
Pagi itu seperti biasanya Damar akan pergi ke kantor, dan Ayu akan mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. "Pulang dari sekolah nanti aku mau jenguk papa mas. Kata mama, papa udah pulang kerumah. Dan mungkin aku akan disana sampai jam pulang anak-anak, boleh kan?." Tanya Ayu.
"Tentu saja boleh sayang."Jawab Damar. Mereka lalu pergi ke tempat tujuan masing-masing.
Seperti yang dikatakanya pada Damar, sepulang Ayu dari sekolah anak-anaknya, dia menjenguk pak Darwis yang baru pulang dari rumah sakit. Kondisinya terlihat sudah lebih baik. Ayu berfikir mungkin saja pak Darwis masuk rumah sakit karena dia tahu masalah yang terjadi pada perusahaan. Ayu ingin menanyakannya, tapi tidak ia lakukan.
Jam setengah sebelas, Ayu pamit pada ibu dan bapak mertuanya."Kenapa buru-buru sayang?. Jam pulang anak-anak kan masih lama."Kata bu Sekar.
"Itu bu, saya mau ke super market sebentar, belanja bahan-bahan untuk kue." Sahut Ayu.
"Oh ya sudah, kalau gitu hati-hati. Besok-besok bawa cucu-cucu mama ya. Mama udah kangen banget sama mereka."
"Iya mah. Saya pamit mah, pah. Assalamualikum."
"Wa alaikum salam.
Ayu memarkirkan mobilnya di basement sebuah pusat perbelanjaan. Dia masuk ke sana, tapi tidak berbelanja, melainkan memesan taksi online, dan keluar melalui pintu lain. Dia lalu menaiki taksi online itu menuju suatu tempat.
Ayu sengaja melakukan ini, agar anak buah Damar tidak tahu, kalau dia pergi, dan mereka menyangka dirinya sedang berbelanja. Dia tidak mau Damar tahu kemana dia pergi. Maafkan aku mas, aku terpaksa melakukan ini, karena kamu tidak mau jujur padaku. Kata Ayu dalam hati.
Singkat cerita, dia sampai di tempat tujuanya yaitu kantor Tristan.
"Ibu mau bertemu pak Tristan?." Tanya seorang resepsionis saat Ayu menanyakan ruangan Tristan.
"Iya." Jawab Ayu.
" Apa anda sudah buat janji?."
"Emm.....belum. Tapi ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan pak Tristan. Saya mohon mbak. Ini sangat penting. Saya yakin pak Tristan juga akan menerima kedatangan saya, karena ini menyangkut masa depan perusahaanya." Bohong Ayu.
"Benarkah?."
"Benar mbak."
"Baiklah. Tunggu sebentar saya hubungi sekretarisnya." Kata resepsionis itu, lalu menghubungi sekretaris Tristan.
Setelah hampir dua puluh menit menunggu, akhirnya resepsionis itu mempersilahkan Ayu naik ke lantai 20, dimana ruangan Tristan berada.
"Terima kasih." Kata Ayu, lalu pergi dan masuk kedalam lift. Ayu tidak menyangka ternyata Tristan mau menemuinya, karena dia tahu Tristan adalah orang yang sangat sibuk. Ayu juga tidak tahu, kalau saat ini Tristan sangat bahagia dan tidak menyangka Ayu datang ke kantor untuk menemuinya.
__ADS_1
Kenapa dia datang dan ingin menemuiku?. Apa mungkin Damar......ahh tapi kalau iya, kenapa Damar tidak memberitahuku?. Batin Tristan yang menyangka kedatangan Ayu karena penawaran itu. Dia berfikir mungkin saja Damar menyetujui tawaranya, walau dia tidak yakin.
Tok ...tok...tok...." Masuk." Sahut Tristan.
Pintu ruangan terbuka, sekretaris Tristan mempersilahkan Ayu masuk, dan dia langsung keluar dan menutup pintu.
Lihatlah, semakin hari kamu semakin cantik dan juga sangat menarik, Ayu. Tristan bergumam dalam hati.
Tristan melemparkan senyum yang lain dari biasanya, membuat Ayu merasa sedikit aneh melihat senyum itu, tapi dia tetap membalasnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Selamat siang pak Tristan!! Maaf, kalau saya sudah mengganggu waktu anda." Ujar Ayu.
"Selamat siang bu Ayu!! Tidak!! Anda sama sekali tidak mengganggu. Justru saya sangat senang, dengan kedatangan bu Ayu ke kantor saya. Oh ya maaf !! Saya sampai lupa. Mari, silahkan duduk."
"Terima kasih."
"Apa yang bisa saya bantu bu Ayu?." Tanya Tristan. Ayu menghela nafas, sebelum akhirnya menanyakan apa yang ingin diketahuinya. "Apa benar suami saya berhutang pada anda?."Tanyanya to the poin.
