Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 123 MENUNGGUI YOGA DI RUMAH SAKIT


__ADS_3

Seharian aku menunggui Yoga di rumah sakit. Yoga belum bisa melakukan apa-apa sendiri. Jadi tidak bisa ditinggal. Aku juga tidak punya niat untuk meninggalkannya.


Yoga menceritakan kejadian yang dialaminya. Pagi itu sekitar jam sepuluh pagi, dia lewat jalan mawar.


Saat kondisi jalanan lengang, tiba-tiba sebuah mobil pick up menabraknya dari belakang.


Yoga yang melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi, terpental hingga ke trotoar. Sementara motornya terseret beberapa meter ke depan.


Yoga sempat melihat mobil dan pengendaranya karena kaca mobil itu terbuka.


"Sepertinya dia sengaja menabrakku" tutur Yoga selanjutnya.


Aku terkejut dengan penuturan Yoga.


"Kenapa kamu bisa bilang begitu, Ga?"


"Aku sempat melihat pengemudinya melihatku yang terpental ke trotoar dan dia malah terlihat tertawa. Tak ada kekhawatiran sama sekali. Tapi aku juga tidak tahu. Benar begitu apa cuma perasaanku saja" jawab Yoga.


"Kamu tidak sempat melihat plat nomornya atau tanda-tanda lain di mobilnya?" tanyaku bak detektif.


"Sama sekali tidak. Karena aku langsung tak sadarkan diri, kan?"


Aku mengangguk paham. Ya namanya orang sedang kecelakaan, mana mungkin memikirkan plat nomor.


"Apa sudah ada laporan ke polisi, Ga?"


"Aku belum tahu. Sampai saat ini belum ada yang menghubungiku."


Tiba-tiba seorang perawat masuk. Dia hendak mengecek tekanan darah dan cairan dari infusnya Yoga.


"Maaf, Bu. Pak Yoganya jangan diajak bicara terus ya. Pasien harus banyak istirahat karena luka bekas operasi di kepalanya belum kering" ucap perawat itu.


"Oh iya, Sus. Tapi kondisinya baik-baik saja, kan?" tanyaku yang malah jadi khawatir keadaan Yoga.


"Kata dokter sih cukup baik. Tapi harus banyak istirahat. Jangan banyak bicara dan berfikir dulu."


Aku mengangguk. Yoga hanya memandang perawat itu dengan jengah.


Aku jadi berfikir, jangan-jangan Yoga menahan sakit di kepalanya. Atau untuk mengalihkan rasa sakitnya terus dia jadi banyak bicara?


"Sus, boleh saya tanya sesuatu?" tanyaku.


"Iya silakan, Bu."

__ADS_1


"Apa masalah ini sudah ditangani pihak kepolisian? Ini kan kasus tabrak lari."


"Oh, kalau itu nanti ibu bisa tanyakan pada dokter yang menangani. Atau ibu tanyakan pada bagian administrasi kami. Ada yang khusus menangani korban tabrak lari seperti ini" jawab perawat itu dengan ramah.


"Iya, Sus. Terima kasih. Nanti biar kakak saya yang akan mencari tahu."


"Baiklah. Sekarang biarkan pasien istirahat dulu. Saya permisi, Bu." Lalu perawat itu berlalu dari kamar rawat Yoga.


Aku menyelimuti tubuh Yoga setelah perawat itu menutup pintu kamar.


Yoga malah menarik tanganku hingga jatuh ke dadanya. Yoga meringis menahan sakit.


"Yoga, ih! Tuh kamu sakit, kan?" Aku segera bangkit dan menjauh dari Yoga yang selalu usil meski dia sakit.


"Udah kamu istirahat. Entar malah aku yang kena tegur lagi." Aku berjalan ke sofa yang ada di ruangan ini.


Capek juga dari tadi duduk hanya dengan bangku tanpa sandaran.


"Aku maunya bobok sama kamu" ucap Yoga kayak anak kecil yang tak mau ditinggal ibunya.


"Gak usah becanda, ah" sahutku. Kalau tidak ingat Yoga yang masih sakit, sudah aku lempar dia dengan bantal kecil.


Tak lama Yoga tertidur. Sepertinya perawat tadi menambahkan obat tidur di jarum infusnya Yoga.


Seperti halnya Tari yang bisa tenang menghadapi persoalan. Sampai-sampai dulu mas Angga mempercayakan keselamatan anakku pada Tari. Mungkin karena sikap tenang dan pemberaninya.


