Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 109 AKU TAK TAHU APA KATA HATIKU


__ADS_3

Setelah Yoga mengungkapkan perasaannya padaku, tak membuat dia berubah sikap padaku. Semua berjalan seperti biasanya.


Yoga masih mengajak aku becanda setiap kami bicara. Masih mengajak aku makan siang bareng.


Kadang juga mengantarkan aku pulang. Karena mas Angga sering tidak bisa menjemputku. Dengan alasan keluar kota.


Siang ini aku akan ke pengadilan agama. Kata mas Angga surat ceraiku sudah jadi, dan harus aku ambil sendiri.


Entah mengapa dia tidak punya niat mengajak aku mengambilnya. Atau surat cerainya belum selesai?


Aku sudah minta ijin sama mas Andi, kalau siang ini aku mau ke pengadilan agama. Mas Andi tak bisa mengantarku, karena dia ada urusan ke luar.


Aku sedang bersiap-siap pergi, saat Yoga masuk ke ruanganku.


"Mau kemana kamu? Jam kerja belum selesai. Jam istirahat juga belum mulai" tanya Yoga dengan nada becanda.


"Terserah akulah. Bos di sini kan kakaku. Weekk" sahutku sambil melangkah keluar.


"Eh, Wid. Aku serius. Kamu mau kemana?" Yoga mengejarku.


"Aku ada urusan di pengadilan agama" sahutku.


Yoga bengong mendengar jawabanku. Aku lupa kalau Yoga belum tau apa pun tentang statusku.


"Pengadilan agama?" tanya Yoga.


"Mm...iya. Aku mau ke sana. Duluan ya, Ga" pamitku, lalu kembali melangkahkan kakiku, menuruni tangga.


"Tunggu, Wid. Aku antar!" seru Yoga.


"Tidah usah. Aku bisa sendiri, Ga!" jawabku.


"Pokoknya aku antar. Tunggu sebentar. Aku ambil kunci motor dulu" sahut Angga lalu masuk ke ruangannya. Karena kami sudah ada di lantai dua.


Aku terpaksa menunggunya. Karena tidak enak juga kalau mesti berdebat dengannya di sini.


Yoga keluar dari ruangannya dengan memakai jaketnya.


"Ayo" ajak Yoga.


"Kerjaan kamu gimana, Ga?" tanyaku.


"Gampang. Ada Toni yang membereskan" jawab Yoga.


Yoga memang punya bawahan sendiri. Jadi dia bisa memerintah bawahannya yang bernama Toni buat membantunya.


"Kamu bawa helm dua, Ga?" tanyaku.


"Ya buat jaga-jaga kalau mesti jadi tukang ojek pribadi" sahut Yoga, yang aku sambut dengan toyoran ke bahunya.


Yoga mengantarkan aku ke pengadilan agama tanpa banyak pertanyaan. Di jalan kami hanya bicara seperlunya.


Hingga sampai di parkiran dan aku membuka helmku. Yoga mengikutiku hingga masuk ke dalam.

__ADS_1


"Maaf, Wid. Aku mau nanya. Ada urusan apa kamu di sini?" tanya Yoga.


"Aku...Aku mau ambil surat ceraiku?" jawabku.


Yoga bengong mendengar jawabanku. Karena memang aku tak pernah cerita apa pun soal ini padanya.


"Kamu...bercerai?" Aku mengangguk.


"Kenapa? Kaget?" tanyaku. Gantian Yoga yang mengangguk.


"Aku sudah pernah menikah, Ga. Aku juga sudah punya anak satu. Mungkin kamu pernah lihat anak kecil yang selalu digendong ibuku, itu anakku" jawabku.


Lalu aku ke bagian untuk pengambilan akta cerai. Sambil menunggu namaku dipanggil, aku dan Yoga duduk di kursi tunggu.


"Sejak kapan kamu menikah?" tanya Yoga.


"Belum ada dua tahun, Ga" jawabku.


"Oh. Maaf aku gak tau kalau kemarin-kemarin kamu masih berstatus istri orang, Wid" ucap Yoga.


"Tidak apa-apa, Ga. Aku yang minta maaf karena tidak memberitahukannya padamu" sahutku.


Setelah nomor antrianku dipanggil dan aku mengambil akta ceraiku, aku mengajak Yoga kembali ke kantor.


"Kita cari makan siang dulu saja, Wid. Sekalian keluarnya" ajak Yoga.


Aku setuju saja, karena aku juga sudah laper.


Kami masuk ke sebuah rumah makan. Yoga memilih rumah makan yang mempunyai saung-saung terpisah.


"Tanya apa?"