"Anda tahu darimana?. Apa pak Damar yang mengatakanya?."Tristan balik bertanya.
"Tidak penting saya tahu darimana. Saya hanya ingin jawaban anda, iya atau tidak?."Sahut Ayu.
" Tidak mungkin. Anda jangan melebih-lebihkan." Ujar Ayu tak percaya dengan apa yang didengarnya
"Saya tidak melebih-lebihkan bu Ayu, karena semua itu benar. Bahkan suami anda sendiri yang sudah menjaminkan perusahaanya, jika seandainya dia tidak sanggup membayar semua hutang-hutangnya sampai batas waktu yang ditentukan." Jawab Tristan.
"Lalu apa maksud anda menanyakan penawaran yang anda berikan pada suami saya?. Penawaran apa?." Tanya Ayu, Tristan menyeringai.
"Oh jadi anda sudah mengetahui tentang ini?. Apa pak Damar yang memberitahu anda, bu Ayu?."
"Tidak. Dia tidak mengatakan apa-apa. Oleh karena itu saya datang kemari, karena saya ingin tahu penawaran apa yang anda berikan pada suami saya. Saya mohon, pak Tristan mau mengatakanya pada saya."
"Apa anda yakin mau mengetahuinya bu Ayu?."
"Iya." Jawab Ayu cepat.
"Baiklah kalau begitu. Saya memberi pak Damar pilihan lain yang bisa menguntungkanya. Dia tidak perlu membayar hutangnya, atau kehilangan perusahaanya. Dia hanya cukup melakukan sesuatu."Jawab Tristan.
"Melakukan apa?." Tanya Ayu semakin penasaran.
__ADS_1
"Anda." Jawab Tristan dengan senyum smirknya.
"Maksud pak Tristan?." Tanya Ayu tak mengerti.
"Suami anda tidak akan kehilangan perusahaanya, asal dia mau menyerahkan anda pada saya." Jawab Tristan, membuat Ayu tersentak. Dia mencoba mencerna ucapan Tristan barusan.
"Apa maksud anda?." Tanya Ayu dengan nada yang mulai meninggi.
Tristan menyeringai." Asal anda tahu bu Ayu, saya sudah lama menginginkan anda."
"Apaaaa??. Jangan gilaaa!! Apa anda sadar dengan apa yang anda ucapkan barusan pak Tristan?." Tanya Ayu.
"Tentu saja. Saya sepenuhnya sadar bu Ayu. Saya sangat menyukai dan tergila-gila pada pesona anda. Jadilah kekasihku, satu malam saja. Aku akan membebaskan suami kamu dari hutang-hutangnya."
"Anda benar-benar sudah gila. Apa anda sadar pak Tristan, kalau anda berbicara pada seorang perempuan yang sudah bersuami?."
"Hahaha....tentu saja aku tahu itu. Lalu kenapa kalau kamu sudah bersuami heh?. Diluar sana banyak sekali wanita-wanita bersuami yang memiliki kekasih. Jadi apa salahnya kalau kamu jadi kekasihku, satu malam saja. Atau lebih dari satu malam pun aku tidak keberatan. Justru aku akan sangat senang. Kamu bisa jadi kekasihku, juga istri Damar sekaligus."Ujar Tristan.
Plaakkk.... Ayu yang emosi dan merasa terhina menampar Tristan cukup keras, membuat Tristan terkejut. Dia memegang pipinya yang terasa perih lalu kemudian tersenyum kepada Ayu.
"Jangan pernah sekalipun berfikir atau menyamakan saya dengan perempuan-perempuan yang anda katakan itu. Saya tidak akan pernah merendahkan diri apalagi kepada lelaki seperti anda.
Anda jangan berfikir untuk merendahkan saya hanya karena uang. Anda jangan khawatir, kami pasti akan membayar hutang kami."Sergah Ayu lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.
" Aku pastikan, kalian tidak akan bisa membayarnya." Kata Tristan, membuat langkah Ayu terhenti.
"Kita lihat saja." Sahut Ayu, tanpa menoleh.
"Hahaha....percuma saja bu Ayu, kalian tidak punya pilihan lain. Apapun usaha yang kalian lakukan untuk membayar hutang kalian, aku bersumpah semua itu tidak akan berhasil.
Waktu kalian cuma tinggal dua hari lagi, dan aku yakin suamimu itu akan segera menyerahkan kamu kepadaku." Ujar Tristan
"Tutup mulut anda, mas Damar tidak mungkin melakukan itu."
"Kenapa anda sangat yakin bu Ayu?. Apa anda tidak sadar kalau semua yang terjadi ini gara-gara anda?."
"Berani sekali anda menyalahkan saya."
"Itu memang benar. Semua yang terjadi pada pak Damar, itu semua gara-gara anda. Karena kecantikan dan pesona anda yang sudah membuat saya tergila-gila dan nekat melakukan semua ini."
__ADS_1