
Aku menyimak meeting yang baru sekali ini aku ikuti. Ternyata menarik juga. Aku menyimak setiap pembicaraan mereka.
Mas Angga memang sudah bilang padaku sebelumnya untuk menyimak saja. Kalau ada yang mau disampaikan, aku cukup berbisik saja pada mas Angga.
Aku belum bisa berpendapat apa-apa. Karena aku belum begitu paham dengan urusan usaha mas Angga. Aku hanya seorang pembantu auditor saja. Yang membantu pak Tedi mengurusi berkas-berkas pengajuan kredit dari calon pembeli.
Tugasku di sini hanya mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh klien mas Angga.
Jam satu siang, meeting baru selesai. Dilanjutkan dengan makan siang.
Aku memilih meja tersendiri. Karena mas Angga masih saja berbicara dengan beberapa kliennya.
"Kamu gabung saja di sana" ucap mas Angga sambil menunjuk sebuah meja besar.
"Gak ah. Aku di sini saja" sahutku. Aku memang pingin sendiri. Capek juga hampir tiga jam berhadapan dengan para klien.
"Gak apa-apa sendirian? Aku masih ada yang akan dibicarakan" ucap mas Angga.
"Iya, gak apa-apa. Santai saja" sahutku lagi.
Mas Angga meninggalkan aku yang sudah menikmati makananku.
Hebat sekali mas Angga sekarang. Dia sudah menjadi seorang pengusaha yang cukup sukses.
Dari tempatku duduk, aku melihat ada seorang perempuan cantik yang tadi ikut meeting juga, mendekati mas Angga.
Dari tadi saat meeting, aku memang memperhatikan perempuan itu sering mencuri-curi pandang ke arah mas Angga.
Mungkin dia tertarik pada mas Angga. Biarlah. Toh dia hanya atasanku. Bukan suami atau pun kekasihku. Walau pun hubungan kami lebih dari sekedar atasan dan bawahan.
Perempuan itu duduk bersebelahan dengan mas Angga. Dan dengan telaten dia mengambilkan makanan untuk mas Angga yang tersedia di meja besar itu.
Mas Angga juga menerimanya dengan tersenyum. Entah apa arti senyumannya. Sekedar basa basi, atau memang menyukai layanan perempuan itu.
Aku memilih makan dan membuka-buka ponselku. Untuk apa memperhatikan mereka terus.
Selesai acara makan siang, mas Angga menghampiriku yang masih asik dengan ponselku.
"Asik amat. Yuk kita pulang" ajak mas Angga.
Aku menoleh ke arahnya, dan segera mengemasi beberapa barangku yang aku letakan di meja.
Perempuan itu menghampiri kami. Dengan langkahnya yang membuat lelaki terpesona. Langkah bak peragawati.
"Pak Angga, saya bisa sekalian bareng pulang?" tanya perempuan itu. Aku lupa namanya. Tadi di ruang meeting dia sempat memperkenalkan diri.
"Oh, bu Sinta. Kenalkan ini sekretaris saya. Namanya Widhi" mas Angga memperkenalkan aku sebagai sekretarisnya.
__ADS_1
Sejak kapan aku berubah profesi? Tapi tidak apalah. Toh tidak ada ruginya juga buat aku.
Aku mengulurkan tangan. Bu Sinta itu menyambut uluran tanganku hanya dengan menyentuhnya sedikit.
Sombong sekali perempuan ini. Apa dia takut gatel-gatel kalau bersentuhan denganku?
Aku hanya tersenyum saja. Masa bodolah. Aku tak ada urusan dengannya.
"Bagaimana pak Angga? Kantor pak Angga kan searah dengan kantor saya" ucapnya lagi.
"Mm...maaf, bu Sinta. Saya masih ada urusan lagi, jadi saya tidak langsung kembali ke kantor" sahut mas Angga.
Urusan apa? Bukannya hari ini acaranya cuma meeting? Tadi begitu yang dikatakan mas Angga sebelum berangkat.
"Owh, begitu ya? Sayang sekali. Ya sudah saya permisi dulu, pak Angga. Saya pesan taksi online saja" sahut bu Sinta. Wajahnya terlihat cemberut. Tidak ceria seperti saat makan tadi.
"Iya, silakan bu" sahut mas Angga. Lalu dia malah duduk di sebelahku.
"Kok malah duduk? Tadi ngajak pulang?" tanyaku melihat mas Angga malah duduk dan membuka ponselnya.
