
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Rio meminta Adit ke rumah sakit untuk mengantar dan menemani Ibu ke kediaman Alm.Pak Reino.
Kemudian Rio menemui dokter, meminta izin agar memperbolehkan istrinya untuk menghadiri pemakaman papanya, dokter pun mengijinkan namun hanya satu jam dan di temani oleh dua perawat dari rumah sakit.
Usai mengurus semua prosedur, Rio membatu istrinya membersihkan diri dan mengganti pakaian. Setelah semua siap barulah Rio membawa istrinya menghadiri pemakaman papanya.
Tiba di tempat pemakaman Risti menghampiri dan memeluk Ana, keduanya menangis dan saling menguatkan.
Risti dan Ana tidak dapat menahan kesedihannya saat jenazah papanya di masukan ke dalam liang lahat, Rio mengelus bahu istrinya untuk menguatkannya.
"Aku tahu ini sangat berat untukmu, tapi kamu harus iklhas sayang agar langkah papa lebih ringan." bisik Rio.
Ana tak bisa berlama-lama berada di pemakaman, begitu pembacaan doa selesai Rio meminta izin kepada Risti dan Ibu untuk membawa istrinya kembali ke rumah sakit.
Baru beberapa meter Rio mendorong kursi roda istrinya, Ana meminta Rio untuk menghentikan, ia juga meminta agar Rio sedikit membelokan kursi rodanya ke arah makam papanya, ia ingin sekali lagi melihat makam papa dan mamanya.
Rio berlutut agar sejajar dengan istrinya, kemudian menggenggam tangannya.
"Aku akan berusaha untuk selalu melindungi dan menyayangimu, sebagai pengganti kedua orang tuamu" ucap rio sambil mengecup tangan Ana
Empat hari sudah Ana di rawat di rumah sakit, di hari ke lima Ana dan putri kecilnya sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Ibu menyambut kedatangan menantu dan cucunya dengan gembira, dengan tidak sabar Ibu langsung menggendong cucu kesayangannya.
"Kamu bawalah istrimu istirahat di kamar, biar putrimu bersama Ibu" ucap Ibu kepada Rio, Rio pun menganggukan kepalanya, ia mengajak istrinya untuk ke kamarnya.
Begitu Ana membuka pintu kamarnya, ia nampak terkejut dengan hiasan selamat datang yang di buat oleh suaminya untuk menyambut kedatangannya.
Di atas tempat tidur kamarnya ada dua bungkus kado dan bouquet bunga mawar merah segar yang sangat besar hingga memenuhi tempat tidur mereka, Rio memberikan satu persatu hadiah untuk istrinya.
Ana nampak syok, saat membuka kado pertama yang di berikan oleh Rio.
"**Y**ou crazy baby. untuk apa kamu membelikan ini untukku?" Ana memukul lengan Rio, bukan ia tak senang dengan hadiah yang di berikan oleh suaminya, namun menurutnya Rio terlalu berlebihan memberikan tas seharga 2.5M merk Her*es kepadanya.
"Yeah, I'm crazy because loving you." ucap Rio sambil memeluk dan mengecup mesra bibir istrinya.
"Selama kita menikah, aku tidak pernah membelikanmu tas branded" ucap Rio.
"Tidak pernah?? Seserahan pernikahan dan saat kita liburan di Jepang, kau berikan semua barang-barang branded untukku" ucap Ana.
"Sesekali, sayang. Kamu suka kan?"
"Suka, tapi sayang uangnya lebih baik untuk di tabung."
"Kamu pantas mendapatkannya sayang, lagi pula ini juga bisa dianggap sebagai investasi." Rio memberikan kado berikutnya.
Kali ini Rio yang membukakan kotak beludru besar yang di dalamnya berisi kalung berlian.
"Astaga apa lagi ini sayang?" Ana menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak bisa berkata-kata mendapatkan banyak hadiah special dari suaminya.
"Aku bantu pakaikan ya" Rio membantu ana memasangkan kalung tersebut di lehernya.
__ADS_1
"Kalaupun seluruh isi dunia ini ku berikan kepadamu, tetap tidak akan sebanding dengan semua pengorbanan yang telah kamu berikan kepada aku dan anak kita" ucap Rio sambil mengecup kening istrinya.
Rio berlutut dan memberikan bouquet bunga besar kepada ana.
