban apapun.
Aku pun melakukan kegiatan seperti biasanya. Membersihkan rumah. Membereskan baju-baju. Tak perlu memasak karena pasti tidak akan kemakan.
Selesai dengan semua kegiatan, badanku malah terasa lemas. Mataku berkunang-kunang. Mungkin karena kecapekan. Aku terlalu memaksakan diri melakukan semuanya sendiri.
Aku rebahan di sofa ruang tengah sambil menonton televisi. Hingga akhirnya aku tertidur sebentar.
Aku terbangun karena merasa perutku tidak enak. Mual sekali. Aku berusaha menahan dengan tetap rebahan. Tapi rasa mualnya tidak juga hilang.
Kenapa ini aku? Hamil juga enggak tapi mual. Tidak ingin muntah. Tapi ingin makan sesuatu yang bikin mulutku segar.
Aku buka kulkas. Masih menemukan beberapa buah anggur sisa beberapa hari yang lalu. Lumayanlah buat ngilangin rasa mual.
Aku ke kamar mengambil hape. Sedikit berharap Yoga menanyakan kabarku. Tapi harapan yang cuma sedikit itu sia-sia.
Meski Yoga sedang dalam posisi online, dia tidak menyapaku sama sekali.
Mencoba bersikap dewasa. Berfikiran positif agar tidak menyiksa hati.
Iseng-iseng aku buka status whatsappnya. Ternyata zonk, begitu status Yoga pagi ini.
Yoga, orang yang selama ini jarang sekali membuat status, tiba-tiba mengungkapkan kekecewaannya.
Biarlah, aku tak mau mempermasalahkannya. Meski aku yakin statusnya dia tujukan padaku.
Aku kembali keluar kamar. Rasa mualku muncul lagi. Ish, aku kesal sendiri. Kenapa aku jadi kayak orang yang lagi ngidam?
Pinginnya makan buah saja. Di kepalaku tiba-tiba muncul gambar banyak buah-buahan segar.
Ya sudah. Daripada bete di dalam rumah terus, aku keluar rumah. Di ujung jalan sana ada kios buah. Mungkin aku bisa memanjakan diri membeli banyak buah yang aku inginkan.
"Banyak sekali beli buahnya, Mbak?" tanya seorang tetangga yang kebetulan juga sedang membeli buah.
"Iya, Bu. Buat persediaan. Biar tidak bolak-balik." Aku yakin si ibu itu mengira aku sedang ngidam. Karena beberapa hari yang lalu dia bertanya kenapa menikah tidak mengundangnya?
"Oh. Memang bagus kalau kita banyak makan buah. Biar pencernaan lancar," sahutnya lalu pamit duluan.
__ADS_1
Lumayan berat juga bawaanku. Karena aku banyak sekali membeli aneka buah.
Dan sampai sore pun aku tak ingin makan apa-apa selain buah. Untungnya Yoga pulang malam lagi dan tidak menanyakan aku sudah makan apa belum. Jadi dia tidak tahu kalau seharian ini aku hanya makan buah.