"Apa alasan kamu berpisah? Maaf ya." Yoga merasa tidak enak karena bertanya masalah yang sangat pribadi.


Aku menghela nafasku. Lalu aku menceritakan masalah rumah tanggaku dulu. Tanpa bermaksud menjelek-jelekan mantan suamiku.


"Dia masih menafkahi anakmu?" tanya Yoga.


"Kondisi ekonominya tidak memungkinkan untuk itu, Ga. Aku tidak menuntut apa-apa kok. Cukup lepaskan aku dan anakku saja" jawabku.


"Keenakan dia dong?" tanya Yoga.


"Ya mau bagaimana lagi, Ga. Dituntut pun kalau tidak punya uang, mau ngeluarin apa?"


"Setidaknya dia sadar kalau punya tanggung jawab" ucap Yoga yang seakan tak rela aku dan anakku ditelantarkan oleh mantan suamiku.


"Udah biarinlah, Ga" sahutku.


"Kalian tuh punya hak. Hak untuk dinafkahi. Kamu sebagai mantan istri juga punya hak dinafkahi sampai masa idahmu selesai" ucap Yoga lagi.


"Aku tidak mau mempermasalahkan itu, Ga. Aku hanya ingin hidup tenang. Walaupun sampai sekarang tidak juga tenang" sahutku keceplosan.


"Kenapa tidak tenang?" tanya Yoga.

__ADS_1


Aku jadi bingung sendiri menjawabnya. Salahku kenapa tadi aku asal bicara saja.


"Nanti lah, Ga. Suatu saat aku cerita" sahutku.


"Aku ingin mengetahuinya sekarang, Wid. Maaf, karena aku mencintaimu. Aku tak ingin membuatmu dalam masalah. Mungkin aku bisa membantumu" ujar Yoga.


"Jangan, Ga. Aku takut akan mempengaruhi pekerjaanmu" ucapku.


"Maksudnya?" tanya Yoga mengernyitkan dahi.


Akhirnya aku juga menceritakan soal kedekatanku dengan mas Angga, bos kami.


"Oh. Pantesan kemarin-kemarin dia sering menjemput kamu" ucap Yoga.


"Kami dulu sempat berpacaran, Ga. Sebelum akhirnya dia dipaksa menikah dengan istrinya yang sekarang."


"Wow. Ada juga ya lelaki di jaman sekarang mau saja dipaksa menikah" komentar Yoga.


"Setiap orang punya alasan sendiri dalam mengambil keputusan, Ga. Walaupun saat itu aku sangat hancur, aku tidak bisa menyalahkannya begitu saja."


"Karena kamu masih mencintainya. Meski kamu berusaha mencintai orang lain, tapi saat suami kamu tidak memberimu kenyamanan, kamu akan kembali mengejar cinta kamu." ucap Yoga.


Ucapan Yoga bisa jadi benar. Tapi apa aku masih mencintai mas Angga?


Sedang sekarang, mas Angga jarang menemuiku saja aku tak pernah merindukannya. Bahkan merasa senang. Seperti memiliki kebebasan lagi.


Tapi malah berbeda dengan saat aku bertemu Yoga. Rasanya setiap hari aku ingin selalu bertemu dan berbicara padanya.


Berbicara hal-hal yang sepele. Becanda yang tak berguna. Atau sekedar makan siang di emperan jalan.


"Entahlah, Ga. Aku tidak yakin apa aku masih mencintainya atau tidak." Aku menyeruput minumanku.


Yoga tertawa.


"Tanyakan pada hatimu, Wid. Jangan sampai kamu gagal lagi untuk kedua kali" ucap Yoga.


Gagal kedua kali? Jelas aku tidak mau.


"Aku harus bagaimana ya, Ga?" tanyaku dengan bodohnya.


"Aku sudah bilang. Tanyakan pada hati kamu dulu, Wid. Sebelum kamu melangkah lagi" jawab Yoga.


Bagaimana cara menanyakannya? Hatiku sepertinya sudah tertutupi kebaikan mas Angga.


Apalagi aku jadi merasa berhutang budi padanya. Aku semakin tak bisa menjauhinya.


"Lalu apa rencanamu setelah ini? Setelah kamu resmi menjanda?" tanya Yoga.


"Mas Angga mau menikahiku" jawabku pelan.


Yoga terdiam sejenak.


"Dan kamu mau?" tanya Yoga, matanya menatapku nanar. Wajahnya berubah sendu.

__ADS_1


"Aku belum menjawabnya, Ga. Mungkin aku akan menanyakan dulu pada hatiku" jawabku yang membuat Yoga kembali tersenyum.


__ADS_2