"Sayang, hanya ini dan ribuan ucapan kata terima kasih yang bisa aku berikan untukmu. Terima kasih telah menjadi pendamping hidupku, terima kasih telah menjadi ibu dari anakku. Terima kasih sayang." Rio memeluk ana dengan erat.
"Terima kasih juga sudah menjadi suami sekaligus ayah yang terbaik untukku dan anak kita, I love you so much baby." Ana pun membalas pelukan suaminya.
Dihari ke 21 rio menggelar acara aqiqahan putrinya yang di beri nama Alinea Leteshia Darmanto yang berarti penanda di mulainya topik baru yang berisi dengan kebahagian untuk Ana dan Rio.
Acara tersebut di rayakan secara sederhana di rumahnya, hanya di hadiri oleh keluarga dan beberapa anak-anak yatim dari pantu asuhan tempat Rio biasa berdonasi.
Risti datang lebih awal karena sudah tidak sabar ingin menggendong keponakan tercintanya. Setibanya di rumah adiknya, Ana menyambut kedatangan kakanya dengan penuh suka cita. Hari itu Risti tidak datang sendiri, ia mengajak suami dan ke dua anaknya.
"Serius ini rumah kamu dek? aku boleh room tour kan?" tanya Risti yang terkejut melihat rumah mewah adiknya.
"Katanya mau lihat anakku, kok malah room tour?" protes Ana.
"Eh ia, di mana anakmu sayang?" tanya Risti.
"Ada di kamarnya lagi sama ayahnya." jawab Ana sambil mengajak kakaknya ke kamar anaknya.
"Ada liftnya juga dek? ini rumah apa hotel sih?" Risti di buat takjub dengan rumah mewah adiknya.
"Kak Rio sengaja bikin rumah yang nyaman dan aman untuk anak-anak dan ibu. Memang tujuannya untuk agar semua keluarga betah berkunjung ke sini" ucap Ana.
"Suamimu itu family man banget ya semua orang di keluarga dia pikirin."
"Di gendong mommy dulu ya sayang" ucap Risti sambil mengambil tyshia dari gendongan ayahnya.
"Kok mommy? BUDHE!!!" potes Ana dan Rio kompak.
"Aku maunya di panggil mommy, titik. No debat!!! tapi kok wajahnya mirip sekali dengan ayahnya, sama sekali tak ada bagianmu sayang, bukankah kamu yang mengandungnya selama sembilan bulan?" tanya Risti kepada Ana.
"Nanti kita bikin lagi ya yang mirip denganmu" bisik Rio sambil memeluk Ana dari belakang, agar Ana tak merasa kesal karena wajah putrinya lebih mirip dirinya.
"Hei istrimu sedang nifas, jangan nempel terus!!!" oceh Risti kepada Rio, kemudian risti ke arah Ana.
"Besok ke rumah Alm.Papa ya. Aku sudah janjian dengan kuasa hukum papa, kata beliau ada yang ingin di sampaikan kepada kita." ucap Risti.
Ana hanya menganggukan kepalanya, jika mendengar nama papanya ia masih merasakan kesedihan atas kepargiannya.
"Ayo dong ajak aku room tour, aku bolehkan liat kamarmu?" tanya Risti.
"Boleh tapi sama Kak Rio saja ya, aku mau memberikan ASI dulu sebelum acara di mulai." ucap Ana.
Rio mengajak kakak iparnya berkeliling rumahnya, Rio dan Ana mengusung konsep American Classic yang tampak begitu mewah untuk rumahnya, yang rerdiri dari tiga lantai dan didominasi dengan warna hitam dan putih.
Rumah tersebut di lengkapi oleh beberapa fasilitas seperti kolam renang, ruang musik, ruang bermain anak, tempat gym, bioskop mini, hingga ruang meeting.
"Kakak bangga sama kamu dek, saat di tinggal Ana ke Jerman kamu benar-benar kerja keras. Tapi kamu mesti ingat bahagiain adikku bukan hanya dengan materi tapi juga dengan semua kasih sayang dan cinta yang kamu miliki" ucap Risti sambil menepuk bahu Rio.
__ADS_1
"Ini hasil kerja sama aku dan Ana, Ana banyak memberikan inovasi-inovasi baru sehingga perusahanku semakin berkembang, awalnya prediksiku baru akan jadi sekitar dua tahun. Tapi setelah menikah banyak pintu rizky yang terbuka lebar untuk kami berdua. Sebentar lagi acara di mulai, turun yuk kak." Rio mengajak Risti turun ke lantai dasar.
