Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 122 YOGA SUDAH SADAR


__ADS_3

Kami sampai di depan rumah sakit yang diberitahukan lewat telpon.


Mas Andi berjalan duluan ke bagian informasi. Mencari tahu di mana Yoga dirawat.


"Selamat malam Suster. Saya mau tanya tentang pasien korban tabrak lari tadi pagi. Menurut informasi dia dibawa ke rumah sakit ini" tanya mas Andi pada suster yang berjaga.


"Atas nama siapa ya, Pak?"


"Yoga Pratama" jawabku tak sabar.


"Kalian keluarganya?" tanya suster itu lagi.


Kami mengangguk serempak. Lalu suster itu melihat daftar rawat pasien.


"Iya pak. Di sini ada pasien bernama Yoga Pratama. Dia masih di ruang ICU. Nanti bapak bisa menghubungi petugas yang ada di sana untuk informasi selanjutnya" jelas suster itu.


"Ruang ICU sebelah mana ya, Sus?" tanyaku yang makin tidak sabar.


Lalu suster itu menunjukan jalan menuju ruangan itu. Tanpa menunggu yang lainnya, aku setengah berlari menuju ke sana.


Tari dan mas Andi segera menyusulku. Tari menarik tanganku agar tidak berlari lebih cepat lagi.


Hebat sekali Tari itu, dalam kondisi yang seperti ini pun dia masih bisa tenang. Berbeda dengan aku yang selalu panik kalau ada sesuatu.


Kami sampai di depan ruang ICU. Mas Andi bertanya pada petugas yang berjaga di sana.


Kami diantarkan oleh petugas itu ke depan ruangan Yoga. Aku melihatnya dari balik jendela kaca.


Kondisinya terlihat biasa saja. Tak banyak luka yang serius. Tapi Yoga masih belum sadarkan diri.


"Pak, boleh saya masuk?" tanyaku pada petugas itu.


"Maaf, Bu. Pasien belum boleh di kunjungi dulu. Kecuali ibu lapor pada Dokter yang menanganinya. Atau menunggu sampai pasien dipindahkan ke ruang rawat inap."


Aku kecewa dengan jawaban petugas itu. Air mataku sampai hampir keluar. Bagaimana tidak, orang yang akan menikahiku beberapa hari lagi sedang terkapar tak berdaya.


"Kapan kami bisa bertemu dengan dokter yang menanganinya?" tanya mas Andi.


"Kemungkinan besok pagi dokter akan memeriksa kondisinya lagi, Pak. Pasca operasi tadi pagi memang kondisi pasien drop."


Mataku melotot mendengarnya. Jadi Yoga di operasi? Bukankah kondisinya terlihat baik-baik saja? Tak terlihat luka yang serius?


Lalu petugas itu menjelaskan kalau Yoga harus di operasi karena kondisinya kritis. Petugas itu juga tidak tahu detailnya karena bukan dia yang berjaga saat Yoga masuk.

__ADS_1


"Lalu kami sekarang harus bagaimana?" tanya mas Andi pada petugas itu.


"Kalian pulang saja dulu. Besok temui dokter Rudi yang menangani pasien. Usahakan pagi. Karena kalau siang dokter akan praktek di tempat lain."


"Apa kita tidak bisa menunggu di sini?" tanyaku.


"Ibu mau menunggu di luar? Silakan kalau mau. Pasien kan masih dalam pengawasan kami, Bu. Jadi percuma saja kalau di tungguin. Mending besok saja ke sini untuk mengurus kepindahannya ke ruang rawat inap."


"Ya sudah, kami permisi dulu pak. Besok kami akan ke sini lagi untuk mengurus administrasinya" sahut mas Andi dan langsung menarikku pergi.


"Mas, aku mau nungguin Yoga" ucapku sambil jalan.


"Mending simpan tenaga kamu buat besok pagi. Setelah Yoga dipindahkan, kamu bisa menungguinya dua puluh empat jam."


Aku cemberut mendengar jawaban mas Andi. Dia bisa bilang kayak gitu karena posisinya sebagai calon kakak ipar. Kalau aku kan calon istrinya.


Bagaimana kalau Yoga sampai kenapa-napa. Sedangkan hari pernikahan kami hanya tinggal beberapa hari.


"Semua akan baik-baik saja. Percayakan pada pihak rumah sakit. Yang penting kita sudah tahu bang Yoga ada di mana" ucap Tari dengan tenang saat kami sudah di dalam mobil.


