
Sudah beberapa hari ini Ana tidak saling berkomunikasi dengan kekasihnya, ada rasa rindu yang teramat dalam yang ia rasakan. Saat sarapan pagi Ana berniat meminjam handphone papanya untuk menghubungi Rio.
"Pa, aku boleh pinjam handphone papa tidak? aku belum mengganti kartu providerku." pinta Ana.
"Boleh sayang, kamu mau menghubungi siapa?" tanya Pak Reino.
"Kak Rio, aku rindu sekali padanya. Pasti di sana ia juga mengkhawatirkan aku karena tidak bisa menghubungiku."
"Nak, Papa boleh bicara serius padamu?"
"Boleh. ada apa Pah?"
Pak Reino menghembuskan nafas beratnya sesat, kemudian ia memulai obrolannya dengan putri bungsunya.
"Nak, apa kamu tau alasan Rio resign dari kantornya?" tanya Pak Reino.
"Karena Kak Rio ingin fokus mengembangkan bisnisnya" jawab Ana.
Pak Reino tersenyum simpul, ia tidak menyangka putrinya sangat polos mempercayai alasan yang Rio berikan kepadanya.
"Nak, rio resign dari pekerjaannya bukan semata-mata ia ingin mengembangkan bisnisnya, tapi ia ingin bisa selalu berada di sampingmu dan menjagamu. Jika saja sejak awal papa tau ia akan resign, tentu papa akan melarangnya. Saat ini rio sedang mengembangkan usahanya, tegakah kamu untuk mengganggu usahanya?"
"Tapi pah, aku sama sekali tidak berniat mengganggu usahanya, aku justru sangat mensuportnya"
"Nak, papa ini sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia bisnis, di dalam dunia bisnis untuk bisa bertahan di butuhkan konsistensi dan fokus. Jika Rio terus-terusan mengkhawatirkamu dan terus-menerus ikut serta dalam menjagamu hal itu akan mengganggu konsentrasinya dalam mengembangkan bisnisnya."
Pak reino menggenggam tangan Ana dan menatap matanya dalam-dalam.
"Nak, izinkan papa dan kakakmu yang menjagamu sampai kamu pulih kembali, dan sampai kamu meraih gelar S2mu. Biarkan Rio fokus mengembangkan bisnisnya di Indonesia, dengan ilmu yang kamu dapatkan di sini nanti kamu bisa membantunya."
Ana berfikir sejenak, otaknya mulai mencerna apa yang papanya bicarakan. Memang ada benarnya apa yang di bicarakan oleh papa, selama ini dirinya selalu merepotkan Rio dan keluarganya.
Bahkan Rio sampai keluar dari pekerjaannya hanya karena ingin menjaganya, Ana tahu betul untuk dapat masuk ke PT.Asri Group bukan hal yang mudah, hanya orang-orang yang memiliki IPK di atas 3.50 saja yang bisa masuk ke perusahaan itu.
__ADS_1
Ana tidak mau mengacaukan bisnisnya kekasihnya hanya karena Rio sibuk mengurusi dirinya, Ana ingin menjadi pasangan yang berguna untuk Rio.
"Tapi pa, aku tidak ingin membuat Kak Rio berfikir jika aku meninggalkannya."
Pak reino meninggalkan Ana sejenak untuk mengambil laptop di kamarnya, tak lama kemudian Pak Reino datang dan membuka laptopnya, ia membuka file yang berisi rekaman CCTV yang terpasang di rumahnya.
"Lihatlah sayang, kakakmu sudah menjelaskan semuanya kepada Rio dan Rio bisa menerimanya."
"Pa, apa Papa dan Kak Risti merestui hubungan kami?
"Tentu saja sayang. Rio pria yang sangat baik, bertanggung jawab dan sangat sayang terhadapmu dengan tulus. Ia juga memiliki keluarga yang sangat baik, papa tidak punya alasan untuk tak merestui kalian, hanya saja papa tidak mau anak papa menjadi beban untuk orang lain."
Pak Reino memeluk hangat putrinya, serta membelai lembut rambut putrinya. sudah lama rasanya Pak Reino tidak merasakan kehangatan mendekap erat putri bungsunya.
