Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Episode 25


__ADS_3

Rio memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, di perjalanan menuju cafe Rio menyempatkan diri untuk menghubungi adiknya.


Rio melarang Lyra maupun ibu keluar rumah untuk sementara waktu, urusan registrasi pendaftaran pernikahannya Rio limpahkan ke orang kepercayaan keluarganya, rio juga memberikan pengamanan untuk rumah ibunya dengan menaruh dua orang security.


Setibanya di cafe Rio meliahat Julio sudah menunggu kedatangannya, ia memperhatikan sekelilinganya terasa sangat sepi.


Sepertinya julio sudah menyewa tempat ini khusus untuk bertemu dengannya, keduanya saling bertatapan dingin, Rio duduk tanpa di suruh oleh Julio.


"Ada urusan apa kau mencariku?" tanya Rio tanpa berbasa-basi.


"Berani sekali kau melamar calon istriku, lau sembunyikan dimana calon istri dan anakku? Kembalikan padaku!!!"


Rio tersenyum sinis kepada Julio, ia menatap Julio dengan tatapan penuh dengan kebencian.


"Kau sungguh tidak tahu malu, masih bagus Retno tak jadi menceraikanmu"


"Aku seorang pria. Aku bisa menikahi 2 hingga 4 wanita sekaligus, terlebih anak yang di kandung ana adalah anakku dan kau tidak berhak atas anak itu."


Kata-kata yang di ucapkan oleh julio membuat amarah rio memuncak, dengan gelap mata dan tanpa pikir panjang rio meraih baju julio dan memberikannya pukulan.


BUUUUUUUKKKK


Julio terjatuh tersungkur, kemudian Julio mengelap darah yang keluar dari hidungnya.


"Selamanya Ana akan tetap menjadi milikku, aku masih selalu mengingat tiap inchi tubuh mulusnya serta aroma tubuhnya yang pernah aku nikmati."


Rio kembali menghantam Julio, Julio berusaha untuk bangkit dan membalas pukulan Rio.


Perkelahian pun tak dapat dihindarkan lagi, hingga para pelayan cafe datang untuk memisahkan mereka berdua, Rio dibawa keluar oleh para pelayan cafe.


"AKU AKAN MENGAMBIL MILIKKU KEMBALI" ucap Julio sambil tersenyum sinis.


Rio melangkah pergi meninggalkan julio, di dalam mobil rio memukul-mukul kemudi dengan sangat keras.


ARRRRRGGGGHHH...


"Sial, jika saja tidak ada pelayan disana sudah ku habisi si breng*ek itu"


Rio masih merasa sangat mendidih ubun-ubunya jika teringat kata-kata yang tadi julio ucapkan, rio melajukan mobilnya kembali menuju kediamannya.


Rio melangkah masuk ke dalam rumahnya, Ana yang mendengar suara langkah kaki Rio langsung menyambut kedatangan calon suaminya. Ana terkejut melihat Rio yang berantakan serta ada luka di tangan dan wajahnya, Rio menatap Ana tajam.


"Katakan apa kau mencintaiku? Apa kau akan benar-benar akan menjadi mikiku?" Rio memegang kedua bahu Ana dan mengguncang-guncangkan tubuhnya.


"KATAKAN KAU SUDAH TIDAK LAGI MENCINTAI SI BRENG*EK ITU." Rio menaikan nada bicara lebih kencang.


Tubuh ana gemetar ketakutan, Rio yang Ana kenal sangat lembut dan selalu memperlakukannya dengan baik seketika berubah.


"Sa...sayang kamu kenapa?" Ana berbicara dengan terbata-bata menahan ketakutan dan isakan tangisnya.


Rio yang melihat buliran bening jatuh dari mata Ana, perlahan tersadar dan mulai mengendalikan dirinya.


"Astagfirullah... Maafkan aku sayang, maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan amarahku. Maaf..." ucap Rio lirih, Rio memeluk Ana dan membelai rambut Ana dengan lembut.

__ADS_1


Ana menganggukan kepalanya, ia membalas pelukan Rio dengan hangat, kemudian Ana memapah rio masuk kedalam ruang keluarga.


"Sebentar ya" Ana mengambil kotak P3K untuk mengobati luka di wajah dan tangan Rio.


"Addduuuh sakit sayang, pelan-pelan" Rio meringis kesakitan saat Ana membersihkan lukanya dengan alkohol.


"Tahan sebentar lagi ya, ini jika tidak di bersih nanti infeksi sayang." dengan telaten Ana membersihkan dan mengobati luka Rio.


Setelah selesai mengobati luka Rio, Ana meminta Rio untuk membersihkan badannya, sedangkan Ana menyiapkan makan malam untuk Rio.


Entah mengapa setelah kejadian tadi Rio menjadi sangat manja kepada Ana, Rio meminta Ana untuk kembali menyuapinya. Ana sama sekali tidak merasa keberatan dengan permintaan calon suaminya, dengan penuh kelembutan Ana menyuapin Rio hingga selesai.


