
Mendengar suara Ana seketika pria itu membalikkan tubuhnya, tubuhnya seolah terpaku dan matanya tertegun meliahat Ana berada di hadapannya. Sosok yang ia cari selama ini, sosok yang hampir membuatnya gila karena kepergiannya.
"An-na..." suara itu terdengar lirih, pria itu menatap tubuh Ana secara keseluruhan dari atas kebawah, kemudian kembali lagi dari bawah ke atas, tatapannya langsung tertuju ke perut Ana, ia bukan hanya menghawatirkan keadaan Ana namun ia juga menghawatirkan keadaan janin yang berada dalam kandungan Ana.
Pria itu tidak peduli anak siapa dalam rahim Ana, ia sangat mengkhawatirkannya, aliran perasaan bahagia menghantamnya ketika ia perlahan menyentuh wajah cantik Ana. Pria itu memastikan bahwa wanita yang berada di hadapannya saat ini benar-benar sosok yang ia cari, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.
"Pak Rio." suara Ana menghentikan lamunannya, secepat kilat Aio mendekap erat tubuh Ana, membawanya ke dalam pelukannya.
"Dari mana saja kamu An?" suara lirih itu berbisik di telinga Ana, sosok Rio yang beberapa menit lalu terlihat sangat tegas kini berubah menjadi lemah di hadapan Ana.
Ana berusaha melepaskan pelukan Rio namun Rio enggan melepaskannya, ia malah semakin memperdalam pelukannya, hingga Ana merasa sedikit kusulitan untuk benafas.
Lyra yang menyasikan adegan itu mulai bertanya-tanya dalam benaknya apa yang terjadi dengan kakaknya dan apakah kakaknya sudah mengenal Ana.
"Pak Rio lepaskan, ibu sendirian di kamar." ucap Ana.
Mendengar nama ibu akal sehatnya mulai berjalan, pria itu kembali menghawatirkan kondisi ibundanya.
Rio mulai melepaskan pelukannya dan menggandeng Ana menuju kamar rawat ibundanya, Lyra mengekori Ana dan Rio dari belakang dengan membawa baju ganti serta perlengkapan lainnya untuk ibu.
Sesampainya di kamar rawat inap, Rio melepaskan genggaman tangannya dengan Ana, Rio berhambur ke pelukan ibundanya lalu mencium tangan serta kening ibundanya dengan penuh hangat.
Meskipun gerakan Rio secepat kilat namun ibu sempat melihat putra sulungnya menggandeng tangan Ana, ibu juga memperhatikan gerak gerik serta tatapan mata Rio saat menatap Ana.
Perasaan seorang ibu tidak pernah salah namun ibu menahan diri menunggu waktu yang tepat untuk menanyakannya kepada putra sulungnya secara langsung.
"Bu, bagaimana sekarang kondisi badan ibu?" tanya Rio.
"Sudah enakan le, kapan nyampe sini?"
"Barusan bu, begitu landing aku langsung kemari"
"Pantas saja anak ibu acak-acakan sekali, pulanglah le. Istirahat, biar ibu di sini sama Lyra, sekalian ajak Ana pulang kasihan ia sudah dari siang di sini, pasti capek sekali" ucap Ibu. "Oh ia le apa kamu sudah berkenalan dengan ana?" smbungnya.
"Sudah Bu, beberapa waktu lalu Ana pernah jadi mahasiswi magang dikantorku, kebetulan aku ini pembimbing lapangannya." jawab rio.
"Oh ya sudah kalo begitu kamu ajak Ana pulang."
__ADS_1
"Sebentar lagi bu, aku masih kangen sama ibu." Rio kembali mencium tangan ibundanya.
Selagi Rio melepas rindunya dengan ibundanya, Ana nyiapkan obat untuk ibu, dengan telaten ia membuka satu persatu bungkus obat yang di berikan oleh perawat kemudian Ana mengambil air putih untuk ibu meminum semua obat-obatnya.
"Bu, minum obat dulu" Ana memotong pembicaraan ibu dengan Rio.
Rio mengambil piring kecil beserta gelas dari tangan Ana "Biar aku saja An."
Tidak lama setelah ibu minum obat, ibu merasakan ngantuk karena efek obat tersebut. Ibu kembali menyuruh rio mengajak Ana pulang untuk beristirahat di rumah.
"Kalian pulang lah, biar ibu di sini sama Lyra"
"Ana di sini saja ya bu" ucap Ana, sebenarnya ia masih takut dengan kejadian tadi pagi, Ana takut jika Retno datang lagi ke rumah ibu.
"Nduk, pulanglah istirahat kasihan kandunganmu"
"Tapi bu..."
Ibu melihat dari sorot mata Ana ada sekit ketakutan dalam diri Ana untuk pulang ke rumahnya, ibu menyakinkan Ana bahwa Rio akan menjaganya.
"Ada Rio yang akan menjagamu." Ibu berbalik ke arah Rio "Ibu titip Ana ya le."