"Terima kasih atas kebijakan hatimu, Nak Rio" gumam Pak Reino di dalam hatinya.
"Nak, belajar lah dengan sungguh-sungguh semakin cepat kau menyelesaikan studymu, semakin cepat juga kita kembali ke Indonesia. Anggaplah ini sebagai peroses kalian untuk saling memantaskan diri."
"Berarti dia bukan jodohmu"
"Papa, kok ngomongnya begitu? Papah jahat!!!!"
"Mengapa putri papa tidak mempercayai tunangannya sendiri? Sementara papah saja sangat mempercayai Rio. Tapi tenanglah, papa menyuruh orang untuk mengawasinya, jadi kamu bisa tau aktivitas yang Rio kerjakan di sana."
"Bukan begitu Pa, terkadang aku suka merasa insecure."
"Jangan berfikir yang macam-macam"
Pak reino mengambil handphone di sakunya, kemudian membuka galeri handphonenya.
"Lihatlah, sekarang Rio jadi punya waktu untuk mengajak ibu dan adiknya berlibur." Pak reino menyerahkan handphonenya ke Ana.
Satu persatu ana melihat foto-foto Rio di handphone papanya, Ana tersenyum senang melihat semua foto-foto Rio.
__ADS_1
Meskipun ia sangat merindukan kekasihnya, namun ia bahagia melihat Rio bisa membahagiakan keluarganya.
Ana berjanji pada dirinya sendiri untuk semangat dalam terapi agar ia bisa secepatnya berjalan dan segera menyelesaikan program S2nya.
"Kita ke rumah sakit yuk, hari ini jadwalmu terapi dan kontrol ke dokter."
Ana mengangguk, ia masih melihat foto-foto rio di handphone papanya. Pak Reino mendorong kursi roda Ana menuju basement apartementnya.
Asklepios Klinik Barmbek rumah sakit yang dipilih oleh Pak Reino sebagai tempat pengobatan untuk putri bungsunya, Asklepios Klinik Barmbek merupakan rumah sakit swasta terbesar di Eropa.
Rumah sakit ini memiliki lebih dari 100 fasilitas dan teknologi medis yang belum dimiliki oleh rumah sakit lainnya di dunia.
Dengan kecanggihan teknologi medisnya membuat pengobatan Ana berjalan dengan baik, dalam kurun waktu seminggu kaki Ana sudah bisa di gerakan, Ana sudah bisa melangkah mesti hanya baru beberapa meter saja.
Dokter yang menangani Ana optimis jika kurang dari satu bulan Ana sudah bisa berjalan dengan normal lagi.
Sepulang dari rumah sakit Pak Reino mengajak Ana untuk berbelanja kebutuhan persiapan kuliahnya, sebenarnya Pak Reino bisa saja menyuruh asistennya untuk membelikan semua keperluan putrinya, namun Pak Reino ingin sekalian berjalan-jalan bersama dengan putri bungsunya.
"Nak, kamu tidak apa-apa kan jika nanti saat kuliah, untuk sementara memakai kruk?" tanya Pak Reino.
"Tidak apa-apa kok pa, kan cuma sementara saja. Toh lagi pula juga Ana masih rutin kontrol ke rumah sakit."
"Nanti kamu akan di temani oleh Gita, ia akan mendampingimu dan membantumu."
Ana hanya menganggukan kepalanya, ia nampak menikmati suasana kota yang tidak ada kemacetan.
"Pa, kapan Kak Risti dan anak-anaknya datang? aku rindu dengan kedua keponakan jahilku."
"Kakakmu masih dalam perjalanan mungkin besok pagi sudah sampai sini. Mereka akan tinggal di lantai lima masih satu apartemen dengan kita. Papa tidak mau kamu kesepian makanya papa menyuruh mereka untuk tinggal tidak jauh dari kita."
"Tempat baru, harapan baru. Semoga segala proses ini di berikan kemudahan dan menjadikan aku dan Kak Rio sama-sama menjadi manusia yang lebih baik" gumam Ana dalam hati
__ADS_1