Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 118 JAWABAN TENTANG IRENE


__ADS_3

Yoga menagih janjiku yang akan mengatakan alasan kenapa aku tak jadi memilih kebaya.


"Kenapa?" tanya Yoga.


"Aku bete sama temanmu, Irene" jawabku sambil memeluk bantal kecil.


"Irene? Bete kenapa?" Yoga menatapku.


"Dia kayaknya gak suka aku ada di sana" jawabku.


"Masa sih? Kamu kan ke sana mau membeli. Kenapa dia mesti tidak suka?"


"Mana aku tau. Dari nada bicaranya kelihatan kok" jawabku sok tahu.


"Itu cuma perasaanmu aja. Dia baik kok sama aku."


"Iya sama kamu. Kamu kan...." Aku tak melanjutkan kalimatku. Karena sebenarnya aku juga baru mengira-ngira saja.


"Aku kenapa?" Aku menggeleng. Mau nanya tapi gak enak.


"Kamu curiga aku ada hubungan dengan Irene?" tanya Yoga lagi. Aku mengangguk.


"Itu masa lalu, Wid. Kamu mau tau kisahnya?" Aku mengangguk lagi.


Syukurlah kalau Yoga mau bercerita tanpa aku memintanya.


"Dulu kami memang punya hubungan. Sejak masih SMA, Irene sudah menyukaiku. Dia sering datang ke sini. Tapi aku selalu ngumpet."


"Kenapa?" tanyaku.


"Karena aku tak berani dekat-dekat dengan cewek."


Setahuku Yoga sering bergaul sama cewek. Bahkan sering menggoda cewek-cewek. Dan setahuku tak ada teman sekolahku bernama Irene.


"Dia sekolah di mana?" tanyaku.


"Sekolah lain. Kami teman SMP."


Benar kan dugaanku. Karena aku tak pernah mengenal Irene. Meskipun aku tak mengenal semua teman sekolahku, minimal aku tau wajah-wajah mereka.


"Waktu di SMP dia biasa saja. Dan aku, kamu tau sendirikan? Aku sering iseng menggoda teman-teman cewek." Yoga terkekeh sendiri.


"Setelah SMA, dia tinggal tak jauh dari sini. Orang tuanya mengontrak di ujung jalan sana." Yoga menunjuk arah rumah Irene.


"Karena bertetangga kami jadi sering ketemu. Apalagi sekolah kita satu arah."

__ADS_1


Aku mengira-ngira sekolah Irene tanpa harus bertanya.


"Kadang kita sering bareng. Kalau aku bawa motor, dia sering aku ajak kalau pas ketemu."


Aku ingat, dulu Yoga memang sering bawa motor sendiri kalau ke sekolah.


"Aku hanya menganggap itu hal yang wajar. Aku kenal dia, dan satu arah juga. Kan gak enak kalau aku tak menawarinya bareng."


Masuk akal juga. Masa iya ada teman berjalan kaki dicuekin.


"Tapi sepertinya buat Irene beda. Dia menganggap aku ada perhatian padanya. Bahkan beberapa teman kita, menganggap Irene pacarku."


Bisa jadi, karena Irene cantik dan Yoga lumayan ganteng juga. Meski aku tak pernah naksir. Karena aku belum berani suka pada cowok.


"Dari ledekan beberapa teman, Irene merasa yakin kalau aku menyukainya. Karena aku suka mengiyakan saja ledekan teman-teman."


Ya siapa sih yang gak mau punya pacar seperti Irene. Sekarang aja dia masih cantik, apalagi jaman mudanya.


"Irene lalu memberanikan diri menanyakan hal itu padaku. Aku tak berani menjawab tidak. Takut Irene tersinggung. Aku hanya berusaha menghindarinya." Yoga menghela nafasnya.


"Aku jadi mencari jalan lain ke sekolah, agar tidak ketemu Irene lagi. Tapi Irene tetap kekeh. Bahkan dia sering menyambangiku ke rumah ini. Kalau sudah begitu, aku biasanya ngumpet."


"Oh ya? Ngumpet di kolong meja?" tanyaku sambil ketawa.


"Aku ngumpet di rumah tetangga. Tuh, di rumah bu Siti. Lalu bu Siti yang mendatangi Irene. Dia akan bilang kalau aku baru saja pergi. Dan biasanya Irene akan menitipkan surat untukku lewat bu Siti."


Oh, pantas saja kemarin ada seorang perempuan setengah baya yang sedikit cerita tentang Irene. Sepertinya itu yang namanya bu Siti. Aku menahan senyumku.


