Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor
Bab 117 TAK JADI PILIH KEBAYA


__ADS_3

Keluargaku dan Yoga memutuskan hari pernikahanku sebulan lagi. Karena kami butuh banyak persiapan, meski aku tak mau dirayakan besar-besaran seperti pernikahan pertamaku.


Yoga pun setuju saja. Dia juga malas kalau harus repot mengundang banyak orang.


"Cukup restu dari kedua orang tua dan ijab qobul saja" kata Yoga.


Aku sudah tidak bekerja lagi di kantor mas Angga. Mas Andi juga sudah dapat pekerjaan lain.


Kalau Tari, dia akan fokus dulu menyelesaikan kuliahnya. Baru nanti setelah wisuda mas Andi akan meminangnya.


Semua sudah kami program dengan baik. Karena baik Yoga maupun mas Andi termasuk orang-orang yang perfeksionis.


Mereka selalu memperhitungkan langkah-langkahnya. Berbeda dengan aku yang kadang seenaknya saja. Cari gampangnya saja.


Hari ini Yoga membawaku ke sebuah butik. Katanya mau pesan kebaya untuk acara akad kami.


"Kan cuma akad aja, Ga. Kenapa mesti pesan baju di butik?" tanyaku saat Yoga membawaku ke sana.


"Ini kan momen sekali seumur hidup, Wid. Harus spesial dong pakaiannya. Walau pun acaranya sederhana."


Ya sudah, aku nurut saja. Toh aku juga tidak punya baju kebaya yang pantas buat acara nikah. Beberapa kebayaku sudah sering dipakai untuk kondangan.


Sampai di butik itu, kami malah bertemu dengan Irene. Teman Yoga yang aku belum sempat menanyakannya lagi.


"Hay, Ga. Apa kabar?" sapa Irene.


"Baik. Kamu kok ada di sini?" tanya Yoga.


"Aku yang punya butik ini" sahut Irene.


Degh.


Kenapa Yoga tadi malah berbeloknya ke sini? Aku kan kurang suka dengan Irene.


"Oh, butik ini milik kamu? Kebetulan. Aku sama Widhi, calon istriku, mau mencari kebaya buat acara akad nikah kami." ucap Yoga tanpa basa basi.


Irene menatapku kurang suka. Aku bisa merasakannya, meski dia tidak berkata apa-apa.


"Boleh. Nanti biar asistenku yang melayaninya." Lalu Irene memanggil asistennya.


"Layani mbak ini. Dia mau cari kebaya katanya." ucap Irene. Dari perkataannya sepertinya dia tak mau melayaniku sendiri.


Padahal biasanya, setahuku, pemilik butik akan memberikan service yang istimewa pada calon pembelinya yang membutuhkan kebutuhan untuk pernikahan.


Asisten Irene membawaku ke sebuah ruangan yang ada di lantai dua ruko.

__ADS_1


Sepertinya Irene sengaja agar dia bisa leluasa ngobrol dengan Yoga. Terbukti saat Yoga mau mengantarku, Irene membuat Yoga mengurungkan niatnya.


Terus terang aku sudah bete. Tapi untuk langsung menolak diajak ke lantai dua rasanya segan.


Aku hanya berusaha positif thinking saja. Mungkin memang ada hal penting yang akan disampaikan Irene.


Untung asisten Irene yang bernama Nina, orangnya sangat ramah. Jadi bisa sedikit mengurangi rasa bete-ku.


"Mbak Widhi mau pakai warna apa?" tanya Nina.


"Boleh aku lihat-lihat dulu? Soalnya belum ada ide mau pakai warna apa."


"Silakan mbak. Ini juga ada gambar model-modelnya. Nanti kalau mbak Widhi mau yang ada di foto ini, mbak Widhi bisa pesan dulu. Nanti desainer kami yang akan mengarahkan." sahut Nina.


"Desainernya Irene itu?" tanyaku pelan. Walau pun aku tau kalau Irene ada di lantai satu, tapi aku khawatir kalau Irene mendengarnya.


"Bukan, mbak. Di sini ada desainer khusus yang akan membuatkan model buat mbak Widhi." Aku mengangguk.


"Butik ini milik Irene?" tanyaku lagi.


"Bukan. Ini milik bu Sherly, tantenya mbak Irene. Tapi selama bu Sherly di luar negeri, butik dipegang sementara oleh mbak Irene itu."


