Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Aku takut pah." Kata Gara.


"Jangan takut sayang, ada papa sama mama disini." Sahut Damar seraya memeluk Gara dan mengusap pelan punggungnya.


"Kalau aku sekolah, aku mau dijemput sama papa. Aku takut om-om itu datang lagi kesekolah aku. Mereka jahat pah."Kata Gara seraya memeluk Damar dengan erat.


"Iya sayang. Nanti papa pasti jemput Gara."Sahut Damar.


Ayu diam seraya menatap Gara dan Damar penuh haru. Air matanya menetes tanpa bisa dia tahan melihat bagaimana Gara memeluk Damar. Ayu mengerti saat ini Gara pasti masih merasa ketakutan.


Damar terus mengusap-ngusap punggung Gara, hingga akhirnya dia pun tertidur. Sedangkan Ayu masih saja diam. Ingatannya tiba-tiba melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu. Dia merasa benci dan jijik dengan perlakuan Andreas. Kalau saja Damar tidak datang, Ayu akan menyesal seumur hidupnya.


Pelan-pelan Damar melepaskan pelukan Gara. Lalu dia beranjak dari tempat tidur. "Gara sudah tidur. Sebaiknya kamu juga cepat tidur Yu. Aku akan ke kamarku." Ujar Damar, menyadarkan Ayu dari lamunanya.


"Tunggu mas."Sahut Ayu. Dia berdiri lalu melangkah menghampiri Damar. Dia menatap luka dikepala Damar." Aku akan bersihkan luka dikepalamu." Ujar Ayu.


"Tidak perlu Yu, aku bisa membersihkanya sendiri. Kamu istirahat saja."Titah Damar, tapi Ayu tidak mendengarkan Damar. Dia memaksa Damar duduk di sofa, lalu Ayu mengambil air hangat dari shower.


Ayu duduk disamping Damar, membersihkan darah yang sudah mengering didahinya. "Sudah cukup Yu! Biar aku saja."Ujar Damar, seraya menahan tangan Ayu yang akan kembali membersihkan lukanya.


Damar sangat senang, saat Ayu membersihkan lukanya seperti ini. Tapi dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya. Wajah polos Ayu tanpa sentuhan make up sedikitpun dengan mata yang sedikit sembab, pipi dan hidung yang merah karena menangis, juga bibir yang merah merekah benar-benar membuat Damar sangat gemas.


Damar beranjak, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Mas." Panggil Ayu, menghentikan langkah Damar. Ayu lalu berjalan menghampiri Damar. Mereka sudah berhadapan sekarang. Ayu menatap Damar, begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


Tanpa diduga Ayu langsung memeluk Damar, lalu menangis. Damar sangat terkejut karena tidak menyangka Ayu akan memeluknya seperti itu. Walau dia tidak tahu apa alasan Ayu memeluknya, hatinya sungguh bahagia.


"Makasih mas.....makasih kamu sudah menyelamatkanku. Kamu sudah menyelamatkan kehormatanku."Ujar Ayu, sambil menangis.


"Kamu gak perlu berterima kasih. Justru aku akan sangat menyesal, dan tidak akan bisa memaafkan diriku, jika aku tidak bisa menemukanmu dan Gara."Sahut Damar. Dia ingin sekali membalas pelukan Ayu, tapi dia ragu.


Namun apalah daya, Damar tidak bisa menahan diri. Dia membalas pelukan Ayu dengan erat, dan semakin erat. Mereka akhirnya berpelukan dan masing-masing merasa nyaman dalam posisi itu.


Tidak ada tanda-tanda dari keduanya untuk mengakhiri adegan pelukan itu. Entah dia sadar atau tidak, Ayu membiarkan saja saat Damar semakin mengeratkan pelukannya, dan itu membuat Damar sangat bahagia.


Damar memberanikan diri mengecup puncak kepala Ayu, dan Ayu masih tetap membiarkannya. Ini membuat Damar semakin berani. Dia mengecup kening Ayu, lalu turun ke pipinya, dan sepertinya sekarang Damar mengincar bibir Ayu.


Damar ingin sekali mencium bibir Ayu, dan dia memang akan melakukannya. Tangannya sudah memegang dagu Ayu, mengarahkan wajah Ayu ke wajahnya.


Jantung mereka tiba-tiba berdegup kencang seketika, saat bibir keduanya akan bertemu dan beradu. Namun sayangnya, Ayu segera memalingkan wajahnya, membuat Damar sedikit kecewa, tapi dia tidak menyerah dan mencobanya lagi.