"Kenapa? Lucu ya ceritaku?" tanya Yoga.


Lalu aku bilang ke Yoga kalau aku kemarin bertemu dengan bu Siti.


"Hebat bu Siti itu ya? Masih ingat saja kisah itu" ucap Yoga.


"Terus kisah kalian berlanjut atau...." Aku sengaja menggantung pertanyaanku.


"Setelah kita lulus sekolah, kami sempat berpacaran." Yoga menatapku. Lalu menggenggam tanganku.


Mungkin Yoga takut aku pingsan mendengarnya.


"Karena hubungan orang tuaku dan orang tua Irene yang dekat, kami malah semakin di jodoh-jodohkan. Bahkan mereka akan menikahkan kami setelah aku selesai kuliah." Yoga menjeda ceritanya, lalu berjalan mengambil minuman dingin dari kulkas.


Yoga mengambil dua kaleng minuman, dan diberikannya satu untukku setelah membukakannya.


Aku meminumnya sambil fokus mendengar cerita Yoga selanjutnya.

__ADS_1


"Aku kuliah di luar kota. Sementara Irene bekerja di toko baju milik tantenya. Hubungan kami cuma lewat telpon saja. Karena aku juga jarang pulang." Yoga menenggak minumannya.


"Perlahan-lahan aku mulai merindukan Irene. Mungkin juga aku mencintainya. Entahlah. Karena kenyataannya aku tak pernah dekat dengan perempuan lain."


"Hingga suatu saat, aku mendengar kabar kalau Irene hamil. Waktu itu kedua orang tuaku mengira aku yang menghamili Irene. Aku dipanggil pulang oleh orang tuaku, disuruh bertanggung jawab."


Yoga tertawa.


"Aneh kan? Aku tak pernah melakukan apa-apa malah disuruh tanggung jawab."


"Kenapa orang tuamu bisa bersikap seperti itu?" tanyaku tak mengerti.


"Irene tak mau mengaku pada orang tuanya siapa yang telah menghamilinya. Karena mereka taunya aku yang jadi pacarnya, jadilah aku tersangka utamanya."


"Orang tuanya datang ke sini membicarakan tentang kondisi Irene yang telah hamil. Dan memintaku untuk bertanggung jawab."


"Setelah aku bersumpah kalau bukan aku yang menghamilinya, bahkan aku berani dipertemukan dengan Irene, baru kedua orang tuaku percaya padaku. Karena malu, orang tua Irene pindah. Entah kemana karena aku yang jadi membenci Irene tak pernah ingin tau."


"Sejak itu, aku tak pernah lagi berkomunikasi dengan Irene. Aku tak pernah mau tau siapa yang menghamilinya. Dia sudah menikah atau belum. Pokoknya aku tak mau tau lagi kabarnya."


"Kalau di bilang aku patah hati, bisa juga. Karena sejak itu aku tak mau lagi dekat dengan cewek manapun. Apalagi untuk berkomitmen. Aku pun gak mau kembali meski sudah selesai kuliah. Aku mencari pekerjaan di sana."


"Sejak kapan kamu kembali lagi ke sini?" tanyaku.


"Sejak kedua orang tuaku meninggal. Aku merasa berdosa tak bisa menemani mereka sampai akhir hayat. Lalu aku memutuskan kembali. Aku akan merawat makam mereka agar bisa merasa dekat lagi dengan mereka meski kita sudah berbeda alam." Yoga memejamkan matanya.


Dia terlihat sangat bersedih.


"Lalu kemarin itu aku bertemu lagi dengan Irene" lanjut Yoga.


Aku ingat pertemuan mereka. Irene yang tak henti-henti menatap Yoga saat menungguku belanja.


"Tapi kalian terlihat akrab?" tanyaku menyelidik.


"Ya...karena aku pikir tak perlu ada lagi masalah diantara kita. Aku tak mau menyimpan dendam. Meski aku sangat kecewa dengannya."


Yoga menggenggam tanganku lagi.


"Percaya sama aku. Tak ada sedikit pun ruang di hatiku untuk dia. Kalau aku terlihat baik dengannya, itu hanya sebatas berteman saja." Yoga menatap mataku.


Aku juga menatap mata Yoga. Aku ingin mencari jawabannya di tatapan matanya.


"Aku tak pernah mau lagi mencintai Irene. Cukup buatku dia mengecewakanku dahulu."


Aku balas menggenggam tangan Yoga. Cerita dari Yoga cukup menjawab pertanyaanku tentang sosok Irene.

__ADS_1


__ADS_2