
Hari ini jadwal periksa kandungan. Usia kandunganku sudah mencapai tujuh bulan. Dan perutku sudah sangat besar. Sampai-sampai aku kesulitan untuk berjalan.
Tumben Yoga tidak bisa mengantarku. Biasanya dia akan menyempatkan diri mengantar. Bahkan akan dibela-belain mengantarku.
Tari pun minta maaf karena tidak bisa mengantar. Katanya hari ini dia ada jadwal ketemu dosennya.
Kuliah Tari sudah mau selesai, tinggal skripsi saja katanya. Dan dia mesti aktif pedekate sama dosen pembimbingnya. Biar dimudahkan urusannya, katanya.
Ah, enggak tahulah. Aku kan enggak pernah kuliah. Lihat dosen paling juga kalau tetangga yang kebetulan profesinya sebagai dosen lagi nyuci mobilnya.
Mau mengajak ibuku, pasti nanti Berlian juga ikut. Aku kasihan sama ibu kalau harus ngejar-ngejar Berlian yang lagi seneng-senengnya jalan. Saking senengnya bukan lagi jalan, tapi lari. Meski sering jatuh.
Jadilah aku pergi sendiri. Tidak masalah sih, toh aku masih bisa ngapa-ngapain sendiri.
Dengan naik taksi online aku sampai ke rumah sakit tempatku biasa kontrol. Enak di sini, dokternya ramah banget.
Malah dia pernah ngeledekin aku agar mau memberikan satu anakku padanya. Lah, ini dokter ada-ada saja. Masa anakku mau diminta, memangnya makanan?
Saat taksi yang aku naiki melewati sebuah pusat perbelanjaan, aku melihat Yoga sedang berjalan dengan seorang perempuan.
Tadinya aku tak tahu siapa perempuan itu, tapi saat perempuan itu menengok, barulah aku lihat wajahnya.
Dia Lidya. Teman Yoga yang pernah ketemu denganku di ruko temannya yang jadi fotografer.
Mau apa mereka siang-siang begini? Makan siang mungkin. Aku berusaha positif thinking.
Sampai di rumah sakit, dan menyelesaikan proses administrasi, aku duduk di kursi tunggu.
Nomor antrianku cukup besar. Aku harus mengantri dua puluhan lagi. Sangat membosankan sekali. Menunggu antrian sebanyak itu.
Sambil duduk aku chat Yoga. Iseng saja, aku nanya dia lagi ada di mana.
Dan jawaban dari Yoga cukup mencengangkan. Dia menjawab lagi di kantornya.
Kalau dia lagi di kantornya, lalu yang aku lihat tadi siapa? Menyesal sekali tadi tidak aku foto atau videokan biar Yoga enggak bisa mengelak.
Setelah membalas chatku yang pertama, Yoga tak membalas chatku yang kedua.
Karena kesal, aku video call dia. Aku pingin tahu Yoga sebenarnya lagi ada di mana.
Panggilan pertama diabaikan. Panggilan kedua pun masih diabaikan.
__ADS_1
Aku yang sudah mulai kesal, mencari tempat yang agak sepi. Lalu aku lakukan panggilan ketiga. Tetap diabaikan.
Rasanya ingin menangis. Bagaimana tidak, aku yang sedang susah payah membawa dua anaknya di perutku malah di bohongi.
Aku berusaha meredam emosiku. Karena malu juga pada ibu-ibu lain yang sedang mengantri.
Sampai hampir tertidur aku menunggu nomor antrianku tiba. Jam tiga sore nomor antrianku baru dipanggil.
Alhamdulillah kondisi anak-anak dalam kandunganku sehat semua. Ya pastilah. Aku kan juga sudah punya pengalaman hamil, jadi aku bisa menjaga anak-anak dalam kandunganku dengan baik.
Setelah selesai diperiksa dan menebus beberapa vitamin, aku kembali memesan taksi online untuk pulang.
Aku sudah sangat capek dan mengantuk. Aku pingin cepet-cepet sampai di rumah dan rebahan.
Taksi yang aku naiki lewat lagi di depan pusat perbelanjaan yang tadi.
Dan entah kebetulan atau bagaimana, aku kembali melihat Yoga berjalan lagi dengan Lidya.
Bahkan kali ini mereka bergandengan tangan. Sepertinya mereka mau menyeberang jalan.