Tadinya Damar fikir mungkin Ayu sudah benar-benar memaafkan dan menerimanya kembali."Maafkan aku!! Aku tidak bermaksud memaksa kamu." Kata Damar, lalu berbalik melangkahkan kakinya kembali menuju pintu keluar.


Damar sudah memegang handle pintu, saat tiba-tiba Ayu memeluknya dari belakang dengan sangat erat."Jangan tinggalkan aku mas Damar!! Ujar Ayu, yang semakin mengeratkan pelukannya, dan menyandarkan kepalanya di punggung Damar.


Damar tersentak, dan tak percaya mendengar ucapan Ayu, tapi dia juga sangat bahagia. Damar melepaskan tangan Ayu yang melingkar didadanya, lalu dia berbalik dan menatapnya.


Tangannya masih memegang kedua tangan Ayu, dan Ayu juga menatapnya."Jangan tinggalkan aku mas!! Aku...maksudku kami membutuhkan kamu mas." Ujar Ayu.


"Benarkah yang kamu katakan?." Tanya Damar memastikan. Ayu mengangguk.

__ADS_1


"Apa itu artinya kamu sudah benar-benar memafkanku?. Apa itu artinya, kamu mau menerimaku kembali?." Tanya Damar penuh harap. Mereka masih saling menatap, sampai akhirnya Ayu mengangguk, mengiyakan.


Mata Damar membola saat Ayu menganggukan kepalanya. Dia tak percaya Ayu mau menerimanya kembali. Rasa bahagia seketika membuncah dalam dadanya. Damar lalu memeluk Ayu, seraya mengucapkan terimakasih.


"Makasih Ayu, makasih kamu mau memaafkan dan menerimaku lagi. Aku sangat bahagia mendengarnya." Ucap Damar dengan mata yang berkaca-kaca.


Ayu membalas pelukan Damar, menyandarkan kepala di dadanya. Dia juga merasa bahagia dan lega.


Sekuat apapun dirinya, Ayu akui dia memang membutuhkan Damar disisinya. Dia butuh kasih sayang dan perlindungan Damar, terutama anak-anaknya. Mereka juga butuh kehadiran dan kasih sayang ayahnya.


Damar mencium kening dan pipi Ayu, kemudian bibirnya, kali ini Ayu tidak menghindar, dia membiarkan saja Damar terus mencium bibirnya. Ini membuat Damar senang dan semakin berani memperdalam ciumannya, walaupun Ayu tidak membalas.


Damar mel*mat dan meny*sap bibir itu dengan lembut, membuat Ayu terlena dan perlahan membalasnya. Mereka pun berciuman, melepaskan segala rasa yang selama ini mereka tahan dalam hati.


Sesekali Ayu melepaskan ciuman mereka, Damar yang sepertinya tak rela Ayu mengakhiri ciuman mereka, dengan cepat menarik dagu Ayu dan mencium bibirnya lagi.


Tanpa diperintah, tangan Damar bergerak perlahan menanggalkan jas yang melekat ditubuh Ayu. Jas itu jatuh begitu saja ke lantai.


Damar mencium leher dan tengkuk Ayu, dan Ayu masih membiarkan bahkan saat merasakan bibir Damar menyenuh dada bagian atasnya, Ayu tetap membiarkan.


Damar melihat tanda merah yang dibuat Andreas disana. Darahnya seakan mendidih melihat tanda itu. Dia sangat benci dan tidak rela Andreas menyentuh tubuh Ayu.


Damar membuat tanda lain disana, tidak hanya satu tapi sangat banyak. Damar tersenyum dalam hati, saat melihat banyak tanda merah yang ia buat di dada dan leher Ayu, menghapus tanda merah yang dibuat Andreas.


Damar kembali menatap wajah Ayu, yang merah seperti kepiting rebus. Damar tahu kalau dia sudah membuat Ayu terpancing, seperti dirinya yang memang sudah sangat terpancing.

__ADS_1


Damar kembali mencium bibir Ayu, seraya membelai leher dan dada Ayu. Dan sekarang sepertinya dia ingin membuka gaun Ayu, benar dia akan membukanya, dan kali ini Ayu mencegahnya.


"Jangan mas." Tolak Ayu seraya melepaskan tangan Damar dari dadanya.


__ADS_2