Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 102 SIAPA PEREMPUAN ITU


__ADS_3

Selesai meeting, mas Angga mengajak aku ke apartemennya. Alasannya karena dia capek dan ingin tidur.


"Terus aku harus menunggu kamu tidur gitu?" Aku protes karena aku tau kebiasaan mas Angga kalau tidur. Dia akan susah bangunnya. Bisa-bisa malam baru aku pulang.


"Ya kamu kan bisa ikut aku tidur" sahut mas Angga dengan enteng.


"Enak saja!" Aku mencubit lengannya.


"Auwh! Sakit, Wid." Mas Angga memegangi lengannya yang aku cubit dengan cukup keras.


"Biarin. Siapa suruh asal ngomong" sahutku tak merasa bersalah.


"Siapa yang asal ngomong sih? Di apartemenku kan ada dua kamar. Kamu bisa tidur di sana. Ge er aja kamu."


Aku memalingkan mukaku yang sudah merona. Aku pura-pura melihat ke luar jendela dan pura-pura tak mendengar omongan mas Angga.


"Woy! Yang ngomong ada di sebelah sini! Malah madep sana" ucap mas Angga sambil mencolek-colek pahaku.


"Ih, apaan sih?" Aku mengibaskan tangan mas Angga yang mencolek-colek pahaku.


"Belanja dulu yuk, Wid. Persediaan makanan di kulkasku menipis" ajak mas Angga.


"Tadi katanya capek, pingin tidur. Sekarang malah ngajak belanja" sahutku sambil memanyunkan bibir.


Mas Angga malah menyentil bibirku perlahan. Aku mengibaskan lagi tangannya agar menjauh dari bibirku. Karena aku dari dulu paling kesal kalau digituin sama mas Angga. Tapi justru mas Angga suka sekali menggodaku.


"Lagian bibir di maju-majuin gitu. Bikin gemes, tau gak?" sahut mas Angga.


Lalu mobil mas Angga berbelok ke sebuah supermarket. Aku turun dan mengikutinya masuk.


Mas Angga mengambil sebuah troley. Sepertinya dia mau belanja banyak ini.


"Cari susu dulu buat Berlian. Tadi ibu bilang susunya habis" ucap mas Angga sambil berjalan ke arah rak susu.


Lha kenapa ibu malah memberitahunya mas Angga? Bukannya bilang ke aku saja. Kan malu kalau bos membelikan susu anakku terus.


Mas Angga mengambil beberapa kotak besar.


"Banyak banget sih, Mas?" Aku jadi merasa tidak enak.


"Gak apa-apa. Buat persediaan" jawabnya enteng.


Enak bener jadi bos, duitnya banyak. Pingin apa-apa tinggal ambil saja.


Aku beli satu saja pasti yang ukuran lebih kecil. Walau pun kalau habis mesti repot beliin lagi.

__ADS_1


Lalu mas Angga beralih ke rak diapers. Dia juga mengambil beberapa pack. Aku yang jadi orang tuanya, malah dia yang repot.


Di rak cemilan, dia mengambil beberapa bungkus juga makanan kesukaanku. Keripik kentang. Masih inget aja ini orang.


"Jangan ge er lagi. Ini bukan buat kamu saja. Buat aku juga." Ish, aku dibilang ge er terus.


"Nah, sekarang giliran kamu yang milih sayuran. Kamu sukanya masak apa, tinggal masukin ke keranjang."


Mas Angga malah meninggalkan troley-nya dan pergi ke rak yang berisi dalaman pria.


Lha dia yang punya kulkas, kenapa aku yang milih sayurannya? Lagian siapa juga yang akan memasak di sana. Datang ke sana saja baru sekali.


Aneh-aneh saja tuh orang. Tapi aku tetap memilih juga. Walau pun sambil ngedumel.


"Udah?" Mas Angga tau-tau sudah ada di sebelahku. Dia memasukan belanjaannya.


"Udah, tuh" sahutku sambil menunjuk troley yang penuh sayuran dengan bibirku.


Sudah jadi kebiasaanku, menunjuk sesuatu dengan bibir. Rasanya malas harus menggerakan jari tangan.


"Bibir lagi. Aku cium baru tau rasa" ucap mas Angga sambil tertawa. Aku melotot ke arahnya.