Acara aqiqah berjalan dengan hikmad dan lancar, Rio baru menyadari jika Adit hanya datang seorang diri, ia menghampiri Adit untuk menanyakan keberadaan adiknya.
"Lyra di mana dit? kenapa kamu tidak mengajaknya?" tanya Rio.
"Hmmm itu mas, Lyra sedang enak badan" jawab Adit dengan gugup.
"Benarkah? ya sudah kamu pulanglah temani istrimu!" Rio menepuk pundak Adit kemudian berjalan ke arah istrinya.
"Sayang, acara sudah selesai. Kamu istirahatlah bersama dengan tyshia di kamar." ucap Rio sambil mengecup kening anaknya.
"Ia sayang" Ana beranjak dari tempat duduknya membawa putrinya masuk ke dalam kamarnya, tak lama setelah para tamu sudah pulang, Rio membuatkan susu hangat untuk istrinya dan juga untuk Ibunya.
"Bu, aku ke atas duluan ya. Ibu istirahat juga ya." Rio memberikan susu buatannya kemudian ia melangkah menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Rio duduk berhadapan dengan istrinya yang sedang memberikan ASI untuk anaknya, Rio menatap Ana dengan intens.
"Kamu mau? nanti gantian ya setelah Tyshia" ucap Ana sambil tersenyum.
"Tidak ah, kamu masih masa nifas" jawab Rio.
"Kita coba cara lain, lagi pula jika menunggu aku selesai akan lama."
"Maksudmu cara lain?" tanya Rio, ia tak mengerti maksud dari pembicaraan istrinya.
Ana hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Rio "Tolong bantu aku tidurkan tyshia di kasurnya." pinta Ana.
Rio memberikan susu hangat yang di buatnya kepada Ana, kemudian ia mengambil putrinya dari pangkuan Ana dan menaruhnya di tempat tidur bayi dengan perlahan.
"Sayang sebentar ya, aku ke toilet dulu." Ana menaruh gelas di atas meja kemudian melangkah ke toilet.
Ana mulai mengganti bajunya dengan lingerie berwarna hitam, agar ia terlihat lebih ramping, ia masih belum percaya diri dengan bentuk tubuhnya pasca melahirkan putri pertamanya, setelah itu Ana menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya.
Saat Ana keluar dari toilet ia melihat suaminya masih memandangi putri kecilnya yang tertidur pulas, Ana memeluk Rio dari belakang kemudian Rio membalikan tubuhnya.
Rio terkekejut melihat istrinya mengenakan lingerie, yang terlihat sangat sexy dan menggoda.
"Baby, you're so beautiful" ucap Rio kemudian mencium dan melu*at bibir manis istrinya. Tak mau kalah dari suami, Ana pun membalas ciuman panas suaminya dengan memainkan lidahnya.
Bibir mereka saling bertautan satu sama lain, Rio menyes*pi bibir manis istrinya sambil meremas lembut dada istrinya hingga membuatnya mendesah.
"Sssttt..." Rio menepelkan jarinya di bibir Ana, sesaat Rio menoleh ke arah putrinya yang tengah tertidur lelap, setelah itu ia membopong tubuh Ana menuju tempat tidur dan membaringkannya perlahan.
Rio membuka lingerie yang Ana kenakan, menelusuri tubuh sexy istrinya. Ana membiarkan rio mencum*ui serta memberikan tanda kepemilikan di tiap inci tubuhnya hingga Rio merasa puas, setelah itu barulah Ana mengambil alih permainan.
Ana membuka seluruh pakaian tidur Rio kemudian mencumb*inya, Ana turun kebawah melu*at bagian sensitif Rio dengan perlahan, semakin lama Ana semakin mempercepat ritmenya.
"Arrrghh..." Berkali-kali Rio mende*ah menikmati permainan istrinya hingga akhirnya ia mencapai klimaksnya, mengeluarkan lahar hangat di mulut istrinya.
"So thank you baby." Rio menyeka mulut Ana kemudian mencium keningnya.
"I will do it every night you want it" ucap Ana dengan tatapan menggoda.
__ADS_1
"Really?" tanya Rio dengan semangat.
"Yes." sambil tersenyum Ana menganggukan kepalanya kemudian ia tertidur di dalam dekapan hangat suaminya.