
Pagi ini mas Angga datang bersama seorang perempuan. Aku mempersilakan mereka masuk dan duduk.
"Kenalkan, ini Tari. Dia yang akan menjaga Ibu dan Berlian selama kamu dan yang lainnya bekerja. Tari, ini Widhi. Mamanya Berlian." Mas Angga memperkenalkan kami.
Rupanya dia serius menanggapi ancaman mas Agung, suamiku. Padahal aku yakin kalau mas Agung tidak akan senekat itu. Apalagi yang menunggui Berlian ibuku. Dia sangat hormat pada ibuku.
Bapak dan ibu yang sedang menggendong Berlian keluar mendengar ada tamu yang datang.
"Bapak, Ibu. Ini Tari yang akan menjaga ibu dan Berlian. Tari akan datang pagi dan pulang sore saat semua orang di rumah ini sudah pulang kerja." Mas Angga menjelaskan pada bapak dan ibuku.
Tari bangkit dari duduknya, dan memberi salam pada kedua orang tuaku.
"Ayo sarapan dulu. Kebetulan ibu masak nasi uduk banyak tadi pagi" ajak ibu kepada kami semua.
"Eh, tapi kursi makan kami cuma ada empat. Kita makan di sini saja" ucap ibu. Lalu menyerahkan Berlian pada bapak, yang malah di ambil sama mas Angga.
"Biar saya saja yang menggendong Berlian, Pak" ucap mas Angga.
Lalu aku dan Tari membantu ibu menyiapkan sarapan di ruang tamu. Walaupun ruang tamu rumah kami juga tidak besar, tapi masih bisa menampung kami semua.
Setelah semua siap, ibu mengambil alih Berlian lagi. Biar mas Angga bisa makan.
Mas Andi keluar dari kamarnya dan langsung bergabung untuk sarapan.
"Hay, Tari" sapa mas Andi. Rupanya mas Andi sudah mengenal Tari.
"Eh, bang Andi. Kok abang ada di sini?" tanya Tari.
"Mas Andi ini kakaknya Widhi" sahut mas Angga. Tari mengangguk dan ber-oh ria.
Karena piring yang kosong ada di depan Tari duduk, Tari pun mengambilkan piring untuk mas Andi. Dan sekalian mengisinya dengan nasi uduk.
Aku memperhatikan interaksi mereka. Memperhatikan bagaimana Tari meladeni makan buat mas Andi.
Dia dengan telaten mengambilkan lauknya juga. Dan mas Andi menerima piringnya dengan senyum-senyum.
"Eh hmm.." Aku berusaha meledek mas Andi.
Ibu yang duduk di sebelahku, menyenggol lenganku.
"Biarin. Jangan diledekin. Kasihan kan kakakmu jomblo terus" bisik ibu yang sedang memangku Berlian.
__ADS_1
Aku yang kepingin tertawa mendengar bisikan ibu, pura-pura mengajak becanda Berlian. Agar aku bisa melepaskan tawaku.
"Wah, Berlian udah kayak anak pejabat ya. Punya bodyguard pribadi" ucapku pada anakku yang baru berusia tiga bulan.
Jelas saja Berlian tak bisa mengerti apalagi menjawabnya. Hanya aku saja yang lagi mengalihkan hasrat ingin ketawaku.
Aku pun tertawa sendiri. Di sambut toyoran di kepalaku oleh mas Andi.
"Ih, apaan sih! Jadi berantakan kan rambutku!" Aku memonyingkan bibirku pada mas Andi yang paling suka mengisengiku.
"Berantakan? Mana? Nih baru berantakan!" Mas Andi yang sangat menyebalkan kalau lagi keluar isengnya, benar-benar mengacak rambutku.
Lalu dia berpindah duduk mendekati mas Angga.
"Bu! Itu lho, mas Andi nakal" aku merajuk pada ibuku.
Sambil merapikan lagi rambutku.
"Kalian ini sudah besar masih saja kayak anak-anak. Sudah pada makan, entar kesiangan!" sahut ibu.
Lalu ibu membawa Berlian keluar, karena Berlian mulai gelisah berada di ruangan kecil dengan banyak orang.
Mas Angga yang sudah selesai makan, beranjak berdiri lalu menyusul ibu ke depan. Bapak juga menaruh piringnya di dalam.
