Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 14


__ADS_3

Pagi yang cerah mengiringi hari ini, sinar mentari dengan hangat dan penuh kelembutan meresap dalam tubuh ana, ia begitu menikmati belaian hangat sang mentari sambil menemani ibu menyirami bunga-bunga di halaman rumah.


Sudah tak tampak lagi raut kesedihan di wajah Ana, meskipun masa depan masih tampak abu-abu baginya.


"Ayo mba, aku sudah siap." Lyra menghampiri Ana


"Hayuk.." Ana berbalik ke arah ibu mencium tangan ibu "Bu, kami pamit ke rumah sakit dulu ya mau cek up" ucap Ana.


"Jangan lupa habis cek up kakimu, periksa juga kandunganmu, ibu khawatir karena kemarin kamu sempat terjatuh" Ibu kembali mengingatkan ana agar ia memeriksakan kandungannya.


"Siap bu, Ooh ia bu tapi kayanya kita agak lama. soalnya aku mau cari handphone di mall, ibu makan siang duluan saja ya, kami mau makan di luar."


"Ya sudah, nanti ibu makan bareng sama para pegawai toko saja. List pertanyaan untuk dokter kandungan sudah kamu bawakan?" tanya ibu.


"Sudah bu nanti semua listnya pertanyaannya aku tanyakan ke dokter."


"Ana dan Lyra pergi dulu ya bu, Assalamualaikum"


"Walaikumsalam" Ibu berbalik ke arah lyra yang telah menyalakan mobilnya "Hati-hati Lyr bawa mobilnya".


"Siap bu, kita jalan dulu ya Assalamualaikum" sahut Lyra dari dalam mobilnya.


Di perjalanan ana melihat catatan list pertanyaan untuk dokter kandungan yang ibu buat. mulai dari usia kandungan, berat badan ideal hingga tanggal HPL (hari perkiraan lahir)


"Ibu benar-benar sangat perhatian padaku" gumam Ana.


Sesampainya di rumah sakit ana dan lyra menuju poli rawat jalan untuk mengecek dan melepas jahitan luka pada kaki ana. Tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka ana, semua prosesnya berjalan dengan mudah dan cepat.


Dokter pun telah memastikan bahwa luka pada kaki ana telah benar-benar sembuh, setelahnya ana dan lyra masuk ke poli kandungan.


Di poli kandungan dokter meminta ana untuk berbaring kemudian dokter mengoleskan gel di perut ana, dokter menggerakkan probe di atas perut ana yang telah di lapisi gel.


Lyra menatap monitor sambil tersenyum simpul, Lyra bahkan sangat takjub saat mendengar detak jantung janin dalam kandungan Ana, saking senangnya gadis itu sudah membayangkan jika sebentar lagi akan ada bayi mungil yang membuat rumahnya tidak terasa ramai.


Setelah semua pemeriksaan selesai ana dan lyra mengunjungi salah satu mall yang cukup besar, ana dan lyra manaiki eskalator menuju area konter handphone.

__ADS_1


Tak memakan waktu yang lama ana mendapat handphone yang ia cari, tak terasa sudah jam makan siang, ana mengajak lyra makan siang di salah satu resto yang terdapat di mall tersebut.


Di resto secara kebetulan lyra melihat temannya sedang makan siang bersama suaminya, lyra berlari meninggalkan ana, ia mendekati temannya dan langsung menyapanya.


"Retno, piye kabare?" sapa Lyra kepada Retno.


*Retno, apa kabar?


"Alhamdulillah, sampean piye?"


*alhamdulillah, kamu sendiri bagaimana?


Alhamdulillah baik juga. eh ia ret, kenalin kakakku namanya Mba Ana" lyra berbalik ke arah ana "ayo Mba Ana sini kenalin sahabatku"


Mata ana terbelalak, langkah kakinya berhenti sejenak, wajahnya pucat pasi melihat julio bersama dengan istrinya. Ana sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa lyra adalah sahabat dari istri julio.


"Mba yang tempo hari ke rumah saya itu kan? yang rumah neneknya sudah kami beli." Sapa retno kepada ana.


"Iii..ia" tubuh ana seperti membeku karena masih syok dengan apa yang terjadi, bertemu dengan julio lagi seperti mimpi buruk bagi ana.


Sebenarnya ana ingin menolak ajakan retno tapi lyra sudah menarik salah satu kursi dan duduk dengan santainya, akhirnya ana tidak punya pilihan untuk makan satu meja dengan julio.


Sesekali julio mencuri pandang ke arah ana, hal itu membuat ana semakin tidak nyaman.


"Kalian mau pesan apa?" Tanya retno.


"Sushi dan orange jus, mba mau apa?" Tanya lyra kepada ana.


"Samain aja sama kamu lyr." Jawab ana.


Retno mengangguk dan berjalan untuk memesan menu di depan.


Secara tiba-tiba lyra meminta izin kepada ana untuk pergi ke toilet.


"Aku ke toilet dulu ya mba."

__ADS_1


"Eh aku ikut lyr."


"Sebentar doang ko mba, tidak enak kalo retno dateng kita tidak ada." Lyra berlalu meninggalkan ana.


Setelah lyra pergi, kini tinggallah ana dengan julio di meja itu, saling bersebrangan dan hanya terpisah jarak dengan meja yang menjadi pembatas antara mereka berdua.


Ana nampak salah tingkah hanya berdua dengan julio, tangan ana mulai basah karena keringat dingin, dengan sedikit gemetar ana mengeluarkan kartu ATM dan sebuah cincin dari dalam dompetnya. ana menyerahkan kedua barang tersebut kepada julio.


"Kau tidak perlu mengembalikan ini, biarkan aku menafkahimu dan menafkahi anakku"


"I don't need! aku masih mampu menghidupi anakku sendiri"


ana berdiri hendak beranjak dari tempat duduknya namun julio menahannya, julio memegang erat pergelangan tangan ana.


"Aku akan menikahimu, An"


"No, I want" ana menghempaskan tangan julio dan pergi meninggalkan julio.


Lyra yang baru tiba di depan resto langsung di tarik oleh ana keluar dari mall.


"Ayo kita pulang lyr"


"Mba kenapa?" walaupun lyra merasa bingung dengan sikap ana namun lyra menuruti ana untuk pulang.


"Tidak ada apa-apa lyr aku hanya sedang tidak enak badan saja"


Sesampainya di rumah Ana langsung masuk ke dalam kamarnya, ia menangis sesegukan. Pasalnya bukan perkara yang mudah melihat orang di sayang dengan sepenuh hati ternyata milik orang lain.


Meskipun ana menyadari benar posisinya namun ada perasaan cemburu, iri hati, marah, sedih dan kecewa menjadi satu.


Susah payah ana mencoba melupakan Julio, tapi mengapa pria itu kembali hadir dalam kehidupannya.


"Bahagialah dengan rumah tanggamu, aku akan bahagia hanya dengan anakku hiiiks..." Ana memeluk perutnya.


" Apa hakku untuk memiliki perasaan itu? Tolong aku tuhan." gumam Ana dalam tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2