"Biar dia keluar dulu. Aku malas kalau dia numpang di mobilku" jawab mas Angga.
"Kenapa malas? Mobilmu masih muat kalau cuma satu orang" tanyaku.
Kali ini mas Angga memang menggunakan sedannya. Jok belakang masih kosong. Bu Sinta kalau numpang, masih bisa tiduran di belakang. Pikirku.
Sedari meeting tadi, mas Angga memang tak sempat membuka ponselnya.
Aku ikut duduk lagi. Aku pun membuka ponselku sendiri.
Kami baru beranjak setelah ruang makan sepi.
"Ayo pulang" ajak mas Angga yang sudah berdiri. Hmm...enak bener jadi bos. Bisa seenaknya saja perintah.
Aku menurutinya saja. Namanya juga bawahan, harus patuh pada atasan.
Mas Angga melajukan mobilnya ke arah yang berbeda.
"Kok ke sini?" tanyaku. Karena setahuku, arah ke showroom bukan ke sini.
"Aku capek. Pingin istirahat dulu di apartemenku" sahut mas Angga.
Lha dia istirahat di apartemennya, terus aku bagaimana? Aku berfikir, turun di sini saja. Nanti aku bisa naik angkot atau pun ojek online untuk kembali ke kantor.
"Aku turun sini saja, ya? Aku bisa ke kantor sendirian kok" ucapku.
Tangan mas Angga malah mengusak rambut depanku.
__ADS_1
"Enak saja. Kamu ikutlah ke apartemenku. Memang kamu tidak capek?" tanya mas Angga.
Aku merapikan rambut depanku lewat kaca spion. Usil banget sih, kayak mas Andi saja yang hobinya memberantaki rambutku.
"Ya capeklah. Tapi ini kan masih jam kerja" sahutku.
"Lalu kalau masih jam kerja, kenapa?" tanya mas Angga sambil terus melajukan mobilnya.
"Baliklah ke tempat kerja. Entar gajiku dipotong, lagi" sahutku. Karena setahuku, bagi karyawan yang terlambat atau pun membolos akan dipotong gajinya.
Mas Angga malah tertawa. Ish, mentang-mentang bos, siapa yang berani motong gajinya?
"Siapa yang mau motong gaji kamu?" tanya mas Angga.
Aku diam. Betul juga. Kan mas Angga yang memggajiku. Dan dia sendiri yang memintaku mampir ke apartemennya.
"Iya deh. Aku nurut sama atasan" sahutku. Lalu menyandarkan kepalaku yang cukup penat.
Mobil mas Angga berjalan perlahan karena jalanan lumayan macet. Aku pun tak terasa tertidur.
"Wid, bangun. Sudah sampai". Mas Angga menggoyang-goyangkan bahuku.
"Mm...". Aku membuka mataku. Benar, kami sudah sampai di parkiran apartemennya.
Aku masih mengingatnya, karena pernah diajak ke sini, sekali.
"Mau jalan sendiri apa digendong?" tanya mas Angga.
Aku memanyunkan bibirku. Memang dia pikir aku anak kecil yang ketiduran di mobil, lalu digendong sampai ke kamar?
Aku membuka pintu mobil. Lalu turun. Dan menunggu mas Angga mengunci mobilnya.
"Ayo jalan. Malah bengong" ucap mas Angga. Lalu menarik tanganku agar mengikutinya.
Ish, siapa yang bengong? Aku kan menunggunya. Masa iya aku jalan duluan. Letaknya di lantai berapa saja, aku lupa.
Kami menaiki lif sampai ke lantai 11. Aku baru ingat kalau apartemennya di lantai 11 nomor 9.
"Ayo masuk. Mau tiduran dulu boleh. Atau mau..." mas Angga tak melanjutkan kalimatnya.
Dia menutup pintu apartemennya dan menguncinya.
"Mau apa?" tanyaku. Aku meletakan tas dan mapku di meja tamu. Dan menghempaskan tubuhku diatas sofa empuk.
Mataku seakan belum rela untuk terbuka. Rasanya baru saja merem, sudah dibangunin.
"Mau aku tidurin" sahut mas Angga sambil tertawa dan berlari ke arah kamarnya.
__ADS_1
Aku melemparkan buku yang tergeletak di atas meja ke arah mas Angga. Sembarangan saja kalau ngomong.