Dengan ragu-ragu Ana pun menurutinya, ia mengikuti Rio pamit kepada ibu dan juga Lyra.
Rio tersenyum melihat Ana ikut pulang bersamanya, ketika mereka keluar dari ruang rawat inap, Rio kembali meraih tangan Ana dan menggandengnya menuju parkiran rumah sakit, Rio bahkan tidak melepaskan genggamannya saat ia mengemudikan mobilnya.
Beberapa menit setelah berkendara Rio menepikan mobilnya di sebuah restoran, ia meminta Ana untuk menemaninya makan malam.
"Aku lapar belum makan, kamu juga belum makan kan?" tanya Rio.
Ana menggelengkan kepalanya, ia juga baru menyadari bahwa dirinya dari siang belum makan, kejadian itu membuat dirinya lupa untuk makan.
Rio membukan pintu mobil Ana, ia mempersilahkan Ana untuk keluar dari mobilnya kemudian Rio kembali menggandeng Ana masuk ke dalam restoran, ia memilih tempat di sudut resto agar ia bisa mengobrol banyak dengan Ana.
Begitu makanan yang di pesan telah datang, rio memulai obrolannya dengan ana.
"An, bagaimana keadaanmu dan kandungamu?" tanya Rio.
__ADS_1
"Alhamdulillah aku baik-baik saja Pak Rio, Pak Rio sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah aku juga baik" jawab Rio dengan santai, meski dalam benaknya ia hampir gila karena Ana pergi begitu saja meninggalkannya tanpa kabar.
"An, bukankah dulu aku sudah bilang jangan panggil pak? aku bukan atasanmu lagi an." protes Rio, ia mulai merasa terganggung dengan panggilan Pak untuknya, terasa sangat canggung sekali menurutnya.
"Kalo gitu mas saja"
"Jangan, itu kan panggilanmu untuk si breng*ek itu"
"Hmmm.. bagaimana jika kakak aja?" tanya Ana.
"Aku bukan kakakmu tapi ya sudah lah, terserah kau saja." Rio pasrah, padalah Rio berharap Ana memanggilnya sayang atau panggilan-panggilan lainnya yang lebih terdengar romantis.
"An, maafkan aku. Seharusnya waktu itu sebelum berangkat kerja, aku ke rumahmu dulu, sehingga kakakmu tidak mengusirmu dari rumah" ucap rio dengan penuh penyesalan.
"Pak Rio sama sekali tidak salah jadi tidak perlu meminta maaf, justru aku berterima kasih kepada Pak Rio karena memiliki ibu dan adik yang sangat baik, mereka mau menerimaku tinggal di rumah Pak Rio" ucap Ana, kemudian ia memberanikan diri untuk membuka obrolan seputar kejadian ibu masuk ke rumah sakit.
"Kak please ya jangan marah lagi sama Lyra, sebenarnya aku yang nembujuk ibu untuk tidak menutup toko kuenya dan sebenarnya ibu masuk ke rumah sakit bukan karna kecapean mengurusi toko"
"lalu?" tanya Rio.
Ana berhenti sejenak menarik nafas dalam-dalam, iamulai menyusun kata-kata sehalus mungkin agar Rio tidak marah kepadanya.
"Maafin aku ya kak, ini semua salahku."
"Maksudmu?" wajah Rio berubah menjadi serius.
"Tadi pagi istri mas Julio datang ke rumah, ia melabrakku. Ia mengira bahwa aku merebut suaminya. aku benar-benar tidak tahu dari mana istrinya tahu bahwa aku sedang mengandung anaknya Julio. karena kegaduhan itu jantung ibu kumat, maafkan aku kak." Ana menundukan wajahnya.
Ana takut jika Rio akan marah kepadanya, meskipun Ana menyadari bahwa ini semua salahnya namun Ana tidak siap menerima kemarahan dari Rio.
Rio menghentikan makannya, selera makannya hilang mendengar cerita Ana, ia menaruh sendok dan garpu dipiring dan mengajak Ana untuk pulang, Ana hanya bisa pasrah menuruti perintah Rio untuk pulang.
Sepanjang jalan tidak ada lagi raut wajah ceria Rio yang ada hanya raut wajah ketegangan, beberapa kali Ana melihat tangan Rio tampak mencengkram kemudi dengan kencang. Begitu sampai di rumah Rio menyuruh Ana untuk turun dari mobil.
"Masuk dan istirahatlah, kunci dari dalam jangan sampai ada orang lain yang masuk, jika ada apa-apa segera telepon aku. Aku pergi sebentar, masih ada urusan yang harus aku selesaikan." ucap Rio dengan tegas, Ana menuruti semua perintah rio.
__ADS_1
Dari dalam mobil Rio memperhatikan Ana dan memastikan jika ana benar-benar mengunci pintu.
Setelah di rasa Ana sudah cukup aman rio memancu kendaraanya dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat.