
Setelah selesai berbelanja dan berjalan-jalan sebentar, kami pulang ke rumah Yoga.
Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata Yoga sudah menyiapkan sebuah acara sambutan.
Seperti biasa, Yoga bekerja sama dengan mas Andi dan Tari. Di sana sudah ada juga bapak dan omanya Yoga.
Aku bahagia sekali karena Yoga memperlakukanku dengan sangat istimewa.
Yoga juga sudah mempersiapkan sebuah arena bermain kecil di dalam rumahnya.
Aku memang pernah berkunjung ke rumah ini. Tapi hanya sampai di ruang tamu saja.
Sekarang baru aku tahu kalau rumah ini ternyata cukup besar. Ada empat kamar di sana.
Kata Yoga, dulu kamar yang paling besar ditempati oleh kedua orang tuanya.
Satu kamar di depannya adalah kamar Yoga. Satu lagi kamar tamu, dan yang paling belakang adalah kamar pembantu.
Tapi sejak kedua orang tuanya meninggal, hanya kamar Yoga yang ditempati. Tiga kamar lainnya kosong.
Yoga memulangkan pembantu di rumahnya. Sebenarnya bukan Yoga yang mau, tapi pembantu yang sudah ikut sejak Yoga kecil, minta pulang karena sudah tua.
Kalau maunya Yoga, biar menemani dan menunggu rumah yang nyaris tak berpenghuni itu.
Aku jadi kayak orang asing. Berjalan melihat-lihat seisi rumah. Ditemani Yoga.
"Kita pakai kamarku saja, ya? Sebenarnya kamar ibu dan bapak lebih besar. Tapi aku malas menyingkirkan barang-barang mereka" ucap Yoga saat aku melihat-lihat bagian rumah itu.
"Terserah kamu, Ga."
Yoga membuka kamarnya dan memperlihatkannya padaku. Masih jauh lebih besar dari kamarku.
Yoga menata kamarnya dengan rapi. Entah dari dulu memang sudah begini atau karena aku mau tinggal di kamar ini juga.
Setelah melihat-lihat semua ruangan termasuk halaman belakang yang cukup luas, aku kembali ke ruang tamu.
Oma sedang ngobrol dengan ibu dan bapak. Berlian berlari ke sana kemari ditemani mas Andi dan Tari.
Setelah lelah bermain, Berlian mulai rewel.
Ibu menghampiri. Ternyata anakku lapar. Padahal tadi di mal dia sudah banyak makan, mulai dari es krim sampai puding dan roti.
Akhirnya kita makan bersama. Tari sudah memesankan makanan untuk kita semua.
Aku dibantu Tari menyiapkan makan siang yang disajikan di meja makan yang cukup besar.
Kami makan sambil terus mengobrol. Apalagi oma yang begitu akrab dengan ibu. Mereka jadi seperti kakak beradik.
Usia oma jauh diatas ibu. Tapi pengetahuannya yang luas mampu mengimbangi obrolan kami.
Oma tinggal di daerah pegunungan. Tempat di mana kata Tari perkebunan milik orang tua Yoga berada.
Aku belum berani bertanya tentang itu. Karena aku pikir suatu saat aku bakal tahu juga.
Tadinya malam ini oma akan menginap beberapa hari di rumah Yoga. Karena usia oma yang sudah cukup tua, tak memungkinkan untuk perjalanan jauh. Tapi Tari melarangnya.
"Oma menginap di rumah Tari saja. Kalau disini nanti mengganggu pengantin baru" pinta Tari pada oma.
Dengan segala bujuk rayu, akhirnya oma membatalkan rencana menginap di rumah Yoga.
__ADS_1
Jadilah malam ini tinggal aku berdua saja dengan Yoga di rumah yang besar ini.
"Sepi juga ya, Ga?"
"Mereka kan kasih kesempatan buat kita. Coba sudah berapa hari kita menikah. Belum ada acara serang menyerang."
Aku melemparkan bantal sofa ke arah Yoga. Aku sudah tak memikirkan itu, malah Yoga yang masih saja ngingetin.
"Wid. Aneh enggak sih rasanya kalau kita bermesraan?" tanya Yoga.
"Kayaknya aneh juga sih, Ga. Kita kan sudah berteman lama. Tahu-tahu jadi suami istri."
"Aku juga beberapa hari ini memikirkan itu. Tapi kenyataannya kamu sudah jadi istriku."
"Wid."
Aku menoleh. Yoga menarik tanganku agar mendekat. Aku menggeser dudukku.
"Apa?"
"Kamu mau kan melakukannya denganku?"
Pertanyaan aneh dari seorang suami yang tadinya sahabat dekat.
Aku mengangguk. Lalu Yoga merengkuh tubuhku dan memulai permaianannya.
Mataku mulai berselimut kabut saat Yoga terus mencumbuiku. Aku pun mulai terbawa suasana dan mengikuti permainan Yoga.
Dari cara Yoga mencumbuiku dan memulai permainannya, aku merasa ini bukan yang pertama bagi Yoga.
Meski aku tak mempermasalahkan itu, karena aku pun bukan lagi anak gadis yang masih perawan. Tapi ada pertanyaan yang mengganjal di kepalaku.
Siapa perempuan yang pernah dijamah oleh Yoga. Karena Yoga belum pernah menikah. Apa dia Irene? Atau Lidya?
Aku mengangguk tapi tak sanggup lagi berjalan. Yoga mengangkat tubuhku menuju ke kamar.
"Turunkan aku, Ga. Nanti aku jatuh."
"Enggak akan. Aku kuat kok. Badan kamu kan kecil."
Yoga terus mengangkatku hingga ke kamar. Dan Yoga membaringkanku di tempat tidur yang baru sekali ini aku sentuh.
Dengan gerakan laksana seorang pemain handal, Yoga terus memimpin pertempuran. Aku digempurnya habis-habisan.
Meski awalnya terkesan aneh, tapi cara Yoga memperlakukanku membuatku membuang jauh rasa aneh itu.
Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Kami saling menyerang. Saling terjang. Dan akhirnya sama-sama terkapar.
Saat kami sudah bisa bernafas dengan normal lagi, iseng aku bertanya pada Yoga.
"Ga, kamu kok pinter banget."
"Masa sih?"
Aku mengangguk. Aku ingin sekali mendengar jawaban Yoga. Jawaban yang jujur.
Bukan untuk menghakimi, cuma sekedar ingin tahu saja.
"Berarti guruku sukses mengajari aku."
__ADS_1
Aku sangat terkejut dengan jawaban Yoga. Bagaimana mungkin hal seperti ini ada gurunya?
Kalau sekedar mempelajari anatomi tubuh manusia, aku paham. Banyak juga anak sekolah terutama yang ada di kelas jurusan IPA mempelajarinya.
Tapi kalau gerakannya? Aku pernah tahu juga sih istilah kamasutra. Tapi apa iya Yoga punya guru sendiri?
"Guru?"
"Iya. Private malah."
Aku semakin tercengang.
"Serius kamu, Ga?"
"Iya, serius" sahut Yoga.
Aku masih diam, tak percaya dengan yang Yoga katakan.
"Mau lihat siapa guruku?"
Aku mengangguk. Ada keraguan sebenarnya. Tapi rasa kepoku lebih berkuasa.
Yoga mengambil ponselnya. Lalu dia membuka-buka galerinya. Aku terus saja memperhatikan.
Mungkinkah Yoga akan memberitahu wajah guru private-nya?
Bagaimana kalau dia seorang perempuan? Apa aku sanggup melihatnya?
Tapi kalau dia seorang laki-laki, akan lebih bahaya lagi. Meski Yoga normal.
"Mana?"
Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya.
"Sabar."
Isi galeri Yoga kebanyakan foto pernikahan kami dan fotonya bersama Berlian.
"Sabar, ya?"
"Ih, tinggal klik dipencarian apa susahnya sih?" Aku benar-benar sudah tidak sabar.
Yoga malah menutup galerinya.
"Kok malah ditutup sih?" tanyaku dengan kesal.
"Kemarin kan ponselku dipakai Tari untuk memfoto kita. Jadi sudah aku hapus dulu semua."
"Terus?"
Tiba-tiba Yoga membuka Youtube dan mengetik satu judul. Dan munculah adegan-adegan kamasutra.
"Ih, kok itu sih?"
"Lah, memangnya kamu pikir apa?"
"Kalau memang itu, kenapa kamu tadi mencarinya di galeri?"
"Karena aku mendownloadnya dan tersimpan di galeri."
__ADS_1
Alamak! Aku pikir guru beneran. Ternyata gurunya youtube.
"Guru yang murah meriah, kan? Cuma modal kuota doang." Yoga tertawa terbahak-bahak.