Tari memang seorang perempuan yang pemberani. Katanya sejak kecil dia sudah dilatih karate hingga sabuk hitam.


Setelah lulus SMA dia sempat ikut pendidikan dasar sebagai security. Lalu dia bekerja sesuai kemampuannya.


Tari yang mandiri sejak kedua orang tuanya meninggal, tak mau hanya mengantongi ijasah SMA saja.


Dengan penghasilan yang didapatnya dari bekerja sebagai security, Tari melanjutkan kuliah.


Dia bekerja hanya paruh waktu. Karena dia tetap ingin mengejar gelar kesarjanaannya.


Tari mengambil jurusan hukum. Katanya biar bisa membantu orang lain yang lemah. Yang tak bisa membela dirinya di depan meja hijau.


Dan sekarang dia sudah mulai bikin skripsi. Karena sibuk dengan skripsinya, Tari memilih resign sebagai security.


Untuk kebutuhan hidup sehari-harinya, Tari yang tinggal sebatang kara mengandalkan uang sisa tabungannya dari hasil penjualan rumah orang tuanya yang lain.


Kalau kata Yoga, orang tua Tari dulu cukup berada. Mereka memiliki dua buah rumah. Salah satunya sudah dijual oleh Tari untuk kebutuhannya.

__ADS_1


Sepertinya mereka berdua berasal dari keluarga berada. Tapi nasib mereka hampir sama. Kehilangan kedua orang tuanya.


Bedanya kedua orang tua Tari meninggal saat Tari masih remaja. Sedang kedua orang tua Yoga meninggal setelah Yoga mulai bekerja.


Itu kenapa Tari sangat dekat dengan Yoga. Karena sejak kedua orang tuanya meninggal, Tari sering datang ke rumah orang tua Yoga sebagai saudara satu-satunya.


Walaupun mereka lahir dari keluarga berada, tak membuat mereka jadi manja. Mereka tumbuh jadi pribadi yang mandiri dan kuat.


Satu-satunya yang membedakan mereka hanya sifatnya. Kalau Yoga orangnya selengekan, sedang Tari orangnya sangat serius.


Tapi itu tak membuat mereka jadi jauh. Malah jadi saling melengkapi.


Walaupun Tari perempuan, tapi tak pernah mengandalkan Yoga untuk melindungi atau menolongnya. Tari lebih suka mengerjakan semuanya sendiri.


Tidak seperti aku yang selalu mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan persoalanku.


Mungkin karena aku terlalu disayang oleh kedua orang tuaku dan ķakaku. Meski kami kadang suka berantem atau ribut, tapi kami sebenarnya saling peduli dan saling melindungi.


Aku sempat khawatir saat mas Andi tak juga mendapatkan pasangan. Aku pikir dia memiliki kekurangan. Ternyata dia sangat selektif.


Buktinya mas Andi memilih Tari yang sangat sempurna di mataku. Bapak dan ibu pun langsung setuju saat tahu kalau mereka dekat.


Siapa sih yang menolak perempuan macam Tari. Aku saja langsung setuju begitu mengetahuinya.


Mereka pasangan yang sangat cocok. Sama-sama tenang dalam menghadapi persoalan. Sama-sama mandiri dan sama-sama tekun.


Berfikir tentang Yoga dan Tari membuatku sangat nyaman berada di antara mereka. Aku bangga akan menjadi bagian dari mereka.


Aku perhatikan lagi Yoga yang terlelap. Tiba-tiba Yoga meringis seperti orang yang sedang menahan sakit.


Aku yang tadinya sudah mau tidur, jadi hilang ngantuknya. Dan langsung menuju tempat tidur Yoga.


Aku ingin membangunkannya tapi tidak tega. Akhirnya aku tekan bel untuk memanggil perawat.


Tak lama seorang perawat datang.


"Ada apa, Bu?" tanyanya. Aku menjelaskan Yoga yang meringis terus dalam tidurnya.


Perawat itu memperhatikan Yoga. Lalu dia keluar sebentar dan kembali dengan membawa jarum suntik.


"Itu apa, Sus?" tanyaku.


"Pereda rasa sakit." Lalu perawat itu menyuntikannya di selang dekat jarum yang menancap di punggung telapak tangan Yoga.

__ADS_1


Tak lama Yoga tenang kembali. Aku jadi tak tega jauh-jauh dari Yoga. Akhirnya aku tertidur di sisi tempat tidur Yoga.


__ADS_2