Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 119 SATU LAGI MANTAN YOGA


__ADS_3

Seminggu sebelum hari pernikahanku, aku disibukan dengan persiapan yang cukup menguras tenaga.


Meski acara akan diadakan secara sederhana, tapi tetap harus memikirkan konsumsi dan dokumentasi.


Ini adalah acara sekali seumur hidup, itu kata Yoga. Harus menjaga kesakralan dan pastinya harus diabadikan momennya.


Aku menghubungi seorang fotografer yang telah direkomendasikan oleh Yoga.


Hari ini Yoga tidak bisa mengantar karena kesibukannya di tempat usahanya.


Yoga sudah memberikan sebuah motor untukku berjalan ke sana ke mari.


Aku sampai di studio Toni, teman Yoga yang akan jadi fotografer nanti.


Seorang lelaki muda menyambutku di pintu masuk saat aku menekan bel.


"Selamat siang. Bisa ketemu dengan Toni?"


"Iya saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?" Lelaki muda itu ternyata yang bernama Toni.


Sebenarnya tidak terlalu muda juga sih. Cuma karena penampilannya yang nyentrik membuatnya terlihat lebih muda dari umur sebenarnya.


"Saya Widhi. Saya calon istrinya Yoga." Aku mengulurkan tangan.


Dia menyambut uluran tanganku dengan senyuman yang merekah dari bibir yang terlihat agak menghitam karena mungkin terlalu banyak merokok.


"Oh...Hay...Apa kabar. Mari silakan masuk. Yoga sudah banyak cerita tentang kamu."


Aku menatapnya heran. Apa yang Yoga ceritakan tentang aku? Ah, Yoga kenapa tak bilang-bilang dulu kalau ternyata Toni sudah tau tentang aku.


"Oh,ya? Apa yang Yoga ceritakan?" Aku masuk ke dalam studio itu mengikuti Toni.


"Banyak. Tapi sudahlah. Yang penting aku sudah ketemu dengan orangnya langsung" sahut Toni.


"Pasti jauh beda ya dengan yang diceritakan Yoga?"


Toni terkekeh. Lalu mengajakku duduk di sebuah kursi rotan yang bentuknya menyerupai keong.


"Jauh lebih cantik." Aku tersipu malu.


"Bisa saja, kamu."


"Eh beneran lho. Beda sekali dengan...." Toni tak melanjutkan kalimatnya.


Aku bisa menebaknya. Pasti yang dimaksud adalah Irene.


"Irene, ya?"


"Irene? Aku malah tidak kenal."


Waduh. Apa ada perempuan lain lagi selain Irene?


Aku pura-pura tak peduli, biar Toni bercerita dengan sendirinya.


Semenit. Dua menit. Tak ada pembicaraan lagi.


"Masa kamu tak mengenal Irene?" pancingku. Toni mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Rokok?" Toni menawariku.


"Aku tidak merokok" sahutku.


"Oh maaf. Kalau Lidya perokok berat."


Lidya? Siapa dia?


"Siapa Lidya?" tanyaku.


"Mantannya Yoga. Sepertinya."


"Sepertinya?" Aku menatap wajah Toni.


Belum sempat Toni menjawab pertanyaanku, datang seorang perempuan cantik. Lebih cantik dari Irene kalau menurutku.


"Hay, Toni. Oh, ada tamu. Hay...aku Lidya." Perempuan yang ternyata bernama Lidya itu mengulurkan tangannya.


Aku menyambutnya.


"Hay. Aku Widhi."


"Dia calon istrinya Yoga." Toni menjelaskan pada Lidya.


"Oh ya? Wah, senang sekali bisa ketemu langsung sama calon istrinya Yoga." Aku hanya tersenyum.


Lidya mengeluarkan rokok dari dalam tas kecilnya. Lalu menawariku seperti Toni tadi.


"Maaf, aku tidak merokok" tolakku dengan halus.


Toni membuka ponselnya yang berdering. Dia seperti menerima panggilan dari seorang perempuan.


"Aku keluar dulu sebentar ya. Lid, tolong temani Widhi sebentar. Aku ada urusan." Lalu Toni berpamitan dan minta maaf padaku karena akan meninggalkan aku.


"Lid, gue pinjem mobil lu sebentar. Susah ngeluarin mobil gue. Kehalang mobil elu."


Lalu Lidya memberikan kunci mobilnya pada Toni.


"Sudah lama pacaran sama Yoga?" tanya Lidya setelah Toni pergi.