Dia makin tergelak, lalu pergi mendorong troleynya meninggalkanku.


"Enggak ah" sahutku ogah-ogahan. Badanku yang capek, membuat aku tak berminat belanja.


"Ya udah, kalau tidak mau." Lalu mas Angga mendorong troleynya ke kasir.


Aku dan mas Angga mengantri di kasir. Lalu ujung mataku menangkap sosok kakakku bersama dengan Tari.


Spontan aku melihat jam tanganku. Belum jam lima sore. Pastinya bapak belum pulang, kenapa Tari sudah pulang dari rumahku?


"Itu bukannya mas Andi dan Tari ya?" tanyaku pada mas Angga, sambil menunjuk ke arah mereka.


"Iya, memang kenapa?" tanya mas Angga seolah tak terjadi apa-apa.


"Kan ini masih jam kerjanya?" tanyaku lagi.


"Iya. Tapi tadi mas Andi mengirimkan pesan kalau bapak sudah pulang. Tadi jam empat, bapak sudah ada di rumah" sahut mas Angga.


Mas Angga menelpon mas Andi. Dan mereka berdua berjalan ke arah kami.


"Cie..cie..yang lagi kasmaran. Kemana-mana berduaan" ledekku pada mas Andi.


Bukan mas Andi namanya kalau tidak membalas ledekanku.

__ADS_1


"Cie...cie...yang abis meeting pertama. Gimana ngantuk enggak?" ledek mas Andi. Ish, tau-tauan aja.


Mas Andi dan Tari menurutku pasangan yang serasi. Semoga mereka berjodoh. Jadi kakakku tidak menjomblo terus.


Setelah belanjaan kami di hitung oleh kasir, mas Angga meminta belanjaan susu dan diapers di pisahkan. Juga keripik kentangnya.


Lalu mas Angga memberikannya pada mas Andi.


"Tolong ini nanti di bawa pulang, mas. Widhi masih ada urusan denganku."


Mas Andi menerimanya lalu pergi lagi mengajak Tari. Sepertinya mereka akan ke food bazar.


"Kamu mau menyusul mereka?" tanya mas Angga.


Aku menggelengkan kepala. Aku gak mau mengganggu mereka. Biar saja mereka habiskan waktu hanya berdua saja.


Seperti mas Andi yang selalu peduli padaku, aku pun selalu peduli pada kakakku. Aku ingin dia segera mengakhiri masa lajangnya.


Orang tuaku tak pernah memberi syarat apapun untuk pasangan anak-anaknya. Siapapun, asal sudah sama-sama cocok, mereka pasti akan menyetujui.


Seperti saat aku memilih mas Agung dulu. Mereka langsung menyetujuinya, meski pun pada akhirnya gagal.


Tapi setidaknya orang tuaku tidak merasa bersalah, karena dia pilihanku.


"Ya udah, kita langsung pulang ke apartemenku saja". Mas Angga membawa semua belanjaannya.


Aku hanya berjalan di sebelahnya. Sangat berbeda dengan mas Agung dulu. Selepas belanja, aku yang akan membawa semuanya, karena dia akan sibuk dengan anak-anaknya.


Bukan membanding-bandingkan. Mas Agung memang selalu menomor satukan anak-anaknya yang dari mantan istrinya.


Tapi tidak dengan Berlian. Jarang sekali mas Agung memperhatikan.


"Udah ayo, melamun terus." Mas Angga menarik tanganku.


Aku mengikuti mas Angga. Kami pun pulang ke apartemennya.


Sampai disana, aku yang sudah tak bisa menahan kantuk, langsung tertidur di sofa ruang tamu, saat mas Angga masuk ke kamarnya.


Aku terbangun sekitar satu jam kemudian. Aku mendapati diriku ada di kamar mas Angga.


Siapa yang memindahkan aku? Tidak mungkin kan aku berjalan saat tidur? Atau mas Angga yang memindahkan aku? Lelap sekali tidurku sampai tak terasa di pindahkan.


Aku hendak keluar dari kamar mas Angga. Saat akan membuka pintu kamar, aku mendengar mas Angga seperti sedang berbicara dengan seorang perempuan.


Aku mengurungkan niatku keluar kamar. Aku mencoba menajamkan pendengaranku. Siapa perempuan itu?

__ADS_1


__ADS_2