Dari ucapan asisten Irene ini, kelihatannya dia kurang suka pada Irene.


"Mbak Widhi kenal mbak Irene dimana?" tanya Nina.


"Ati-ati saja sama mbak Irene, mbak." Nina membisikiku.


"Maksudnya?" tanyaku pelan juga.


"Pokoknya ati-ati." Lalu Nina melayaniku lagi.


Aku makin ilfell mendengar omongan Nina tadi. Sampai akhirnya aku bilang ke Nina untuk mengabarinya lagi, kalau aku sudah dapat contoh modelnya.


Aku berjalan turun ke lantai satu. Yoga tak ada di sana. Aku agak panik. Kemana mereka? Karena Irene juga tidak nampak.


Aku menelpon Yoga. Untung Yoga langsung mengangkat telponku. Yoga bilang, Irene mengajaknya menunggu di cafe seberang butik.


"Kamu udah selesai milihnya?" tanya Yoga saat sudah kembali ke butik.


Irene memandangku kurang suka. Seperti marah karena kebersamaannya dengan Yoga terganggu.


Aku sengaja ingin membuat Irene bete. Buat membalas rasa beteku karena dia dekat-dekat dengan calon suamiku.


"Aku bingung, Ga. Semua bagus-bagus. Gimana kalau kamu yang memilihkan?" tanyaku sambil memeluk lengan Yoga.

__ADS_1


Hal yang jarang aku lakukan, bahkan tak pernah. Karena Yoga orangnya sama sekali tak romantis.


Kalau diajak romantis malah ketawa. Kan bikin males.


"Biar aku saja yang bantu milih. Biasa Ga, kalau orang yang tak tau model kebaya, pasti akan bingung."


Aku menelan ludahku mendengar ocehan Irene. Ingin sekali aku tonjok mulutnya.


Aku melihat jam tanganku. Lalu pura-pura ada acara mendadak yang harus aku datangi.


"Ga, kayaknya besok lagi saja kita milihnya deh. Udah sore, aku lupa sesuatu." ucapku asal. Karena aku belum punya ide acara apa.


"Apa itu?" tanya Yoga mengernyitkan dahinya.


"Nanti aku kasih tau di jalan." Mataku sengaja aku arahkan ke Irene. Sebagai tanda kalau aku tak ingin Irene mendengarnya.


"Ayo." Aku menarik tangan Yoga agar segera meninggalkan butik.


Yoga pun pamit pada Irene. Aku hanya menatap Irene sekilas saja. Ngapain aku mesti beramah tamah pada orang yang gak mau ramah sama aku.


Dijalan, Yoga menanyakan lagi kenapa aku tak jadi milih kebaya.


Karena kami hanya naik motor, aku minta bicaranya nanti saja kalau sudah di rumah.


Yang aku maksud rumah orang tuaku. Tapi Yoga malah mengajakku ke rumahnya. Katanya biar terbiasa di rumahnya. Karena nanti setelah kita menikah, Yoga akan memintaku tinggal di sana.


Sampai di rumahnya, aku terkejut. Karena rumah itu sudah berubah. Rumah itu sudah dicat dengan warna kesukaabku.


Halaman rumah pun sudah disulap jadi taman mini dengan kolam ikan kecil dan gemericik suara air dari pompa kolam.


"Kapan kamu merubahnya, Ga?" tanyaku sambil melihat-lihat taman mini di halaman depan.


"Kemarin baru saja jadi" jawab Yoga.


Eh, itu kenapa kolam ikan belum ada ikannya? Kata Yofa nanti saja kalau kita sudah menikah, dan aku tinggal di sini. Aku yang nanti akan memilih ikan sendiri.


"Kenapa mesti aku yang pilih, Ga?" tanyaku.


"Kan kamu yang bakal nempati. Jadi kamu yang pilih sendiri. Biar tanggung jawab dengan pilihanmu."


Lalu aku masuk ke dalam rumah Yoga. Suasananya benar-benar beda. Yoga merubah posisi banyak perabot. Meski masih memakai perabot lama.


"Kalau kamu kurang suka dengan tata letaknya atau pingin mengganti perabotnya, bilang aja. Nanti kita cari yang baru."


Aku menggeleng. Tak perlu membuang-buang yang untuk hal itu. Toh yang lama masih layak pakai. Dan tentunya banyak kenangan pada barang-barang itu.

__ADS_1


Kecuali Yoga ingin membuang semua kenangannya.


__ADS_2