Aku bingung menjawabnya. Karena aku dan Yoga nyaris tak berpacaran layaknya pasangan lain yang akan menikah.


"Kami sudah lama kenal." Hanya itu yang bisa aku jawab.


"Oh. Kalian tidak pacaran dulu?" tanya Lidya lagi.


Aku mengangguk saja, karena kenyataannya memang begitu.


"Pantes saja Yoga tak pernah ngenalin ke kita-kita. Tau-tau mau nikah."


"Udah tua. Gak perlu pakai pacaran kali ya?" sahutku sambil ketawa.


"Ya itu sih pilihan masing-masing. Yang lama pacaran saja belum tentu kejadian."


Dari kata-kata Lidya seolah menjelaskan bahwa mereka pernah berpacaran lama.


"Kata Toni, kamu mantan pacarnya Yoga?" Aku memberanikan diri bertanya.

__ADS_1


"Bisa iya, bisa tidak." jawab Lidya membuatku jadi bingung menafsirkannya.


"Kok gitu?"


"Tanyakan saja sama Yoga. Apa dia pernah merasa jadi pacarku atau tidak."


Lidya kembali menghembuskan asap rokoknya. Lalu meletakan rokoknya di asbak dan pamit ke toilet.


Ponsel Lidya berdering. Ponsel yang diletakannya di atas meja, membuat aku bisa membaca siapa pemanggilnya.


Di situ tertera nama my beib. Tapi aku tak asing dengan wajah di foto profile-nya.


Itu wajah Yoga. Sama persis dengan foto profile di nomor ponsel yang aku simpan.


Jantungku berdetak sangat cepat. Ingin rasanya aku mengangkatnya, tapi itu sangat tidak sopan. Meski yang menelponnya calon suamiku.


Lidya kembali ke kursinya. Lalu melihat ponselnya yang masih menyala meski panggilan dari Yoga telah berakhir.


Aku pura-pura tidak memperhatikan. Aku hanya bilang kalau tadi ponselnya berdering.


Lidya keluar menuju teras lalu terlihat menelpon seseorang. Sepertinya dia menelpon balik.


Untuk membuktikannya, aku juga menelpon Yoga. Dan benar saja. Telpon Yoga sedang berada di panggilan lain.


Aku menunduk menahan rasa kecewaku pada Yoga.


Apa itu yang tadi dimaksud oleh Toni, kalau Lidya sepertinya mantannya Yoga. Atau Lidya yang mengatakan bisa iya, bisa tidak.


Ah, aku pusing dengan teka teki ini. Mau bertanya langsung tidak enak. Tapi aku merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini.


Akhirnya aku mengambil tasku lalu beranjak dari kursiku. Mungkin dengan pergi dari tempat ini, akan membuatku lebih tenang.


"Lid, aku pamit pulang dulu ya. Tolong pamitkan juga sama Toni. Nanti biar Yoga yang mengurusnya lagi."


Aku sengaja mengeraskan suaraku, agar orang yang ada di seberang telpon mendengar.


"Oh iya, Wid. Nanti aku sampaikan ke Toni." Lidya kembali berbicara di ponselnya sambil menyesap rokoknya.


Lalu sepertinya sambungan telpon Lidya terputus. Dan berganti ponselku yang berdering.


Tanpa melihatnya, aku yakin itu panggilan dari Yoga. Aku sengaja tak mengangkatnya.


Lalu menstater motor dan berlalu meninggalkan studio foto Toni.


Getaran ponselku masih aku rasakan selama beberapa menit. Karena tasku yang kecil menempel di pinggangku.


Aku tetap mengabaikannya. Aku benci Yoga. Aku benci karena dia tak mau terus terang padaku soal Lidya.


Seandainya Yoga menceritakan soal Lidya sebelumnya, aku bisa menerima. Karena dia adalah masa lalunya. Seperti halnya Irene.


Tapi ini, aku malah mendengarnya dari orang lain. Bahkan dari Lidya sendiri. Bahkan aku melihat nama Yoga di ponsel Lidya dengan nama my beib.


Bahkan aku menyaksikan sendiri Yoga menelpon Lidya. Ada hubungan apa mereka? Atau mereka memang masih berhubungan?


Masih ada berapa perempuan lagi di luar sana yang sering di telpon Yoga? Masih berapa banyak lagi mantan-mantannya?


Entahlah. Aku menghapus bulir bening yang tiba-tiba keluar di sudut mataku.

__ADS_1


__ADS_2