Jarak antara aku dan mereka sebenarnya tak terlalu jauh. Tapi karena jalanan lancar, taksi yang aku naiki cepat melewati mereka.
Dan tak ada kesempatan aku untuk mengambil gambar mereka. Karena ponselku juga ada di dalam tas.
Sampai di rumah, bik Siti ART baruku membukakan pintu untukku. Bik Siti adalah pembantu di rumah mas Agung dahulu.
Karena kondisi ekonomi mas Agung yang semakin parah, membuatnya tak bisa lagi memakai jasa bik Siti.
Saat aku beberapa hari yang lalu mencari pembantu, aku menemukan nomor hapenya.
Sebenarnya aku tak berniat memakai jasanya, karena aku pikir dia sudah mendapat pekerjaan di tempat lain. Aku hanya ingin bertanya kalau dia punya tetangga atau saudara yang mau bekerja padaku.
Bik Siti menyambut telponku dengan suka cita. Dia ternyata sudah lama menganggur, sejak mas Agung memberhentikannya. Bik Siti tak lagi bekerja.
Beruntung juga buatku, karena mendapatkan ART yang sudah aku kenal baik. Bahkan bik Siti sudah seperti orang tua sendiri.
Keluargaku juga sudah mengenalnya, jadi mereka percaya padanya untuk menjagaku.
"Capek, Mbak Wid?" tanya bik Siti. Aku memang tak mau dipanggil Ibu lagi sama bik Siti. Biarlah panggilan Ibu nya buat ibuku saja kalau pas lagi ada di rumahku.
"Capek banget, Bik. Lihat nih kakiku sampai pegal dan bengkak." Aku memperlihatkan kakiku.
__ADS_1
"Sini duduk apa rebahan. Saya pijitin kakinya." Dengan senang hati aku merebahkan badanku dan bik Siti mulai memijat kakiku.
Saking enaknya, aku pun tertidur di sofa. Hampir dua jam aku tertidur. Saat aku bangun, sudah jam lima lebih.
Bik Siti yang melihatku lelap sekali tidurnya, tak mau membangunkanku.
Begitu bangun aku ke kamar mandi. Badan rasanya lengket dan lesu juga. Kalau mandi kan bisa lebih segar.
"Bik, Yoga belum pulang ya?" tanyaku pada bik Siti setelah aku keluar dari kamar mandi. Aku masih hanya memakai handuk saja. Kebiasaan yang masih susah aku rubah. Tapi enggak masalah juga sih, toh bik Siti bukan orang lain bagiku.
"Belum, Mbak," jawab bik Siti.
Aku mengangguk lalu masuk ke kamarku. Aku pakai daster longgar agar lebih nyaman.
Aku memang sengaja membeli beberapa daster longgar, karena kehamilanku yang kembar ini, lumayan membuat perutku membesar.
"Bik, tolong buatkan aku susu ya? Aku mau tunggu Yoga di teras," pintaku.
"Jangan di teras, Mbak. Sudah mau maghrib, enggak baik duduk sendirian di luar."
Ya sudah, aku menurut saja apa kata bik Siti. Biasanya omongan orang tua maksudnya baik.
Aku duduk di ruang tamu. Tak lama bik Siti datang membawakanku segelas susu ibu hamil dan roti dengan selai coklat kesukaanku.
"Ini dimakan dulu. Tadi siang Mbak Wid belum makan, toh?" tebak bik Siti.
"Kok tahu, Bik?"
"Tahulah. Kan kelihatan pas datang tadi badannya lemas. Biasanya kalau Mbak Wid begitu pasti karena belum makan."
"Iya, Bik. Males makan," jawabku.
"Eh, enggak boleh begitu. Apalagi yang di dalam situ ada dua." Bik Siti menunjuk perutku.
"Iya Bik. Nanti makan bareng Yoga," jawabku.
Tapi sayangnya, sampai malam Yoga tak juga pulang. Kabarnya pun tak ada. Hapenya tidak aktif.
Bik Siti terus memaksa aku makan, karena dia khawatir anak-anakku kelaparan.
Jam sepuluh malam, Yoga tak juga pulang. Aku berusaha menelpon Tari, tapi hape Tari juga tidak aktif. Aku tanyakan ke mas Andi kenapa hape Tari tidak aktif, katanya tidak tahu.
__ADS_1
Akhirnya aku hanya bisa tidur memeluk guling sambil menunggu Yoga yang entah jam berapa pulangnya.