Aku hanya bisa menelan kekecewaanku.


"Doakan saja yang terbaik untuk Yoga. Besok pasti Yoga sudah sadar. Mungkin dia belum sadar karena efek obat bius saat operasi tadi" ucap mas Andi.


Karena mas Andi pasti akan melarang Tari untuk menemaniku.


Aku hanya bisa diam sepanjang perjalanan pulang. Pikiranku fokus pada Yoga dan hari pernikahan kami.


Hingga sampai di rumah, bapak dan ibu sudah menunggu di teras.


"Bagaimana kondisi Yoga?" ucap ibu dengan khawatir.


"Aku jelasin di dalam, Bu." Mas Andi masuk ke ruang tamu lalu menjelaskan kondisi Yoga.


"Syukurlah kalau sudah ditangani dengan baik. Andi besok kamu bantu adikmu mengurus administrasinya" ucap bapak dengan tenang.


"Iya, Pak. Besok aku bereskan semuanya. Sekarang aku mau antar Tari pulang dulu. Kamu besok mau ikut lagi ke rumah sakit?" tanya mas Andi pada Tari.


"Aku kuliah siang, Mas. Paginya aku akan ke rumah sakit dulu. Nanti kita ketemu di sana saja. Biar mas Andi gak bolak balik" sahut Tari.


Aku semakin salut dengan Tari. Begitu sangat bijaksana dan mandirinya dia. Tidak mau merepotkan orang, bahkan pada mas Andi calon suaminya.


"Saya permisi pulang dulu, bapak...ibu." Lalu Tari menyalami tangan bapak dan ibuku.

__ADS_1


Tari juga berpamitan padaku. Dan segera membonceng mas Andi pulang ke rumahnya.


Tidak salah pilihan mas Andi. Semoga mereka nantinya berjodoh. Doaku dalam hati untuk mereka.


"Istirahat sana, Wid. Besok kan mau ke rumah sakit. Jangan terlalu panik. Pihak rumah sakit pasti akan memberikan pelayanan terbaiknya untuk Yoga" ucap ibu padaku.


Aku melangkah ke kamarku. Merebahkan tubuhku yang cukup stres dengan keadaan Yoga.


Besok paginya mas Andi berangkat ke kantornya dulu. Dia janji jam sembilan setelah absen akan menjemputku buat ke rumah sakit.


Dan ternyata sebelum jam sembilan, mas Andi sudah sampai di rumah lagi. Untungnya aku sudah bersiap.


Setelah pamit pada ibu dan anakku, aku membonceng mas Andi ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, Tari sudah ada di sana. Bahkan Yoga sudah dipindahkan ke rawat inap.


"Kok enggak ke ruang ICU. Bukankah Yoga di sana?" tanyaku saat mas Andi mengajakku ke ruangan lain.


"Tari sudah mengurusnya tadi. Pagi-pagi dia sudah datang ke sini. Yoga juga sudah sadar. Cuma kondisinya masih agak lemah" sahut mas Andi.


Rupanya aku memang selalu terlambat dalam segala hal. Mereka selalu melakukan sesuatu di belakangku. Aku tinggal terima beres saja.


Sampai di ruang rawat Yoga, aku melihat Tari sedang menyuapi Yoga.


Yoga langsung menatapku dengan mata berbinar saat melihat aku masuk ke ruangannya.


Aku langsung menghampiri Yoga, dan tanpa menghiraukan mas Andi dan Tari aku memeluk Yoga dengan erat.


"Yoga. Maafin aku ya, kemarin terlambat tahunya kamu kecelakaan" ucapku sambil menangis.


"Jangan kenceng-kenceng meluknya. Yoga sakit itu tangannya" ucap mas Andi.


Aku spontan melepaskan pelukanku.


"Gak apa-apa, Mas. Cuma sakit sedikit kok" sahut Yoga.


Aku jadi merasa bersalah. Lupa kalau Yoga habis kecelakaan. Pasti badannya masih terasa remuk redam semua.


"Sini aku lanjutin nyuapinnya, Kakak ipar" ucapku menggoda Tari. Dia hanya tersenyum lalu menyerahkan mangkok berisi bubur.


"Kok makannya bubur, kayak bayi?" tanyaku.


"Mulutku masih sakit, apa kamu mau mengunyahkan untukku?" jawab Yoga.

__ADS_1


Dasar Yoga. Dalam kondisi sakit saja masih bisa becanda.


__ADS_2