Selesai Rio makan Ana mengajak Rio mengobrol sambil menonton TV.


"Sayang, jangan berantem lagi ya?" Ana menyandarkan kepalannya di bahu Rio.


"Ya kalo si breng*ek itu tidak lagi mengganggumu dan keluargaku"


"Memangnya dia membuat masalah apa lagi?"


"Dia ingin merebutmu dariku" Rio berhenti sejenak kemudian Rio merangkum wajah Ana menatap wajahnya


"Kau akan menjadi istriku kan? kita akan menua bersamakan?"


"Iya sayang, aku ingin hidup bersamamu dan menua bersamamu."


Ana menghela nafas sejenak, kemudian meneruskan kembalinya kalimatnya.


"Maafin aku ya sayang, karena aku kamu jadi terkena masalah seperti ini."


Rio membaringkan kepalanya di pangkan Ana, ia mengelus lembut perut Ana dan berbicara pada perut janin yang berada dalam kandungan Ana.


Sayang, besok mama dan papa akan menengokmu. Keep healthy baby, we love you.


Rio mengecup perut Ana, kemudian menyanyikan lagu Twinkle Twinkle Little Star untuk anaknya.


Twinkle, twinkle, little star


How I wonder what you are


Up above the world so high


Like a diamond in the sky


Twinkle, twinkle little star


How I wonder what you are


When the blazing sun is gone


When he nothing shines upon


Then you show your little light

__ADS_1


Twinkle, twinkle, all the night


Twinkle, twinkle, little star


How I wonder what you are


Sumber: Musixmatch.


Semakin lama suara Rio semakin tak terdengar, rupanya Rio tertidur meringkuk di pangkuannya. Ana membelai wajah Rio menelusuri alis, hidung dan garis bibir Rio. terakhir ana mengecup kening Rio sambil berkata "Maafkan aku sayang".



Rio terbangun dari tidurnya ketika ia merasa ada yang bergerak-gerak di telapak tangannya, saat Rio membuka matanya ia tersadar bahwa semalam ia tidur di pangkuan Ana.


Rio meelihat tangannya yang sedang memegang perut Ana ada yang bergerak-gerak, Rio bangkit dari tidurnya dan membangunkan Ana.


"Sayang, babynya udah gerak-gerak" ucap Rio dengan gembira, sambil memegang perut Ana.


"Mmmmm.. hoaaaamp." Ana menguap.


"Maaf, kamu capek ya semaleman aku tidur di pangkuanmu? kenapa tidak membangunkan aku?


Ana menggelengkan kepalanya, ia tidak kebertan jika Rio tertidur di dekatnya.


"Tidak apa-apa kok sayang, ya sudah aku mau bikin sarapan dulu ya" Ana hendak beranjak dari tidurnya, namun Rio menahannya.


"Tidak usah sayang, hari ini kita makan sereal dan roti aja ya." Rio tidak ingin membuat Ana repot.


"Ya sudah, kalo begitu aku mau mandi dulu, hari ini jadi kan periksa kandungannya?" tanya Ana.


"Jadi dong, aku sudah tidak sabar melihat babyku" ucap rio dengan penuh semangat.


Ana melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap bertemu dengan dokter kandungan.


Seperti biasanya setiap pagi Rio selalu mengecek pekerjaannya terlebih jika ia sedang mengambil cuti, sehingga ia akan membriefing timnya via zoom.


Sepertinya menyuapi Rio saat makan akan menjadi tugas barunya, karena Rio selalu pura-pura sibuk agar Ana mau menyuapinya.


Selesai sarapan mereka berangkat mengunjungi dokter kandungan di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, di sepanjang koridor rumah sakit Rio merangkul bahu Ana dengan mesra, sambil sesekali mengelus perut Ana.


Begitu suster memanggil nama Ana, Ana dan rio masuk ke poli obygin. Ana mengeluarkan buku kesehatan ibu dan anak dari dalam tasnya kemudian memberikan buku tersebut kepada dokter, dengan teliti dokter mengecek hasil pemeriksaan sebelumnya.


Setelah memastikan pemeriksaan sebelumnya kondisi kandungan Ana baik-baik saja barulah dokter mulai melakukan pemeriksaan, di mulai dari mengukur tekanan darah ana, lalu menimbang berat badan Ana.


Kemudian dokter menyuruh Ana untuk berbaring, dengan sigap rio membantu ana untuk berbaring.


Saat dokter mengolesan gel ke perut ana, rio dengan seksama memperhatikan layar monitor yang ada di sampingnya.


Rio tampak antusias bertanya beberapa hal seputar kehamilan termasuk peranan menjadi calon ayah yang siaga dan referensi buku-buku seputar kehamilan.


Senyum merekah terpancar saat rio mendengar detak jantung janin, matanya mulai berkaca-kaca tak bisa menahan haru bahagianya.


Begitu keluar dari poli obygin rio tak mengandeng tangan ana dan sesekali ia mengelus perut ana.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan kemesraan mereka dengan tatapan tidak suka.


__ADS_2