
Sesampainya di cafe, Ardan memilih tempat yang agak pojok. Agar mereka bisa ngobrol dengan leluasa. Dan duduk berhadapan.
"Vel, kamu sama rina itu saudara? Atau cuma teman?" Tanya Ardan. Sesaat setelah mereka selesai memesan minuman.
"Kita itu kenal dari SMA mas. Tapi gak satu sekolah. Aku kenal Rina dari temanku. Pas aku kerja, aku ketemu Rina lagi. Satu kerjaan sama aku. Siapa sangka kita jadi akrab banget. Sampai sekarang." Tutur Ravel menjelaskan.
"Aku fikir kalian adik kakak. Waktu aku ke rumah kalian, aku dengar kamu manggil orang tua Rina dengan panggilan mama papa." Kata Ardan
"Aku emang udah anggap mereka seperti orang tua sendiri sih mas. Karena mereka baik banget sama aku. Tadinya aku tinggal sama mereka. Tapi sekarang aku milih buat ngekos aja." Kata Ravel lagi.
"Oh begitu, pantas saja." Kata Ardan sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
"Vel, aku boleh ngomong sesuatu gak? Tapi aku harap kamu jangan marah." Tanya Ardan ragu.
"Ngomong aja mas. Kenapa aku harus marah?" Tanya Ravel.
__ADS_1
"Hemmm.. begini. Boleh gak kalau aku mengenal kamu lebih jauh lagi?" Tanya Ardan serius.
Ravel yang mendengar pertanyaan Ardan berusaha mencerna maksud dari perkataan Ardan barusan.
"Maksud mas apa ya kenal lebih jauh lagi?" Tanya Ravel heran.
"Gini, jujur aja waktu pertama kali ketemu kamu sama kalian, aku justru lebih tertarik sama kamu dari pada Rina." Jawab Ardan menjelaskan.
Pernyataan yang di lontarkan Ardan sukses membuat Ravel kaget dan membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Belum sempat Ravel merespon ucapan Ardan, waiters datang mengantarkan pesanan mereka.
"Maaf kalau aku tiba - tiba ngomong gini sama kamu. Tapi aku benar - benar serius dengan ucapan aku." Tutur Ardan meyakinkan.
"Tapi mas, kamu itu kan kenalannya Rina. Ya meskipun kalian cuma kenalan, tapi Rina bilang kalau dia tertarik sama kamu." Ujar Ravel. Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan bahwa Rina menyukai laki - laki yang duduk di depannya itu. Tapi dia terpaksa mengatakannya.
"Aku tau Rina suka sama aku. Aku tau dari cara dia ngubungin aku tiap hari. Ngasih perhatian. Tapi aku gak bisa, aku lebih tertarik sama kamu. Bahkan sebelum aku tau kalau kamu temannya rina." Kata Ardan yang membuat ravel mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?" Tanya Ravel tidak mengerti. Karena yang dia tau, dia belum pernah bertemu Ardan sebelum dia di kenalkan oleh Rina.
"Waktu kita janjian pertama kali di cafe hari itu, sebenarnya aku udah duluan sampai sebelum kalian. Tapi aku milih duduk di mobil dari pada duduk di cafe sendirian. Dan waktu itu aku liat kamu lagi parkir motor gak jauh dari tempat mobil aku parkir. Dari situ aku udah tertarik sama kamu. Tapi siapa sangka kalau kamu ternyata temannya Rina yang lagi janjian sama aku di cafe itu." Cerita Ardan panjang lebar.
"Tapi ini tetap aja salah. Aku gak bisa deket sama kamu mas. Karena Rina suka sama kamu. Meskipun kamu duluan ngeliat aku, tapi Rina lebih dulu kenal sama kamu." Ujar Ravel.
"Tapi Vel, gak ada salahnya kan kalau kita cuma dekat, Dan saling mengenal? Aku juga gak akan maksa kamu buat suka juga sama aku." Kata Ardan.
"Maaf mas, aku harus ke kampus sekarang. Aku gak mau nanti Rina ngeliat aku sama kamu di sini. Dan tolong jangan ikutin aku." Ucap Ravel tanpa memperdulikan ucapan Ardan dan kemudian berlalu meninggalkan Ardan.
Ardan hanya bisa diam tanpa berusaha mengerjar Ravel. Karena Ardan gak mau kalau sampai ravel membencinya jika dia terlalu memaksakan kehendaknya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Budayalan Like sesudah membaca ya ...
__ADS_1