Aku buru-buru menghabiskan makananku. Karena aku juga ingin meninggalkan mereka berdua.
Tari sekilas terlihat baik. Entah bagaimana sifat aslinya, karena aku belum mengenalnya. Yang aku tau, dia sangat sopan pada kami tadi.
Wajahnya juga lumayan cantik. Badannya tegap dengan tinggi dan berat badan proporsional layaknya seorang bodyguard.
Boleh juga kalau bisa jadian dengan kakakku. Pikirku. Kasihan juga kakakku terlalu lama memegang predikat jomblo.
Selesai dengan makanku, aku bergegas membawa masuk piring bekas makanku dan juga piring bekas makan mas Angga.
Saat mengambil piring bekasnya mas Angga, aku melewati mas Andi. Dengan sengaja aku menyenggolnya sambil menaik turunkan alisku.
Mas Andi menoyor kepalaku lagi. Tapi kali ini aku tidak marah. Malah tertawa terbahak-bahak.
Setelah menaruh piring di dapur, aku masuk ke kamarku. Menyiapkan tas dan memakai sepatu. Lalu keluar dan langsung ke teras rumah.
Aku melirik smirk saat melewati mas Andi yang asik bercengkrama dengan Tari.
__ADS_1
Aku lihat sepintas, makanan mereka masih banyak. Karena terlalu asik ngobrol jadi lupa pada makanannya.
"Ayo mas, kita berangkat. Pak Tedi kemarin minta aku siapkan berkas yang buat leasing, pagi-pagi" ucapku pada mas Angga.
Mas Angga segera berpamitan pada ibu juga Berlian.
"Kita berangkat dulu, bu. Kalau ada apa-apa, minta tolong saja sama Tari. Jangan sungkan menyuruh Tari membantu ibu. Dia sudah saya bayar untuk itu" ucap mas Angga.
"Iya. Terima kasih banyak, Ga. Kami malah merepotkanmu terus" ucap ibu.
"Tidak ada yang direpotkan, bu" sahut mas Angga.
"Pamitkan kami pada bapak ya, bu. Dadaah Berlian." Lalu mas Angga mencium Berlian yang sedang digendong oleh ibu.
"Berangkat dulu, Bu." Aku mencium tangan ibu dan mencium kening Berlian.
"Woy, makan! Ngobrol mulu. Entar telat, dipotong gaji lho!" teriakku sambil melonngokan kepalaku ke ruang tamu.
Lalu aku segera berlari kecil menuju mobil mas Angga, sambil tertawa.
"Sudah ah. Becanda mulu kayak anak kecil" ucap mas Angga, lalu membukakan pintu mobil untukku.
"Biarin aja. Orang iseng ya diisengin lagi aja" sahutku, lalu aku naik ke mobil mas Angga.
"Mas Andi sudah lama kenal dengan Tari?" tanyaku, setelah mas Angga melajukan mobilnya.
"Entahlah. Yang aku tau, saat mas Andi bergabung denganku, mereka sudah saling mengenal" jawab mas Angga.
"Tari ditempatkan di kantor cabang juga?" tanyaku lagi.
"Iya. Dia kepala security. Dulu dia di kantor pusat. Tapi karena di kantor cabang kekurangan orang, jadi Tari aku tarik ke sana" jawab mas Angga lagi.
"Hebat ya, perempuan bisa jadi kepala security?" ucapku.
"Iya. Dia bersertifikat. Orangnya sangat disiplin dan setia pada pekerjaannya. Sudah lama juga dia ikut aku. Boleh dibilang, dia orang kepercayaanku" ujar mas Angga.
Aku mengangguk-anggukan kepalaku. Yang hebat bukan hanya Tari, tapi juga mas Angga yang bisa menggaji orang sehebat Tari.
"Kayaknya mereka lumayan dekat?" tanyaku, mencoba mengorek keterangan tentang kakakku.
"Aku gak paham soal itu. Karena mereka kalau di kantor, sama-sama profesional" jawab mas Angga.
__ADS_1
Jawaban mas Angga seakan menohokku. Karena aku merasa tidak profesional dalam bekerja.
Aku selalu membawa masalah pribadi ke kantor. Aku tak bisa membedakan mana urusan pribadi, mana urusan pekerjaan. Baperan.